Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Ungkapan Bejo


__ADS_3

"Duakk," sebuah suara seseorang menjatuhkan sesuatu di lorong, membuat Maura mengeratkan pelukannya pada Bejo yang mana Bejo tidak mau melepaskan ciumannya.


Bejo sama sekali tidak terganggu dengan suara diluar tersebut, membut Maura kesal, padahal Maura sudah ketakutan setengah mati.


Seandainya pun setatus pernikahannya harus terungkap bukan dengan situasi macam ini lah, seenggaknya situasi yang lebih baik lagi, masak situasi berciuman di ruang kosong, kan orang bakalan berpikiran buruk pada keduanya.


Merasa sesak akibat kehabisan oksigen, tangan Maura mencubit dada Bejo sehingga Bejo mau tidak mau melepas ciumanya.


"Maaf, bernafaslah." kata Bejo yang mendapat tatapan tajam dari Maura dengan usaha menghirup oksigen sebanyak banyaknya.


Sebuah senyuman tersungging di bibir Bejo membuat Maura mengerutkan keningnya.


"Kamu lucu sangat menggemaskan," ucap Bejo kemudian, dengan terus menatap bola mata Maura.


"Udahlah, Mas aku mau ada kelas, bisa lepasin aku gak, lagian ya aku tuh kesal sama kamu, kenapa sih kamu itu bisa membuat para santri suka sama kamu, atau jangan jangan kamu main pelet ya, atau susuk pemikat gitu." Tuduh Maura.


"Astagfirullahaladzim Dek Siti, jangan menuduh orang lain berbuat syirik, apa lagi suami sendiri, mana mas tau kalau mereka sebegitunya suka sama Mas," ucap Bejo membela diri.


"Pokok ya Mas, sampai kapan pun aku gak akan pernah nerima kalau aku di madu, lebih baik Aku yang mundur dari pada aku di madu." Maura memicingkan matanya, seolah emosinya tengah memuncak.


Bejo memelototkan matanya mendengar apa yang di ucapkan Maura. "Madu, dari mana dia bisa berpikir jika aku akan menduakan dirinya, wah gak beres ini." Batin Bejo.


"Dek, kamu itu kenapa, siapa yang mau maduin kamu, orang pernikahan kita aja belum banyak orang yang tau, mana mungkin Mas malah mau nikah lagi, Mas kan sudah bilang kalau mau memulai hubungan dengan kamu, dan sepertinya Mas emang sudah ada rasa sama kamu, buktinya Mas Kangen sama kamu, dan pengen terus ada di deket kamu." Terang Bejo mengungkapkan isi hatinya.


"Hah, serius Mas?" tanya Maura dengan wajah tersipu malu mendapat pengungkapan hati dari Bejo.


"Serius lah Dek, mana mungkin aku berbohong, dengar ya, istriku itu cuma kamu, yang aku sayang, dan aku cintai, sampai kapan pun Mas juga gak akan pernah menduakan kamu, meskipun berpoligami itu diperbolehkan. percaya sama Mas."


Maura menganggukkan kepalanya, dalam hatinya dia sangat bahagia mendengara ungkapan cinta dari suaminya.


"Tapi Maaf ya Mas, kalau aku masih belum ada cinta buat kamu, tapi aku terima kamu kok jadi suami aku, kalu cinta kan aku masih belajar."


"Gak papa Dek, Mas siap menunggu kok, sampai kamu mau mengungkapkan cinta kamu pada Mas, yang terpenting bahwa kamu percaya sama Mas, dan menerima Mas jadi suami kamu itu sudah cukup kok untuk Mas bahagia."


Maura tersenyum dengan pipi yang merona, Bejo menariknya ke dalam pelukannya sebelum mereka benar benar berpisah lagi.


Setelah puas melepas rindu, mereka memutuskan untuk menyudahi pertemuan kali ini, Maura keluar duluan baru disusul oleh Bejo dari belakang.


Saat menengok jam tangan, ternyata sudah jam sepuluh tepat, Maura langsung berlari masuk kedalam kelas, ternyata Amel dan Nada sudah duduk di tempatnya dengan tatapan penuh tanya pada Maura.

__ADS_1


Maura mengambil tempat di belakang Amel, barulah Dosenya datang, Maura mengelus dadanya merasa lega ia bisa masuk duluan sebelum sang Dosen.


Kelas berlangsung lancar hingga jam setengah dua belas kelas usai.


Amel dan Nada tengah menginterogasi Maura di dalam kelas yang sudah sepi.


"Jawab jujur ya Ra, kita tau kok kamu gak ke toilet, karena Aku tadi ke toilet tapi kamunya gak ada, jadi kamu kemana?" tanya Amel dengan Wajah yang sok digarangkan.


"Betul, kamu kemana sih, ditungguin dari tadi, di telponin gak diangkat angkat, mencurigakan," timpal Nada dengan mata yang dipicingkan.


Maura merasa takut, jantungnya berdetak dengan cepat, ia bingung mau menjawab bagaiman. Sungguh dirinya serasa sedang menjadi tahanan yang tertangkap basah.


"Aa..a aku, habis habis."


