
Maura melihat di layar ponselnya tertera nama US (Ustadz Suami), Maura mengeryitkan keningnya tumben dia menghubungi ada apa.
Nada dan Amel yang ikut mengintip pun langsung tersenyum.
"Angkat aja, lagian disini kan bebas kalau mau angkat telpon," ucap Amel pengertian.
"Iya Angkat aja." Timpal Nada.
Setelah senyum pada kedua temanya Maura mengetuk layar hijau supaya ponsel mereka bisa saling terhbung.
Maura mendekatkan Ponselnya pada kuping kanannya yang tentu saja terhalangi oleh hijabnya.
"Asaalamualaikum," ucap Maura yang langsung dijawab oleh Bejo di seberang sana.
"Aku di kantin kampus Mas, kenapa?" tanya Maura penasaran kenapa Bejo menanyakan tentang posisinya.
"Oh, gitu, ya sudah nanti aku pergi kesana," ucap Maur yang kemudian menjawab salam dari Bejo untuk mengakhiri sambungan telpon.
"Gimana, ada apa?" tanya Amel yang sangat kepo.
"Oh," Maura bercelingak celinguk sembari memberi kode agar kedua sahbaatnya itu mendekat.
"Habis kelas aku mau ke rumah ustadz Zainal." Bisik Maura.
"Buat Apa?" tanya Nada yang kemudian kena jitak.
"Auh.. Nada ih, sakit tau, ini pasti keningku merah." keluh Nada sembari mengusap usap keningnya yang merah itu.
"Ya, kamu tuh ya, ada ada aja tanyanya, ngapain lagi ke rumah Ustadz Zainal, kalau bukan ketemu sama Ustadz suami." Kata Amel dengan menghilangkan suara pada nama ustad Zainal dan Ustadz Suami.
"Oh... Boleh ikut?" tanya Nada dengan polosnya.
Bukanya mendapat jawaban malah mendapat tatapan tajam dari Amel yang tengah sibuk ******* ***** jari jarinya bersiap untuk melakukan jitakkan keduanya di kening Nada.
"Ih, Amel aku kan cuma tanya, jangan KDRT dong." Kata Nada dengan manjanya.
"Idih, KDRT, kamu pikir aku suami mu, ih Najis, Nada." Amel mengumpat jijik.
Maura hanya tersenyum dan menggelng gelengkan kepala melihat tingkah absurd kedua temanya itu yang sungguh menghibur.
Sebenarnya Maura pun juga penasaran kenapa ia harus datang ke rumah Ustadz Zainal, kenapa perasaanya seperti tidak enak ya, apakah terjadi sesuatu yang buruk. Semoga saja semuanya baik baik saja.
Dua kelas telah usai Maura ikuti dengan lancar, kini jam menunjukkan pukul setengah empat sore.
Maura dengan di bantu kedua temannya mengendap endap pergi ke perumahan Ustadz Zainal.
Setelah berhasil masuk kedalam rumah paman suaminya itu, Amel dan Nada pun langsung pergi dari sana takut kalau ada santri lain yang memergoki keberadaanya.
Amel dan Nada tidak langsung kembali ke asrama, melainkan pergi ke rumah nenek Nada yag dekat dari sana dengan izin mau mengerjakan sebuah tugas.
__ADS_1
"Asaalamualaikum, Paman, Bibik." Saat Maura begitu berada di dalam,
Ustadz Zainal yang tengah duduk bersama istrinya di depan TV pun langsung menjawab bersamaan.
"Waalaikumsalam, eh menantu sudah datang, sudah sholat?" tanya Bik Aisyah dengan senyum ramahnya.
"Belum, Bik," jawab Maura seraya mencium pungggung tangan Aisyah, kemudian berganti mencium punggung tangan Ustadz Zainal.
"Ya sudah kamu shalat dulu habis itu langsung makan." perintah Bibi Aisyah.
"Kalau begitu Maura ke kamar dulu ya, oh ya Mas Bejo belum datang?" tanya Maura karena ia tidak melihat suaminya itu.
"Oh masih keluar sama Fahri, cari apa gitu tadi." Jawab ustadz Zainal yang masih tetap dengan posisinya di depan TV.
Maura menganggukkan kepala mendengar jawab dari ustdaz Zainal, kemudian ia berlalu menuju kamar untuk melakukan shalat Asyar, Maura memang meninggalkan satu mukenanya disini, agar ia tidak lagi repot repot meminjam pada Bibi Aisyah jika ia datang kemari.
Dengan tenang Maura melaksanakan gerakan demi gerakan, hingga selesai, kemudian ia panjatkan doa didalam hati.
"Astagfitullahaladzim, ih Mas ngagetin aja sih." Maura kaget melihat sosok Bejo yang tiba tiba sudah ada di belakangnya, duduk diam di pinggir kasur membuat Maura yang tidak mendengar kedatangan Bejo pun terkaget kaget.
"Masuk gak ada suaranya Mas, jantungan nanti aku." Keluh Maura yang masih menatap kesal pada suaminya itu seraya mengelus dadanya.
"Maaf ya, Dek. Tadi Mas udah ketok pintu loh, tapi karena gak ada sahutan Mas langsung masuk, dan lihat kamu lagi khusuk berdoa, Sangking khusuknya berdoa mungkin itu sebabnya kamu gak mendengar langkah kaki ku waktu masuk." Jelas Bejo.
