
Dalam hati Bejo bergumam, "orang orang ini aneh, aku yang punya kekasih kenapa mereka yang heboh sih,
Lebih baik ku telpon Dek siti sebelum masuk ke kelas, aku ingin mendengarkan suaranya. Padahal baru kemarin ketemu, sekarang udah kangen, kalau tau begini harusnya Paman kenalkan aku padanya dari dulu aja," gumam Bejo yang merasa rindu ada istrinya, di pegabgnya dada yang serasa berdegub kencang kala mengucap namanya Maura.
Bejo dengan lihai mengetikkan nama Siti dan muncullah sebuah kontak Dek Siti yang dia beriti emoji love.
Ditekannya tombol hijau untuk memanggil, dan tertera Berdering di layar kaca pertada ponsel istrinya itu menyala.
"Asaalamualaikum, ada apa, ngapain telpon sih Mas?" tanya Maura dengan nada yang lirih seperti berbisik bisik.
"Em, waktunya gak tepat ya, ya sudah saya matikan." Tanpa menunggu jawabn dari Maura Bejo sudah menekan tombol merah membut Maura menggerutu.
"Dasar Suami laknat, belum juga dijawab salamnya udah main tutup telpon, lagian aneh, ngapain coba dia telpon, kalau ada yang denger bagaimana, ck ck ck, bikin merinding aja. Eh aku kan lagi fi dalam toilet mana bokeh jawab salam, bener dia sih matikan dengan mendadak." Keluh Maura dengan kesal.
"Maura lama amat sih di dalam toilet, buruan keluar kita tinggal nih." Teriak Amel yang menunggu Maura untuk segera berangkat ke kampus.
"Hem, iya ini udah selesai, baru aja masuk, dibilang lama, lebay kamu." Protes Maura yang langsung menenteng tasnya, mengikuti Amel dan Nada yang sudah jalan lebih dulu.
Dijam jam pagi seperti ini, Asrama akan sepi dimana para santri akan pergi ke sekolah masing masing, mungkin hanya beberapa orang yang sekolahnya masuk agak siangan, Maura, Amel, Nada yang satu kelas kebetulan ada jam masuk pagi sehingga mereka sudah sibuk seperti anak SMA yang mempersiapkan keberangkatannya.
Di lorong kampus Maura serta dua temannya itu, tidak sengaja bertemu dengan Ustadz Rahmat, yang tentunya akan menyapa Maura wanita incaranya.
"Assalamualaikum," sapa Ustadz Rahmat.
"Waalikum salam Ustadz," jawab ketiga gadis itu seraya tersenyum ramah.
"Kalian berangkat sepagi ini ada jadwal pagi?" tanya Rahmat dengan memandang Maura saja.
"Iya Ustadz, ada kuliah pagi jam tujuh, makanya kita berangkat sekarang biar gak telat." Nada yang menjawab pertanyaan Ustadz Rahmat dengan antusias, padahal Rahmad berharap Maura lah yang menjawab pertanyaanya agar dia bisa mendengar suara lembut gadis itu.
"Kalau begitu kami permisi ya Ustadz ini sudah mau jam tujuh," ucap Amel.
"Oh iya, silahkan semangat belajarnya." Ustadz Rahmat tidak hentinya memandangi punggung Maura yang telah berada jauh dari tempatnya berdiri.
"Aku harus menanyakan pada Pakiyai lagi tentang dirimu, agar kita bisa bersatu, semog saja Allah mengabulkannya," gumam Ustadz Rahmat kemudian melanjutkan langkahnya.
Bejo yang melihat dari kejauhan, hanya bisa menatap saja, hatinya terasa panas, sampai kapan dia harus menyembunyikan setatus pernikahanya ini.
__ADS_1
Kelas di pagi hari berjalan dengan sangat lancar, Maura dan teman temannya akan menunggu kelas selanjutnya, Karena masih dimulai pukul sepuluh pagi, Amel mengajk Maura dan Nada untuk pergi ke kantin.
"Maura, pesan apa?" tanya Amel yang sedang berdiri tengah membaca beberapa menu.
"Em Aku soto aja deh, perutku tiba tiba keroncongan, pengen diisi lagi." Maura meletakkan tasnya di atas meja.
"Kalau kamu Nad, Apa?" tanya Amel beralih memandang Nada.
"Aku nasgor aja, yang pedas ya." pinta Nada yang emang suka sekali dengan makanan pedas.
"Ok, tunggu disini, Amel yang cantik **** akan pergi memesan dan segera membawakan untuk para bidadari." Suara Amel dibuat centil membuat Maura dan Nada pun tertawa.
"Emang ya tuh anak gak pernah berubah." Kata Maura dengan sedikit tawa yang tersisa.
