Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Donatur


__ADS_3

"Mas, katanya tadi kamu lagi pertemuan sama donatur terbesar ya, di kampus ini?" tanya Maura begitu mereka berdua sudah berada di dalam mobil dan hendak menuju rumah Ustadz Zainal.


"Kok kamu tau Dek, dari mana?" tanya Bejo yang ternyata pertemuannya sudah menyebar ke sepenjuru kampus.


"Taulah Mas, kan kalau setiap ada pembangunan, memang sering dilakukan pertemuan begitu, Alahamdulillah ya Kampus kita ada yang kasih sumbangan banyak, semoga amal ibadahnya selalu berkah, dan semakin banyak rizqinya." Doa Maura untuk orang yang menjadi donatur tersebut.


"Aamin..., kita cari buah anggur aja ya dek, soalnya kemarin Mas udah beli apel."


"Siap Mas, enak tuh siang siang begini makan anggur."


Bejo membelokkan mobilnya pada toko buah terdekat, kemudian membeli anggur dua kilo, setelahnya ia kembali lagi ke dalam mobil.


"Pinter kamu milih Mas, kayaknya ini bakalan manis deh, Mas," ucap Maura yang sudah tidak sabar untuk menyantap anggur yang segar itu.


"Bukan mas yang pilih kok, penjualnya Dek, mas tinggal tunjuk aja sih." jujur Bejo.


"Boleh incip gak Mas," tanya Maura malu malu.


"Ambil aja Dek, lagian itu kan juga buat kita,"


"Heheh makasih." Maura mengambil lima biji anggur dan mengupasnya kemudian melahapnya, matanya berbinar merasa sangat enak dan nikmat, bisamerasakn anggur yang sangat segar tersebut.


hanya butuh waktu sepeuluh menit saja sudh sampai di rumah Ustadz Zainal.


Maura dan Bejo langsung turun, ternyata Ustadz Zainal dan Istrinya sudah menunggu kedatangan mereka berdua.


"Alhamdulillah, kalian datang juha, kirain tidak jadi kemari?" tanya Ustadz Zainal dengan senyum ramah.


"Ya jadilah paman kan aku udah bilang, mau mampir kesini." Balas Bejo seraya menyalami Bibiknya.


"Ya sudah kalian bersihkan badan dulu, habis itu kita makan siang bersama, kalian belum makan siang kan?" Duga Bibik Aisyah, yang memang tapat sasaran.

__ADS_1


Bejo dan Maura bebersih diri seraya mengganti baju mereka dengan baju bersih yang ada di rumah itu.


selesai mengganti baju, Maura dan Bejo ikut berkumpul ke ruang makan, dimana Paman, Bibi dan Fadli sudah menunggu.


"Wah pasti enak ini Bik, wah mantap, tumis kangkung, sambal mata, di dampingi dengan ikan asin dan kerupuk, wah mantap, lama gak makan begini." Bejo merasa sudah mau ileran melihat makanan sederhana tapi nikmat itu.


Maura mengerucutkan bibirnya, bukan tidak suka dengan makananya, tapi merasa tersindir dengan omongan Bejo yang bisa diartikan jika dirinya tidak bisa memasak dengan enak, seenak masakan bibinya.


"Lain kali Maura, bikin begini aja, yah itung itung ngirit, hehhe. pasti di rumah makanan yang di masak Maura jauh lebih enak enak ya dari pada ini." Ujar Bibik Aisyah yang tadi melihat wajah Maura mengkerut mendengar perkatan Bejo.


"Iya, bukannya enak sih Bik, kan Maura juga masih belajaran, kalau masak yang beginin sih emang gak pernah. Paling cuma sayur asam, sayur bening." Sahut Maura yang kini mengambilkan nasi dan ditaruh ke dalam piring Bejo.


"Iya, maskan istriku gak kalah sama masakan Bibik, aku selalu tambah kalau dia yang masak." Jujur Bejo yang membuat Maura merasa senang.


memang benar sih kalau Maura yang masak Bejo akan berkali kali tambah, meskipun itu hanya sebuah sayur asam dan tempe goreng.


"Emang harus begitu Jo, masakan istri itu tidak ada duanya, salalu enak di lidah kita kan, gak perlu mikirin kata orang lain, orang lain mah masa bodoh, toh masakan istri itu buatnya dengam penuh cinta." Sahut Ustadz Zainal yang mana langsung mendapat cubitan dari istrinya yang tersipu malu.


