
Kegagalan yang Maura kesalkan, adalah sudah satu mingguan semenjak si ustadz populer itu mengajar di tempatnya ia sama sekali tidak dapat mengikutinya, sehingga ia masih belum bisa melihat seberapa tampan si ustadz Bejo itu.
teman temanya kian senang terus bergosip kesana kemari, Sementara Maura ada saja halangan yang membuatnya tidak bisa ikut dalam pengajian Ustadz Bejo, dari masalah terjebak ratu pengasa pesantren, kemudian sakit perut dua malam berrurut turut, hingga keluarganya yang memaksa ia untuk pulang, katanya ada hal yang harus mereka bicarakan.
Maura merasa sangat kesal akan hal itu, padahal sebelumnya ia sudah membayangkan wajah ustadz Bejo yang di samakan dengan V BTS oleh Nada, Nada menunjukkan poster V BTS di sebuah toko CD yang memampang wajah anggota BTS tersebut.
dari situlah Maura yakin jika Ustadz Bejo berasal dari negeri gingseng tersebut.
"Manis," gumam Maura lirih saat menatap poster V BTS, rasa pemasarannya terhadap Ustadz Bejo semakin besar. bisa bisanya hanya Maura yang belum pernah melihat wajah Ustadz Bejo.
tapi bukan kah sudah pernah ketemu di tempat pembuangan sampah ya, Maura aja yang tidak ingat, ya di sutu kan rwmang remang jadinya mungkin Maura tidak melihat dengan jelas.
Namun rasa penasaran nya kini hanya bisa ia tahan, karena Maura sudah beradadi rumah di Jakarta dimana rumah orang tua angkat nya berada.
Maura memang tidak tahu siapa orang tua kandungnya, karena semasa bayi ia di buang di depan gerbang pesantren milik Abah Husain, ayah angkat Maura.
sejak saat itulah Maura di angkat menjadi putri ke lima Abah Husain.
dari usia Tiga belas tahun Maura mengetahui identitas yang sebenarnya itu, karena Ummi kalsum sering memperlakukan nya berbeda, Abah Husain memutuskan memberitahukan kebenaran nya agar Maura tidak murung lagi karena Abah Husain tidak akan melakukan hal yang sama dengan Ummik nya.
Kini Maura dan keluarga berkumpul di ruang keluara. Mas Husni membuka pembicaraan sebagai wakil Abah yang tengah sakit, Karena Mas husni lah putra pertama yang akan mewarisi dan menggantikan Abah memimpin pesantren kelak.
"Siti Kakak mewakili Abah, ingin memberitahukan jika abah sudah menentukan hari pernikahn mu, pria ini sangat baik, dia keponakan teman abah, Kakak harap kamu bisa menerima hal ini."
Duar.
__ADS_1
Duar
Duar.
bagainkan ledakan meriam yang membengkak kan telinga, hingga tidak dapat mendengar perkataan yang lainya.
itulah yang Maura rasa saat ini, mendadak pikirannya kosong, telinganya tidak bisa mendengar apa yang selanjutnya Mas Husni bicarakan.
Maura masih mencoba menguasai dirinya, bagaiman tidak Maura yang kemarin masih berkhayal akan kehidupan perkuliahannya sekarang dia di kabarkan hari pernikahnya sudah di tentukan.
Mimpi apa sampai dia harus menerima hal seberat ini, berat tentu saja baginya berat karena Maura masih belum mau menikah. walaupun usianya sudah bisa di katakan cukup untyk membina rumah tangga.
"Tapi Kak, Siti masih kuliah, Maura masih belum mau menikah," ucap Maura setelah daat sesikit menguasai dirinya.
Mas Husni menghela nafas kuat, ia melirik ke tiga saudaranya, seolah meminta bantuan untuk ikut berbicara, karena sebenarnya ia tahu jika Maura akan menjawab seperti itu.
Dalam keluarga Maura di panggil Siti karena ini nama yang di berikan oleh Abah Husain, sementara Maura mubarokah adalah nama yang tertera di handuk peninggalan orang tua maura.
Ummi kulsum yang tadinya merawat Abah, kini ikut bergabung serta berbicara seperti biasa dengan kata yang sedikit menyakitkan hati Maura.
