Jadi Istri Ustadz, Bejo?

Jadi Istri Ustadz, Bejo?
Gegara ponsel


__ADS_3

Maura, Amel dan Nada tengah menunggu di luar Mall, kedatangan Bejo, tadi Bejo telah menelpon akan menjemput mereka bertiga, dan tengah berada di perjalanan.


Maura masih teringat akan laki laki yang tadi tidak sengaja bertabatakan dengan dirinya, Hatinya jadi was was, bagaimana reaksi Bejo setelah mendengar cerita darinya ya.


Apa Maura tidak usah bercerita saja, tetapi Maura tidak ingin ada hal yang ia sembunyikan, Apalagi hal seperti itu, pasti nanti Bejo akan bertanya seputar jalan jalannya hari ini.


"Hai, kalian jangan ada yang keceplosan ya, kalau kita belanjanya di traktir sama Rifan, biar aku yang cerita sendiri sama Mas Bejo." Maura memperingatakan dua sahabatnya itu agar tidak keceplosan, akan apa yang terjadi tadi.


"Iya, iya. Lagian siapa juga yang mau laporan tar yang ada, kita juga yang kena, Ustadz Bejo itu kalau lagi marah ternyata menakutkan juga, jadi ingat waktu kamu habis terngkar sama Lala di kampus, gegara kamu gak sengaja bikin ponselnya jatuh. Ih, serem." Nada membayangkan wajah garang Bejo yang tidak mau melepaskan Maura saat mereka bertiga tengah membahasa soal Lala. Dikiranya Maura sakit karena ulah mereka.


Tetapi dengan kejadian waktu itu. Hubungan Maura dan Ustadz Bejo menjadi di ketahui oleh mereka berdua.


"Ya namanya jug orang marah, ya pasti nakutin lah." Sahut Maura.


"Eh, tapi kamu ngerasa aneh gak sih, sama laki laki tadi. Masak iya, mentaraktir kita bertiga mana dia udah langsung bayar semua yang kita mau beli lagi, jadi curiga aku." Sahut Amel.


"Aku juga sih. Tapi yah giman lagi, karena ponsel, dia jadi mentraktir begitu." Sahut Maura.


Kejadian bebrapa waktu lalu saat mereka bertiga tengah asik berjalan melihat lihat yang ada di Mall. Tidak sengaja Maura menabrak seorang laki laki, lebih benarnya laki laki itu sengaja agar bertabrakan dengan Maura. Yang mengakibatkan ponsel yang di pegang Maura jatuh dan buruknya ponsel tersebut rusak.


Mengakibatkan laki laki tersebut mengganti rugi ponsel Maura, tetapi tidak hanya ponsel, semua belanjaan Maura dan kedua sahabatnya pun di bayar oleh laki laki tersebut yang bernama Rifan.


"Ya udah lah. Pokonya kalian jangan ada yang bersuara, biar aku sendiri yang bilang ke Mas Bejo." Kata Maura dan kebetulan mobil Bejo telah tiba di hadapan mereka.


"Nungguin lama, Dek?" tanya Bejo begitu sudah turun dari mobil nya.


"Lumayan Mas, gak lama juga kok," jawab Maura seraya melirik Amel dan Nada.


"Ya udah yuk Mas, kita pulang, udah pada capek nih." Ajak Maura pada Bejo yang langsung membukkan pintu depan untuk Maura.


setelah semuanya masuk kedalam mobil, Bejo dengan perlahan melajukan mobilnya.


sementara itu dari kejauhan, seorang yang berada di dalam mobil, terus mengamati mobil yang membawa ketiga gadis yang ia traktir tadi.

__ADS_1


Dia adalah Rifan, yang tadi sengaja menabrakkan diri pada Maura.


"Jadi benar kau sudah menikah, baiklah, akan aku lakukan berbagai cara untuk membuat klian berpisah." Rifan langsung menjalankan mobilnya setelah berguman sendiri.


Di dalam perjalan Maura hanya diam saja hanya nada dan Amel yang bergurau ringan, sementara Bejo tidak menaruh curiga sedikitpun dengan diamnya sang istri, Bejo pikir mungkin istrinya itu tengah kelelahan, sehingga diam saja.


Bejo menurunkan Nada dan Amel di jalan dekat dengan asrama putri.


