
Malam ini Maura ingin tidur dengan nyenyak, seharian ini terasa melelahkan, begitu banyak yang membuatnya kaget.
ingin rasanya Maura menenangkan pikiranya akan hal hal yang telah membuatnya kehabisan energi. apalagi insiden ponsel Lala yang hanya tergores tetapi minta ganti ruginya sangat banyak membuat otak Maura ruwet.
"Atagfirullahaladzim. Ikhlas Ra, toh Mas Bejo juga ikhlas kok kasihnya, sudah ya, sekarang yang penting tidur biar besok bisa bangun pagi." Maura berbicara dengan dirinya sendiri di dalam hati.
Kemudian ia memejamkan matanya baru sajam matanya terpejam sebuah pesan membuatnya terkejut dan membuka kembali matanya.
"Mas Bejo." Desis Maura yang langsung meringkuk menyelimuti sekujur tubuhnya dan membuka pesan dari Suaminya itu.
"Assalamualaikum, Dek, sudah tidur kah, Kalau sudah tidur gak papa, semoga mimpi indah ya, kalau belum tidur, segera tidur dan juga semoga mimpi indah, jangan lupa berdoa dulu ya. Love you My Wife." Tulisan pesan Bejo membuat jantung Maura berdegup kencang, pipinya meona, bibirnya menyunggingkan senyum.
Rasanya Maura ingin berteriak dan jingkrak jingkrak sangking senangnya mendapat ucapan selamat malam dari suaminya, sungguh jika pesan itu di baca oleh Nada atau Amel mereka berdua pasti sangat sakit hati.
Maura membiarkan pesan dari Bejo tersebut kemudian mematikan data ponselnya, Maura berniat untuk menbalasnya besok pagi saja.
setelah mendapat ucapan dari Bejo barulah Maura merasa tenang dan memejamkan matanya dengan bibir yang tersenyum.
Dijam tiga dua puluh menit Maura baru membalas pesan dari Bejo yang langsung mendapat balasan dari suaminya itu, yang tandanya Bejo kini juga sudah terbangun dan tengah melakukan shalat malam.
Berbagai obrolan mereka bahas dari obrolan chat, hingga tak terasa suara Adzan menyadarkan mereka dan barulah mereka berdua mengakhiri sesion saling kirim pesan itu.
Seusai shalat subuh Maura dan yang lainya keluar dari mushalla dan melakukan tadarus bersama, rutinitas yang sering mereka lakukan.
Perkuliahan hari ini diliburkan karena adanya acara pengajian yang diadakan pihak pesantren sehingga perkuliahan harus di liburkan sehari saja.
Maura dan para santri lainya membantu beberpa tugas salah satunya menata konsumai bagi jemaah pengajian.
Maura, Amel dan Nada dibagian untuk menata kotak senek dalam pelastik besar untuk bia bawa ke tempat acara di bantu dengan santri laiannya kemudin akan di bawa oleh para santri putra ke acara tersebut.
Meskipun acaranya akan di mulai sehabis magrib tetapi semua orang sibuk membantu mempersiapkan acara.
Bejo kini tengah duduk diantara pak kiyai dan para ustadz lainnya. Bejo di perintahkan untuk mengisi pengajian sedikit sebagai perwakilan para ustadz yang ada disana, kenapa bukan ustadz Lainnya Pakiyai pun tau kepopuleran Bejo sehingga ia mempersilahkan Bejo saja yang maju.
__ADS_1
Najwa yang baru pulang dari Cairo, dan sudah menyelesaikan S2 nya disana, memutuskan kembali sesuai permintaan Pakiyai selaku abahnya, untuk membantu mengajar di kampus Al hikmah.
Najwa terpana Dengan paras tampan Bejo, saat Bejo memberikan tausiah yang hanya beberapa menit saja itu.
Membuatnya bertanya pada salah satu santri di sampingnya yang kebetulan disana ada Maura.
"Ra, itu ustadz Baru ya, yang mengajar di pesabtren ini?" tanya Najwa.
"Oh, iya Mbak. Namanya Ustadz Bejo. Beliau juga mengajar di kampus kok mbak, emm mata kuliah Matematika." Terang Maura yang bergantian memandang Bejo dan Najwa.
"Emm, pantes baru lihat." Najwa mengangguk nggukkan kepalanya seraya pandanganya tidak lepas dari sosok Bejo.
"Dia bukan asli indo ya?" tanya Najwa lagi. Yang kini di jawab oleh Olif yang berada di samping kirinya.
