Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Menuju Rumah Rifan.


__ADS_3

Keesokan harinya, Maura Bejo serta Hendra pergi ke rumah Rifan untuk bernegosiasi untuk meyelamatlan sang Oma.


Saat sampai di depan gerbang rumah Rifan, ternyata rumah tersebut tak jauh berbeda dari Rumah yang di tinggali oleh Oma, sangat besar dan mewah.


Membuat Maura dan Bejo semakin heran sebenarnya seberapa kayanya mereka. Sampai rumah saja sebenar ini.


"Wah wah, pagi pagi sudah bertamu, apa tidak ada makanan dirumh kalian, sehingga pagi pagi datang kerumah orang untuk meminta makan." Sebuah suara seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat muda karena gaya dan penampilannya sangat modis dan trendy.


"Beliau, nyonya muda Nona." Bisik Mahendra pada Zehra, memebritahunya jika wanita itu adalah ibu Rifan yang tentu saja menjadi Nyonya muda.


"Kami tidak mau minta makan, kami kesini untuk menjemput oma, cepat bawa kesini Oma ku." Perintah Maura yang terlihat sangat arogan, Bejo sekarang sudah tidak terkejut lagi, ternyata terkadang istrinya ini bisa juga membuat orang kesal.


"Hah, lancang sekali sikap mu, tidak tahu kah kau cara berbicara yang sopan." Sonya sangat marah dengan sikap Maura yang berani melawannya.


"Anda saja tidak sopan kok, kenapa saya harus sopan, saya gak peduli anda Nyonya atau bukan, yang saya pedulikan tolong kembalikan Oma Kami."


"Hah, kau sungguh mirip dengan wanita kampung itu, tapi jangan harap jika kami akan memberikan Oma padamu, lagi pula dia adalah ibu mertua ku, Aku mau merawatnya itu terserah pada ku kan."


Maura sangat kesal mendengar wanita yang sombong itu menyebut ibu mertua, dirinya melakukan penyandraan seperti ini, apa pantas di sebut menantu. pikir Maura.


"Kalau begitu tolong panggilkan Pak Rifan, kami ingin berbicara dengannya." pinta Bejo dengan sikap sopan.

__ADS_1


"Putra ku tidak ada, lebih baik kalian pulang saja." Usir Sonya pada Maura Bejo dan Hendra lantas dirinya pergi.


"Benar benar sombong, bisa bisanya Papa ku menikahi wanita seperti itu, hah pak rifan juga kemana sih, kalau gak dibutuhin aja nongol giliran di cariin selalu aja ngilang." Gerutu Maura yang sangat kesal denagn Rifan yang sangat susah di temui.


"Yang sabar Ya sayang, kita pulang dulu dan pikirkan cara lain untuk membut mereka melepaskan Oma." Kata Bejo penuh kesabaran.


"Sebanarnya ada satu cara Tuan. tapi ini sangatlah sulit dan butuh waktu." Sahut hendra.


"Katakan saja, siapa tau kita Bisa mencobanya dan berhasil." pinta Bejo.


"sebenarnya kalau kita bisa memiliki bukti tentang kejahatan Nyonya Sonya yang membuat meninggal Mamanya nona Maura, kiat bisa pakai hal itu untuk membebaskan nyonya besar Tuan." Terang Hendra.


"Kemungkinanya ada di ruang kerja Tuan, Nona."


"Baiklah, ayo kita cari."


Maura sangat semangat, sesampainya rumah Maura Bejo dan Hendra langsung menuju ruang kerja Adi jaya.


mereka bertiga mencari berkas hasil penyelidikan kematian Mama Maura.


hampir setengah jam, mereka masih belum menemukannya, membuat Maura dan yang lainnya hampir frustrasi.

__ADS_1


"Ah, capek. dari tadi gak nemu nemu." Keluh Maura merasa lelah.


"Kamu yang sabar ya sayang, berkas disinikan banyak, kita cari pelan pelan ya." Bejo mengusap kepala Maura dengan lembut.


"Iya Mas, maaf."


"Mau Mas bikinkan minuman?" Tawar Bejo.


"Boleh deh, kopi ya Mas, yang manis." Pesan Maura yang membuat Bejo sedikit terkejut.


Tumben tumbenannya Maura mau minum kopi.


"Ya sudah tunggu dulu ya Mas Buatkan. "


"Biar saya yang buatkan saja Tuan," sahut Pelayan yang datang membawa minum dan camilan.


"Jangan, aku mau Mas Bejo yang bikin." Potong Maura dengan cepat.


"Kamu tunggu disini saja, biar saya yang kedapur, kalau ada apa apa langsung panggil saya di dapur." Pesan Bejo pada Pelayan.


Bejo tak ingin meninggalkan Maura berstua saja dengan Mahendra, meskipun tau tidak akan mungkin terjadi sesuatu apapun, Bejo tetap tidak mau meninggalakn Maura sendiri dengan orang yang bukan mahkromnya.

__ADS_1


__ADS_2