
Kata Alhamdulillah terucap begitu saja dari bibir Bejo, ia mencoba mensyukuri apa yang kini tengah melanda kesediahan istrinya.
"Lalu kenapa kamu malah sesedih ini, apa ada sesuatu hal yang membuat mu menjadi sedih seperti ini," tanya Bejo menatap lekat wajah Maura di sampingnya.
Maura menunduk kan kepalanya, air matanya mengalir lagi.
"Aku tidak tau, menangis ku karena apa, aku merasa bahagia karena pada akhirnya aku tau siapa ibu kandung ku, tetapi aku juga kecewa karena ternayata selama ini Abah dan Ummi merahasiakannya.
Apa kamu tau, Ummi membenci ku, tidak suka padaku, hanya aku anak dari mantan tunangan Abah." Jelas Maura dengan sesekali senggukan.
"Ceritanya bagaimana kok bisa seperti itu, apa ummi sudah menjelaskan semuanya?" tanya Bejo yang masih ingin tau lebih banyak.
"Iya sudah," jawab Maura seraya menganggukkan kepalanya.
Flasback On.
"Waktu itu Kami menemukan mu di depan pintu gerbang pesantren tepatnya pukul sepuluh malam, saat Abah dan Ummi baru pulang dari mengisi pengajian di tempat lain.
Kami terkejut saat mendapati sebuah kardus yang sidalamnya ada keranjang bayi, yang tidur terlelap dengan tenang nya." Cerita Ummi mmseraya menatap langit langit kamar.
"Astagfirullahaladzim Ummi, bayi." Kata Abah dengan memegang kardus tersebut.
"Siap yang sudah tega membuang bayi seperti ini, tega sekali." Ungkap Ummi yang kala itu merasa iba.
"Bagaimana kita bawa masuk dulu Mik, kita periksa dulu, biar dia tidak kedinginan di sini." Saran Abah yang di setujui oleh Ummi
Malam itu memang sepi karena para santri tengah ada acara di aula sehingga menangis pun bayi itu tidak akan membuat mereka mendengarkan.
Lantas Abah dan Ummi membawanya masuk, Abah mengambil keranjang bayi dan meninggalkan kardus tersebut. Sementara Ummi menggendong Marsya yang usianya baru dua tahun tidur terlelap di gendongan Ummik.
Ummi kulsum menidurkan Marsya di kamarnya, kemudian ia keluar menyusul Abah yang tengah memeriksa bayi tersebut.
"Bagaiman Bah?" tanya Ummi begitu melihat Abah duduk di sofa seraya membaca surat yang ada bersama si Bayi.
__ADS_1
"Namanya Maura Mubarokah, ternyat dia anaknya Rianti, kamu kenal Rianti kan?" tanya Abah seraya memandang pada Ummi.
"Tentu aja aku tau Bah, dia wanita yang datang membuat rusuh di hari pernikahan kita dulu kan karena ia tidak terima pertunanganya dengan mu di batalkan," jawab Ummi dengan ekpresi tidak sukanya mengingat kejadian memalukan itu.
Bagaimana tidak malu, Rianti sampai menumpahkan semangkuk sayur rawon ke Ummi yang pada saat itu banyak tamu yang hadir.
Pertunangan Abah dan Rianti dibatalkan karena, kedua orang tua Rianti lebih memilih menjodohkan Rianti dengan laki laki yang sangat kaya raya, mungkin karena tergiur dengan kekayaan maka dari itu Orang tua Rianti dengan sadar membatalkan rencana pernikahan.
Padahal Orang tua Rianti itu teman dekat Orang tua Abah husain, tetapi ternyata pertemanan tidak bisa mengalahkan nafsu mereka yang lebih menyukai harta.
Rianti yang sudah menikah saat itu, masih tidak terima saat Abah Husain dan Ummi kulsum menikah, karena ternyata Rianti masih saja menyimpan rasa cinta pada Abah Husain.
"Rianti menitipkan anaknya pada kita Mik, dan meminta kita untuk menutup mulut, tapi dia tidak memberikan alasan kenapa kita harus tutup mulut." Terang Abah setelah membaca surat dari Rianti.
"Banyak mau sekali sih Bah, dia, udah kita kembalikan aja bayi ini ke rumah keluarganya, besok ayo kita kesana kerumah orang tua Rianti." Umi kulsum tetap meminta untuk memebrikan bayi tersebut pada keluarga Rianti.
"Terus ini sekarang, bayinya bagaiman Umik, masak kita tinggal disini," tanya Abah.
"Ih, abah gitu pun masih tanya, ya di bawa ke kamar Marsya lah bah, nanti kalau dia minta ***** kasih aja sufor milik Marsya, " jawab Ummi yang hendak pergi ke kamar Marsya.
"Ya sudah, Abah belikan aja sana, Ummik mau tidur, capek." Ummi kulsum meninggalkan Abah dengan bayi Maura yang masih tertidur itu.
Untungnya Maura bayi itu tidak rewel bahkan ia sangat lelap tidurnya, hingga pagi menjelang subuh barulah ia terbangun, Abah yang memang sudah bangun sedari sepertiga malam Langsung menggendongnya untuk menenangkannya, kemudian membuatkannya susu agar Maura Bayi tidak menangis lagi.
