Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Kopi, biar melek.


__ADS_3

"Memangnya apa yang terjadi Dek, sampai Najwa nolongin kamu?" tanya Bejo begitu mereka sudah sampai di rumah Ustadz Zainal.


"Oh, iya aku belum cerita ya tadi," ucap Maura seraya memandang Bejo.


"Belum, ayo coba cerita." Pinta Bejo.


Maura menceritakan semua yang terjadi saat di asrama tadi, Ustadz Zainal dan istrinya yang juga ikut mendengarkan pun sampai mengelus dada.


Bejo yang mendengar cerita Maura pun merasa geram dan emosi, terlihat dari tanganya yang mengepal kuat.


"Mereka sangat keterlaluan, kok bisa sih mereka segitunya benci sama kamu, Sayang," ucap Bibi Aisyah seraya mengusap kepala Maura dengan lembut.


"Aku juga tidak tau Bik, tapi memang sejak Mas Bejo mengajar mereka sudah tergila gila, jadi wajar saja sih kalau mereka marah mengetahui Mas Bejo menikah, dan wanita yang dia nikahi itu aku, yang gak punya kelebihan apapun." Kata Maura seraya menundukkan kepalanya merasa rendah diri.


"Kata siapa kamu gak mempunyai kelebihan, kelebihan kamu itu sangat istimewa, mungkin seribu satu orang yang memilikinya, yaitu kesabaran, kalau kamu gak sabar pasti kamu sudah mengamuk tadi malam dan membalas perbuatan mereka yang buruk itu, karena kesabaran dan kebersihan hati kamu, dengan mudahnya kamu memaklumi dan memaafkan sikap jahat mereka, jadi jangan merendah diri merasa tidak pantas mejadi istri dari suami mu Nak," ucap Ustadz Zainal panjang lebar yang di betulkan oleh Bejo.


"Betul itu, Karena itu pula sih aku bisa langsung jatuh hati sama kamu," ucap Bejo seraya tersenyum malu malu dihadapan Paman dan Bibiknya.


"Cie cie, yang udah jatuh hati." Bibik Aisyah menggoda Bejo dan Maura yang sama sama bersemu merah di wajahnya.


Suasana menjadi ceria di kala Ustadz Zainal dan istrinya terus terusan menggoda Bejo dan Maura.


Capek bercanda mereka semua memutuskan untuk istirahat ke kamar masing masing.


"Kamu beneran gak papa Dek, ada yang sakit gak?" tanya Bejo yang masih khawatir jika Maura ternyata menyembunyikan sesuatu darinya.


"Beneran aku gak papa kok, Mas. Yah kan aku cuma di siram air comberan sama beberapa tepung dan telur aja, jadi gak ada yang sakit lah, gak ada luka juga, tapi tadi kayaknya kalau kamu lihat tuh aku dah siap di mixcer loh, terus jadi kue bolu dengan berbahan utamakan si manis Maura." Kekeh Maura mentertawakan dirinya sendiri.


"Kamu ini ya, masih aja bisa bercanda, padahal aku tau, meski tidak ada luka di luar, tapi luka di dalam hati kamu sulit untuk di sembuhkan, apa lagi secara mental Dek, Mas Gak mengira kalau mereka bisa sekejam itu.


Mas baru paham dengan permintaan kamu selama ini yang ingin menyembunyikan pernikahan kita." Bejo meraih Maura untuk masuk dalam dekapannya.


"Sudahlah Mas, semuanya udah berlalu, anggap aja itu pemanis dalam perjalanan hidup ku, memperjuangkan kamu sebagai suami ku, aku udah nekat Mas, meskipun banyak yang gak suka, asalkan kamu cinta sama aku, aku gak masalah kok."


"Terimakasih Dek, udah percaya sama Aku, semoga rumah tangga kita selalu bahagia."

__ADS_1


"Aamiin..." Maura mengaminkan doa Bejo.


"Yuk tidur Mas, dah malam aku dah ngantuk." Ajak Maura yang kini bersiap dengan selimutnya.


"Kamu mau tudur?" tanya Bejo yang membuat Maura mengerutkan keningnya.


"Hah, ya tidur lah mas Mau ngapain emangnya.....?" tanya Maura polos.


"Ya, Main dulu lah Dek," ucap Bejo sambil membuka baju atasannya.


Mata Maura mendelik melihat Bejo bertelanjang dada, Maura tidak menyadari dengan kepulangannya ikut bersama Bejo, berarti ia juga sudah harus siap dengn konsekuensi setiap malam memberikan hak Bejo.


"Mas, tunggu." Cegah Maura saat Bejo mau mencumbu dirinya.


"Kenapa, gak usah malu Dek, kemarin kan kita sudah melakukanya, kali ini Mas akan pelan kok, dan cukup satu ronde aja, biar kamu gak terlalu capek."


"Bukan itu Mas,"


"Lalu Apa?" tanya Bejo tidak sabar.


