Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Kembalinya Deri ke Kampung halaman


__ADS_3

Sebulan berlalu setelah Deri mengajukan resign dari perusahaannya, kini tiba bahwa dirinya telah benar-benar keluar dari tempat kerjanya itu. Aku senang mendengarnya, karena itu artinya persiapan pernikahan kami akan semakin dekat. Namun di sisi lain aku sedih karena harus berpisah sementara dengannya lantaran dia harus kembali ke kampung halamannya.


Hari-hari sebelum kepergiannya tentu ku habiskan selalu berdua bersamanya, tak ada yang terlewatkan tanpa bersamanya. Hampir tak pernah dia tidur di kontrakkannya lagi, dia lebih memilih menginap di tempatku supaya bisa terus dekat dengan aku. Dan aku pun sudah terbiasa dengan itu. Ditambah lagi barang-barang Deri sudah mulai dikemas untuk dibawa ke kampung halamannya saat pulang nanti, tentu membuat ruangan kamarnya sudah tidak kondusif untuk di tempati.


"Bunga, tak peratiin dari kemaren kamu makan aneh-aneh mulu kayak orang ngidam?" tanya salah satu temanku di tempat kerjaku.


"Ah, masak sih, biasa aja kog, emang nggak boleh ya kalo aku makan apa yang aku pengen gitu?" tanyaku balik sedikit keheranan.


"Iya tapi aneh aja kayak nggak biasanya sih, kemaren makan mangga muda yang masih asem banget, sekarang makan keripik cocol sambel super pedes kamu nggak megap-megap kayak biasanya, emangnya sejak kapan kamu doyan pedes? itu lagi, kamu simpen-simpen jambu mentah metik di taman rumah sakit, buat apa coba hayo?". Tanya dirinya lagi seperti menaruh curiga padaku.


"Ah, masak iya aku hamil, apa mungkin ya? tapi aku belum terlambat haid sih". Gumamku dalam hati yang juga cemas.


"Ah kamu ini ada-ada aja deh, suami aja kagak ada mosok mau ngidam ama sapa? ama sopir angkot? hahaha" jelasku mengelak.


"Hahaha iya kali sama supir angkot yang biasa kamu pake buat ke pasar!" Ujar dia mengejekku sebab dia tak pernah tau aku mempunyai seorang pacar.


Selama ini aku memang tak pernah sekalipun menceritakan tentang Deri dengan teman-teman kerjaku, karena aku cenderung menjadi orang tertutup semenjak banyak problematika dalam hidupku dulu. Oleh karena itu, yang mereka tau selama aku di kota ini aku selalu kemana-mana naik angkot. Padahal aku selalu diantar Deri kemana pun aku pergi.


Meski guyonan bersama temanku tadi membuatku sedikit cemas, namun segera aku tepis dan mencoba tak berpikir aneh-aneh tentang hal itu. Sebab aku sendiri tak merasa ada hal aneh atau janggal, apalagi jadwal haidku sama sekali belum telat. Aku hanya fokus untuk persiapan kepulangan Deri ke kampungnya. Sebab sementara waktu diriku harus bertahan sendiri di sini sebelum ia datang menjemputku kelak. Tentunya aku akan merasa sangat kesepian dan mencoba beradaptasi terlebih dahulu.

__ADS_1


Siang ini selepas pulang kerja, aku pun membantu Deri mengemasi barang-barang yang akan di bawanya pulang. Satu per satu perabot-perabot itu di masukkan ke dalam kardus dengan rapi. Sebagian barang juga ada yang ia hadiahkan untukku.


"Kenapa di beresin semua sih? kog kayak kamu nggak mau balik lagi ke sini aja?" tanyaku heran.


"Kan kemaren udah aku bilang, selepas kita nikah kita nggak akan tinggal di sini lagi, makanya aku beresin semua, aku bawa pulang juga buat persiapan besok kalo kita tinggal serumah di kampung kita". Jelasnya meyakinkan aku.


"Owh, iya juga sih sekalian dicicil" tukasku yang tak menaruh curiga meski sebelumnya cemas.


