Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Kesempatan ada waktu


__ADS_3

Maura keluar dari kamar mandi dengan wajah yang jauh lebih segar, tersenyum memandang suaminya yang duduk dengan memegang undngan yang ia bokak balikkan sejak tadi.


"Ada apa Mas sama undngan nya kok di bolak balik kayak gorengan begitu?" tanya Maura yang kini sudah berada di depan Bejo.


"Hah, ini Dek. undangan kok gak ada namanya, hanya bertuliskan (Kami mengaharap kehadirannya) ini orangnya niat apa tidak sih bikin undangan."


"Hahah, ya niat lah Mas, itu tadi bik inem yang kasih katanya dari tetangga depan mungkin mereka mau mengadakan syukuran atas rumah barunya, kita hadir ya Mas, aku penasaran juga sih sama isi dalam rumahnya, hehehe."


"Hem, insyaallah ya, kita sempatakan hadir lagian kan kalau di undang ya memang harus hadir sayang," jawab Bejo seraya menarik tangan Maura perlahan menuntunnya untuk segera berbaring di sampingnya.


"Mas gak papa kan kalau malam ini kita tidur aja, aku lelah banget, ngantuk juga." Maura merayu Bejo agar tidak meminta haknya malam ini, karena memang dirinya merasa lelah sekali.


"Iya, tidur lah, Mas tau kok kalau kamu lelah," jawb Bejo seraya mengecup kening Maura yang kini sudah masuk kedalam dekapannya.


"Makasih Mas," ucap maura, yang beberapa detik kemudian sudah terlelap terbawa ke alam mimpi.


Bejo yang belum bisa terlelap mendengar dengkuran halus istrinya pun tersenyum karena melihat Maura dengan cepatnya pergi kealam mimpi.


"kenapa aku merasa ada yang akan terjadi, apa mungkin ini hanya perasaanku aja atau mungkin ini memang pertanda," gumam Bejo yang kini melirik undngan yang tadi ia letakkan di tas meja.


"Semoga, ini hanya perasaanku saja dan tidak akan ada hal yang buruk terjadi pada ku maupun pada Maura ya Allah, selalu lindungi kami dimanapun kami berada," lanjut Bejo berdoa untuk menenagkan hatinya yang merasa tidak enak, yang kemudian berdoa lagi untuk segera tidur.


Keesokan harinya, Seperti bisanya Maura sudah berkutat di dapur untuk mempersiapkan sarapan sebelum berangkat ke kampus, hari ini Maura maupun Bejo jadwal kelasnya agak siang jadi mereka ingin bersantai dirumah dulu.


"Masak apa sayang,"tanya Bejo yang baru datang dan duduk di meja makan, terlihat segar sekali dirinya yang baru selesai mandi.


"Em, hari ini aku bikin tumis buncis plus wortel dengan cabay hijau, Ayam goreng, sambal terasi, sama goreng tempe sama tahu Mas," jawab Maura seraya meletakkan ayam goreng yang sudah siap di santap.

__ADS_1


"Wah mantap ini, pantesan dari dalam kamar baunya udah manggil manggil, ternyata masak ayam goreng toh. pasti lezat ini. " puji Bejo yang langsung mengambil piring lalu menuangkan nasi panas di atasnya, Bejo dengan sengaja meletakkan nasi tersebut di depan kipas angin agar cepat dinginnya.


"Bik inem ayo sarapan, pak ujang juga tumben belum mengambil kopinya?" Maura mengajak Bik inem untuk srapan bersama. tetpi dirinya juga merasa heran kenapa kok mang ujang belum datang untuk mengambil kopi, karena biasanya mang ujang selalu tepat waktu kalau masalah kopi.


"Iya Non, biar bibik aja yang bawakan ke mang ujang, mungkin dia ketiduran kali di pos satpam, biasa mang ujang mah begitu kalau habis nonton bola suka tidur lagi habis subuh."


"Iya Bik, cepet balik ya, kita sarapan bareng."


"Insyaallah Neng," jawab Bik inem yng memang lebih suka darapan sendiri bersama mang ujang, dirinya sungkan jika sarapan bersma majikan, apa lagi melihat majikannya yang noteben masih pengantin baru, merasa dirinya menjadi nyamuk.


"Kelas kamu dimulai jam berapa nanti Sayang?" tanya Bejo seraya membawa nasinya di hadapan Maura.


