Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Batu Nisan untuk Deri


__ADS_3

"Siapa tante yang Shanum maksud Bunga?". Tanya Deri yang sejak tadi menahan rasa penasaran.


"Kamu mengenalnya...". Sahutku dengan berat hati.


"Siapa? Teman kita?".


"Iyah... Dia teman kita... Sekaligus mantan teman tidurmu...". Jawabku dengan wajah yang mulai memerah.


"Maksudmu Lani??". Tanya Deri dengan raut wajah begitu terkejut.


"Iya dia Lani..."


"Memangnya dia sakit apa? Kenapa bisa di rawat di sini?". Ucap Deri dengan bibir meringis menahan sakit di beberapa bagian tubuhnya.


"Rahimnya terbalik keluar dan terserang kanker...".


"Subhanallah.... Jadi aroma ini??".


"Iyah... Itu berasal sakitnya...".


Deri menghela nafas panjang dengan wajah menatap ke arah langit-langit. Pandangan matanya tampak seolah sedang memikirkan sesuatu.


"Umi... Abi keluar darah...!!". Seruan Umar yang saat itu panik melihat darah segar mengalir dari hidung dan telinga Deri.


Sesaat matanya pun tampak terpejam. Nafasnya mulai tersengal-sengal menandakan sesak. Dari mulutnya pun akhirnya mengeluarkan darah segar begitu banyak.


"Cepat panggil tante perawat di luar Uwais...!!". Seruanku dengan panik. Segera aku seka beberapa bagian tubuhnya yang mengeluarkan darah segar itu. Aku pasang selang oksigen pada lubang hidungnya.


Perawat mulai datang berhamburan ke arah Deri dan membantu melakukan pertolongan pertama untuk Deri. Namun darah segar terus keluar dari lubang telinga dan bertambah banyak.


"Panggil dokter cepetan...!!". Pintaku yang mulai panik dan ketakutan dengan kondisi Deri.

__ADS_1


Dokter pun datang memeriksa keadaan Deri.


"Sepertinya ada perdarahan diotaknya yang kemarin tersumbat, tapi kali ini pembuluh darahnya telah pecah, cepat kita rujuk ke rumah sakit besar untuk operasi....!!". Kata dokter pada kami. Dengan sikap kami pun menyiapkan rujukan itu.


Seketika Deri kami masukan ke dalam ambulans yang sudah siap di depan ruang UGD.


"Um... Kita ikut...!!!". Seru putra sulungku yang hendak turut masuk ke dalam mobil ambulans.


"Jangan nak, kalian nanti saja nyusul...". Ujarku berusaha mencegah.


"Umi aku mohon biarkan kita ikut... Jangan sampai bila sesuatu terjadi sama abi kita nggak tau... Kita mau terus ada di samping abi um... Tolong jangan cegah kami...". Ucap Uwais yang memohon dengan derai air matanya yang mulai mengalir.


Aku pun tak kuasa melihat kecemasan wajah mereka. Mereka yang baru saja bisa menyentuh Deri, kini harus mengalami guncangan akan kondisi Deri yang tidak tahu kejelasannya apakah akan membaik, ataukah bahkan akan pergi selama-lamanya itu.


Akhirnya aku biarkan mereka masuk ke dalam mobil ambulans bersama denganku. Kami duduk di samping Deri yang terbaring dengan darah yang terus mengucur dari kedua telinganya. Nafasnya terus tersengal-sengal selama perjalanan. Dan kini wajahnya mulai memucat, bibirnya pun membiru.


Uwis meraih jemari tangan Deri yang penuh dengan luka goresan itu.


"Um... Tangan abi dingin sekali...". Ucap Uwais dengan wajah panik.


"Umar dan Shanum terus berdoa ya nak... Jangan sampai terputus... Abi sangat butuh doa kalian...". Ucapku dengan mataku yang sudah mulai mengucur air.


"Iya um...". Sahut mereka yang kemudian mengadahkan kedua tangan mereka seraya mengungkapkan lantunan doa dalam hati.


Bibir Deri bergerak, seolah sedang melafalkan kalimat yang sedang Uwais tuntunkan dengan tertatih, namun tak dapat lagi bersuara.


