
Seusai melaksanakan shalat malam, kini Maura dan Bejo tengah duduk di atas kasur dengan psiai berhadap hadapan.
mereka ingin membicarakan kelanjutan rencana pernikahan yang audah terlanjur terjadi ini.
"Aku tidak tahu arti pernikahan ini apa untuk mu, tetapi bagi ku, pernikahan bukan hal yang main main jadinaku akan melakukan semua tanggung jawab ku sebagai suami dan menerimamu dengan ikhlas." Bejo mengutarakan isi hatinya tentang hubungan mereka berdua.
"Siapa juga yang mau main main dengan pernikahan, tapi aku gak suka dengan pernikahan ini."
Deg
jantung bejo serasa panas, gadis cantik di hadapanya ini ternyata tidak suka dengan pernikahnya.
"Lalu, pokonya aku gak mau ada orang lain tahu kalau kita suami istri apalagi di pesantren, aku gak mau, kalau kamu mau aku meneima pernikahan ini, jangan pernah memberitahu orang oesantren kalau kita udah nikah." Tegas Maura.
"Kenapa harus begitu, katanya kamu tidak mau main main dengan pernikahan, lalu ini apa?" Bejo mengangkat satu alisnya.
"Ya ya, A a aku kan belum cinta sama kamu, dan kamu itu.. " Maura menghentikan kalimatnya.
"Kamu itu... "
"Aku apa?" ulangBejo dengan memicingkan matanya mulai curiga dengan apa yang mau di bicarakan oleh Maura.
"Kamu Uatadz populer di pesantren bisa bisa aku di jadikan penyetan oleh para fens mu itu." Batin Maura yang enggan mengatakan hal ini.
"Pokoknya intinya, jangan kasih tahu dulu orang pesantren, karena pernikahan ini mendadak, tidak ada yang tahu kan bahkan aku gak kasih tahu temen temen ku, jadi lebih baik sembunyikan aja ya." Marau memohon dengan mata yang berbinar serta senyuman yang manis.
Deg.
Deg.
Detak jantung Bejo berlarian melihat senyuman itu, Maura memang sangat cantik siapa pun melihat senyuman itu pasti akan terpesona.
Bejo yang baru ingat jika dari semalam Maura tidak melepas hijabnya itu ia jadi penasaran bagaimana tampilan Maura jika tidak mengenakan Hijab.
"Kepas hijab kamu?" perintah Bejo yang membuat Maura kaget pasalnya bukan menyetujui apa yang Maura minta eh malah minta melepas hijab.
"Lepas hijabnya atau aku tidak akan setuju dengan apa yang kamu minta itu." Ancam Bejo seraya tersentum tips, sangking tipisnya Maura tidak melihat hal itu.
Maura melototkan matanya apa yang ia jaga dari semalam ternyata Bejo malah ingin melihatnya, Maura sangat malu, ia tidak terbiasa berpenampilan tanpa hijab di depan laki laki karean itu semalaman ia tidak melepaskanya meski Bejo sudah sah menjadi suaminya.
__ADS_1
dengan yakin Maura menggelengkan kepalanya, tanda tidak mau melepasnya.
"Kenapa kamu tidak mau aku kan suami mu, gak masalah kalau kamu buka di depan ku, yang akan jadi masalah kalau kamu bukanya di depan pria yang bukan mahrom mu."Jelas Bejo yang tidak sabar lagi ingin melihatnya.
Bejo memajukan psisinya agar lebig dekat lagi pada Maura, Melihat Bejo Maju Maura pun mundur begitu terus hingga Maura mau terjatuh karena sudah mentok di pinggir ranjang sebelah kiri.
"Ih kenapa sih maksa banget, mundur dong aku nanti jatuh." Protes Maura serata mendorong Dada Bejo.
Bejo yang tidak mau Maura jatuh pun langsung menariknya hingga masuk ke daam pelukannya.
terjadi pelukan beberpa detik sebelum Maura berontak melepaskan diri.
"Cari kesempatan aja sih." keluh Maura yang merasa kesal dengan debaran jantungya yang tidak mau berhenti,
ya sejak Bejo memajukan duduknya jantung Maura sudah terus maraton hingga kecapekan karena terus berlari.
Sementara itu Bejo pun ternyata sama juga tengah mengontrol debaran jantungnya yang lonpat lompat kayak kodok.
Bejo meraih kedua pipi Maura dengan kedua tangan kekar miliknya, mengunci pandangan Maura, membuat Maura mendelik tidak percaya dengan apa yang Bejo lakukan saat ini.
Sementara di luar tepatnya di dapur sudah pada sibuk memasak untuk menjamu besannya.
