Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Tidak nafsu makan


__ADS_3

Mendengar apa yang di katakan oleh temanya tadi Maura langsung menghentikan makannya, merasa tidak ada nafsu makan lagi.


Apa yang ia pikirkan semalam ternyata benar, Mbak Najwa si gadis cantik lulusan Cairo plus anak dari pakiyai pesantren ini memiliki hati pada Ustadz Bejo yang bukan lain adalah Suaminya.


Suami yang selama ini ia sembunyikan agar tidak mendapat bullyan atau cacian dan makian dari santri lain, karena Ustadz Bejo menikah dengan dirinya.


Amel dan Nada pun terkejut dan langsung menanyakan perihal berita itu.


"Hei Tutik, jangan mengada ngada kamu, dari mana kamu mendapat kabar seperti itu, jangan menyebarkan gosip yang tidak tidak ya." Hardik Amel seraya sesekali melirik Maura yang hanya mengaduk aduk isi piringnya.


"Duh, Amel. Aku gak mengada ngada ya, ini tuh aku denger sendiri dari Ratu penguasa pesantren yang bukan lain Bunyai sendiri, tadi pas aku antar baju laundry yang aku ambil dari depan, ternyata Mbak Najwa sudah bilang semalam pada Abah kalau dia tertarik sama Ustadz Bejo." Terang Tutik dengan ekspresi yang menggebu gebu merasa tidak ada yang salah dengan ia menceritakan di depan Maura.


Tentu saja Tutik tidak merasa bersalah karena dia tidak tahu tentang pernikahan Maura dengan ustdaz Bejo, bukan hanya Tutik saja kan semua santri lainpun juga tidak tau kecuali Amel dan Nada yang juga baru tahu kemarin.


Baru Maura merasa lega karena ternyata dua sahabatnya itu bisa di percaya memegang rahasia, dan juga tidak memusuhinya perihal dirinya dinikahi oleh ustdaz bejo, mengingat kedua sahabatnya itukan sangat memuja suaminya, ada rasa ketakutan jika kedua sahabatnya itu akan menjauhinya ketika tahu hubungan sebenarnya antara dirinya dengan ustdaz Bejo.


Baru saja merasa lega tetapi kini ia sudah di buat gundah gulana dengan adanya berita jika Najwa menginginkan Suaminya, Rasa was was, dan takut kehilangan bercampur aduk dalam hatinya.


"Ya bakalan banyak yang patah hati dong, kalau ustdaz Bejo menerima perjodohanya itu, lagian Kak Najwa kok gak minta sama ustadz Lainnya sih, nyesek deh aku kan gak mungkin kalau bakalan menang bersaing dengan cewek secantik Kak Najwa." Sambung santri lain.


"Em, kalau aku sih setuju aja sih, Kak najwa kan cantik pinter, sudah lulus S2 dari cairo pula, pas tuh kalau bersanding dengan Ustadz Bejo yang tampan juga pinter, aku bakalan dukung lah." Sahut Tutik dengan senyuman yang merasa tidak keberatan sama sekali dengan perjodohan antara Najwa dan Ustadz Bejo.


Takkkk.


Sebuah suara piring yang terbentur oleh sedok sungguh sangat nyaring ditelinga mebuat yang mendengar merasa benging.

__ADS_1


"Maaf gak sengaja, ini tempenya kok alot ya, kayak mulut aku kalau ngomong gak pernah di asah, asal aja jemplak." Kata Maura dengan senyuman yang dipaksakan.


Membuat semuanya diam dan tidak membahas lagi tentang Najwa dan Ustadz Bejo.


Nada menyahuti.


"Eh, udah biasakan Ra, mulut orang mah juga sering begitu kadang lain di hati lain di mulut."


"Kebalik Nad, yang benar lain di mulut lain di hati. gimanasih." Sahut Amel seraya melirik Tutik yang masih berdir ditempatnya.


Mungkin Tutik merasa apa yang mereka bertiga bicarakan tengah menyindirnya, tapi Tutik tidak peduli dan masih bicara sebelum keluar kamar.


"Pokok ya menurut aku sih, mereka sudah sangat serasi bakalan aku dukung sertus persen."


