
"Eh jeng, si Deri udah lama menduda, nggak kepingin nikah lagi tah??". Tanya salah satu tetangga Deri yang sedang berkumpul bersama emaknya mengerubung tukang sayur di pinggir jalan.
"Yah... Mana ada yang mau... Deri kan pekerjaannya nggak jelas... Jaman sekarang nih ya, mana ada perempuan yang mau sama laki-laki duda dan nggak mapan lagi... Aduh...". Sahut salah satu ibu-ibu berdaster motif bunga-bunga berlipstik tebal itu sembari memonyongkan bibirnya.
"Enak aja ya... Ini semua kan gara-gara mantan mantuku itu yang bikin anakku jadi stres dibuatnya, akhirnya dipecat deh dia dari kerjanya... Dasar mantan mantuku itu memang tingkahnya keterlaluan, bikin pusing anakku... Gimana nggak terganggu dia pekerjaannya....!". Sahut emak Deri dengan ketus dan tak kalah heboh.
"Halah sampean ini jeng... Jeng... Aku itu udah denger sindiri dari omongan sodaraku yang tetanggaan sama Mbak Lani mantan pacarnya Deri dulu kan?? Dia ngaku kog kalau dia pernah selingkuh sama Deri dan bikin Mbak Bunga minta cerai...!!". Ujar salah satu wanita paruh baya yang rambutnya mulai memutih itu.
"Huuuu... Huuu.... ". Sorak serentak beberapa ibu-ibu pembeli sayur itu.
"Salahin Mbak Bunga terus... Padahal kan Mbak Bunga orangnya baik...". Ujar emak berlipstik tebal tadi sembari memilah beberapa sayur mayur.
Seketika emaknya Deri berlari ke arah pintu rumahnya dan masuk dengan membenturkan pintu ruang tamunya itu dengan kasar.
"Jebretttt...!!!!". Suara pintu itu terdengar dasyat memekik telinga sesisi rumahnya kala itu.
Deri yang mendengar itu hanya mengernyitkan dahinya heran. Namun tak banyak yang ia lakukan untuk sekedar tau apa yang terjadi dengan ibunya itu. Ia terus asik membaca buku di dalam kamarnya.
"Assalamu'alaikum...?". Tak lama suaraku memberi salam terdengar dari balik pintu ruang tamu miliknya.
"Walaikumsalam...!". Sahut emaknya Deri dengan nada yang masih kesal.
Perasaanku makin kacau sebelum ia membukakan pintunya untukku. Tubuhku terasa gemetar berdiri memeluk Umar dan Shanum di hadapan pintu yang mulai usang dan keropos itu.
"Krekk...". Suara pintu terdengar dibuka. Sosok mantan ibu mertuaku kini tengah berdiri di hadapanku menatapku tajam.
"Ngapain kamu ke sini...?!!". Tanya dirinya dengan matanya yang terbelangak dan sadis. Meski ia sempat menatap Umar yang di sampingku memilin bajuku menatap takut akan sikapnya, sepertinya tak menyentuh hatinya yang awalnya aku anggap ia merindukan cucunya itu.
"Ehmmm.... Saya mau ketemu Deri mak... Boleh??". Tanyaku dengan nada gugup dan tertunduk.
"Mau ngapain?? Mau ganggu anakku lagi biar makin stres...!!!". Tanya dirinya lagi dengan nada makin ketus.
Seketika Deri menutup buku yang sedang ia baca dalam kamarnya itu karena mendengar percakapan antara aku dan ibunya yang cukup memekikkan telinganya dan rasa penasaran dibuatnya. Segera ia berlari menuju ruang tamu.
"Bunga???!". Seruannya menatapku dengan pendangan tajam.
Aku menatap wajahnya dan terdiam menunggu kepergian emaknya itu dari hadapanku.
__ADS_1
"Umar...". Suara Deri melemah yang seketika menyambar tubuh Umar dan menyerbu beberapa ciuman hangat padanya.
Emakpun akhirnya pergi menyaksikan hal ini.
"Kamu apa kabar Bunga?" Tanya Deri sembari kemudian mengambil Shanum dari dekapanku.
"Alhamdulillah baik...". Jawabku singkat seraya mengulurkan tanganku memindahkan Shanum ke tangannya.
