Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Heboh


__ADS_3

Maura setelah membalas pesan Bejo langsung kembali ke kamarnya, untuk istirahat, ia tidak menghiraukan teman temannya yang masih menggodanya.


Maura yang merasa lelah memilih langsung tidur, agar nanti ia lebih segar untuk beraktivitas lagi.


dijam lima sore Maura berniat jalan jalan menelusuri kamar, ia ingin melihat seberapa bersih para anggotanya menjalankan tugasnya, yah tidak begitu mengecewakan sih, meski tetap saja ada yang masih bandel, kini Maura tengah membuangkan sampah yang penuh dari lantai dua, sikapnya yang diam dan langsung bertidak tidak seperti biasanya.


membuat santri lainya merasa heran, tumben sekali dia tidak cerewat dengan mangatakan kata kata yang pedas seperti biasanya.


"Tumben gak ada suaranya?" gumam salah satu santi.


"Lagi sariawan kali." celetuk santri lainya.


"Hus, mana mungkin, mungkin emang lagi gak mood buat ribut ribut kali, kan baru pulang dari rumah." Sahut yang lainnya.


"Udahlah gak usah ngomongin orang, mending buruan mandi, Ustadz Bejo udah pulang nanti malam kita di ajar sama beliau." Sahut yang lain, yang langsung membuat para santri berlarian ke kamar madi.


Maura yang bertemu Amel di bawah yang juga hendak membuang sampah pun mengajak Maura untuk barengan.


"Tumben kamu yang buang, sampah dari mana?" Tanya Amel pada Maura yang menenteng tong sampah yang penuh itu.


"Lantai dua, aku males terik teriak kasih tau, dah capek sama kamar itu, dikasih tau berulang kali tetep aja gak berkembang, jadi aku bung aja itung itu pahala." Kata Maura seraya berjalan duluan.


"Dewasa kali nih sahabat ku, udah bisa berpikir bijaksana." Puji Amel pada Maura.


Dengan susah payah Maura membuang sampah yang memang banyak itu, sementara Amel dengan mudahnya melempar sampah yang hanya se bungkus saja kemudian berbalik badan.


Amel terkejut hingga berteriak kala melihat seseoeang yang tiba tiba ada di belakangnya.


"Aaaaaaa...." Jerit Amel yang membuat Maura terkejut.


"Assalamualaikum Ukhti," sapa Ahmat seraya tersenyum ramah.


"Waaalikumsalam, Ustadz." jawab Amel dengan lirih, yang tidak menyangka jika ia akan bertemu dengn Bejo dan Ahmat di tempat tersebut.

__ADS_1


"Rajin sekali Ukhti, sudah main buang sampah saja, kayak petugas kebersiahan aja." puji Ahmat bercanda.


"Oh, dia emang petugas kebersihan Ustadz, dia ini koordinator kebersihan di asrama, pokonya kalau dia ada di asrama semuanya akan tampak bersih dan wangi." Kata Amel yang merujuk pada Maura.


"Sssttt, kamu bisa diam ndak sih." Bisik Maura di telinga Amel, tentu saja Amel jadi diam mendapat bisikan dari Maura.


"Oh iya, wah pantes cantik." Puji Bejo dengan tidak mengalihkan pandanganya dari Maura membut Maura geregetan karena Bejo memandnginya seolah mereka saling kenal lama.


"Sudah mau adzan magrib, kami masuk dulu ustadz, takut kalau lama lama gak kuat naanti." Pamit Amel.


"Hah gak kuat kenapa?" tanya Ahmat,


"Gak kuat dengan m ketampananya Ustadz." Jawab Amel yang dengan gesit berlari masuk ke dalam Asrama meninggalkan Maura sendiri disana dengan bengong.


Maura yng mendengar itu pun molongo


Lalu ikut berlari mengejar Amel.


"Cantik dan menggemaskan, merek itu, ck ck ck." Tutur Ustad Ahmat dengan menggelng gelengkan kepalanya.


Malam harinya sesuai prediksi dari semua santri jika Malam ini mereka akan bisa bertemu dengan ustadz tampan mereka dan itu memang benar adanya.


Bejo.kini tengah duduk di depan seluruh santri putri, Bejo membacakan maksud dari dituliskanya kitab tersebut yang kini membahas tentang bab pernikahan.