"Anak somplak tuh, apa dikira yang suka sama ustdaz bejo cuma Kak Najwa doang, kita juga suka kalik, emeng kenapa kalau kita yang jadi istrinya gak pantes gitu, heh namanya jodoh tuh ya, haya Allah yang bisa menilai pantes gak pantesnya, bukan manusia." Gerutu Amel yang kini juga merasa selera makan nya hilang mendengar kalimat terakhir Tutik.


Nada mendekati Maura


" Yang sabar ya Cantik, kamu gak kalah cantik kok, betul kata Amel jodoh itu Allah yang tentuin, secantik apapun dia kalau Allah sudah menjodohkan Ustadz Bejo buat kamu, wanita secantik apapun tidak akan bisa mengambilnya dari mu, percaya deh." Bisik Nada tepat di sampingnya.


Mata Maura berkaca kaca mendengar apa yang di ucapkan oleh teman telminnya (telat mikir) itu, baru kali ini Nada berkata kata dengan bijaknya membuat Maura terharu dan ingin menumpahkn air matanya.


Amel merasa heran apa yang di bisikkan Nada pada Maura sehingga Maura bisa berkaca kaca begitu matanya.


Denga isyarat ekpresi muka Amel bertanya pada Nada apa yang ia bisikkan, tetapi Nada malah menegrlingkan rslah satu matanya yang membuat Amel mendelik dan memperagakan akting muntahnya.

__ADS_1


kemudian membuat ekspresi jijik, Nada puas mengerjai Amel sampai tertawa terpingkal pingkal. Sementara itu Maura ikut tersenyum dan tertawa melihat interaksi keua sahabantmya itu.


Maura bersyukur berteman dengan dua sahabat yang sangat baik dan peduli padanya, tidak pernah memandang setatus dan fisik, karena sebenarnya Amel dan Nada itu anak orang kaya, hanya saja mereka berdua tidak meperlihatkannya pada yang lain.


Ketiga gadis itu memilih menyudahi sarapan pagi mereka yang terganggu dengan berita yang tidak mengenak kan hati itu, Kemudian memilih untuk pergi mandi.


Kelas mereka ada di jam sepuluh pagi karena itu mereka memilih santai hari ini. Seusai mandi mereka bertiga bersiap siap, mengenakan baju yang sopan dan rapi, tidak lupa menyiapkan hijab yang senada dengan warna baju atau rok mereka, tidak lupa mengoleskan bedak di wajah agar membuat segar orang yang memandang.


Berbeda dengan Nada dan Amel yang masih berkutat pada make up, Maura sudah siap dengan semuanya, Maura bukan tipe perempuan yang terlaku banyak menggunakn makeup, hanya cukup pelembab dan sunscrin yang ia oles kan di kulit wajahnya saja sudah cukup, kalau bibir Maura hanya menggunakan lipglows yang manfaatnya mencegah bibir pecah pecah, karena tanpa lipstik yang berwarna bibir Maura sudah memiliki warna alami.


Hal itulah yang terkadang membuat Bejo susah mengendalikan nafsunya saat melihat bibir Maura.


Maura memilih membaca beberpa buku mata kuliah yang nantinya akan mereka pelajari di kelas, meski semalam sudah membaca tidak ada salahnya jika ia mebacanya lagi sembari meninggu temn temanya itu siap.


Beberpa menit kemudian Amel dn Nada pun sudah siap dan mengajak Maura untuk berangkat tepat pukul sembilan pagi saat Maura melihat jam di jam tangannya.


"Masih jam sembilan kita bernagkat sekarang?" tanya maura pada kedua sahabatnya itu.


"Heem, aku mau mampir kekantin dulu, aku laper masian. Yuk," ucap Amel yang di setujui oleh Nada.


memang benar sih mereka bertiga tadi sarapan dengan tidak benar dimana makannya tidak habis separo sebab mendengarkan berita yang tidak sedap itu.


"Ya udah yuk." Ajak Maura Kemudin mereka bertiga langsung berangkat dengan berjalan saling beriringan.


Di kantin, seperti biasa Maura akan memesan soto kesukaannya, sementara Amel bakso dan nada Nasi goreng.

__ADS_1


Ditengah menunggu pesanan ponsel Maura berdering.


__ADS_2