Semua orang terkekeh melihat tingkah pasutri lama itu, sangat rukun dan harmonis.


selesai makan siang, kini mereka menyantap makanan penutup, yaitu kue Brownis serta buah buahan yang ada di kulkas serta yang baru Bejo beli.


Mereka bersama sama menikmatinya di depan TV, sambil mengobrol dan bersendau gurau.


Bejo dan Pamanya asik membicarakan donatur yang pagi tadi mereka temui, sementara Maura dan Bibik Aisyah membicarakan tentang kue Brownis tersebut.


"Kamu beli dimana kuenya Ra, sangat enak." puji Bibik Aisyah pada kue berwarna hitam kecoklatan itu.


"Gak beli Bik, tadi pagi ada yang kasih."


"Siapa?" tanya Bibik Aisyah dengan mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Tetangga Baru, sepertinya ini tanda perkenalan mereka sih. Karena baru kemarin mereka pindahan," jawab Maura.


"Rumah depan yang gede itu, udah ada yang nempati?" tanya Bibik Aisyah memastikan. Maura hanya menganggukkan kepalanya.


"Wah, pasti orangnya kaya raya ya, bisa membeli rumah sebesar itu, tau tidak awalnya Paman mu di tawarin rumah itu, tapi karena terlalu mahal jadi bibik sarankan untuk ambil yang sekarang kalian tempati itu." Terang Bibik Aisyah yang turut andil dalam pemilihan rumah yang merka tinggali sekarang.


"Iya, Bik, terimkasih karena sudah merekomendasikan rumah itu, aku suka banget sama rumah yang sekarang, meneurutku gak kalah bagus kok dari rumah depan itu, apalagi keasriannya aku suka banget, kapan kapan Bibik mampir ya, aku punya taman baru. Bunga bunga yang awal kita tanam udah pada berbunga loh, cantik banget." Cerita Maura.


"Oh, iya, wah Bibik pingin sekali lihatnya, yang dibelakang bagaimana kata Bejo juga ada tamannya?"


"Sama Bik, malah jauh lebih bagus karena Mas Bejo kasih kolam dan ikannya, itu jadi tempat favotit aku kalau lagi suntuk sendirian."


"Wah Bibik harus cari waktu ini untuk berkunjung ke rumah mu, akhir akhir ini banyak acara di paguyupan, jadi Bibik sering gak ada waktu. Alahamdulillah siang ini acaranya udah selesai, dan akan ada lagi nanti sore, pengajian di dusun sebelah."


"Iya, Bik, gak papa, kapan pun bibik mau datang Maura sama Mas Bejo bakalan siap menyambut kok," ucap Maura dengan sangat bahagia.


"Bibik Bersyukur sekali loh, Bejo mendpatkan istri seperti kamu, sudah cantik, baik pinter lagi, yang betah ya sama Bejo."


"Eh, Bibik kok bilangnya begitu, ya betah lah bik, masak sama suami sendiri gak betah,"


"Iya Bibik mah ada ada saja, Maura itu kan sudah cinta mati sama aku bik, jadi tenang apapun yang terjadi kita berdua gak akan pernah berpisah." sahut bejo yang sedari tadi juga ikut mendengarkan obrolan sang istri dengan bibiknya itu.


"Hahahah, masak sih bukannya kamu ya, yang cinta mati. Sampai bucin."


"Iya sih, kayaknya aku yang bucin." cengir Bejo mendapat tuduhan dari Bibiknya.


bucinya Bejo memang masih belum terlihat jelas sih, tetapi kalau dari gesturnya Bejo tidak akan melepaskan Maura sih kalau ada orang lain yang meminta istrinya untuk meninggalkannya, meskipun itu hanya urusan sepele.


"Iya, mas bejo itu sunghuh bucin Bik, masak tadi itu sebenarnya kue ini ada temannya sebuket bunga, eh bunganya disuruh taroh taman belakang, sedangkan kuenya mau di makan sama dia."


"Hahaha, ada ada aja kamu Jo, kamu gak khawatir kalau itu kue ada apa apanya gitu."

__ADS_1


"Ya gak akan lah Paman, kalau memang ada, ya kita semua bakalan kena dong, kan yang makan bukan aku aja." Bejo melahab semua brownis yang ada di tanganya itu.


Semua orang jadi tertawa bersama mengingat bahwa semuanya sudah mencicipi si kue manis itu.


__ADS_2