
Selesai dengan semua mata kuliah, Maura menunggu Bejo di parkiran, dan tak lama kemudian, Bejo terlihat berjalan menghampirinya.
"Sudah lama Dek, nungguinnya?" tanya Bejo seraya membuka pintu mobil untuk Maura.
"Belum kok, Mas dari mana tumben baru keluar dari kampus?" tanya balik Maura yang kemudian masuk kedalam mobil.
"Iya, tadi masih ada mahasiswa yang mau berdiskusi makanya agak telat."
"Cewek apa cowok?"
"Apanya?"
"Mahasiswanya lah?"
"Cowok, sayang. jangan cemburu dong."
"Siapa juga yang cemburu kan aku cuma tanya aja." Elak Maura yang sebenarnya memang merasa cemburu saat mendengar masih ada mahasiswa yang meminta diskusi.
"Lah, tuh kenapa mukanya di tekuk begitu, seriusan Sayang, Mahasiswanya cowok, lagian kalau cewek kan juga gak mungkin aku tolak, diskusinya kan didalam kelas dengan banyak mahasiswa yang lain." Terang Bejo, berharap Maura tidak lagi marah dan kembali ceria.
"Hem, aku kan udah bilang kalau aku gak cemburu Mas,"
"Iya iya, gak cemburu kok." Bejo tersenyum melihat tingkah merajuk istrinya yang menurutnya sangat menggemaskan.
tak berapa lama mereka berdua sudah sampai di rumah, Mereka berdua langsung membersihkan diri, sementara itu bik inem langsung menyipkan makan siang untuk sang majikan.
selesai membersihkan diri, bejo dan Maura pun makan siang bersma.
"Mas, nanti malam jadi datang ke undangan tetangga depan?" tanya Maura memulai percakapan serius.
"Em, kayaknya gak bisa deh dek, Mas ada jadwal mengajar di pesantren putri, kalau kamu sendiri yang hadir bagaiaman?"
"Aku gak mau Mas, kalau kamu gak ahdir aku juga gak bakalan hadirlah, nanti kalau ada yang godain aku gimana,"
"Benar juga, kalau begitu tidak usah hadir lah,"
"Gak enak lah mas kalau gak hadir, kan kita udah di undang, gimana kalau Mas aja yang izin dan minta tolong Ustadz lain untuk gantikan malam ini aja."
"Duh, kayaknya gak bisa Dek, Mas kan udah beberapa hari izin, karena sakit kemarin, gak enak kalau merepotan ustadz Rahmat terus terusan."
"Terus bagaimana dong Mas?" tanya Maura yang ikutan bingung.
"Em, bagaimana kalau kita datang sebentar saja Dek, habis itu langsung pamit pulang, setelah memberikan hadiahnya." Usul Bejo yang di angguki oleh Maura.
"Oh, begitu juga boleh deh, Mas. Nanti aku ikut sekalian mas ke pesantren, aku juga mau ikutan mengaji, udah lama kan aku gak mengaji, hehehs bisa ketemu Amel dan Nada juga." Girang Maura.
__ADS_1
"Iya, kalau begitu ayo kita cari hadiah dulu, kan kita belum beli sayang, enaknya kasih hadiah apa ya?"
"Em, kita berangkat dulu aja Mas, sambil lihat lihat, nanti kalu ada yang bagus kita ambil itu aja."
"Baiklah, kalau begitu. ayo kita berangkat nanti keburu sore."
"Siap Bos," jawab Maura yang langsung pergi menuju kamar untuk mempersiapkan diri, sedangkan bejo pergi mencuci piring sisa makan siang mereka berdua.
setelah semuanya siap, mereka meluncur untuk mencari sesuatu yang bisa di hadiahkan pada tetangga baru.
Bejo dan Maura pun sedikit bingung hadiah apa ya yang pantas untuk di berikan, apa lagi tetangga baru itu jauh lebih kaya, pasti barang barang yang ada dirumah nya pasti mahal mahal.
"Em, jadi kita kemana dek ini, Aku gak begitu paham sih kalau mau kasih hadiah buat tetangga baru."
"Sama Mas aku juga gak paham, kan baru sekarang aku punya tetangga baru, kalau di desa sih, mungkin tinggal adain acara tumpengan aja udah beres, kalau di kota kayak begini, apa lagi orangnya kaya, sungkan juga kalau gak bawa apa apa, yah meskipun harganya gak seberapa setidaknya niat kita tulus."
"Bener kamu, Apa lagi kita gak bisa ikutan acaranya sampai selesai."
"Heem, betul. eh eh eh... berhenti mas." Seru Maura tiba tiba.
"Ada apa, Dek?"
"Gimana kalau kita beli kaligarafi aja, biar bisa di tempel didingnya, kalau lukisan aku kurang suka mending kaligrafi aja yang suah pasti ada doanya."
"Wah yaudah, aku kirain Mas mau beli yang di belakang tadi, yang udah kelewatan."
"Kayaknya yang di pinggir jalan tadi gak banyak pilihannya, jadi kita langsung ke tokonya aja ya."
