
"Assalamu'alaikum?" suara kedua mertuaku terdengar dari balik pintu dan segera aku hampiri untuk menyambutnya.
"Walaikumsalam" sahutku seraya membuka pintu yang tengah menggendong Umar dan menuntun Uwais yang baru saja belajar berjalan itu.
"Wah... ini to cucu embah..." ujar mamak mertuaku membelai pipi Umar dan aku sambut mencium tangannya takzim.
"Namanya siapa ini???" kalimatnya sembari mencoba mengambil sang Umar dari gendonganku.
"Umar mbah...." sahutku tersenyum.
"Kalo ini siapa?" tanya mertuaku melirik Uwais dalam gandengan tanganku.
"Ini Uwais mbah...." jawabku sembari mengajarinya menyalami kedua orang tua suamiku itu.
Tanpa peduli dengan Uwais mereka berdua terlihat menimang-nimang Umar dengan penuh gembira. Aku hanya bisa membiarkan mereka untuk memberikan waktunya bersama Umar bayiku itu. Sementara aku fokus bersama Uwais.
Aku dan Deri mempersiapkan makanan untuk mereka.
"Mak... Pak... ayo makan dulu..." kalimatku mengajak mereka untuk menyantap makanan yang baru saja Deri belikan di luar itu.
"Iya... yuk..." sahut emak yang segera memberikan Umar padaku dan mendekat ke arah meja makan kami.
"Kalian nggak makan?" tanya bapak mertua kepada kami.
"Nggak pak, kami udah makan tadi, jadi masih kenyang" sahutku.
"Masakannya enak... apa kamu masak sendiri?" tanya emak mertuaku.
"Bukan mak, itu tadi mas Deri beli di luar..." jawabku mencoba jujur.
"Oh... kenapa nggak masak sendiri? nanti Deri kebiasaan loh makan masakannya orang... nanti lama-lama masakkan kamu kalah enak sama yang beli di luar..." kalimat emak yang seketika membuat jantungku bergetar.
"Nggak mak, biasanya Bunga masak kog, ini karena lagi repot aja baru aja ngelahirin, jadi tadi aku yang nyuruh buat beli aja..." sahut Deri mencoba memberi pembelaan padaku.
"Ohh..." sahutnya seketika melirik ke arahku dengan sorot mata curiga.
Aku hanya menghela nafas pangjang kemudian meninggalkan mereka dan mulai fokus dengan kedua anakku. Tak lama Deri pun membuntutiku.
"Kamu jangan ambil ati apa yang dikatakan emak ya, dia emang gitu, banyak aturan, tapi tujuannya sayang sama kita..." ujar Deri menenangkanku.
__ADS_1
"Iya..." sahutku singkat yang seolah tak mau tau dengan situasi itu.
Seketika aku menyusui Uwais dan Umar ke dalam kamar. Sementara Deri menemani mereka berdua.
"Bunga ngapain di kamar? jam segini udah mau tidur?" tanya emak.
"Enggak mak.... itu lagi nyusuin anak-anak..." sahut Deri menjelaskan.
"Memangnya Uwais disusui juga?" tanya emak penasaran.
"Iya mak, biar kita bisa satu nasab" jawab Deri.
"Loh... kalo anak adopsi mah nggak usah disusui aja... nanti jadi nggak ada beda dong, mana anak kandung mana anak angkat..." ucap emak sinis.
"Udahlah mak.. Uwais memang udah kami anggap anak kandung kita sendiri..." sahut Deri menyela.
Tak lama aku pun keluar dari kamarku setelah memastikan kedua anakku terlelap.
Aku pun segera menghampiri mereka yang sedang berbincang di ruang tengah sembari menonton tv.
"Mak...bapak... mau dibuatkan kopi atau teh?" ucapku menawarkan mereka.
"Emak teh aja" ujar emak padaku.
Segera aku membuatkan pesanan mereka ke dapur.
Setelah aku sugukan minuman pada mereka, kami pun banyak berbincang hingga larut malam. Mata kami yang mulai kantuk akhirnya pun segera masuk ke dalam kamar masing-masing untuk segera tidur.
Pagi harinya seperti biasa aku menyiapkan sarapan untuk Deri yang hendak berangkat bekerja. Disusul dengan kedua mertuaku pun turut sarapan bersama Deri. Sementara aku menyantap sarapanku sembari mentusui Umar.
