
"Jangan khawatir sayang, aku akan berusaha semaksimal munhkin untuk menangkap pelaku peneroran yang membuatmu menjadi ketakutan seperti ini, semoga Allah selalu melindungi kita Aamiinn." Batin Bejo seraya melihat wajah tentram Maura disaat terlelap.
Setelah itu Bejo baru lah membangunkan Maura, mereka akan melakukan shalat magrib bersama, karena kaki bejo sudah sembuh maka Bejo tidak perlu shalat dengan posisi duduk lagi.
"Mas, Besok Nada sama Amel mau kerumah, boleh kan?" tanya Maura setelah selesai shalat.
"Boleh dong, Mas malah seneng ada yang menemani kamu, besok Mas juga mau ngundang teman Mas yang seorang detektif, selagi mas ngobrol dengan teman mas, kamu bisa di temani Amel sama nada kan."
"Iya juga, ternyata ada manfaatnya juga mereka, hehehe." cengir Maura yang merasa geli.
"Oh ya sayang, tadi Paman mampir kerumah pas kamu tidur." Bejo memberitahukan kedatangan ustadz Zainal.
"Loh, kok aku gak di bangunin Mas, kan gak sopan, paman datang akunya malah asik tidur," ucap Maura yang sedikit tidak tenang.
"Mas tau kok maksud kamu, tapi Mas gak tega buat bangunin kamu, toh paman juga gak ngebolehin Mas buat bangunin kamu, karena paman gak bisa lama disini, setelah bgobrol sedikit beliau langsung pamit." Jelas Bejo yang masih di cemberuti oleh Maura.
"Kata paman apa?" tanya Maura.
"Paman maunya kita pindah ke rumah nya, tapi Mas tolak."
"Kenapa di tolak?"
"Mas gak mau sayang, Paman ikutan jadi korban teror, apa lagi disana kan masih ada fadil yang masih kecil, Mas mau menyelesaikan permasalahan kita tanpa menambah beban orang lain, Mas gak mau paman dan bibi ikut jadi korbannya." Terang Bejo dengan lembut.
"Betul itu, aku juga setuju kok Mas, bagus karena kamu sudah menolak, biar cukup kita aja yang kena teror jangan yang lainnya."
"Makasih ya sayang untuk pengertian nya," ucap Bejo yang sangat terharu dengan dukungan sang istri.
Bejo merasa sangat beruntung mendapatkan istri yang pengertian seperti Maura, pemikirannya pun tidak egois, dan selalu memikirkan orang lain, menambah kekaguman dan cinta Bejo padanya.
__ADS_1
"Untuk makan malam, kamu gak usah masak karena bibik sudah masak tadi, Mas yang minta, biar kamu santai dulu dan menenangkan hati, kamu kan pasti masih syok gegara tadi pagi, mau makan sekarang apa nanti habis isya'."
"Sekarang aja Mas, perut ku udah laper, tumben sih biasanya gak begini." Maura berkata seraya mengelus elus perutnya.
"Gimana gak laper orang pagi tadi kamu gak makan dan cuma makan siang tapi hanya berapa sendok, ya maklumlah sayang kalau sekarang sudah lapar."
"Hehehe, iya batu ingat, ya udah yuk makan." Maura sangat bersemangat kali ini, dan sudah mulai melupakan hal yang terjadi tadi pagi, hal tersebut malah jauh lebih baik di bandingkan dirinya hanya diam dan menangis dengan rasa ketakutan.
Maura yang meminta untuk makan di ruang TV sambil melihat acara yang ada, dan tentu saja Bejo akan menuruti apa pun permintaan sang istri.
tidak butuh waktu lama mereka berdua sudah selelsai makan, dan melanjutkan makan buah sambil lanjut lihat TV.
"Ponsel Mas dimana ya Dek?" tanya Bejo begitu ingat sesuatu.
"Em, gak tau. tadi Mas taruhnya terakhir di mana, coba di ingat ingat," jawab Maura seraya mengedarkan pandanganya mencari keberadaan benda pintar tersebut.
"Oh, ini sudah ketemu, kututup sama majalah." Bejo mengambil ponselnya yang berada di sofa tapi tertutupi oleh majalah tersebut.
"Mau kasih tau Ustadz Rahmat kalau malam ini Mas gak bisa isi ngaji kitab di pesantren malam ini, Sayang."
Maura hanya manggut manggut mendengar jawaban sang suami.
Maura berfokus pada layar TV yang berada di depannya, sirinya membiarkan suaminya berbicara serius dengan ustadz Rahmat, tiba tiba.
PRANG...
Suara kaca pecah mengagetkan semua orang, Bik inem, mang ujang, satpam baru dan dua petugas yang mendnegar pun langsung mendatangi sumber suara.
Bejo yang berada tidak jauh dari jendela pun langsung menghindar dari pecahan kaca tersebut, sementara Maura langsung berlari memeluk Bejo yang posisi nya berada di area jendela.
__ADS_1
"Astagfirullahaladzim, Mas ada orang yang lari dari situ tadi." Kata Maura yang memang melihat ada bayangan orang dari luar jendela.
Bejo langsung memeriksa keluar tapi sungguh aneh, karwna diluar tidak ada seorang pun.
"Ya Allah, Ada apa ini?" tanya Bik inem yang melihat kaca telah berserakan di lantai.
"Neng gak papa neng, gak ada yang kena kan?" tanya Bik inem memeriksa majikannya yang memang ia tahu berada di tempat kejadian.
"Gak papa kok bik, alhamdulillah aman," jawab Maura, tampaknya kini Maura sudah tidak setakut tadi buktinya dirinya jauh lebih tenang meski dalam hatinya gelisah.
"Ada apa ini Tuan?" tanya Mang ujang.
"Iya, ini ada apa Pak?" tanya pak satpam yang juga baru datang.
"Sepertinya lemparan batu ya, samai membuat kacanya pecah." Kata salah satu petugas yang juga datang bersamaan dengan satpam.
"Benar ada yang melempar batu sampai kaca jendela nya pecah, saya yakin pelaku mash ada di sekitar sini, cepat berpencar dan temukan dia." Perintah Bejo.
"Baik," jawab mereka berempat dan langsung berpencar mencari pelaku.
"Mas, aku ikut." teriak Maura.
"Jangan dek, kamu dirumah saja sama bik inem, jangan kemana mana, kalau ada apa apa langsung hubungi Mas."
"Gak mau aku maunya ikut." Maura ngotot mau ikut dengan Bejo.
karena Maura memaksa jadi terpaksa Bejo membawanya, menuju area belakang rumah.
Namun baru beberpa langkah, Maura menghentikan langkahnya, lalu berbisik di telinga Bejo.
__ADS_1
Bejo yang mendengar bisikan dari Maura pun terkejut dan menatap tak percaya pada sang istri.