Hari itu sebelum Deri pulang keesokkan harinya, kami menyempatkan diri untuk berjalan-jalan berdua menghabiskan sisa waktuku bersamanya. Malam itu di taman bintang tempat dulu pertama kali ia membawaku berkencan malam-malam, Deri memeluk tubuhku dengan hangat dari belakangku sembari menunjuk bintang-bintang yang indah. Aku yang terpesona pun seolah tak ingin melepas kepergiannya. Sungguh hatiku seolah tak ingin dia jauh dan tak ingin menahan rindu.


"Deri, nanti pasti aku bakal kangen banget sama kamu" ujarku sembari menikmati hangatan pelukkannya yang mesra.


"Kamu bisa setia kan selama jauh dari aku?" tanyaku sedikit curiga.


"Sayang, kog kamu ngomong kayak gitu? emangnya aku mau selingkuh sama siapa? aku pulang kan karena mau persiapan nikah kita, mosok mau aneh-aneh?" Jelas dia meyakinkanku.


"Yah, sapa tau kamu bakal balikan sama mantan kamu" tuturku sembari membalikkan badan menhadap ke dia.


"Dia udah nikah ya, dan aku nggak suka kamu bahas-bahas dia, denger?" jelas Dei sembari memegang wajahku dengn kedua tangannya dan terlihat tak suka dengan kalimatku.

__ADS_1


"Iya aku janji nggak akan bahas itu lagi, maaf" jawabku yang kemudian disambar dengan ciuman hangat oleh Deri.


Keesokkan harinya, Deri pun bergegas menyiapkan diri untuk segera berangkat pulang. Sebuah mobil pick up mengangkut seluruh barang-barang yang sudah di kemas di kontrakkan Deri itu. Bersama seorang sopir dan kernetnya, ia pun membantu mengangkut barang-barangnya ke atas mobil itu. Begitu pun dengan aku yang tak lupa antusias membantu mengangkut barang-barang yang beratnya ringan.


Selepas semua barang diangkut dan mobil berjalan jauh, kami pun kembali ke kontrakkanku, dan kini Deri sudah benar-benar melepaskan kontrakkannya dan sudah mengembalikan kuncinya ke pemiliknya.


Pelukkan hangat tak henti-hentinya ia lepaskan dari tubuhku yang sebentar lagi perpisahan akan segera tiba. Rasa haru pun menyelimuti saat itu. Hingga tak terasa air mataku pun terjatuh di pipiku.


"Kamu jangan sedih, nanti aku jadi pingin ikuttan nagis" tutur Deri sembari menghapus air mataku dan seketika membopong tubuhku ke dalam kamarku.


"Deri???" tanyaku heran padanya yang melihat ia seperti akan melakukan sesuatu padaku seperti di malam laknat itu.


"stttt aku pingin buat kenangan terakhir buat kamu, plis kamu jangan nolak" bisik Deri yang memegang kedua tanganku menahannya di atas kasurku.


Aku yang tak kuasa untuk menolaknya hanya bisa pasrah, sebab untuk terakhir kali sebelum kita berpisah lama tak sampai hati aku menolaknya. Yang aku tau mungkin ini yang terakhir kali dia berbuat begitu padaku, setelah ini aku dan Deri akan benar-benar menikah secara sah.


Kurapikan pakaian dan rambutku yang acak-acakkan. Begitu juga dengan Deri, ia segera mengenakkan jaket miliknya beserta sepatunya pertanda ia akan segera berangkat untuk ke kampung halamannya.


Aku yang berdiri di depan pintu menatap dirinya dengan air mata yang tak henti-hentinya meleleh melihat dirinya mulai menyalakan motornya. Kulambaikan tanganku pertanda melepas kepergiannya. Senyum dari bibirnya yang sedikit tertutup helmnya menemani tatapan terakhirku padanya waktu itu.

__ADS_1


"Aku sayang kamu......" Kulontarkan kalimat itu untuk melepas kepergian Deri yang semakin terlihat menjauh.


__ADS_2