
Hari ini tepat acara Maura dan Bejo pindah rumah, tasyakuran rumah baru mereka memgundang anak Yatim dari panti asuhan terdekat.
Bejo mengundang beberapa orang terdekat, sementara Maura hanya mengundang kedua sahabatnya Amel dan Nada.
"Wah keren ya, Ra. Kamu sangat beruntung bisa nikah sama Ustadz Bejo yang ternyata diam diam holkay." Bisik Nada pada Maura, yang membuat Maura tersenyum.
Memang benar yang dikatakan Nada jika dirinya sangatlah beruntung mendapatkan laki laki sebaik dan sekaya Ustadz Bejo, meskipun awalnya dia sangat membenci dan tidak suka akan pernikahan yang mendadak itu, demi sang abah dan demi kehidupan masa depannya yang lebih baik, Maura memilih untuk berdamai dan menerima segalanya dengan ikhlas.
Alhamdulillahnya, hasil dari keikhlasan dan kesabaranya Allah berikan kelimpahan risqi melalui suaminya yang ternayta sangat kaya raya.
Di acara tersebut Maura berpenampilan cantik dengan baju tunik berwarna merah maroon di padukan dengan rok hitam sedangkan kerudungnya senada dengan tuniknya.
Amel yang baru menyadari cincin yang melingkar di jari manis Maura pun langsung heboh.
"Maura, ini cincin kawin kamu?" tanya Amel sedikit keras sehingga beberpa orang melihat pada mereka bertiga.
Ya Maura beserta kaum hawa lainya berada di dalam sementara yang laki laki berada di ruang tamu serta anak yatim.
"Amel bisa kecilkan sedikit tidak itu suaranya," tegur Maura seraya memelototi Amel.
Nada malah cekikikan melihat Amel di pelototi oleh Maura.
"Syukurin, punya mulut jangan nyablak nyablak dong, kan malu didengar orang banyak." Cicit Nada dengan suara yang pelan.
Amel mencubit tangan Nada karena merasa kesal sudah di katain mulut nyablak.
Nada pun hanya bisa meringis dan menahan jeritannya karena tidak mungkin kan ia menjerit keras, sementara itu semua orang lagi hitmat mendengarkan doa.
"Huttts kalian ini, udah dengerin tuh doa, aminin dong, kok malah kayak anak kecil, beringsik." Bisik Maura seraya menata tangan Amel dan Nada menengadah keatas.
.Selesai berdoa langsung makanan di serahkan, sehingga mereka makan bersma sama di sana, selesai makan kini berganti sesi memberikan bingkisan dan amplop pada anak yatim yang di pimpin oleh Bejo sendiri, sementara yang memberikanya adalah Paman dan Bibinya, Maura pun juga ikut di panggil untuk memberikan bingkisan pada Anak yatim perempuan.
__ADS_1
Senyuman terpancar pada bibir semua orang, tampak cahaya kebahagiaan, tak henti hentinya Maura mengucap rasa syukur dalam hatinya, bisa melakukan hal mulia, berbagi resqi pada anak yatim.
Setelah sesi pemberian bingkisan dan amplop, anak anak yatim langsung pulang, sementara Ustadz Zainal dan Bibik Aisyah, serta Amel dan Nada masih tetap di rumah baru Maura dan Bejo.
Mereka masih mengobrol santai bersama di ruang keluarga. Menikmati beberapa jajan yang masih tersisa.
"Oh, Ya Jo. Hampir aja Paman lupa, ini sertifikat rumahnya sudah jadi, atas nama Siti Maura Mubatokah." Ustadz Zainal memberikan amplop hijau berisikan sertifikat rumah yang sudah di balik nama atas nama Maura.
Amel dan Nada pun yang mendengarkanya serasa mau jatuh pingsan.
Mereka berdua merasa lemas.
"Hai kalian ini kenapa kok tiba tiba lemes begini?" tanya Maura melihat dua sahabatnya itu luruh ke lantai.
"Hiks hiks, masih ada gak sih, cowok yang kayak ustadz Bejo, kita kan juga mau suami yang kayak ustadz Bejo, udah ganteng, pinter, penyayang dan kaya lagi." Keluh Amel yang di angguki oleh Nada.
Semua orang yang ada disana pun langsung tetawa terbahak bahak mendengar penuturan Amel.