"Maaf aku......". Ucapnya begitu berat seolah tak mampu lagi melanjutkan kata-katanya itu.
"Iya aku paham akan keadaanmu... Aku ke sini cuma mau mengabarkan sesuatu padamu...". Sahutku dengan nada datar.
"Kabar apa?". Tanya Deri sembari menimang Shanum dan jongkok di samping Umar agar bisa dekat dengannya.
"Uwais sakit... Ia menyimpan rindu yang sangat dalam padamu... Sampai terbawa dalam tidurnya... Tolong jenguk dia untuk mengobati kerinduannya...". Pintaku padanya.
"Astaghfirulloh.... Maafkan aku...". Ucap Deri sembari terisak.
"Sudah, waktuku tak banyak, aku menitipkan Uwais pada perawat agar bisa menjemputmu di sini... Sekarang cepat ikut aku...!". Seruanku agar dirinya bergegas mengikutiku.
"Baik, sebentat aku ambil pakaianku dulu...". Ujarnya sembari bergegas menuju kamarnya dan mengambil beberapa pakaian yang ia masukan pada tas gunung kesayangannya.
Aku pun mengangguk tanda setuju. Segera kuserahkan kunci mobilku padanya. Tak lama kami pun melaju menuju rumah sakit. Dalam perjalanan mataku mulai tak bisa lagi dikompromi. Begitu lama aku menahan kantuk akhirnya aku pun terlelap dengan posisi mendekap Shanum di atas pangkuanku.
Deri menatapku dengan pandangan iba. Ia begitu merasa bersalah atas dirinya yang tak berdaya itu. Namun seketika ia mencoba bercanda dengan Umar untuk mencairkan suasana sekaligus melepas rindu sebab lama tak bermain bersama.
Wajah Umar tampak masih kaku dengan kehadiran Deri. Berbeda dengan Uwais, dirinya saat ditinggalkan perasaannya belumlah senalar Uwais yang memang usianya lebih tua darinya. Baginya kepergian ayahnya itu lama-lama bisa terlupa dengan sendirinya, dan tak perlu membuatnya tersiksa batin seperti Uwais yang lebih lama mengenal sosok ayahnya itu.
Sesampainya di rumah sakit, Deri tak berani membangunkanku. Ia biarkan aku terlelap di dalam mobil. Perlahan ia ambil Shanum yang juga terlelap di pangkuanku agar tak membangunkan diriku. Dipandangnya menatap wajahku dengan seyumnya yang seolah melepas kerinduannya padaku. Tangannya bergerak seolah sedang membayangkan membelai wajahku dengan lembut tanpa sentuhan.
Kemudia ia segera ia bersama anak-anak pergi menuju ruangan dimana Uwais di rawat.
Sesampainya di sana tampak Sang Uwais terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Langkahnya dengan cepat ke arah Uwais. Diraihnya tangannya dan seketika ia kecup sambil terisak meluapkan rindu.
"Abi... Abi sudah datang??". Ucap Uwais yang mulai membuka matanya perlahan akibat merasakan remasan jemari tangannya oleh Deri.
"Iya nak... Abi sudah datang.... Uwais sembuh ya... Jangan sakit lagi...". Kalimatnya dengan nada lembut.
__ADS_1
"Tapi abi harus janji... Abi jangn pergi lagi...". Ucap Uwais dengan nadanya yang masih lemah.
"Iya sayang... Abi janji...". Sahut Deri seraya mengecup keningnya yang suhunya mulai mereda.
*****
Astaghfirulloh... Aku ketiduran... Deri nggak bangunin aku?? Gumamku yang baru mulai membuka mata dan menggeliat.
Seketika aku pulang ke rumahku untuk mengambil labtopku agar aku bisa sembari mengerjakan tugasku di rumah sakit. Sekaligus menjenguk beberapa karyawanku yang bertugas di Klinik Baby Spa miliku itu.
Meski tadi pagi aku sudah memberikan instruksi tugas yang aku kirimkan lewat pesan hijau, namun hatiku tetap tergugah untuk memastikan bahwa mereka bekerja dengan baik meski tanpa diriku.
Setelah memastikan semua beres, tak lama berselang, aku segera kembali ke rumah sakit melihat keadaan anak-anakku.