Seketika ia tampak menarik nafas begitu panjang dan terhenti sekian detik untuk bisa menariknya kembali. Dadanya menjorok ke dalam menonjolkan tulang rusuknya yang beberapa bagiannya telah patah itu.


Sekali lagi ia menarik nafasnya dengan panjang, kemudian dihembuskannya lagi. Namun kali itu adalah yang terakhir, setelah itu Deri tak lagi bernafas dan tak lagi bergerak sedikitpun dari bagian anggota tubuhnya.


Matanya telah terpejam rapat dan wajahnya pun tiada lagi tampak kemerahan. Sekujur tubuhnya mulai memucat. Uwais yang merabanya pun merasakan tubuhnya begitu dingin.

__ADS_1


Aku mencoba mendekatkan jariku di bawah lubang hidungnya, namun tak ada lagi terasa hangat nafasnya. Seketika aku raih nadi di pergelangan tangannya, pun sudah tak ada lagi berdenyut.


"Innalillahi wainnalillahi roojiun...". Ucapku seketika dengan nada terisak.


"Abi... Abi...Abi...!!!". Seruan mereka yang kemudian memeluk tubuh Deri seolah berusaha membangunkannya kembali.


Aku tak kuasa lagi membendung air mataku. Tangisku pecah mengiringi kepergiannya yang kini selama-lamanya itu.


"Sabar ya nak... Jangan terlampau meratap... Biar abi bisa istirahat tenang...". Ucapku yang kemudian memeluk Shanum yang duduk tepat di sampingku itu. Aku berusaha untuk tegar di hadapan mereka, agar hati meraka tidak begitu kacau melepas kepergian Deri itu.


"Yah... Kita baru aja ketemu abi... Tapi kenapa sekarang abi malah pergi selamanya umi...?". Ucap Shanum dengan nada serak akibat terisak.


"Sabar ya sayang... Kita semua harus ikhlas... Ini sudah takdir dari Allah... Kalian boleh bersedih... Tapi jangan meratap ya... Kalau kalian meratap, kasian abi, nanti dia bisa disiksa sama malaikat....". Ujarku agar mereka tenang.


Akhirnya kami berempat saling berpelukan seraya bersahutan isak. Sesaat kemudian ketiga anakku mencium kening abinya secara bergiliran sebelum aku tutup sebuah kain putih ke seluruh tubuhnya itu.


Selepas mereka mencium kening Deri, aku pun memberi kecupan pada mereka satu per satu.


Kemudian aku ambil gawaiku, aku ketikan sebuah pesan untuk Ferdi mengabarkan berita duka cita ini.


****


"Um... Kemarin ustad Uwais di sekolah memberi PR untuk membuat batu nisan. Tujuannya supaya kita selalu ingat sama kematian... Dan sekarang batu nisan hasil buatanku ini akan aku pasangkan di atas pusara abi...". Ujar Uwais yang menyodorkan sebuah balok batu nisan saat keranda Deri hendak di berangkatkan ke kuburan.


Aku menatap ke arahnya dan mengangguk tanda setuju. Kemudian kami mulai melangkah mengikuti keranda dimana Deri berada di dalamnya.


Selepas tanah di atas liang lahat itu selesai dibuat gundukan, Uwais pun meletakkan batu nisan itu di atasnya. Kemudian memeluknya sejenak untuk melepas kepergian abinya itu.


Kami semua berdiri di hadapan kuburan Deri sebelum kami melangkah meninggalkannya. Tampak Ferdi pun turut terisak di samping kami.


"Dia sudah pergi... Sahabatku sudah pergi selamanya...". Ucapnya dengan pandangan yang berkaca-kaca. Raut wajahnya hari ini adalah wajah paling cengeng yang pernah aku lihat selama mengenalnya.

__ADS_1


"Ikhlaskan dia... Semoga dia di terima segala amal dan ibadahnya selama ini...". Ucapku yang berusaha tegar, meski perasaanku remuk redam melepas kepergian belahan jiwaku itu.


Selamat jalan suamiku... Tunggu aku dalam jannah... Aku berjanji tak akan lagi menikah dengan siapapun suapaya kelak cinta kita kembali dipertemukan di alam abadi. Untukmu...dan untuk anak-anak kita... Aku akan mencintaimu selamanya.... Gumamku seraya menatap pusara Deri yang bertabur bunga segar di atasnya.


__ADS_2