"Kamu ini bisa aja to, Nak. berdoa saja semoga kamu mendapat jodoh yang baik seperti Maura." Sahut Bibik Aisyah, yang juga masih sedikit tertawa.
"Mau ustadz, tapi yang kayak Ustadz Bejo."
"Yo gak ada, kalau Bejo ini sudah habis, tinggal yang buluk buluk loh kayaknya, masih mau kamu?" tanya Ustadz Zainal yang memang sengaja menggoda Amel dan Nada.
"Ya ndak Mau to Ustadz nanti kalau buluk, dikira aku ambil gembel dari jalanan." sahut Nada dan amel.
Percakapan tersebut sungguh menyenangkan, bercanda dan menggoda Amel dan Nada, mereka semua tertawa dengan ringan, melupakan sejenak masalah dan pekrjaan yang menumpuk.
Sebelum mereka pamit terlebih dahulu mereka membantu merapikan rumah pada temptnya semula, setelah semuanya rapi dan bersih barulah Ustadz Zainal beserta istrinya pamit pulang, di susul dengan Amel dan Nada yang juga berpamitan untuk pulang ke asrama.
Karena arah mereka pulang sama Bibik Aisyah dan Ustadz Zainal menawarkan Amel dan Nada untuk ikut mobil mereka.
__ADS_1
tentu saja Amel dn Nada tidak akan menolak, tumpangan geratis kapan lagi ada. Wkwkwkwk.
"Kenapa Dek, kok bengong?" tanya Bejo seraya memeluk Maura dari belakang, yang terlihat melamun di depan rumah.
"Sepi ya Mas, padahal tadi ramai benget." Keluh Maura mengungkapkan isi hatinya.
"Bagus dong Dek kalau sepi."
"Lah kok gitu?" tanya Maura heran.
"Jadi kita bisa berdua duaan dirumah, tanpa ada yang gangguin." Bejo langsung menggendong tubuh Maura dan membawanya ke lantai dua dimana kamar mereka berada.
"Kamu bisa aja sih Mas, turunin aku, ini masih siang Mas, jangan aneh aneh deh." Kata Maura yeng kini berada pada gendongan Bejo.
"Siang juga gak masalah kok dek, lagian semuanya sudah beres jadi, ehehm kita bisa habiskan waktu berdua aja."
Sudah sejak lama Bejo ingin menempati rumah ini, berdua saja nersama Maura, menikmati masa pernikahan mereka yang baru berusia satu bulan itu, masih sangat harum pengantin baru, jadi maklum kan jika pikiranya yang ada hanya berdua di kamar aja. Wkwkwk.
Tepat pukul empat sore Maura bangun dari tidurnya, ia merasa capek seluruh tubuh, Suaminya itu memang sungguh luar biasa, mengerjainya hingga ampun ampunan.
Sementara itu Amel dan Nada yang sudah datang sedari siang kini mulai membagikan makanan yang ia bawa snagat banyak dari rumah Maura.
Amel dan Nada juga mengatakan jika ini makanan dari tasyakuranya ustdaz Bejo dan Maura yang sudah pindah ke rumah barunya.
Mereka berdua mengatakan dengan lantang, betapa kayanya ustadz Bejo itu, dan betapa cintanya Ustadz Bejo sehingga melimpahkan rumah dengan membalikkan serifikatnya atas nama Maura.
tentu saja hal itu membuat semua para santri lain yang mendengearkanya pun merasa iri, mereka berpikir seandainya merekalah yang menjadi istri ustdaz Bejo betapa beruntungnya merek itu.
pada saat Amel melihat Lala ia langsung menagmbil satu kotak jajan yang penuh isinya, memberikanya khusus pada Lala seraya berkata.
"Ini jajanan dari rumah Ustadz Bejo dan Maura, merka membeli rumah baru dengan atas nama Maura, seneng deh lihat temen yang bahagia, iya kan La, nih terima." Amel dengan sengaja menbuat hati Lala panas.
__ADS_1
merasa sangat marah, Lala menempar kotak jajan yang da di tangan amel tersebut, menandakan jika Lala tidak sudi menerima makanan dari Maura.
Amel yang mendapati sikap kasar seperti itu bukannya marah atu kecewa tetapi ia malah menyeringai, tau jika Lala telah terbakar hatinya.