"Iya, gesreknya mulai kumat tuh," timpal Nada.
"Oh iya Nad, aku minta maaf ya perihal tadi pagi, yah aku cuma berpikir aja sih, kamu kok mau jadi yang kedua, segitunya kamu suka sama Ustadz Bejo?"
"Iya, udah aku maafin kok Ra, lagian aku juga tau kalau kamu juga suka sama Si Ustadz Ganteng, tapi gimana ya, dia itu tipe ku banget Ra, sampai sampai aku rela deh buat jadi yang keberapa pun."
Maura menepok jidat nya sendiri merasa pusing dengan teman satunya ini.
"Terserah kamu lah." Pasrah Maur kemudian, yang mendengar pemikiran Nada.
Beberapa menit kemudian Amle datang dengan membawa nasi goreng, pesanan Nada, soto pesanan Maura, dan Bakso kesukaanya.
mereka bertiga makan dengan lahab. Tanpa ada obrolon dan suara sedikit pun.
"Alhamdulillah, kenyang," ucap Maura setelah meneguk es jeruk nya hingga habis.
"Iya alahamdulillah, kenyang," sahut Amel yang sudah selesai dengan baksonya. Sedangkan Nada masih memakan nasgornya yang tinggal sedikit itu.
"Masih setengah sepuluh, kita disini dulu aja ya," ucap Amel yang masih begah karena kekenyangan.
Kedua temanya itu mengangguki apa yang Amel katakan.
"Aku ke toilet dulu deh," ucap Maura yang kini langsung pergi meninggalkan tasnya di meja bersama teman temannya.
__ADS_1
"Loh kok cepet?" tanya Amel saat melihat Maura balik lagi, padahal belum ada satu menit.
"Toiletnya rusak aku ke toilet dekat kelas aja wes, kalian ntar ke kelas aja langsung ya." Pinta Maura yang kini mengambil tasnya.
"Hem, ya udah, kita masih mau disini, nurunin pentol, dalam perut," ucap Amel sambil cengengesan.
"Makanya jangan banyak banyak kalau makan pentol." ledek Maura dengan senyuman.
Kini Maura berjalan dengan santai menuju kamar mandi yang dekat dengan kelasnya, saat dia hendak belok ke lorong sebelah kiri tangan Maura di tarik hingga ia masuk ke dalam ruangan kosong yang sudah lama tidak di pakai, lebih tepatnya di biarkan kosong.
Mulut Maura dibekap dengan kuat, membuatnya berusaha memberontak, tetapi usahanya itu gagal sekuat apapun ia mencoba tidak bisa melawan orang yang tengah menyekapnya.
"Emm, Emmmm." Suara Maura yang bersuaha meminta tolong.
"Dek, bisa diam gak sih ini aku suami mu." Kata bejo yang masih belum melepas bekapanya.
Maura yang mulai ngeh dengan siapa yang menyekapnya itu, di injaknya kaki Bejo dengan keras untuk memberi pelajaran.
"Auhhh... Sakit Dek," keluh Bejo dengan memegangi kakinya. Hehingga bekapanmya itu terlepas.
"Salah sendiri siapa suruh main tarik, bekap, dikira aku gak takut apa, aku kira tadi orang jahat yang mau aneh aneh ke aku Mas, lagian kamu kenapa sih, bikin ulah terus tadi telpon sekarang narik aku, kalau ketahuan kan bisa bahaya." Protes Maura panjang lebar seraya mebenai hijabnya.
"Maaf maaf, habisnya aku akangen sama kamu."
"Deg."
Maura melotot tak percaya dengan apa yang Bejo katakan, Kangen katanya, sejak kapan dia punya rasa begitu sama istrinya.
"Mas, jangan bercanda, kalau ada orang yang datang terus mergokin kita disini bakalan habis aku Mas," ucap Maura dengan terus mencoba waspada.
"Aku gak bercanda Sayang, Mas Emang kangen sama kamu," ucap Bejo seraya mencoba mendekat pada Maura, melihat Bejo maju Maura dengan reflek langsung mundur, maju mundur maju mundur kayak lagu, eh salah maju mundur sampai Maura mentok di pojok tembok.
Bejo mengukungnya, sehingga Maura tidak bisa pergi, "Mas ini Bahaya." Protes Maura saat sudah tidak ada jarak diantara mereka.
Sementara Bejo masih terbayang kejadian tadi pagi dimana ia menyaksikan sendiri tatapan Rahmat yang penuh cinta pada istrinya ini.
Tanpa aba aba, Bejo menempelkan bibirnya pada Bibir kenyal Maura, membuat Maura mendelik tidak percaya dengan apa yang di lakukan Suaminya itu.
__ADS_1
"Duakkkk."