
Amel dan Nada mengambil semua menu yang ada di daftar menu kaffe tersebut untuk di bungkus dan di bawa pulang ke asrama, niatnya nanti untuk di bagi bagikan pada santri daam kamarnya, niat terselubungnya memberi pelajaran pada Maura dan Ustadz Bejo karena merahasiakan pernikahan mereka berdua, dan sejujurnya mereka berdua sangatlah kecewa mengetahui jika laki laki idamannya telah menikah dan sahabatnya sendirilah yang menjadi istrinya.
Flashback pada beberapa jam lalu.
Stelah mendengar pengakuan dari Muara Amel dn nada saling bertatapan tidak percaya dengan apa yang sahabatnya itu katakan.
"Seriusan, kalian menikah?" tanya Amel yang masih dilanda ketidak percayaan.
Bejo meraih tubuh Maura sehingga Maura mendekat padanya kemudian menunjukkan kecupanya yag mendarat tepat di kening Maura, membuat Amel dan Nada mengelus dada.
Agak nyeri sih melihat laki laki pujaanya mencium wanita lain, tapi apalah daya mereka yang tau wanita itu bukan lain adalah sahabatnya sendiri, jadi mereka harus belajar ikhlas.
"Baiklah, untuk menebus kekesalan kita bedua Ustadz harus traktir kita apapun yang kita mau. Itung itung untuk tutup mulut."
jadilah Amel dan Nada berulah memesan semua apa yang ada di caffe tersebut.
Selagi menunggu pesanana Amel dan Nada yang di bungkus, mereka menikmati pesanan yang Maura pesankan tadi.
"Oh, jadi yang kamu maksud Ustadz Suami itu, ustadz Bejo?" tanya Amel dengan menyuapkan pentol kemulutnya.
"Iya," jawab Maura dengan menyeruput es oyennya.
"Kalau begitu bilang aja sekarang kan besok kamu harus kasih tuh uang ke si nenek lampir itu." Kata Nada seraya meneguk es jeruknya.
"Uang Apa Dek?" tanya Bejo dengan menoleh pada Maura.
"Ah, itu Mas tadi aku gak sengaja nabrak orang, terus ponselnya kegores, emm orangya minta ganti rugi." jelas Maura sedikit ragu.
"Berapa?" tanya Bejo singkat.
"Dua juta Mas," jawab Maura seraya menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Oh, ya nanti kita ambil uang dulu di ATM," jawab Bejo yang membuat Amel dan Nada melongo.
Sementara itu Maura tersenyum memandang Bejo yang sama sekali tidak keberatan bahkan tidak bertanya tanya lagi tentang kejadian yang sempat menguras emosi itu.
"Makasih Ya Mas, emang gak papa ya, itukan jumlah yang gak sedikit."
"Ya harus bagaimana lagi, kan orangnya minta ganti rugi segitu, lagian Mas pikir orangnya minta sepuluh juta, ternyata cuma dua juta, nanti ambil seklian uang jajan kamu, yang kemarin udah habis kan?" tanya Bejo seraya melihat wajah Maura.
"Hehehe, yang kemarin masih kok Mas, gak usah ambil lagi. ambil yang buat ganti rugi aja."
"Mana bisa Ra, ambil aja itukan Ustadz Bejo yang kasih buat jajan kamu. Pasti kurang lah. Kamu jangan berbohong." Sahut Amel yang memiliki niat terselubung di dalamnya.
Flash back Off.
Maura paham dengan apa yang di maksud Amel yang menyuruhnya untuk menerima uang pemberian Bejo lagi.
Ternyata Amel dan Nada sengaja menyuruhnya untuk menerima uang jajan, agar Amel dan Nada mendapat traktiran lagi dari Maura.
"Itukan tadi sekarang bedalah Ra, sekarang giliran kamu yang teraktir. Udahlah gak usah keberatan begitu lagian sekalian aja buat syukuran atas ehem kamu itu." Jelas Amel yang tidak berani berkata pernikahan dan menggantinya dengan deheman saja yang mendapat tertawaan dari Nada.
"Sudahlah Ra, dari pada kita bocorin, pilih mana hayo." Ancam Nada dengan wajah liciknya.
Maura mendengus kesal melihat tingkah mengesalkan kedua sahabatnya itu.
"Sudah bener aku kan, untuk tidak mengekspos pernikahan ku dengan Mas Bejo, tadi kenapa Mas Bejo pakek peluk peluk sih jadinya kan ketahuan." Batin Maura yang merasa kesal dengan kedua sahabatnya yang sudah mengetahui setatus pernikahnya itu.