"Lagian khusuk banget sih doa apa, sampai segitunya?" tanya Bejo dengan tersenyum manis menarik Maura ke pangkuanya setelah selesai menata kembali mukena di tempatnya.
"Berdoa, supaya suami ku gak di ambil wanita lain," jawab Maura dengan wajah yang masih cemberut.
"Aku kangen sama kamu, Dek," ucap Bejo dengan memeluk erat tubuh Maura.
"Hanya itu ya, kamu suruh aku datang ke rumah Ustadz Zainal?" tanya Maura.
"Bukan, ada hal lain yang mau Mas Sampaikan ke kamu."
"Apa?" tanya Maura penasaran.
Belum sempat Bejo menjawab ketukan pintu dari luar membuat Mulut Bejo tertutup kembali.
"Jo bawa istrimu makan dulu, dia pasti belum makan sore." Pinta Bibi Aisyah yang mendapat jawaban dari Bejo.
"Iya Bik, sebentar lagi keluar."
"Mas Jawab nanti ya, setelah kamu makan." Maura menganggukkan kepalanya dan mengikuti Bejo keluar dari kamar.
Maura makan di temani oleh Bejo yang menant belum makan sore juga, ada sate. Bejo menjelaskan kalau tadi ia beli sate bersama Fahri.
Karena makan berdua saja tangan Bejo mulai usil dengan meraba pinggang Maura yang tentu saja membuat Maura kaget.
088989871548
__ADS_1
Matanya melotot memandang Bejo yang malah tersenyum tanpa dosa.
"Mas," ucap Maura berusaha menegur Bejo tetapi dengan santai Bejo berkata.
"Nikmati aja Dek, mau tambah lagi satenya," ucap Bejo dengan keras yag pasti di dengar oleh Ustadz Zainal beserta istrinya yang berada di depan TV.
Bukan hanya sekedar meraba, Bejo juga kadang mencolek pinggang Maura yang sangat sensitif pada sensasi geli sehingga Maura seperti cacing yang kepanasan bergerak kesana kemari.
Bejo sangat puas melihat wajah garang istrinya yang tidak berani menegur keras pada dirinya, pasalnya ruang makan dan ruang TV berdekatan sehingga apa yang mereka bicarakan akan terdengar.
Sehabis makan dan mencuci piring Maura langsung pergi ke kamar, dia meluapkan kekesalannya dengan meninju ninjukan tangannya di udara.
Saat Bejo masuk Maura memasang wajah garangnya dan memukul lengan Bejo untuk membalasnya.
"Keterlaluan ya kamu Mas, gelitikin aku di meja makan, ih kamu tuh ngeselin, mana pakai raba raba juga." Maura kini membala mencubit pinggang Bejo tanpa Ampun.
"Ampun Dek, ampun, Mas minta Maaf," ucap Bejo yang tidak bisa menghindar dari cubitan Maura.
puas memberikan cubitan pada suaminya, tanpa sadar Maura berada tepat di atas tubuh Bejo.
Beberapa detik mereka saling bertatapan, Maura mengalih kan tubuhnya dari atas tubuh Bejo dengan wajah yang bersemu merah.
Bejo yang tau jika Maura tengah merasa malu hanya mengulas senyum dan menduduk kan tubuhnya.
Selepas Magrib, Bejo memanasi mobilnya yang sudah beberapa hari tidak di gunakan, Maura heran, Mau kemana malam malam begini kok manasin mesin mobil. Pikir Maura.
"Udah siap Dek?" tanya Bejo membuat Maura mengerutkan keningnya.
"Siap Apa Mas?" tanya Maura polos.
"Kita mau pergi, berdua, yuk. Em, gitu aja deh, kamu udah gak perlu bersiap apa
pun kok, udah selalu cantik." Puji Bejo yng kemudian menarik Maura masuk kedalam mobil yang masih berada di dalam garasi itu.
Maura memandang heran pada Bejo, ia juga memandang pada Ustadz Zainal dan Bibi Aisyah bertanya dengan ekspresi. tetapi mereka tidak memberikan jawaban malah mendorong Maura untuk masuk ke dalam mobil
Setelah keluar dari area pesantren Maura terus mendesak Bejo untuk mengatakan tujuan mereka pergi. Tetapi Bejo hanya mengatakan, "lihat saja nanti."
Membuat Maura kesal dan memilih diam, kemudian Maura merasa terkejut saat Mobil yang sudah satu jam setengah itu berbelok pada sebuah hotel bintang lima.
"Mas, kita ngapain ke hotel?" tanya Maura dengan mantap Bejo bingung.
"Meneurut kamu buat apa?" tanya Bejo balik.
"Ikh, mas beneran ngapain kita ke hotel, ada acara disini?" tanya Maura yang masih penasaran.
"Bukan, tapi kita Mau bulan Madu." Sontak jawaban Bejo langsung membuat jantung Maura berdebar disko jungkir balik.
Otaknya pun seolah berputar putar mendengar dua kata Bulan Madu. tanpa sadar Maura pingsan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Kakak2 boleh minta pendpatnya gak, kalian lebih suka 2 ribu kata di jadikan dalam 1 Bab seribu kata/ 1 bab 2 ribu kata langsung. Komen ya. Yang terbanyak itu nanti yang aku buat acuan nulis, biar semangat.💪💪💪