"Bukan mbak, dia itu campuran indo sama korea, ganteng kan mbk, semua santri disini tuh pada suka sama dia loh, aku aja juga ngefens, selain ganteng pinter lagi, dia kan keponakanya Ustadz Zainal."
"Oh, iya. Ustadz Zainal gak pernah cerita kalau punya keponakan sebesar itu." Najwa bergumam sendiri.
Najwa dengan Ustdaz Zainal cukup dekat bahkan Ustadz Zainal itu juga sudah seperti ayahnya sendiri. Selalu memberikan nasihat nasihat yang baik, motifasi hingga dirinya memutuskan melanjutkan kuliahnya di cairo itu juga berkat nasihat dari uastadz Zainal.
Maura yang ada didampingi kananya pun menahan panas di dadanya mendengar cerita Olif yang memuja muja sang suami di depannya.
Ingin rasnya dia mencabik cabik mulut Olif agar berhenti membicarakan suaminya, bahkan setelah suaminya turun panggung pun Olif masih saja melanjutkan ceritanya tentang suaminya itu sungguh Maura merasa sangat kesal.
Tetapi maura juga merasa heran kenapa Najwa terus mengorek informasi tentang suaminya itu, apa kah mungkin Najwa tertarik akan Ustadz Suami.
Ke khawtiran Maura berkli kali lipat meningkat, ia sangat khawatir jika memang benar Najwa menginginkan suaminya, apa Bejo akan membuangnya dan menerima Najwa yang seorang anak kiyai berparas cantik, berpendidikan tinggi, baik dan lemah lembut.
Meura merasa minder hanya dengan mebayangkannya saja, Najwa itu gadis yang di idolakan oleh para santri putra, gadis yang cantik apalagi lulusan Cairo membuat para laki laki tidak akan pernah menolak jika dijodohkan denganya.
Sepulang acara Maura terlihat sangat lesu dan letih, bukan hanya fisik tapi juga mentalnya memikirkan hal hal yang mungkin saja bisa terjadi. Membuatnya sedikit frustasi.
Dipagi hari Maura masih terlelap ia merasa ingin terus saja tidur tidak bersemangat sepert biasanya. Sehabis shalat subuh tadi Maura kembali tidur lagi di kamar.
__ADS_1
membuat Amel dan Nada merasa heran, tumbenan sahabat satunya itu kembali lagi tidur setelah shalat subuh.
"Maura kenapa kok lemes begitu?" tanya Amel pada Nada.
"Kecapekan kali, kemarin kan dia juga bantu angkat angkat juga." Jawab Nada sesuai yang ia pikirkan.
"Masak sih, perasaan gak capek amat kok, bisanya dia bersih bersih se asrama juga gak pernah kecapekan sampai tidur lagi, ini pasti ada apa apanya," gumam Amel yang curiga akan sesuatu.
"Ya kalau gitu kamu tanya aja sama orangnya Mel, kenapa tanyanya sama aku, kan aku gak tau jawabannya."
"Ih, kamu kok oon sih Nad, susah deh omong sama kamu, udah buruan ambil nasinya di belakang banyak yang ngantri tuh."
"Iya iya."
Amel dengan sengaja mengambilkan sarapan sekalian untuk Maura, takutnya kalau menunggu Mura bangun nanti keburu kehabisan.
"Maura, bangun." Panggil Amel seraya menghoyangkan tubuh Maura dengan lembut.
"Ra, Maura bangun, sarapan yuk." Panggil Amel lagi dengan intonasi yang sama.
"Maura, ayolah bangun, aku telponin Ustdaz bejo nih, kalau kamu gak mau bangun, biar dia kesini terus bangunin kamu." Bisik Amel tepat di telinga Maura yang langsung membuat Maura bangun dengan posisi duduk.
Maura yang kaget masih dengan lingkung melihat ke kanan kekiri, sementara itu Amel dan Nada tertawa terbahak bahak melihat ekspresi Maura yang cengo.
"Kalian ngerjain aku ya, ikh keterlaluan." Maura melemparkan bantal pada Amel dan Nada.
"Udah gak usah marah marah, nih yuk sarapan udah aku ambilkan. Nona cantik." Rayu Amel yang langsung menyodorkan piring Maura, kemudian merek bertiga duduk melingkar untuk menikmati sarapan.
Tiba tiba saja salah satu santri masuk dengan berkata.
"Gawat guys, Kak Najwa minta Abah untuk di jodohin sama Ustdaz Bejo."
Deg
__ADS_1
Jantung Maura seolah berhenti, kekhawtiranya semalam ternyata menjadi sebuah kenyataan.