
"Maura," panggil Amel dan Nada bersamaan.
"Aih, iya ada apa?" tanya Maura seraya berbalik badan menghadap kedua temannya itu.
"Gak ada apa apa cuma mau panggil aja, hehehe." Amel menggandeng lengan Maura sebelah kiri sedang kan nada mengampit yang sebelah kanan.
"Kamu, bernagkat bareng sama ustadz Bejo? " tanya Nada, serelah mereka jalan bertiga beringan.
"ya iyalah Nada, aku berangkat sama ustadz bejo kan dia suamiku, masak aku berangkat sama yang lainnya. bisa di pecat aku jadi istri."
"Hahaha, pertanyaan kamu gak berbobot Nada," sahut amel yang tertawa mendengar jawaban dari Maura.
"Ih, gak gitu maksudku, mungkin aja kan kalau kalian berangkat sendiri sendiri, kan bisa aja." Nada, membela diri.
"Eh, nanti malem waktunya ustadz bejo ngisi mengaji di pesentren loh, gak sabar aku nungguin nanti malam," ucap Nada setelah sampai di dalam kelas, Nada pun langsung mendapat pukulan buku dari Maura.
"Auh, sakit Ra, apa apaan sih kamu, main pukul pukul." Tanya Nada dengan wajah polosnya. sementara itu amel malah tertawa terbahak bahak melihat Maura yang kesal akan kepolosan Nada.
"Ck, nada nada, Maura tuh cemburu gegera kamu gak sabar mau ketemu sama Ustadz bejo nanti malam." Amel menberitahukan apa penyebab Maura memukulnya.
"What, hai jangan salah cemburu dong Ra, aku cuma gak sabar aja di ajar mengaji kitab oleh Ustadz bejo, ck dasar pecemburu." cibir Nada yang kemudian duduk di belakng Maura, sementara itu Amel duduk di samping Majra.
"Biarin, lagian salah sendiri, ngapain sih kamu nungguin suami temen, jangan pernah ada pikiran macem macem ya," ucap Maura yang kini masih menengok kebelakang.
"Hehehe, kagak Ra, kagak. Ck kamu ini mah, damai ya sama aku." Nada tersenyum meminta perdamaian pada Maura karena takut dengan tinjun Maura yang di tunjukkan adanya.
"Hahahaha kalian ini ada ada aja sih, udah gak usah ribut bentar lagi dosen masuk." Relai Amel pada Maura dan Nada.
bahkan tidak sedikit dari mahasiswa lain yang melihat kearah mereka yang memang mencuri perhatian.
tak lama kemudian dosen pun datang, Maura cukup mendengarkan penjelasan dosen tetapi pikirannya juga tengah dilanda kebingungan, pasalnya malam ini dirinya dan ustadz bejo harusnya menghadiri undangan dari tetangga barunya depan rumah.
__ADS_1
tetapi kalau suaminya itu ada jadwal mengajar berarti kemungkinan besarnya mereka tidak akan bisa datang ke undangan tersebut.
kalau dirirnya sendiri yang hadir rasanya, lebih memilih untuk tidak hadir karena tidak ada yang menemaninya. Maura lantas berencana untuk membicarakannya nanti dengan Bejo.
Bejo pun yang tadi bertemu dengn Ahmad, sekarang tampak berpikir bagaimana nanti tentang undngan tetangga barunya itu, pasalnya dirinya baru ingat tadi jika ada jadwal mengajar di pesantren itu pun juga diingatkan oleh Ahmad, membuatnya juga berencanan untuk membahasnya nanti bersama Maura.
"Ustadz, nanti malam ada jadwalkan di pesantren putri?" tanya Rahmad yang kini mereka telah keluar dari musalla kampus menunaikan ibadah Dhuhur.
"Iya, ada ustadz, memangnya ada apa? " tanya Bejo balik.
"Ah, itu tadi pagi raka mennyakan ustadz dan memintakan saya menanyakan apakah ustadz bakalan ke pesantren," ucap Rahmat menjelaskan.
"iya, saya akan ke pesantren nanti malam, saya ada jadwal di pesantren putri ustadz, tapi ngomong ngomong ada apa ya Raka mencari saya,"
"Kalau itu saya juga kurang tau ustadz, lebih baik nanti ustadz tanya saja sendiri padanya kalau sudah bertemu,"
"Baik Ustadz, terimakasih."