"Habis Apa, kok kamu malah gagab sih, kayak artis gagab itu." Sentak Nada. Membuat Maura kaget, bukan hanya Maura ternyata Amel pun juga kaget karena tidak menyangka Nada akan berteriak seperti itu.


"Jawab yang bener Ra," ucap Amel setelah menetralkan kekagetannya.


"Maaf ya aku tadi ngobrol sama ustadz Bejo di belakang gedung, Beliau..."


"Hah, kamu ngobrol apa, sama Ustadz Bejo, seriusan?" tanya Nada terkejut.


Maura hanya menganggukkan kepalanya dan bangkit dari duduknya meninggalkan kedua temenya keluar dari kelas membiarkan mereka terbengong di tempat. masih belum sadar jika Maura sudah keluar jelas.


"Kalian gak pulang?" tanya Maura setelah berada di ambang pintu.


"Eh, kok dia malah udah ada di luar sih Mel," ucap Nada yang terkejut melihat Maura sudah ada di luar.


"Ih Maura, sini kamu, kamu belum memberikan penjelasan ke kita, Maura jangan lari." Amel dan Nada berlari mengejar Maura yang sudah duluan lari.


"Hahah emang enak dikerjai, hahaha."


Tiba Tiba..


"Brukk." Maura terjatuh setelah menabrak seseorang.


"Duh bisa gak sih klau jalan itu lihat lihat, gak punya mata ya?" Bentak orang yang di tabrak Maura yang juga terjatuh.


Amel dan Nada langsung menolong Maura yang terjatuh.

__ADS_1


"Kamu gak apa Ra," tanya Amel seraya melihat keseluruh tubuh Maura.


"Enggak kok aku gak papa." Maura menjawab pertanyaan Amel yang terlihat khawatir.


"Maaf ya La, aku gak sengaja tadi aku emang gak lihat waktu lari, Maaf ya sekali lagi." Maura meminta maaf atas kecerobohanya menabrak Lala.


"Heh, makanya kalau lari itu tuh punya mata di pakai, jangan buat pajangan." Bentak Lala yang masih tidak terima meski Maura sudah meminta maaf.


"Aku gak mau tau ya, ponselnya aku sampai kegores kayak gini, ini tuh ponsel mahal, kamu aja paling gak akan bisa beli."


"Aku akan ganti rugi kok, sini biar aku bawa ke konter." ucap Maura hendak mengambil ponsel Lala untuk di bawa ke konter.


"Halah, gak usah sok mampu ya, kamu itu cuma gadis pungut, yang hidup hanya dengan belas kasihan aja, gak usah sok mau ganti rugi ponsel mahal ku." Ejek Lala dengan emosi yang belum bisa terkendali.


"Heh, La gak usah ngungkit ungkit kehiduapan keluarga orang ya, lagi pula kita tuh sama, sama sama hidup dengan belas kasihan, kalau Allah gak belas kasih sama kamu gak mungkin ya Allah takdirin kamu lahir ke duania ini." Lawan Amel dengan nada yang tidak mau kalah tinggi dengan Lala.


Mendengar sahabatnya di hina seperti itu hati Amel sangat sakit, dan tidak terima.


Semua santri di pesantren putri itu sudah ada tahu jika Maura hanya anak angkat di dalam keluarganya.


"Heh, kamu gak usah ikut campur deh, ini urusan aku sama dia, jadi kamu diam saja." Lala memelototi Amel.


Amel hendak menjambak hijab Lala yang langsung dihentikan oleh Maura dan Nada.


"Udah cukup Mel, emang aku yang salah kok, ya, kamu tenangkan diri kamu ok, biar aku yang urus." pinta Mura pada Amel.


"Tapi Ra." Amel kemudian mundur bersama Nada, Membiarkan Maura menghadapi sendiri masalahnya.


"Ok, aku memang gak tau berapa mahal ponsel kamu, kalau kamu gak mau aku ganti rugi dengan membawa ponsel kamu, yah mungkin kamu juga gak percaya sama aku, kalau begitu aku ganti rugi dengan uang saja, kamu sebutin berapa duwit, meskipun aku miskin dan anak pungut, tapi aku mampu kok untuk mengganti rugi ponsel kamu, bahkan beli yang barupun aku juga bisa." Tatap Maura dengan mata yang tajam pada Lala. Memperlihatkan bahwa dirinya bukan orang yang lemah saat di rendahkan.


Tidak ada rasa goyah sedikitpun dalam diri Maura saat mengatakan dirinya mampu untuk mengganti rugi ponsel bergambarkan apel keroak tersebut.


"Ok, dua juta aku mau besok sudah ready." Tukas Lala kemudian pergi meninggalkn tempat.


"Ok," jawab Maura yakin.


"Buset cuma kegores begitu aja minta dua juta, ini namanya permapokan Ra," ucap Nada yang kini merasa tidak terima dengan jumlah uang yang di inginkan Lala.


"Udahlah, toh aku tinggal minta aja sama Ustadz Suami, tanang aja dia kaya kok." Tanpa sadar Maura mennyebutkan Ustadz Suami yang membuat kedua temannya itu melongo.

__ADS_1


__ADS_2