Tak lama setelah Deri pamit pergi, aku pun mulai memandikan Uwais dan Umar. Emak pun mengekor di belakangnku untuk melihat bagainama aku merawat Umar dan Uwais itu.
"Masih bayi kog nggak pake gurita gitu? kan tali pusernya belum puput? terus kalo belum puput mana bisa di aqiqahin..." ujar emak yang mengamatiku sedang mengenakan pakaian pada Umar.
"Aku nggak memang nggak biasakan pakaikan gurita pada Umar mak... ini nggak masalah kog.. dan nggak bahaya juga buat bayi..." ujarku menjelaskan.
"Tapi nanti perutnya bisa gede loh... mending pakein aja...." serunya sedikit ketus.
"Nggak ada gurtia mak.... karena aku nggak pernah pake jadi nggak ada di sini..."
__ADS_1
"Telepon Deri suruh beli..." sahutnya sedikit geram.
"Iya mak...." ujarku lesu.
Beberapa saat kemudian aku pun menyusui Umar.
"Loh kog kamu nggak pake stagen? nanti perutmu kendor loh..." ujar emak yang memperhatikan perutku saat menyusukan Umar.
"Nggak papa mak... stagen malah bikin perutku sesak... nanti kalo habis melahirkan aku olah raga InsyaAllah pulih lagi perutku..." sahutku yakin.
"Kamu ini ngeyel ya kalo dikasih tau orang tua... emak ini udah ngurus anak bertahun-tahun dan lebih pengalaman dari pada kamu, kamu kalo dibilangin nggak nurut kualat nanti kamu...." ujarnya ketus.
"Astagfirulloh..." gumamku dalam hati.
"Deri... apa kamu udah pesen kambing? aqiqahnya diundur dulu aja nanti tunggu tali pusatnya puput, kalo belum puput nggak boleh...." kalimat emak terdengar menelepon Deri yang tengah di kantor.
"Mak.... aqiqah itu sunnahnya dalam islam 7 hari setelah kelahiran.... nggak harus tunggu puput mak...."
"Kog kamu sama kayak Bunga ya ngeyelnya...."
"Engak ngeyel mak.... itu memang sudah aturan agama...."
"Ya udah terserah.... tapi itu anakmu belikan gurita, mosok sama Bunga nggak dipakein gurita, nanti perutnya gede loh, parahnya lagi nggak dibedong juga, nanti kalo kakinya bengkong gimana??" ujar emak menggebu-gebu.
"Mak... Bunga itu Bidan... dia lebih tau gimana ngerawat bayi..."
"Eh denger ya, emak ini lebih pengalaman, orang jaman dulu itu udah terbukti kalo ngerawat bayi paling jago,bukan kayak anak jaman sekarang yang apa-apa ngegampangin....huft..." sahut emak kesel lalu menutup teleponnya.
Aku hanya menghela nafas panjang mencoba menguatkan hatiku yang sejujurnya mulai merasakan stres. Rasa lelahku mengurus kedua anak-anakku kini menjadi bertambah parah semenjak kehadiran kedua orang tua mertuaku di sini.
Tubuhku yang hampir tak berdaya karena kadang kurang tidur itu sepertinya tak menyurutkan mereka untuk selalu menaati peraturan-peraturan yang tidak boleh dilanggar. Mitos kepercayaan emak dan bapak mertuaku sungguh susah diberikan pengertian. Bahkan Deri sendiri pun kualahan memberikan penjelasan pada mereka.
Tiap hari aku harus masak full untuk Deri dilarang membeli makan di luar. Meski kadang aku lelah, dilarang tidur di waktu pagi. Dilarang mencuci pakaianku di waktu sore, padahal terkadang saat pagi aku tak sempat sebab harus sibuk dengan kedua anak-anakku.
"Makanya biar nggak terlalu sibuk nggak usah adopsi anak segala.... mending kalo sibuk dengan anak kandung sendiri.... ini kan anak orang, bikin repot aja" ujar emak padaku yang tengah mentuapi Uwais.
Aku hanya terdiam tak bergeming.
"Sini, aku gendong Umar...." ucap emak sembari merebut Umar dari gendonganku.
__ADS_1