Setelah berhasil melepas hijab Maura tanpa di sadari Bejo telah mendekatkan wajahnya dan hampir saja bibir merwtka berdua menyatu.
Ketukan pintu menyadarkan keduanya sehingga ciuman itu pun tidak terlaksana. tetapi Bejo malah mencium kening Maura dengan lembut.
Deg, perasaan yang sama dengan saat Bejo pertama kali menciumnya sesudah akad semalam.
"Kamu benagi hijab mu, aku bukakan pintu dulu." Ucap Bejo yang membuat Maura merasa seperti mereka habis melakukan hal intim saja.
padahalkan hanya sebuah pelepasan hijab, kok jadi kayak begitu sih batin Maura yang langsung membenahi hijabnya.
Lalu ia ikut turun menuju pintu penasaran siapa yang megetuknya.
"Loh Mbak Ani, ada apa?" tanya ku setelah melihat Mbak ani ada di ambang pintu dengan wajah piasnya.
"Abah Siti, Abah..." Belum selesai Mbak ani bicara Maura langsung melesat menuju kamar abah.
Maura tidak mau Mendengarkan kalimat Mbak ani yang kelamaan itu. sesampainya di kamar Abah ternyata hanya ada Mbak Diana saja yang langsung memeluka Maura, Maura kebingungan merlihat hal itu, Diana menangis di pelukn Maura, Maura tidak tahu apa yang terjadi dan memilih diam agar Diana tenang terlebih dahulu meski hatinya resah karena tidak paham akan situasinya.
__ADS_1
"Mbak Diana ada apa kenapa semuanya menangis?" tanya ku kahawatir.
Diana bukanya menjawab tapi hanya memeluk erat tubuh Maura, Diana memberikan kode pada Bejo untuk masuk kedalam melihat kondisi sebenarnya.
Sementara Maura di tahan di luar kamar dengan Diana. Maura semakin heran dengan sikap Diana, yang seperti ini, tidak biasanya Diana memeluknya dengan erat.
terdengar suara tangis yang sangat keras diari Ummi kulsum, membuat Maura melepaskan pelukan Diana.
"Mbak sebenar nya ada apa, aku mau lihat Abah Mbak," uacap Maura penasaran.
"Tunggu disini ya," Diana masih tetap menahan Maura.
tidak berselang lama Ummik kulsum di bopong keluar kamar dalam kondisi pingsan, dan di pindahkan ke kamar sebelah yaitu kamar Mbak ani.
Diana yang melihat itu langsung ikut masuk ke dalam kamar Ani untuk melihat kondisi Ummiknya.
bagi Maura ini adalah kesempatan untuk masuk ke kamar abah dan Umiknya.
perasaanya tidak enak, begitu masuk ke kamar Abah, Mata Maura menangkap sosok yang tertutup jarik di atas tempat tidur.
Deg.
"Siapa yang tidur seperti orang mati itu, kenapa semuanya menangis, Marsya bahkan sampai histeris," Batin Maura yang masih belum mengerti dengan apa yang terjadi.
Bejo datang mengahmpirinya dengan lembut memeluk Maura agar istrinya itu tidak histeris saat tahu kebenaran nya.
"Apa, ada apa sebenarnya?" tanya Maura mendongakkan wajahnya melihat pada mata Bejo yang tersiratkan ke sedihan.
"Kamu harus ikhlas, dan tabah, Allah telah memanggil Abah." Bisik bejo di telinga Maura.
Bisikan itu memang lemvut tetapi menusuk jantung Maura, seakan memaksa berhanti berdetak, tubuh Maura lemas tak berdaya, dengan sekuat tenaga ia mencoba menyingkirkan tubuh Bejo yang menghalangi arah pandang nya.
"Abah," panggil Maura membuat yang lainnya menoleh pada Maura, Husni yang tadi hanyut dalam kesedihanya kini sadar jika ini bukan akhir tapi masih awal perjalanan hidupnya, kepergian Abahnya siap tidak siap ia harus menerimanya.
Husni mendekati Maura yang juga pasti sangat sedih, meneriha kehilagan Abah yang selalu ada untuknya, selalu membela dirinya, tempat nya bercerita, husni tahu itu, karean sang abah tidak pernah membeda bedakan semua anaknya, dan abahnya itu sering bercerita maslah Maura dengan Ummiknya yang sering tidak adil pada Maura.
Maura tergugu menangis serta memandangi wajah Abahnya yang telah di buka oleh Bejo.
"Ini semua gara gara kamu, gara gara kamu. dasar anak pungut pembawa sial. " Marsya berteriak memaki Maura serta menarik Maura yang tengah menangis.
__ADS_1