Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
kecelakaan


__ADS_3

waktu berjalan dengan cepat, tanpa terasa kini sudah hampir satu minggu ujian semester hampir usai, Maura maupun mahasiswa lainnya tengah fokus ujian masing masing, dan hari ini adalah hari terakhir mereka ujian.


"Alhamdulillah, usai juga nih ujian, bikin pusing kepala tau gak sih." Amel berucap dengan wajah lega.


"Iya, Alhamdulillah. habis itu kita bisa liburan..." sahut Nada dengan bahagia.


"Betul itu, kita bakalan liburan kemana nih, yah kan secara rumah kita gak terlalu jauh jadi bisa lah kita liburan bersama." Sambung Amel lagi.


"Gak ah, aku mau ajak Mas Bejo bulan madu, kalian liburan aja berdua, hehehe." Maura mengatakan dengan wajah yang di buat menyebalkan.


"Yah yah, gak adil kamu, Ra. masih aja kurang kamu, padahal udah tiap hari mesra mesraannya, masih mau nambah bulan madu." Ledek Amel dengan wajah kesal.


"kurang lah, kamu bakalan tau nanti kalau udah pada nikah, meskipun udah tinggal satu atap tiap hari, tetap aja bakalan kurang, maunya tiap jam tiap menit itu selalu bersama."


"Duh, kebucinan kamu Maura." Sahut Nada.


"Biarin bucin sama suami sendiri mah, sah sah aja."


"Ya lah ya lah, terserah kamu lah, emang ya kalau udah bucin, emang gak akan peduli sama sekitarnya, yang di rasa cuma kayak idup berdua aja, sementara yang lain ngontrak." Sahut Amel yang langsung di tertawai oleh Nada, Maura pun ikut tertawa mendengar perkataan Amel.


Drrt


Drrt.


Drrt


Ponsel Maura berdering, membuatnya menghentikan tawanya, kemudian mengambil ponsel yang ada di dalam tas.


"Em, nomor tidak di kenal?" gumam Maura yang kemudian meski dengan ragu ragu di tekannya tombil dilayar yang berwarna hijau.


("Assalamualaikum?") suara dari sebrang telpon membuat Maura memandang pada kedua temannya secara bergantian.


"Waailaikumsalam, ini siapa ya?" tanya Maura.

__ADS_1


("Maaf, ini dengan Maura?) tanya suara dari sebrang yang sama sekali tidak dikenali oleh Maura.


"Iya Daya sendiri, ada apa ya?" tanya Maura lagi, sungguh dirinya sangat penasaran dengan orang yang menghubunginya, pasalnya ia sama sekali tidak mengenali suara orang tersebut, bahkan nomornya juga baru pertama kali masuk ke dalam ponselnya.


("Maaf, anda bisa langsung ke rumah sakit sejahtera, Suami anda masuk rumah sakit karena kecelakaan, dan sekarang sedang di tangani.") terang orang tersebut yang langsung membuat Maura terkejut, dirinya langsung berdiri dari duduknya dengan wajah cemas dirirnya memandang ke arah Amel dan Nada.


melihat kepanikan di wajah Maura, kedua sahabatnya itu mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan gerakan bibir sedangkan suaranya tidak terdengar, karena takut mengganggu Maura yang tengah menjawab telepon.


"Anda tidak sedang menipu saya kan, anda ini siapa, jangan mengada ngada suami saya sehat sehat saja kok tadi." Kata Maura yang berusha tenang dan memastikan jika hal tersebut bukanlah penipuan.


("Maaf saya lupa, saya Rifan, Ustadz Bejo mengalami kecelekaan di lokasi pembangunan, detailanya saya jelaskan nanti setelah kamu tiba di rumah sakit.") mendnegar penjelasan dari orang tersebut dan sudah mengetahui identitas orang tersebut. Maura langsung mengajak kedua temannya untuk pergi kerumah sakit untuk memastikan tentang kabar yang baru saja ia dtaatkan


"Hai, Maura kita mau kemana sih?" tanya Amel yang berjalan setengah berlari mengikuti Maura yang juga berjalan dengan cepatnya.


"Iya, kita mau kemana sih Ra, apa yang terjadi, barusan itu siapa yang telpon?" Nada pun juga tak kalah penasaran melihat kedua sahabatnya berjalan cepat dirinya juga otomatis ikut berjalan cepat, sangking cepatnya Maura hampir saja terjatuh dari tangga.


"Astagfirullah, Maura. Hati hati dong?" ucap Amel dan Nada hampir bersamaan.


"Tenang dulu Ra, sebenarnya ada apa?" tanya Amel yang kini mendudukkan Maura di kursi dekat taman.