"Makasih ya, Ra. Udah di ajak jalan jalan, jangan bosen ya, besok besok lagi kita jalan jalan lagi." Kata Amel mengucapkan kalimat perpisahan mereka.


"Dan terimakasih sudh di atar samapi sini, Ustasz." Sambung Nada yang di angguki oleh Bejo.


Maura hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum, pada dua sahabatnya itu.


Bejo melajukan kereta Besinya lagi menuju rumah mereka. Tanpa mereka sadari sedari tadi mobil mereka di ikuti oleh mobil lain.


Sesampainya di rumah tepat pukul empat sore. Maura langsung pamit untuk mandi karena jujur dirinya belum shalat asyar.


Bejo pun juga mau mandi, karena kamar mandi di kamar di pakai oleh Maura maka dia mengalah menggunakan kamar mandi yang ada di luar.


Sedang asyik menunggu ada dering ponsel yang berbunyi, Bejo mencari carai dari mana sumber bunyi tersebut, Bejo berhenti tepat di depan tas Maura yang mana bunyi tersebut bersumber.


Tidak mau lancang, Bejo mengetuk pintu kamar mandi dan mengatakan jika ponsel Maura berdering.


"Dek, ponsel kamu bunyi tuh, kamu masih lama kah di dalam kamar mandinya?" tanya Bejo.


"Bentar Mas," jawab Maura yang tiga detik kemudian Maura telah membuka pintu kamar mandi.


"Mas, tadi ngomong apa?" tanya Maura yang kini sudah keluar dari kamar mandi dan bersiap untuk melaksanakan shalat.


"ponsel kamu bunyi, Sayang," jawab Bejo yang terus menatap istrinya tengah menggunakan mukena.


"Oh, biarin aja mas, toh udah gak bunyi, kita shalat dulu yuk, udah mau habis nih waktunya." Maura memilih mengabaikan ponselnya itu dan meminta Bejo untuk segera menjadi imamnya.

__ADS_1


Dua rakaat ponsel Maura berbunyi lagi, cukup nyaring sih, tetapi karena masih dalam keadaan shalat tentu saja bunyi tersebut akhirnya berhenti sendiri karena di abaikan.


Pada rakaat terakhir ponsel Maura berbunyi kembali, hingga salam selesai pun ponsel tersebut masih berbunyi, membuat Bejo penasaran siapa yang menghubungi istrinya, apakah ada hal yang penting.


Maura pun juga penasran siapa yang tengah menghubunginya. Tapi urung untuk mengambilnya karena dirinya masih ingin fokus berzikir.


"Ambil saja Dek, siapa tau ada yang penting," ucap Bejo yang kemudian kembali melafalkan kalimat dzikir.


mendapat perintah dari sang suami barulah Maura beranjak dan mengambil ponselnya.


Maura sungguh terkejut, karena ternyata yang menghubunginya adalah Rifan. Maura berpikir ada apakah Rifan menghubunginya.


Maura mensenyapkan bunyi ponselnya dan kembali pada dhikirnya yang belum selesai.


Setelah selesai berdzikir dan berdoa, barulah Maura mengambil lagi ponsel miliknya.


"Siapa yang menghubungi, Sayang?" tanya Bejo lembut seraya merapikan sajadah yang telah ia buat alas shalat tadi.


"Ah, ini Sayang. Em..." Maura ragu untuk berbicara sehingga perkataannya menjadi terputus.


Bejo menatap pada Maura, kemudian matanya beralih pada ponsel berwarna hitam, yang setau Bejo itu bukan ponsel istrinya, karena sebelumnya ponsel Maura berwarna putih.


"Itu ponsel siapa, kamu beli ponsel baru?" tanya Bejo masih dengan nada yang lembut.


Maura menggelengkan kepalanya, yang membuat Bejo mengerutkan keningnya.


"Lantas?"


"Ini, ponsel yang dibelikan orang, Mas."


"Siapa, kok bisa, ponsel kamu kemana?" Bejo memberikan pertanyaan banyak pada Maura, bahkan raut wajah Bejon pun sudah berubah curiga.


"Di belikan Rifan, karena ponsel ku rusak." Maura menjawab dengan jujur. Mendengar nama laki laki asing dari mulut istrinya menbuata jantung Bejo bergetar dan terasa panas.

__ADS_1


"Rifan, Siapa?" tanya bejo yang kini sudah memasang wajah dingin.


__ADS_2