Abah sebenarnya sedikit kerepotan, karena jujur selama ini ia hanya membantu sedikit saja saat Ummi melahirkan dan hanya ummi saja yang mengurus penuh anak anak mereka sedari kecil.
Tapi kali ini Abah yang kerepotan karena Ummi menolak untuk mengurus Maura bayi semenjak tau jika dia anaknya Rianti.
Umi yang tidak mau melihat bayi Rianti berada di kediamannya lama lama, tepat pukul delapan pagi Abah dan Ummi sudah berada di rumah orang tua Rianti.
Mereka tidak membawa Marsya dan memilih menitipkannya pada Diana dan Ani.
Sesampainya di depan rumah Rianti, Abah dan Ummi dikejutkan dengan adanya bendera kuning yang menandakan adanya orang yang meninggal di dalam keluarga tersebut.
__ADS_1
Abah dan Ummi hanya menerka nerka siapakah orang yang meninggal tersebut.
Suasana rumah Rianti sangat sepi, Saat Abah akan mengucap salam ia mendengar suara seseorang tengah berbicara.
"Dasar anak tidak tau di untung, sudah di jadi kan orang kaya, malah memilih mati gantung diri, kalau seperti ini kan kita sudah tidak bisa mendapatkan uang sedikitpun dari mereka." Suara laki laki yang Abah kenal betul, itu adalah suara Ayah Rianti.
"Betul Bah, emang sih Kak Rianti itu bodoh, masih aja mengaharap sama Husain yang gak punya apa apa di banding mas Bram.
Jadinya begini kan kita semua di usir dari rumah mewah itu dan kembali ke rumah kecil ini." Sahut suara perempuan yang Abah juga kenal, itu adalah suara adik Rianti.
"Kalian ini, sungguh jahat, bisa bisanya kalian malah berbicara seperti itu, Rianti pasti menderita sehingga dia memilih mengakhiri hidupnya, bahkan kita tidak tau dimana sekarang bayinya." Suara isak tangis dari perempuan yang melahirkan Rianti, yaitu ibu rianti yang tulus menyayangi Rianti.
"Ah, iya dimana bayi itu, kita bisa manfaatkan dia untuk mendapatkan banyak uang dari Mas Bram Pak, Bu." Uangkap Adik Rianti, sungguh tidak memiliki perasaan, dengan mudahnya memanfaatkan keponakanya sendiri.
Abah dan Ummik sangat terkejut mendengar obrolan mereka semua, sungguh malang sekali nasib Rianti memiliki keluarga yang tidak perduli denganya, hanya ibunya saja yang memperdulikan tentang dirinya.
Abah memutuskan menarik Ummi untuk masuk kedalam mobil untuk mengajaknya pulang. Abah memutuskan untuk tidak mengembalikan Maura bayi pada keluarga yang tidak berperasaan seperti mereka.
"Abah apa apaan sih, kita harus kembalikan bayi ini bah, kemereka." Protes Ummi yang kesal dengan keputusan Abah.
"Tidak Ummi, Ummi gak dengar apa yang mereka bicarakan, mereka sama sekali tidak peduli dengan Rianti apa lagi dengan anaknya. Mereka pasti hanya akan memanfaat kan anak yang masih bayi ini Ummi, Abah tidak mau menyerahkan bayi yang tidak tau apa apa ini pada keluarga yang seperti itu." Terang Abah seraya fokus menyetir.
"Ha, Abah walau bagaimanapun mereka keluarga Rianti, dan ini anak Rianti, jadi ini pun cucu mereka, ya terserah mereka mau seperti apa memperlakukan keluarganya, kenapa kita mau ikut campur sih, lagian kalau Abah mau bawa dia." tunjuk Ummi pada bayi yang tengah tidur di jok belakang.
"Abah mau merawat dia sendiri, Ummi gak mau ya, kalau Abah sampai mengadopsi dia, pokonya Ummi gak mau titik." Tegas Ummi dengan emosi yang tertahan.
Abah menghelanafasnya, kemudian menghentikan mobiknya ke tepi jalan.
Di genggamnya tangan Ummi, seraya menatap lekat kedua manik hitam Ummi yang sngat indah itu.
"Ummi sayang, Abah melakukan ini hanya riel karena ingin menolong saja, rasa kemanusiaan Abah, meronta ronta untuk membawa bayi itu bersama kita, Abah sangat mencintai Ummi, percayalah, Bagi Abah Rianti itu masa lalu, mohon Ummi menghapus dendam sakit hati Ummi pada rianti, karens itu hanya akan menambah beban dalam hati.
masalah adopsi, kita tidak perlu mengadopsinya, kita hanya akan merawatnya saja, anggap saja jika dia itu anak yatim piatu seperti yang lainya. Ya Ummi, please. Ummi kan wanita yang baik dan pengertian." Rayu Abah Husain, yang tau betul jika istrinya itu sangat sakit hati pada Rianti mengingat masa lampau.
__ADS_1
walau begitu pun Ummi bukan lah orang yang keras hatinya, sehingga Ummi mempercayai perkataan Abah yang tidak akan memaksa Ummi untuk mengurus Maura.