"Aduh, kok malah nagis sih Ra, ada apa?" tanya Amel yang ikutan sedih.


"Mas Bejo Mel, katanya kecelakaan dan masuk rumah sakit, aku harus cek ke rumah sakit sekarang." Jelas Maura seraya menghapus air matanya, dirinya berusaha tenang dan tidak panik, meskipun dalam hatinya sangat cemas.


"Apa?" Kata Amel dan Nada bersamaan.


"Kamu seriusan Ra, tau dari mana?" tanya Amel memastikan.


"Barusan Rifan yang kasih tau, dan sekarang aku harus cek, itu bener atau gak." Kata Maura dengan wajah yang sedih.


"Oke, kita ke rumah sakit sekarang, kita temenin ya, kita cari kendaraan dulu kalau gitu." Amel mengeluarkan ponselnya dan mau memesan taksi online.


"Aku udah pesen kok tadi pas jalan kesini, mungkin sekarang udah ada di depan." jelas Maura, yang memang sudah memesan taksi online.

__ADS_1


Mereka bertiga keluar dari area kampus dan memang benar kata Maura taksi yang dirinya pesan sudah tiba, mereka pun langsung masuk kedalam taksi tersebut dan pergi menuju rumah sakit.


sesampainya di sana, Maura langsung masuk kedalam rumah sakit dan berjumpa dengan Rifan yang ternyata udah menunggunya di lobi.


"Pak, Rifan. dimana suami saya? apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Maura begitu mereka bertemu.


"Em, dia ada di dalam. Mari ikut saya." Rifan berjalan mendahului, Maura Amel dan Nada mengikutinya dari belakang.


sesampainya di depan pintu nomor seratus sebelas Rifan membuka pintunya dan mempersilahkan Maura dan temannya masuk kedalam.


"Mas, Mas Bejo?" panggil Maura seraya mendekat ke arah ranjang yang memang benar sosok yang tengah berbaring dengan lemah adalah suaminya.


"Sayang, sudah datang?" Suara Bejo masih terdengar normal, bahkan bibirnya masih bisa menyunggingkan senyum terbaiknya, meski terlihat sedikit pucat.


kaki dan tanganya di balut perban entah separah apa, Maura masih belum mendapat keterangan karena dirinya masihl belum mennyakannya.


"sebenarnya apa yang terjadi, kok bisa kamu sakit begini?" tanya Maura dengan derai air mata yang tidak bisa ia bendung lagi.


"Hai, jangan menangis, Aku gak papa kok, Alhamdulillah, lukanya gak parah, cuma memar aja." Tangan Bejo berusaha menghapus air mata Maura yang terus mengalir.


"Maaf ini semua salah saya, seharusnya Saya tidak mengajak Ustadz untuk menemani saya melihat lokasi pembangunan yang sudah setengah jalan." Sahut Rifan yang tiba tiba menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa pada Bejo.


"Tidak Pak, ini semua murni kecelekaan, sama sekali bukan salah anda, jadi anda jangan menyalahkan diri sendiri." Balas Bejo yang membuat Maura bingung.


"Mas?" ucap Maura dengan lirih, wajahnya menunjukkan permintaan penjelasan dari bejo.


"Mas, mengalami musibah ini karena tadi, menolong seorang pekerja yang hampir saja tertimpa balok dari atas karena penyangganya rapuh syang, untung orangnya selamat, Mas jauga cuma luka ringan," ucap Bejo yang di dengarkan seksama oleh Maura.


"Kenapa harus kamu yang nolongin Mas, gak orang lain aja, pasti banyak orang kan di area itu?" tanya Maurakp dengan wajah yang cemberut tidak terima akan apa yang menimpa suaminya.


"Sayang, Mas cuma refkek aja, kebetulannya Mas yang dekat dengan pekerja tersebut, sudah dong jangan nangis terus, Mas kan sudah selamat. Berkat Allah dan doa kamu." Bejo mencoba menenangkan hati Maura yang Bejo tau pasti, istrinya itu tengah sangat khawatir akan kondisinya.


"Aku sangat takut Mas, pas denger kamu kecelakaan." Kata Maura dengan air mata yang mulai mengalir lagi.

__ADS_1


Melihat istrinya menangis seperti itu, sungguh dalam hati nya jug merasa bersalah, karena telah membuatnya khawatir dan ketakutan, tetapi Bejo sama sekali tidak menyesali erbuatannya, karean baginya menolong orang yang kesusahan adalah hal yang baik, meskipun ia harus mengorbankan fisik dan hati istrinya sebaga konsekuensi dari perbuatanya.


__ADS_2