
Seharian ini Maura berada dirumah merawat Bejo yang jatuh sakit, meskipun hanya demam dan sakit kepala, Maura tidak mau meremehkannya, dan merawatnya dengan sangat baik.
Apalagi Bejo yang tidak mau dibawa ke rumah sakit, dan hanya meminum obat dari apotik saja membuat Maura sangat khawatir.
Untunglah kondisi Bejo dari waktu kewaktu mulai membaik, dan kini sudah berkutik kembali dengan pekerjaanya yang belum selesai.
"Mas, istrirahat aja dulu, itu di kerjakannya nanti kalau udah bener bener sehat." Tegur Maura seraya meletakkan tehnya diatas meja.
Bejo tersenyum mendapati perhatian sari sang istri, tidak mau berdebat apa lagi membuat sang istri terus khawatir, Bejo menutup kembali laptopnya, alhamdulillah nya dia bisa mengerjakan sedikit pekerjaanya.
"Maaf ya, kamu jadi repot, bahkan sampai bolos kualiah hanya untuk merawatku, Sayang."
"Ngomong apa sih Mas, itu udah jadi kewajiban aku ya, ngerawat kamu yang sedang sakit, kitakan suami istri yang harus saling menjaga, apa lagi kalau lagi sakit begini, kuliah emang penting, tapi kamu jauh lebih penting untukku." Maura menempelkan telapak tangannya di kening Bejo yang ternyata demamnya sudah turun.
"alhamdulillah, demamnya udah turun, kalau pusingnya gimana Mas?" tanya Maura yang kini duduk di samping Bejo.
"Udah gak terlalu kok. Mas bisa cepat pulih kan karena perawatan spesial dari istriku." Puji Bejo dengan memberikan kedipan nakalnya.
"Is, Mas. Jangan begitu kenapa sih, ada apa matanya sakit, kok kedip kedip begitu?" tanya Maura yang berpura pura tidak tau maksud dari Bejo.
"Iya nih kayaknya ada yang masuk deh, Sayang. Tiupin dong." pinta Bejo yang mana Maura langsung bersiap meniupnya.
"Emangnya apa sih yang masuk, kok bisa sampai begini?" tanya Maura dengan masih meniup mata Bejo, padahal dia tau jika suaminya itu hanya berpura pura.
"Kemasukan cinta yang tulus dari istriku, sampai sampai mata ini tidak mau berhenti untuk melihatnya." Bejo menghentikan kedipan matanya dan memandang lekat pada Maura yang ada di depannya itu.
Maura memukul dada Bejo dengan manja, "Ih bisa bisanya sih ngegombal dan negrayu, orang lagi sakit juga."
__ADS_1
"Itu bukan gombol kok, Dek. beneran Mas tuh udah kerasukan cinta kamu, yang menbuat Mas semakin hari semakin jatuh cinta, apa lagi di perhatikan seperti ini, Makasih." Bejo mencium kening Maura.
"Udah Mas, aku dah bilang jangan bilang terimakasih karena itu adalah kewajiban ku. Udah ini aku buatkan teh," ucap Maura yang kini tanganya meraih teh diatas meja.
"Kok, teh lagi, kopi dong." Tawar Bejo yang langsung mendapat tatapan tajam dari Maura.
"Hehehe, iya deh, Mas minum teh aja. Buatan kamu kan sangat enak, gak kalah. Kok sama kopi." Ringis Bejo yang langsung mengambil secangkir teh dari tangan Maura lalu segera menyeruputnya.
Melihat tatapan horor dari Maura nyali Bejo menciut, dirinya tidak mau mendapatkan hukuman didiamkan beberapa hari gegara kopi saja.
Dulu sudah pernah, Maura mendiamknanya gegara minum kopi bisa lima kali sehari, yang memang tidak baik bagi kesehatan jika meminumnya dengan berlebihan begitu.
"Di habisin itu teh nya, jangan sampai aku ngembek lagi ya Mas, aku mau siapin makam malam buat kita dulu, Mas istirahat jangan pegang laptop." Pesan Maura dengan mata yang memicing mengancam.
Bejo hanya menganggukkan kepala dan dengan tersenyum paksa, memang tau aja itu si Maura apa yang mau di lakukan Bejo.
"Assalamualaikum, Ustadz." Salam Bejo begitu panggilanya diterima.
"Waalikum salam, ada apa Udtadz?" tnya Rahamat dari sebrang.
"Maaf mengganggu, saya mau minta tolong, bisa kah Ustadz menggantikan saya malam ini, untuk mengisi pengajian kitab di asrama putri, saya sedang sakit Ustadz karena itu saya mau minta tolong Ustadz Rahmat untuk menggantikan saya." Terang Bejo dengan jelas, yang membuat Rahmat lngaung paham.
"Em, Asrama putri ya." tanya Rahmat seperti ada keraguan.
"Mas,.... Makan malamnya sudah siap...."
Tiba tiba suara Maura berteriak mengagetkan Bejo hingga ponselnya jatuh ke kasur.
__ADS_1
"Astagfitullahaladzim, Dek, ngagetin aja kamu ini," ucap Bejo seraya memandang kaget pada Maura kemudian beeganti memandngi ponselnya yang terlempar hingga di pinggiran kasur.
"Eh, Maaf Mas, aku kira kamu lagi tidur dan emang sengaja sih biar kamu kaget. Hahaha." Maura bukannya merasa bersalah malah tertawa.
"Ssstttttt... Mas lagi telponan." Bejo meletakkan jari telunjukknya di bibirnya sendiri menberi tanda pada Maura agar tidak berinsik.
"Mas telponan sama siapa?" tany Maura curiga. Bejo tidak menjawab pertanyaan Maura dan melanjutkan teleponnya dengan Rahmat.
"Oke, Terimakasih kalau begiutu, nanti saya WA ya materinya."
"Waailaikumsalam, terimakasih banyak." Bejo mengakhiri panggilannya setelah Rahmat mengucapkan salam.
Dan kini beralih memandang Maura yang wajahnya penuh curiga.
"Itu tadi ustadz Rahmat, kamu teriak teriak pasti dia denger suara kamu deh Dek."
"Ya Allah, beneran ustadz Rahmat itu tadi Mas?" tanya Maura dengan mata melotot.
"Kenapa gak bilang sih. Kan aku malu Mas."
"Gimana lagi, Mas aja kaget kamu teriak, tadi, makanya lain kali jangan begitu lagi." Bejo malah tersenyum melihat wajah istrinya yang ketakutan karena malu.
"Sudah gak usah di pikirkan, toh Ustadz Rahmat juga gak bakalan bahas sikap kamu kok dek, mending kita makan malam aja Yuk." Ajak Bejo pada Maura yang kini masih menekuk wajahnya karena malu.
"Ck, semua ini gara gara kamu Mas, lagian kamu ngapain sih telpnyan sama Ustadz Rahmat, kan bikin aku malu."
Mendengar perktaan Maura Bejo hanya bisa menggeleng kan kepalanya, kemudian menjelaskan apa yang ia bicarakan pada ustadz Rahmat tadi.
__ADS_1