
Sesampainya di Jakarta Bejo tidak langsung membawa Maura kerumahnya tetapi mampir terlebih dahuku ke rumah Lamanya untuk istirahat, sebelum nanti sore melanjutkan perjalanan menuju rumah Maura.
Bejo mengantisipasi jika langsung menuju rumah Maura takutnya bukan sambutan baik yang mereka dapat, jadi Bejo memilih mengistirahatkan diri di rumah lamanya.
"Em, ini rumah siapa?" tanya Maura bingung karena Rumahnya cukup luas.
"Rumah lama keluarga ku, kita istirahat dirumah sebentar nanti sore kita lanjut kerumah kamu." Tutur Bejo yang membuat Maura memanyunkan bibirnya.
"Kenapa gak langsung ke rumah Abah aja sih," keluh Maura yang ingin sekali pulang ke rumah Abahnya.
"Kita istirahat dulu, nanti sore baru berangkat lagi."
"Bik Susi, minta tolong kopernya di bantu bawa ke kamar ya," ucap Bejo pada pembantu rumah nya.
"Baik Den," ucap Bik Susi dengan membawa koper berukuran sedang menuju kamar Bejo mengikuti Bejo serta Maura yang juga menuju kamar.
"Istirahatlah dulu, atau mungkin mau bersih bersih, nanti panggil saya untuk shalat berjamaah."
"Heem." Maura memandang kepergian Bejo kemudian berganti memandang Bik Susi yang tengah meletakkan kopernya.
"Em saya permisi ke dapur Neng, kalau perlu sesuatu panggil bibik saja ya," tuturnya kemudian pergi dari kamar tersebut.
Maura menganggukkan kepalanya kemudian melihat ke sekeliling mengamati apa pun yang ada di dalam kamar tersebut, puas mengamati ia lalu mengambil bajunya dan segera pergi ke kamar mandi untuk bersih bersih diri, sekalian mengambil air wudhu.
selesai dari kamar mandi Maura sempat terkejut saat Bik susi berada di dalam kamar dengan membawa nampan berisikan juz jeruk yang terlihat sangat segar.
"Eh, neng ini Bibik bawakan juz jeruk dan juga camilan, silahkan di makan ya neng untuk mengisi perut neng."
"Iya Bik, terimakasih," ucap Maura terlihat senang.
Maura langsung mengambil camilan serta jus jeruk tersebut untuk di makan dan di minumnya.
Rasanya ia sngat lega dan segar, kemudian ia mulai mengamati lagi isi kamar tersebut yang didominasi dengan warna putih.
__ADS_1
Rumah nya besar tidak terlalu mewah tetapi sangat rapi dan nyaman untuk di tinggali.
Maura jadi berpikir, selama ini ia tidak pernah tau dan bertemu dengan Ayah atau Ibu dari Bejo suaminya, kalau ini rumah lamanya harusnya ada dong orang tuanya tapi tadi kok tidak ada ya, itulah yang ada di benak Maura.
takut tersesat keliling sendirian ia memutuskan kembali ke kamarnya serelah sedikit jauh berjalan, ya sehabis minum juz dan memakan camilan Maura memutuskan untuk keluar dan berjalan jalan sedikit, saat ia mau kembali Maura berpapasan dengan Bejo yang teranyata tengah mencari keberadaan dirinya.
"Kamu disini, sedang apa?" tanya Bejo yang lega bisa menemukan Maura.
"Hehehe, habis jalan jalan ini mau balik ke kamar tapi lupa jalannya, dilihat rumahnya gak begitu besar tapi pas di kelilingi luas juga ya," ungkap Maura seraya menggaruk garuk tangannya yang tidak gatal.
"Hem, memang tidak besar tapi cukup luas karena banyak taman disini, Ibuku dulu sangat suka dengan bunga karena itu ia menambah taman di sisi sisi rumah." Terang Bejo.
"Iya, pantas aja bunga nya cantik cantik, Ibu kamau Mana kok gak kelihatan?" tanya Maura serius.
"Ibu ku sudah berada di sisi Allah Siti, Beliau mungkin sedang melihat kita yang ada di sini." Terang Bejo dengan senyuman yang tulus.
Maura yang mendengarkan penuturan Bejo bahwa ibunya sudah meninghal dunia pun langsung terdiam, cukup kaget sih tetapi ia jauh lebih kaget saat Bejo mengatakannya dengam senyuman seolah dia senang jika ibunya sudah meninggal.