Tanpa menunggu lama Bejo langsung melompat turun dari ranjang dan mengunci pintu dengan rapat agar suara indah Maura tidak terdengar keluar saat mereka bercinta.


Bejo dengan cepat pula kembali ke hadapan Maura, untuk melanjutkan aksinya.


Dan terjadilah pergulatan malam, yang sangat panas, hingga pukul satu dini hari barulah Bejo menyudahi aktivitas olehraga malamnya.


Di pagi harinya Maura terus menggerutu dalam hati seraya memberikan wajah cemberut pada Bejo yang tidak menepati janjinya, bilangnya satu ronde cukup, tapi malah berkelanjutan. Membuat tubuh Maura sangat sakit semuanya.


"Dek, jangan Marah dong, Mas Minta Maaf Deh, Mas Selalu lepas kedali loh, kalau udah bercumbu dengan kamu." Bejo berusaha merayu Maura yang sedari tadi mendiam kan dirinya.


"Kamu itu pembohong Mas, katanya cuma satu ronde, tapi nyatanya kamu melewati batasnya. Ya meskipun aku menikmati tapikan aku capek Mas, belum nanti kuliah terus ngelihat wajah wajah fens mu yang benci sama diriku." Maura berbicara dengan mulut mengerucut membuat Bejo mengulas senyumnya karena merasa gemas.


Di kecupnya sekilas bibir monyong Maura yang menbuat Maura semakin kesal pada Bejo.


"Jangan cium cium Mas," ucap Maura memprotes.

__ADS_1


"Kenapa gak boleh Sayang, kan cium istri sendiri banyak pahalanya, kamu itu, udah lah jangan marah terus, nanti dosa loh lama lama marah sama suami." Bejo bangkit dari duduknya dan kini meninggalkan Maura sendiri di dalam kamar.


"Ih, nyebelin, malah pergi sih," gerutu Maura merasa kesal karena di tinggal pergi oleh Bejo.


Kini di dapur Bejo tengah membuatkan segelas susu untuk Maura, untuk menambah energinya yang habis ia gempur tanpa ampun semalam, meski tau jika dirinya kelewatan, tapi Bejo tidak bisa menghentikannya, karena setiap melihat Maura jiwa lelakinya itu selalu bangkit dan tidak bisa di diamkan.


"Maura masih tidur, Jo?" tanya Ustadz Zainal yang kini duduk di meja makan seraya menyesap segelas kopi.


"Sudah bangun Paman, tapi masih ngantuk katanya, makanya aku bikin kan susu biar bisa menambah energi dan menghilangkan rasa kantuk," ucap Bejo beralasan.


"Kamu ini Jo, kasih nih kopi biar melek, gak baik kan habis subuh terus mau tidur lagi, ntar banyak penyakit yang nempel." Terang Ustadz Zainal.


"Is, Abi. Betul Bejo lah, di bikinkan Susu biar bertenaga dan gak ngantuk, apa lagi habis olahraga, ya harus minum susu yang banyak proteinnya." Kata Bibik Aisyah seraya tersenyum memandang Bejo.


Bejo yang mendengar perkataan Bibiknya tersenyum dengan malu malu, Bibiknya ini pasti sudah tau apa yang dia lakukan semalam.


"Sudah, gak usah malu malu, Paman dan Bibik kan juga pernah pengantin baru, jadi gak usah di pikirkan perkataan paman mu, sudah sana bawa susunya, sekalian ini camilan di bawa buat ganjal perut." Bibik Aisyah menambahkan beberapa gorengan yang ia buat tadi, masih hangat pasti enak.


Uatadz Zainal yang masih belum paham dengan ucapan istrinya masih bertanya.


"Emang olahraga apa Mik, yang sudah mereka lakukan, ini kan masih habis subuh, kapan mereka olahraganya."


"Abi..., jangan sok gak paham ya, olah raga malam, yang biasanya Abi minta ke Ummi."


"Hah, mereka sudah melakukan itu. Astagfirullah, kenapa aku lupa, merek kan kemarin habis bulan madu ya di hotel, yah bagus lah kalau seperti itu, kita baklan cepat di kasih cucunya, Mik."


"Aamiin Bi, semoga aja yah, biar rumah ini tuh ramai kalau mereka berkunjung bawa anak anak mereka nanti."


"Betul itu Mik, Alhamdulillah mereka memang berjodoh kalau begitu mik, aku lega kalau seperti ini, aku kira akan butuh waktu lama untuk mereka menerima pernikahan ini."


"Alhamdulillah Bi, toh Mereka berdua kan bukan orang yang egonya tinggi, sudah tau ilmu dan hukumnya pernikahan, jadi kita terus berdoa aja supaya pernikahan mereka langgeng sampai kakek nenek."


"Aamiin, kayak pernikahan kita ya mik."


"Iya, Bi. Aamiin."

__ADS_1


__ADS_2