
Bejo menatap jam tanganya, sudah hampir sepulug menit istrinya pergi ke toilet tetapi kenapa tidak kunjung kembali, ingin rasanya Bejo menyusulnya takut jika terjadi sesuatu pada istri tercintanya itu.
Sementara itu Maura sedang terpana dengan wajah tampan di hadapannya, mata biru, alis tebal, hidung mancung, bibir yang seksi, mampu membuat Maura ternganga.
Tangannya yang kekar masih bergelayut pada pingging Maura.
"Astagfirullah, Dek." Bejo langsung menairik tangan Maura hingga Maura jatuh dalam pelukan Bejo.
Bejo yang gelisah, tadi lngsung bergegas menyusul Maura.
"Bik saya susul Dek Siti dulu ya, takut ada apa apa."
"Baik, Den."
Setelah melangkah hingga mendekati toilet betapa terkejutnya Bejo melihat istrinya berada pada pelukan pria lain, bahkan seorang bule tampan membuat hatinya panas bergemuruh, ingin rasanya ia memukul pria bule tersebut, karena sudah lancang memeluk istrinya.
Tetapi Bejo tidak ingin gegabah, ia masih percaya pada istrinya itu yang tidak mungkin berkhianat terhadapnya.
Namun sungguh, saat ini ia sedang di kuasai amarah.
"Mas, ini gak seperti yang kamu lihat kok, dia...." kalimat Maura terpotong dengan tuduhan Bejo.
"Maksud kamu apa, peluk peluk istri saya." tuduhnya pada pria yang telah menolong Maura.
"Saya ...." Belum selesai pria bule tersebut menjelaskan tapi lagi lagi Bejo memotong pembicaraan.
"Saya peringatkan pada anda, jangan macam macam pada istri saya." Bejo langsung membawa pergi Maura begitu saja.
__ADS_1
Tanpa mau mendengarkan penjelasan dari pria bule tersebut.
"Sungguh pria pencemburu, ck ck." Pria bule tersebut pergi dari area toilet, padahal awalnya ia mau buang hajat karena hal tersebut tubuhnya sudah tidak ingin lagi untuk memenuhi panggilan alam.
Sementara Bejo yang masih merasa marah menghentikan langkahnya untuk meminta penjelaan dari istrinya.
"Dek, jujur sama Mas, kamu tadi itu ngapain main diem aja di peluk orang itu, kamu mau selingkuh?" tanya Bejo dengan intonasi yang ia tekan karena tidak ingin membentak Maura.
"Astagfirullahaadzim, Mas, jangan ngomong kayak gitu, gak mungkin lah aku selingkuh dari kamu,"
"lantas tadi itu apa?"
"Dia itu orang yang nolongin aku pas ada ibu ibu gendut yang nabrak aku Mas, aku oleng dan mau jatuh, untung di tolongin sama bule tadi, harusnya itu tadi kamu ucapin terima kasih loh, bukan malah marah marah sama dia." Jelas Maura.
Tetapi Bejo yang sudah di landa rasa cemburu, langsung membuat kesimpulan dan asumsinya sendiri.
"Seriusan Mas, aku sama dia gak lakuin apa apa, dia itu murni nolongin aku aja."
Maura yang tau jika Suaminya masih sangat marah karena dirinya di peluk oleh orang lain, hanya diam dan menurut saja, ia tidak mau berdebat yang ujung ujungnya malah saling menyalahkan.
Maura tau betul bagaiman ketika orang cemburu, apapun yang kita bicarakan meskipun itu fakta terkadang di matanya hanyalah kebohongan.
Di perjalanan pulang Bejo terus diam, Maura pun juga diam, membiarkan suaminya meredakan amarahnya dulu, ia tidak mau jika pertengakaranya di lihat oleh Bik Inem.
Sesampainya di rumah, Bejo langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mendinginkan badan dan pikirannya. cemburu telah menguasai dirinya, ingin rasanya ia marah dan menghancurkan sesuatu, tetapi itu bukan hal yang baik, karena itu dirinya lebih memilih mandi saja.
Maura memilih mandi di kamar mandi luar, dan benar dugaan Maura jika dirinyalah yang akan lebih dulu selesai mandi.
__ADS_1
Maura turun ke dapur untuk membuat kan kopy, ia ingin menjelaskan lagi, sekaligus meminta maaf, meskipun itu bukan disengaja, tetap saja memang seharusnya ia tidak terlalu lama ada di pelukan pria bule itu.
Bejo keluar kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Pikiran yang jernih pula, Maura tersenyum menyambut suaminya tersebut.
"Mas, aku bikinkan kopi, di minum dong." Maura memperlihatkan secangkir kopi yang berdiri tegak di atas lepek.
Bejo menghampirinya dan meraih kopi tersebut lalu menyeruputnya.
"Ah... Segernya," ucap Bejo setelah menyeruput kopi buatan istrinya.
"Mas, Aku minta Maaf ya, karena kejadian tadi kamu jadi marah, yah meskipun itu gak sengaja sih." Aku Maura dengan wajah yang dibuat bersalah.
Bejo tersenyum, lalu meraih kepala istrinya dan mengecup keningnya.
"Mas, Maafkan kok, Mas juga minta maaf karena sudah emosi dan nuduh kamu yang tidak tidak, Mas hanya merasa cemburu saja melihat istri Mas, di peluk orang lain, apalagi bule."
"Hehe, sama sama Mas, kita baikan kan."
"Iya, baikan. Mas gak mungkin bisa marah lama sama kami Dek,"
"Makasih ya Mas, makin cinta deh sama kamu."
"Oh, ya, coba buktikan makin cintanya."
"Eh, maksudnya gimana?"
"Begini."Bejo mengecup bibir Maura sekilas.
__ADS_1
"Cium Aku duluan Dek," pinta Bejo yang membuat Maura bersemu merah wajahnya.
Maura gak usah malu malu kucing, kan udah halal cium aja.