"Siapa pun yang di tinggalkan orang yang mereka sayang, pasti akan merasa sedih, aku pun begitu, aku tersenyum karena memang aku bahagaia, bahagia karena percaya jika Ibu telah aman disisinya, tidak ada seorang pun yang bisa di percaya dalam penjagaan kecuali dia sang maha pencipta."
"Maaf, aku telah menyinggung tentang ibumu, bahkan aku berpikir buruk tentang mu, memang yang kamu ucapkan itu benar, hanya saja aku masih belum bisa sedikit menerima kepulangan abah ke pangkuannya."
"Tidak papa lambat laun juga kamu pasti bisa menerimanya, yang terpenting kamu terus berlajar untuk ikhlas, karena iklas itu sulit dengan belajar insya allah kita akan mudah mengikhlaskan."
"Iya, aku juga sedang belajar ikhlas kok,"
"Ya sudah ayo kita shalat dhuhur setelah itu makan, baru kita berangkat ke rumah Abah." Bejo mengajak Maura untuk Shalat berjamaah, kemudian makan siang dan di lanjutkan perjalnan menuju rumah Abah.
Jeraknya hanya akan memakan waktu sekitar empat puluh lima menit saja, karena itu Bejo membawa mobilnya pelan pelan saja.
Bejo menyetir sendiri mobil miliknya yang sudah lama ia tinggalkan tetapi masih dirwat dengan baik oleh pengurus rumah.
Maura mulai bertanya banyak hal, dari mulai Keberadaan Ayah Bejo, kenpa ibunya bisa meninggal, dan lain sebagainya.
__ADS_1
Bejo pun menjawabnya dengan jawaban yang sangat baik dan mudah di mengerti, Bejo sama sekali tidak menutupi apapun yang terjadi dalam kehidupanya itu.
"Jadi, ibu kamu sudah meninggal ketika kamu masih kecil, lalu Ayah kamu menikah lagi dan balik ke korea, setelah itu kamu ikut ustad zainal begitu." Rangkum Maura setelah mendengar penjelasan Bejo.
"Betul," jawab Bejo seraya menganggukkan kepalanya.
"Pantas saja kamu sangat dekat sama Ustadz Zainal dan keluarganya. Tapi kok kamu bisa sih mau di jodohkan dengan ku?" tanya Maura penasaran.
"Lain kali aku jelas kan hal itu, kita sudah mau sampai, kamu mau mampir dulu tidak beli sesuatu gitu?" tanya Bejo yang menjalankan mobilnya dengan pelan pelan.
"Em, mampir cari oleh oleh aja gimana?"
"Boleh." Bejo memarkirkan Mobilnya ke dalam sebuah swalayan. Mereka mamapir untuk sekedar mencari oleh oleh untuk orang orang rumah.
yah meskipun mereka tidak tau orang orang rumah itu suka atau tidak yang terpenting niat baiknya.
Maura yang sudah sedikit tau tentang Bejo, ia mulai bersikap sedikit lembut, tidak judes seperti sebelumnya. Mungkin rasa kemanusiaanya berempati mendengar cerita jika ibu Bejo telah meninggal dunia.
Mereka belanja bersama seperti pengantin baru lainnya, saling bertanya buah apa yang boleh di beli, terkadang Maura menjaili Bejo dengan melemparkan buahnya ke arah Bejo membuatnya yang tidak siap itu gelagapan.
" Hihihi, yang siap dong, masak begitu aja gak bisa." Ejek Maura dengan senyum puasnya mengerjai Bejo.
"Maaf mbak, tolong buahnya jangan di buat lempar lempar ya, nanti kalau jatuh Mabknya harus bayar meskipun tidak berniat membelinya." Tegur salah satu pegawai swalaya.
"Hehe, iya mbk maaf ya, gak saya ulangi kok." cengir Maura yang mendapat teguran dari pegawai swalayan.
"Makanya jangan suka jail, dapat teguran kan. Udah mana yang mau dibeli."
"Yang ini, ini sama ini." tunjuk Maura, pada buah jeruk, anggur dan manggis.
Bejo mengambil lagi tiga kilo buah apel berukuran sedang, karena menurutnya sepertinya Apel akan segar untuk di makan kapan pun.
Maura yang melihat Bejo mengambil huah apel pun menjadi cemberut dan menjauh.
__ADS_1