"Maaf aku lama, tadi nyempatkan ke rumah ambil labtop, ada tugas moderator konsultasi kesehatan wanita yang harus aku layani...". Ujarku yang baru saja memasuki ruangan rawat inap itu.
"Iya... Kamu silahkan fokus sama kerjaanmu... Biar anak-anak kali ini aku yang urus... Tapi jangan lupa kalau capek istirahat...". Ucap Deri dengan penuh perhatian.
Segera aku duduk di atas sofa dan membuka labtopku. Dengan seksama aku mulai membuka layanan konsultasi yang melibatkan beberapa dokter kandungan di Kotaku itu.
Sebagai moderator, aku memfasilitasi beberapa pertanyaan seputar kesehatan wanita yang masuk ke dalam emailku. Di sela-sela aku bekerja, sesekali aku menatap Deri dan anak-anak yang sedang asik bersenda gurau. Begitu pun dengan Uwais yang tampak sangat bahagia dengan kehadiran Deri di sisinya.
Hatiku tenang sejenak melepas mereka sementara. Umar yang tadinya canggung pun mulai kembali akrab dengan Deri. Begitu juga dengan si kecil Shanum yang tak rewel dalam dekapan Deri.
Aku biarkan mereka melepas rindu, sembari membalas satu persatu pesan yang masuk ke dalam emailku.
Tiba-tiba netraku tertuju pada salah satu pesan yang foto profilnya tampak seperti sosok Lani. Aku perhatikan foto itu seksama. Dan benar saja bahwa akun itu adalah miliknya Lani yang mengirimkan sebuah pesan untukku yang dia sendiri mungkin tak tau kalau itu aku. Sebab namaku sebagai moderator tak dicantumkan pada aplikasi itu. Hanya nama beberapa dokter pemberi jawaban atas pertanyaan customerlah yang terpampang di sana.
Perlahan aku buka pesan darinya itu. Dengan cermat aku perhatikan setiap kalimat yang ia tuliskan dalam email itu.
Selamat pagi dok, Nama saya Lani umur 35 tahun. Saya ingin bercerita tentang riwayat permasalahan saya sebelum saya memutuskan untuk berkonsultasi pada aplikasi ini. Di awal pernikahan saya dengan suami saya sempat berselingkuh dengan mantan kekasih saya dahulu. Hasil perselingkuhan itu ternyata membuahkan kehamilan padaku, meski tak diketahui oleh selingkuhanku itu, lantaran aku keburu kembali pada suamiku.
"Deg....". Jantungku berdegup kencang menatap tulisan itu. Salivaku kutelan paksa agar aku tetap mampu membaca kembali uraian pesan dari Lani yang sesungguhnya kembali menorehkan luka dihatiku. Terlebih ia menyebutkan kehamilannya dengan Deri pastinya.
"Huft.....". Nafasku aku tarik sepanjang mungkin. Tangaku yang mulai bergetar kembali mencoba membuka layar labtopku agar aku bisa membaca kelanjutan pesan dari wanita yang telah merusak rumah tanggaku itu.
*Atas permintaan suami dan persetujuan kami berdua, akhirnya kami memutuskan untuk menggugurkan kandungan itu. Oleh sebab kami ingin melanjutkan pernikahan kami dengan tenang. Namun tak disangka dampak dari setelah itu, hingga saat ini kami belum juga dikaruniai keturunan. Sementara usia pernikahan kami sudah memasuki tahun ke 8. Berbagai cara program hamil sudah kami tempuh. Mulai dari inseminasi, sampai bayi tabung yang cukup menguras biaya itu, namun tak juga membuahkan hasil. Terakhir hasil dari pengecekan, saya dinyatakan menderita mioma dan dicurigai ada keganasan. Saya takut sekali dok, apakah ini akan membuat rahim saya semakin tak ada harapan untuk hamil?? Saya sudah merencanakan operasi akhir bulan ini, namun kata dokter yang merawat saya mengatakan kemungkinan terburuk rahim saya akan diangkat. Benarkah itu dok?? Jika benar, berarti pupus sudah harapan saya untuk bisa hamil??
__ADS_1
Mohon tanggapannya. Terimakasih*.
Begitulah isi dari pesan Lani yang sejak tadi kubaca membuatku tercengang menyimak setiap kalimatnya.