"Ummi tidak menerima penolakan, tanggal pernikahan sudah di tentukan, kamu jangan jadi beban lagi untuk Abah apa lagi Abang mu, kamu tahu kan Abah terus terusan sakit ini adalah tanggung jawab terakhir yang mau dia tunaikan, sadarlah diri Siti bukan kah Abah sudah sangat baik padamu, jadi jangan menyusahkannya."
Maura menunduk dengan derai airmata yang terua mengalir, kata kata Ummi memang menyakitkan tetapi semua itu juga benar, jika Avah sudah sangat baik terhadapanya, ia tidak boleh menambah beban berat Abah, apalagi dia sudah sakit sakitan begini, tetapi Maura tetap saja tidak ingin menikah.
"Hapus air mata mu itu, Abah sudah menunggumu, masuk lah dan ingat jangan menjadi beban lagi untuk Abah." Perintah Ummi kulsum.
__ADS_1
"Ummi jangan begitu kasar pada Maura, aku yakin Maura tidak akan seperti itu." Bela Diana pada Maura.
"Kamu itu Na, selalu membelanya, makin lama dia besar kepala nanti, sudah cukup kita membiayai hidup dan pendidikanya, sudah saatnya dia keluar dari rumah ini." perkataan Ummik sungguh menyakitkan bagi Maura, padagal sudah biasa ia mendengar hal ini tetapu tetap saja masih menyakitkan.
Keempat saudara Maura hanya menghela nafas serta menggelengkan kepala yang sudah terbiasa dengan sikap Ummiknya pada Naina.
Sebenarnya dari keempat Anak Abah Husain semuanya sangat baik pada Maura, mereka tidak mempermasalahkan setatus Maura sebagai anak angkat atau anak pungut, tetapi Ummi kulsum yang tidak pernah setuju jika Abah Husain mengadopsi Maura terus saja mempengaruhi keempat anaknya agar jangan terlalu memperdulikan Maura, dari keempatnya hanya Marsya yang ikut terpengaruh, dimana Marsnya memiliki usia yang hampir sama dengan Maura, hanya beda dua tahun saja apa lagi Abahnya terkadang tidak sengaja membandingkan dirinya dengan Maura.
jadi ketika mendengar Maura di jodohkan dengan ustadz yang namanya kampungan bagi dirinya, Marsya sangat senang, dan tidak sabar melihat wajah calon suami Maura yang sama noraknya dengan namanya itu.
Di dalam kamar Abah Husain, Maura berusaha tersenyum senatural mungkin, Maura tidak mau jika Abahnya itu semakin parah sakitnya karena ia menolak perjodohan ini.
"Abah mau Siti pijitin." tawar siti begitu melihat abahnya yang duduk sambil memejamkan matanya.
dengan senyuman khasnya pria paruh baya itu menggelengkan kepalanya.
"Kemari ndok, duduk di samping Abah." Maura dengan bibir yang masih tersenyum berjalan duduk di samping Abah.
"Maa Mu pasti sudah memberitahukannya padamu ya, soal pernikahan mu." Maura mengangguk mendengar perkataan Abahnya.
"Maaf Abah tidak bisa meyakinkan Mabk Marsya mu untuk menikah, seharusnya dia yang menjalani pernikahan ini, tapi kamu sendirikan tahu kalau Mbak mu itu sefatnya seperti apa, sangat keras kepala."
"Iya Siti tahu kok Bah, abah gak perlu khawatir Maura mau kok di jodohkan, pilihan Abah pasti pria yang baik, jadi Abah jangan risau ya, yang perlu abah lakukan hanya menjadi sehat agar bisa menjadi wakil ku menikah, Siti kan masih bertemu dengan Ayah kandung Siti, jadi Siti gak akan mau di walikan selain Abah." Senyum Siti menutupi luka di dalam hatinya.
Abah Husain memeluk Maura dengan penuh kasih sayang, berulang kali kata maaf dan terimakasih di ucapkan oleh Abah Husain karena Maura mau menerima perjodohan ini.
__ADS_1
sementara itu Maura yang tidak bisa lagi membendung air matanya, ia tumpahkan dalam pelukan orang yang pertama kali memberikanya pelukan hangat, Maura akan melakukan apapun demi kebahagian Abahnya, yang sudah berjasa mendidiknya hingga dewasa ini.