"Sama sama ustadz, saya duluan masih ada satu kelas lagi." Pamit Rahmad yang kemudian meninggalkan Bejo.
di musollah sebelah selatan, Maura, Amel serta nada tengah merapikan mukena yang telah mereka kenakan.
"Kenapa kamu murung Ra, duh jngan di pikir berat dong perkataan aku tadi, aku gak ada niat apapun kok sama suamimu." Nada merasa juka omonganya yang membuat Maura menjadi murung dan banyak pikiran.
"Apaan sih nad, gak lah aku gak lagi memikirkan hal itu, lagian aku tau kok kamu gak ada maksud lain." Balas Maura seraya keluar dari area shalat wanita.
"Lalu, kanapa wajahmu kelihatan masam dan bingung begitu? " tanya Amel yang memang juga merasa jika Maura tengah memikirkan sesuatu.
"Aku bingung, nanti ustadz Bejo kan ada jadwal di pesantren, tapi waktunya bertepatan dengan undngan dari tetangga baru yang syukuran, kalau gak hadirkan gak enak, kalau hadir ustadz Bejo gak bisa datang mengajar dong, padahal kan itu udah jadwalnya." Maura menjelaskan apa yang membuatnya kepikiran.
"Waduh, kalau begitu mah diskusikan aja dulu berdua dengan ustadz Bejo, mungkin nanti ada solusi," ucap Amel.
__ADS_1
"Nah itu, itu juga rencanaku." Sahut Maura.
"Iya udah yuk, balik lagi ke kelas, masih ada satu matkul lagi kan, habis itu kita go heome." Amel menggandeng tangan Maura dan meninggalkan Nada yang masih mengenakan sepatunya.
"Eh, kalian tungguin aku dong, ih nyebelin masak ditinggal sih," gerutu Nada.
"ya, buruan dong Nad, lelet amat sih," ucap Amel yang bukanya menunggu malah meledek Nada, dan menarik Maura pergi duluan bahkan sedikit berlari sembari tertawa.
Nada pun lantas menyusul dengan berlari mengejar kedua sahabatnya yang tengah menjahilinya.
tetapi di tengah jalan tanpa sengaja dirinya bertabrakan dengan seseorang.
untungnya dirirnya tidak terjatuh.
"Kamu gak papa kan?" tanya seseorang yang menangkap tubuh Nada, bahkan tangan orang tersebut pun tengah menyanggah kepala belakang Nada agar tidak terbentu kursi yang ada di depan kelas.
"Sa sa saya tidak apa, Us us ustadz," jawab Nada dengan terbata karena terkejut karena tubuh nya berada di pelukan seorang laki laki.
"Alhamdulillah, oh maaf saya tidak bermaksud apa apa, hanya berniat menolong saja." Jelas laki laki tersebut serya membantu Nada berdiri dengan tegak dan melepaskan pelukannya.
"Iya, saya mengerti kok ustadz, maaf tadi saya berlari tidak tau jika ustadz akan lewat," ucap Nada merasa bersalah.
"Saya juga minta maaf karena saya jalan tidak lihat lihat tadi, kalau begitu saya pergi dulu," ucap laki laki tersebut yang ternyata adalah ustadz Rahmat.
"Iya ustadz, terimakasih sebelumnya juga maaf." Nada mengatakan dengan wajah menunduk, dirirnya merasa sangat malu jika harus berbicara seraya menatap wajah Ustadz Rahmad, pasalnya saat ustadz rahmat memeluk tubuhnya tadi jantungnya seolah mau copot dan melompat keluar sangking berdebarnya.
sementara itu Ustadz rahmat sendiri pun juga merasa ada sesuatu yang mendebarkan jantungnya saat menolong Nada tadi, sehingga ia memilih cepat pergi dari hadapan gadis manis itu agar tidak semakin merasa malu.
"Aduh kok bisa sih aku menabrak ustadz Rahmat, ih mimpi apa semalam, kenapa gak dari dulu dulu aja sih tabrakannya, aih, kan kalau begitu bisa buat aku senengnya dari dulu, hehehe." Nada nergumam sendiri hingga tidak memerhatikan kedua temannya yang tengah menanti kedatangnya.
"Ck, kesambet apa tuh bocah, senyum senyjm sendiri, sambil komat kamit tuh mulut," ucap Amel yang merasa heran dengan sikap Nada barusan.
__ADS_1
"Iya, kaya mbah dukun aja lagi baca mantra, komat kamit." sahut Maura yang kemudian saling pandang dengan Amel.
"Hahahaha," mereka berdua pun tertawa bersama saat menyadari apa yang mereka bicarakan.