"Ok siap,"
Bejo langsung menjalankan mobilnya menuju toko kaligrafi langganan ustadz Zainal yang memang sudah terkenal dengan kaligrfainya yang berkualitas tinggi.
tidak perlu waktu lama, mereka sudah mendapatkan hadiah yang mau di berikan ke tetangga baru, setelah membeli dan sekaligus membungkusnya, mereka pun pulang.
Selepas magrib, Maura dan Bejo saling semak bacaan sebentar, kemudian baru bersiap untuk pergi kerumah tetangga baru.
"Mas, aku pakai jubah warna merah ini, bagus gak?" tanya Maura yang kini tengah bercermin.
"Bagus sayang kamu pakai apapun juga cantik kok."
"Ok, kalau aku pakai warna merah, kamu juga harus oarkai warna merah biar kita kapelan gitu," ucap Maura yang kini tengah memilih baju untuk suaminya, padahal Bejo sudah mengenakan Baju koko berwarna putih.
"Tapi Dek, Mas udah pilih baju ini," ucap Bejo seraya menunjuk baju yang ia pakai.
"Jelek, Mas. Pakai yang ini, pasti tampan serasi sama baju aku." Maura menyodorkan baju kemeja berwana merah maroon senada dengan bajunya.
__ADS_1
Bejo dengan ikhlas menerima baju pilihan istrinya itu, ketimbang nanti dia mendapat amarah.
"Ok, sudah tampan, kalau begitu let's go kita meluncur." Maura menggandeng mesra lengan Bejo turun dari lantai atas.
mereka berjalan dengan santai, tak lupa membawa hadiah yang sudah mereka berdua siapkan tadi.
"Assalamualaikum," ucap Bejo setelah sampai di depan rumah tetangga barunya.
"Waalaikumsalam, silahkan masuk Pak, Tuan sudah menunggu kehadiran anda." Sambut dua satpam dengan ramah.
"Oh, iya." Bejo dan Maura pun masuk ke dalam rumah mewah tersebut. sungguh megah, membuat Maura dan Bejo pun sampai terpana.
tetapi itu hanya sekejab saja kemudian merka berdua fokus lagi pada tujuan awal, yang hanya datang untuk memberikan hadiah, sebagai tanda minta maaf karena tidak bisa ikut dalam acara sampai akhir.
"Pak, Rifan?" ucap Bejo yang memang sudah mengenali laki-laki yang kini menyambutnya.
"Oh, Ustadz Bejo, anda tetangga saya juga?" tanya Rifan yang menunjukkan raut wajah terkejut.
"Iya, saya yang tinggal di rumah depan sebrang jalan itu,"
"Oh, sangat kebetulan sekali ya Ustadz, baguslah kalau begitu, saya senang ternyata kita tetanggaan." Rifan tersenyum dengan sangat senang.
kemudian melirik pada Maura yang berada di samping Bejo yang sedari tadi hanya bisa mendengar dan melihat interaksi suami dan pemilik rumah yang ternyata sudah saling kenal.
"Oh, iya kenalkan, ini istri saya, Maura. dan sayang ini Pak Rifan sang donatur di kampus kita. " Bejo memperkenalkan maura pada Rifan dan begitu sebaliknya. Maura dengan gugup menangkupkan kedua tanganya didada, sungguh tidak di sangka, laki laki yang tempo hari bertemu denganya sampai membelikan ponsel untuknya pun ternyata tetangga barunya, bahkan suaminya pun sudah kenal.
"Salam kenal, saya Maura." Maura tersenyum agak cangguh, karena berpura pura tidak mengenal laki laki di hadapannya kini.
"Iya, salam kenal." Rifan pun mengikuti permainan Maura ikut berpura pura saling tidak kenal, tetapi tatapan matanya tidak lepas dari sosok Maura yang menurutnya sangat cantik kali ini.
"Oh, ya. Pak saya mohon Maaf, saya dan istri, tidak bisa lama lama, karena kami ada jadwal mengaji di pesantren, ini ada hadiah untuk anda, semoga anda suka." Bejo memberikan hadiah yang sudah mereka siapkan pada Rifan. Rifan yang masih fokus pada Maura pun harus mengalihkan pandanganya pada Bejo dan menerima hadiah tersebut.
"Terimaksih, seharusnya ustadz tidak perlu repot repot. tapi saya sungguh berterimakasih karena ustadz dan istri sudah sudi mampir ke rumah saya."
"Sama sama, saya juga berterimakasih sudah diundang, sekali lagi saya minta maaf, dan kami mohon pamit."
"Oh, iya sebentar." Rifan menoleh pada pelayannya memberi kode untuk mengambil buah tangan yang memang sudah disiapkan.
Rifan menerima buah tangan tersebut lalu memberikan sendiri pada Maura.
"Mohon terima ini, kami sudah menyiapkannya untuk para tamu," ucap Rifan yang langsung menyodorkannya pada Maura, bukan pada Bejo.
Maura hanya diam saja karena jika ia mengambilnya bisa jadi tangannya akan bersentuhan dengan laki laki yang bukan mahromnya itu, Dengan sigap Bejo mengambil alih pemberian Rifan.
"Terimasih Pak, kami permisi." Bejo membawa bingkisan tersebut serta menggandeng Maura, Rifan terus memandangi mereka berdua menjauh dari kediamannya dengan senyum misterius.
__ADS_1