"Hukum menikah itu ada beberpa definisi, nah kalau sudah menikah Perempuan harus wajib mendengarkan apa kata suaminya, karena tnggung jawabnya sudah berpindah tangan dari semula ada di tempat sang ayah, kini pindah pada sang Suami." Terang Bejo dengn sek sama.


banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh para santri, dari bagaiman kalau perjodohan dan keduanya tidak saling cinta, Bejo menjawabmya seperti apa yang ia Maura jalankan yaitu, mencoba menjalankanya kalau masih merasa belum cocok, maka cari solusi yang lain lagi.


Bejo terus memandang lurus pada Maura, mungkin bagi sebagian santri Bejo tengah memandang mereka tetapi, kenyataanya Bejo tengah memandangi istrinya yang terlihat bersinar terang dibandingkan santri santri lainnya.


"Ustadz kalau ustadz sendiri sudah punya kekasih atau belum?" tanya salah satu penggemar Bejo itu.


"Kalau saya jawab iya, bagaimana?" Bejo bukanya menjawab malah bertanya balik, tetapi pertanyaan nya itu justru membuat heboh aula yang penuh dengan santri putri.

__ADS_1


Maura menepuk jidatnya mendengar jawaban Bejo yang mengakibatkan kericuhan di aula.


"Ustadz serius dong, jangan bikin kita patah hati." celetuk salah satu dari santri putri.


Bejo mengangkat kedu alisnya, tidak pernah menyangka jika gurauanya akan berdampak sekali, mereka menjadi ricuh kala Bejo bilang kalau ada kekasih.


Bahkan ada beberapa yang pingsan, sehingga pengajian yang masih berjalan setengah itupun di hentikan.


"Begini aja sudah heboh, bagaiman kalau aku mengatakan jika Siti itu istriku, apa benar mereka akan mengroyok Siti," gumam Bejo dalam hati.


"Tidak aku tidak mau istriku, disakiti seperti itu, lebih baik aku diam dan tidak akan pernah berbicara di bandingkan jika Siti harus sakit dengan pengumuman setatus kami." Batin Bejo memutuskan niatnya.


Sebelum pergi dari suasana riuh tersebut Bejo masih sempat bertatap mata dengan Maura. Perasaan baru tadi siang mereka bertemu, tetapi Bejo sudah merasa sangat rindu dan ingin sekli menarik Maura dan membawanya pergi dari kebisingan tersebut.


setelah Bejo pergi dari aula, satu persatu para santri juga ikutan turun dan kembali ke asrama.


"Sungguh kacau, masak Ustadz bejo udah punya kekasih sih," ucap Nada dengan nada yang sedih.


"Hem, aku jadi patah hati nih mendengarnya, pasti dia udah punya tuh makanya bertanya begitu." Sambung Amel yang tidak kalah lesu.


"Kalian ini pada kenapa sih, ya itu kan urusan peribadi ustadz kan, mau punya kekasih atau gak, kita mah gak boleh ikut campur dalam urusan peribadinya." Terang Maura yang membuat semua temanya semakin sedih.


"Dih kalian ini, sebegitunya ya berharap bisa jadi istri Ustadz Bejo?" tanya Maura yang dijawabi serempak oleh Amel dan Nada.


"Iya,"


"Ya Allah, kalain ini suka ya suka, tapi harus lihat dulu dong, kalian pikir Ustadz Bejo itu seperti apa, diakan ganteng gak mungkin dong dia anggurin wajah tampanya dengan ngejones (jomblo ngenes)." Tutur Maura lagi.


"Bener juga sih, tapi tetep aja sakit." Keluh Nada dengan kesedian yang mendalam.


"Duh lebainya kalian ini, ini baru aja pernyataan bagaiman kalau dia punya kekasih, kalau dia umumin aku sebagai istri, aku yakin seja kalian akan mencabik cabik tubuhku hingga tak tersisa." Batin Maura yang lagi lagi hanya berkeluh kesah didalm hatinya.


"Ya udah lah ya, jangan sedih terus siapa tau dia masih belum punya, tadikan dia bertanya bagaimana kalau dia punya, itu tandanya masih belum fiks kalau dia memiliki kekasih." Maura mencoba menenangkan kedua sahabarnya itu.

__ADS_1


"Bener juga ya, uh Maura emang the best deh." Sahut Amel yang sidah merasa lega mendengar perkatan Maura. Nada pun juga sama.


Pesona mu bejo sungguh mereahkan.


__ADS_2