
Hari ini Maura, sengaja bangun pagi, dirinya akan menyiapkan segala sesuatu untuk aktivitas hari ini, Maura yang datang bulan, memilih langsung memberishkan diri sekaligus mandi, baru membangunkan Bejo, untuk melaksanakan shalat subuh.
Meskipun saat jam tiga pagi dini hari Bejo telah bngun, setelah beribahdah malam, Bejo memilih tidur lagi karena mendadak kepalanya pusing.
"Mas, bangun. Shalat dulu, Mas." Dengan lembut Maura membangunkan Bejo.
Tidak berselang lama Bejo membuka matanya, dan diriknya jam dinding yang tergantung menunjukkan pukul setengah lima pagi.
Di tatapnya Maura yang masih berada di sampingnya, diberikannya ulasan senyum yang manis, memberikannya kesan yang baik.
"Mas, Kepalanya masih pusing?" tanya Maura khawatir.
"Gak kok, sayang ini sudah mendingan, tadi kan sudah minum obat sakit kepala."
"Ya, sudah. Mas, shalat dulu. Aku mau turun bikinin kamu teh hangat." Maura mengelus lengan Bejo sebelum pergi kedapur.
Selepas kepergian istrinya, Bejo pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, lalu menunaikan ibadah shalatnya.
selesai shalat Bejo kembali membaringkan badannya karena sakit kepalanya kambuh kembali, Maura yang melihat hal itu, Merasa sedih, padahal dirinya berniat untuk mengajaknya berangkat ke kampus bersama, Maura yang sudah membutkan teh untuk Bejo langsung memberikan teh tersebut mumpung masih hangat.
"Mas, minum dulu ya, gimana kalau nanti kita ke rumah sakit aja Mas," ucap Maura memberikan saran.
__ADS_1
"Gak usah Dek, ini cuma pusing biasa kok, minum obat dan istirahat pasti udah baikan nanti." Tolak Bejo yang membut Maura kecewa.
"Tapi Mas, yakin, gak mau ke rumah sakit, ini kok malah panas sih badannya, tadi gak kenapa kenapa loh," ucap Maura yang kini menyentuh kening Bejo.
"Yakin dek, mungkin ini cuma karena Mas kurang tidur aja, dan kecapekan, tau sendiri seminggu lagikan ujin kampus, Mas sering lembur buat soal, makanya sekarang jadi panas begini."
"Ya sudah deh. Aku siapin sarapannya mas dulu, terus minta Mamang buat beli obat di apotik ya. Sementara Mas minum dulu obat yang ada ini."
Bejo menerima obat dari Maura dan langsung meminumnya, kemudia merebahkan lagi tubuhnya yang terasa menggigil.
Rasa iba menyelimuti hati Maura, tidak pernah menyangka jika Suaminya akan jatuh sakit, melihatnya jadi tidak tega, lalu Maura membut keputusan untuk izin tidak masuk kuliah hari ini, dirinya tidak tega jika meninggalkan sang suami sendirian dirumah yang sedang sakit.
("Amel, mas bejo sakit, aku izinkan ya, hari ini gak masuk, mau rawat Mas Bejo, kasian kalau aku tinggal dirumah sendiei.") Maura mengirimkan pesan pada Amel.
("Kepalanya pusing dan badanya juga panas, kayaknya kecapekan deh.")
("semoga cepat sembuh ya, nanti aku absenkan.")
("Makasih Amel yang cantik.") Maura mengakhiri berbalas pesannya dengan Amel, dan kini siap membuatkan bubur untuk Bejo.
setengah jam kemudian buburpun sudah jadi, Maura langsung membawanya ke kamar, dimana Bejo tertnya telah terlelap.
__ADS_1
Maura tidak tega membangunkan Suaminya itu, dan memilih membawa kembali buburnya ke dapur.
"Kok dibawa lagi Neng, kenpa?" tanya Bik Inem.
"Mas Bejonya lagi tidur Bik, nanti aja lah kalau udah bangun, Bibik saya boleh minta tolong dimasakin sayur asam sama gorengkan ayam, saya pingin yang seger seger, bisa. Saya mau rawat Mas Bejo dulu." tanya Maura.
"Tentu saja bisa neng, segera saya masakkan, Neng rawat aja Aden Bejo. Kasihan kalau kerja bisa sampai malem."
"Makasih ya Bik, saya mau nyiram tanaman dulu sebentar habis itu baru ke kamar lagi sekalian bawa buburnya, nunggu Mas Bejo bangun."
"Iya. Neng."
Maura menyalakan kran dan menghujankan air yang keluar pada bunga bunga yang kini sudah bermerkaran sangat indah itu, Maura menyempatkan waktu, dan memepergunakan nya dengan sebaik mungkin sebelum Bejo bangun.
benar kata Bik inem bahwa suaminya itu pasti sangat kelelahan pekerjaanya itu cujup banyak, belum lagi beberpa bianis yang banya du berbagai daerah, membuatnya terkadang harus bergadang.
Sampai sampai Bik inem pun tau dengan hal itu. Bahkan Bik inem juga merasa kasihan mendengar Bejo sakit begini.
Selesai menyiram tanaman, Maura berniat masuk kedalam rumah, tetapi dirinya mengurungkan hal tersbut melihat sebuah truk besar yang berhenti di depan rumah depan. Yang dirinya tau rumah tersebut kosong.
Apa ada penghuni baru, dirumah itu, seingat dirinya rumah itu dijual dengan harga sangat mahal, karean itu Suaminya memilih rumah ini yang lebih terjangkau di sakunya.
__ADS_1
Memang diakui Maura bahwa rumah tersbut, memang jauh lebih besar dan lebih mewah, tapi Maura sudah bersyukur mendapat rumah ini yang menurutnya sudah lebih dari cukup.
"Beruntung sekali orang yang bisa membeli rumah itu, pasti dia orang yang sangat kaya," gumam Maura yang kini melanjutkan niatnya untuk masuk kedalam rumah.