"Jam sepuluh Mas, ada apa?" tanya Maura yang mengulurkan tangannya mengambil nasi yang di bawa Bejo untuk di tmbah lauk pauk.


"gak papa, berarti bisa dong," gumam Bejo yang masih bisa didengar oleh Maura.


"bisa apanya sih Mas?" tanya Maura heran.


hal inilah yang selalu dihindari bik inem saat diajak makan bersama, karena sudah merasa akrab jadi bejo maupun Maura sudah tidak malu malu lagi jika harus makan berdua dalam satu piring.


"Alhamdulillah, kenyang." Maura terlihat paus karena kenyang.


"Alhamdulillah, biar Mas yang cuci piring," ucap Bejo, meskipun sudah biasanya Bejo yang mencuci piring sehabis makan tetapi Bejo selalu mengatakan hal itu, karena terkadang Maura tetap yang mengotot mau mencuci dan membereskan semuanya sendiri, karena merasa itu adalah tugasnya.


"Oke lah kalau begitu, aku ke kamar dulu Mas, mau siapin baju buat nanati ke kampus ya,"


"Iya sayang," jawab Bejo yang kini tengah mencuci piring dengan sedikit agak di percepat, ada senyum yang tersungging di bibirnya entah apa yang sedang dirinya pikirkan sehingga tersenyum misterius begitu.

__ADS_1


"Baju mana ya, em pakai inilah, masih bagus lama juga gak pernah di pakai," gumama Maura saat memilih baju yang akan ia pakai ke kampus nanti, tidak lupa Maura juga memperaiapakan baju untuk Bejo, meskipun hanya kemeja dan celana bahan, tidak mengurangi ketampanan suaminya itu yang berdarahkan indo-asia.


"Dah, sempurna hehehe, terlihat bagus kan." Maura tersenyum melihat baju yang dirinya siapakan dengan warna senanda.


Maura terkejut saat dirinya mendapati sebuah tangan melingkar manis di pinggangnya, tetapi itu hanya sesaat saja karena kemudian dirinya tersenyum saat mengetahui siapa yang melakukan hal itu.


"Mas ada apa kok manja banget sih, pagi pagi udah peluk peluk begini?" tanya Maura yang memang tidak biasanya Bejo terlihat manja padanya, padahal biasanya setelah sarapan Bejo sudah berkutat dengan laptop nya.


"Mash jam tujuh sayang, boleh kan?" bisik Bejo yang membuat Maura melirik kearah jam dinding.


"Boleh kok, tapi.."


"Tapi apa? " tanya Bejo yang kini memandang wajah Maura dengan memelas.


"Udah dikuncikan pintunya?" tunjuk Maura dengan ekor matanya ke arah pintu yang memang sudah tertutup dengan rapat.


"sudah dong sayang," jawab bejo dengan senyum mengembang di wajahnya, tanpa menunggu lama Bejo segera membopong Maura untuk pindah ke atas tempat tidur, merasa ada kesempatan dan memang ada waktu untuk mereka berolah raga pagi diatas ranjang, Bejo yang memang menginginkannya sejak setelah shalat subuh tadi, merasa sangat bahagia karena Maura tidak pernah menolak permintaanya.


sementara itu di pos satpam, sesuai dugaannya mang Ujang memang tengah tertidur.


"Aduh, banjir banjir banjir." teriak Mang ujang yang merasa basah di wajahnya.


"Iya tuh banjir, banjir iler mu itu." Ejek bik inem yang kesal melihat mang ujang enak nekan tidur lagi.


makanya dengan jahil bik inem menyirmkan air ke wajah mangujang agar tidak susah sudah membangunkannya.


"Ya Allah bik, gitu amat sih sama mamang, banguninnya pakai diguyur segala, kan jadi basah semua, mang ujng pikir ada banjir beneran." Mang ujang menggerutu dengan ulah bik inem yang menyiramnya dengan air hingga dirinya mengira ada banjir.

__ADS_1


"Gak usah protes ini, kopimu udah ingin tuh, sarapan juga udah jadi, mau sarapan apa gak?" Bik inem menyodorkan kopi yang memang sudah tidak panas lagi itu ketangan mang ujang


"Ya, mau lah bik, aku juga laper," jawab mang ujang seraya mengikuti bik inem menuju rumah.


__ADS_2