Amel dan Nada tidak hanya beli makanan untuk dirinya saja tetapi untuk mereka yang ada di area kantin asrama, membuat Maura semakin menekuk wajahnya karean kesal,
"Habis sudah uang jajan ku," gumam Maura dengan menopang wajanya dengan tangan kannya.
"Kalau habis minta lagi dong Ra, pasti bakalan dikasih lagi." Bisik Amel di telinga Maura, Maura memutar bola matanya merasa jengah, Maura bukannya orang yang pelit tetapi ia harus menghemat, mengingat selama ini ia hanya mendapat jatah sedikit dari Umiknya, meskipun sekrang mendapat suami yang kaya, dia tidak boleh menjadi orang yang boros, karena ia juga tau sifat boros itu tidaklah baik.
__ADS_1
Selesai membayar semua makanan yang dipesan Amel dan Nada ternyata masih ada sisa uang satu juta dua ratus, karena tadi Bejo memberikan lagi uang jajan sebesar dua juta, dan dua juta lagi untuk uang ganti rugi.
"Maksih ya Ra, buat teraktiranya," ucap semua santri yang mendapatkan makanan dari Amel dan Nada yang menyebutkan Maura tengah mengadakan traktiran.
Maura hanya tersnyum menanggapi ucapan terimakasih dari santri santri itu.
"Oh banyak duwit kamu, main traktir segala, bukanya di asrama ini hanya boleh jajan tidak lebih dari tiga puluh ribu ya perhari." Kata Lala yang kini berada di kantin.
Maura yang malas menanggapi pun langsung saja menaraik tanyan Lala dan memberikan uang dua juta yang memang sedari tadi ia bawa, dan akan ia berikan pada Lala sewaktu waktu jika mereka bertemu.
Setelah memberikan uang tersebut Maura langsung pergi, dan mengabaikan Lala.
"Ck, sirik aja jadi orang, kalau kamu gak mampu traktir mending diam aja deh, nih aku kasih satu bungkus bakso masih sisa satu." Amel memebrikan satu bungkus bakso di tangan kiri Lala karena tangan kananya penuh dengan uang.
"Brengsek, siapa juga yang mau dengan bakso kayak gini." Lala hendak melempar sebungkus bakso tersebut ke tong sampah, tetapi tanganya di tahan oleh, Olif.
"Apaan sih, Lif." Kesal Lala saat melihat tanganya di cekal oleh Olif.
"Hehehe maaf ya La, jangan di buang dong, sayang loh kalau di buang, kan lumayan itu bakso buat ganjal perut," ucap Olif dengan cengengesan.
"Ck kamu tuh ya, kalau sama makanan gercep amat sih, giliran disuruh ngelawan si Miss clean aja lu ngumpet di belakang gue." Cecar Lala yang membuat Olif hanya meringis.
"Ya udah nih, makan aja tuh bakso, gak sudi gue makan makanan dari orang sok bersih kayak dia." Lala memberikan sebungkus Bakso ke pada Olif.
Olif tersenyum menerimannya, ia tidak perduli dengan ejekan Lala, yang penting baginya menikmati bakso kantin yang sudah terkenal enak itu.
"Dari mana si tukang sampah itu, mendapatkan uang banyak, mungkinkah dia mendapatkan uang ini dari keluarganya, gak mungkin kan, aku tau sendiri bagaiman sikap umiknya dulu sangat tidak menyukai nya saat datang berkunjung, tetapi berbeda dengan Abahnya yang sangat sayang padanya, tapikan abahnya sudah mati, lalu dari mana dia mendapat uang sebanyak ini dalam waktu satu hari." Batin Lala berpikir keras, darimana uang yang ada di tanganya itu berasal.
"Udahlah La, gak usah mikir sampai segitunya, yang penting kan kamu udah bisa beli pelindung layar yang baru buat ponsel kamu yang mahal itu." Kata Anggi yang tau apa yang ada di pikiran Lala.
"Heem." Lala menganggukkan apa yang di katakan Anggi.
__ADS_1
"Bener juga kata Anggi yang terpentingkan uang sudah ada di tangan ku, dan ini sudah menjadi milik ku, aku bakalan tukerin ponselku dengan ponsel yang jauh lebih bagus lagi, tinggal minta uang tambahan dari Papa beres deh semuanya." Batin Lala senang, sudah bisa mengelabui Maura, yang mana memang sengaja dia lakukan, untuk menekan Maura tetapi Maura malah bisa memberikan ganti rugi sesuai yang ia minta.