
Bulan Ramdahan telah tiba, sebulan selepas Deri menjauhiku, kini tiba di mana bulan yang di nantikan para penghuni kontrakan untuk persiapan mudik ke kampung halaman.
Tidak beda dengan aku, meski liburku hanya beberapa hari saja, sebab masa kerjaku yang tergolong masih junior tak menyurutkan semangatku untuk membayangkan mudik dan segera bertemu dengan ibu an keluargaku di kampung melepas rinduku yang sudah lama kupendam di perantauan.
Satu per satu oleh-oleh ku beli setiap libur kerjaku, mengingat di sini banyak sekali pernak pernik unik yang cocok untuk dibawa oleh-oleh. Aku kumpulkan benda-benda mungil itu seperti gelang-gelang cantik dan beberapa pernak-pernik lainnya yang rencananya akan aku bagikan pada ponakan-ponakanku di kampung. Karena biasanya mereka akan selalu menagih oleh-oleh padaku jika mengetahui aku pulang mudik.
Berbeda dengan ibuku, dia selalu mencegahku untuk tidak membeli oleh-oleh untuknya, sebab ia tau gajiku tak terlalu banyak, ia hanya menyarankan saja untuk ditabung dan untuk keperluanku selama di perantauan. Asal aku bisa hidup cukup, menurut beliau sudah sangat bersyukur.
Seminggu sebelum hari lebaran, hampir tetangga kontrakkanku habis sudah mudik satu per satu. Semakin kesepian yang aku rasakan. Aku yang kebagian libur di hari kurang dua hari sebelum lebaran membuatku harus bersabar melangkah ke lokasi kerja melewati jalanan yang kian menyepi karena tak ada sapaan dari para tetangga yang biasanya selalu kudapati setiap langkahku.
Begitu pun dengan Deri, pagi itu selepas aku bangun dan membersihkan lantai kamarku, kulihat dirinya sedang bersiap-siap untuk segera mudik ke kampung halamannya. Diatas motornya ia mempersiapkan beberapa kardus dan tas rangsel yang diikat di jok belakang motor.
Disusul beberapa menit kemudian ia sudah berpakaian lengkap dengan jaket tebalnya, sarung tangan, helm, dan tak tas rangsel yang digendong olehnya. Segera ia menaiki motornya dengan barang bawaannya itu.
Aku yang hanya bisa menatap dirinya dari depan pintu kontrakkanku itu menatap dengan pandangan nanar. Kuingat betapa waktu dulu saat ia masih dekat denganku ingin bisa mudik bersamaku menemaninya di atas motor agar tidak kesepian. Meski aku telah menjelaskan bahwa liburku mendekati hari H, ia tetap akan menungguku untuk mudik bersama. Ah, namun itu semua kini tinggallah khayalan. Deri tampak sudah semakin jauh mengendarai motornya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Deri
Satu malam ia melakukan perjalanan dari Kota Bandung menuju Lampung membuat dirinya cukup lelah. Menyebrangi laut menggunakan Kapal Fery yang selalu ia gunakan saat mudik membuat dirinya melamun di pingiran pintu kabin menatap gelombang air laut yang tak beraturan akibat melajunya kapal yang ia naikki.
Terlintas dalam pikirannya tentang aku, ia yang dulu pernah berjanji akan mengajakku mudik bersama, namun kini ia hanya bisa membayangkan sosokku berada di sampingnya menatap laut dan merasakan desiran angin yang begitu kencang.
Diisapnya beberapa batang rokok untuk menemaninya melamun saat itu. Perasaan benci dan kecewa masih menyelimuti hatinya sampai saat ini. Entah mengapa Deri bisa begitu. Apakah sebegitu rendahnyakah status jandaku ini, seolah diriku samasekali tak berharga buatnya. Setidaknya, meski ia tak mau lagi melanjutkan hubungan denganku, menjadi teman biasa yang sekedar bisa mengobrol biasa pun tak apa bagiku.
Namun tidak sepertinya dengan Deri, ia lebih memilih untuk tidak lagi mengenalku sama sekali.
"Tung....Tung...." suara klakson kapal yang menandakan sebentar lagi kapal yang di tumpangi Deri akan segera menyandar.
__ADS_1
Bergegas Deri turun dari kabin menuju deg untuk segera menyiapkan motornya keluar dari kapal. Terlihat antrian kendaraan berjajar diiringi suara gemuruh beradu mesin-mesin kendaraan yang siap meluncur untuk keluar dari kapal.
Asap kendaraan yang saling mengepul pun membuat perut nafas Deri sedikit sesak. Beruntung hidung dan mulutnya sudah terlindung dari masker yang ia kenakkan sebelum menaiki motornya.
Tak lama dari itu pintu kapal pun segera dibuka perlahan. Sinar mentari dari luar menyoroti jejeran kendaraan yang siap meluncur itu. Satu per satu kendaraan pun melaju secara perlahan melewati jembatan yang berasal dari kapal itu untuk menujun daratan.
Akhirnya Deri telah menginjakkan bumi Lampung itu. Bukit-bukit yang ditumbuhi rerumputan kering ia lalui selama melajukan motornya. Sesekali ia berhenti di pinggiran trotoar untuk menenggak sebotol air mineral untuk menghilangkan dahaga yang ia sudah ia persiapkan di dalam tas rangselnya.
Dua jam berlalu, akhirnya sampailah dirinya ke rumah dimana ia dibesarkan. Rumah yang sebetulnya cukup luas ukuran tanahnya, namun modelnya sangat sederhana dan tampak sangat jadul untuk ukuran masa kini. Cat warnanya yang hampir pudar menetap di setiap dinding rumahnya itu. Bahkan di dapurnya yang masih beralaskan tanah itulah rumah yang selalu dirindukan seorang Deri selama di perantauan.
"Mamak....Bapak...!" seru Deri menyambut kedua orang tuanya yang telah menunggunya di depan pintu rumahnya setelah ia melihat suara motor yang berhenti di halaman rumahnya itu.
Senyum semringah tampak pada wajah mereka yang menyambut kedatangan Deri dari rantau. Perasaan bangga bercampur haru terlihat pada tatapan mereka terhadap Deri yang sembari turun dari motornya dengan penuh lelah bercampur bahagia itu.
Disahutnya tangan kedua orang tuanya dan di kecupnya sebagai tanda penghormatan Deri. Mamaknya yang begitu rindu pun memeluknya erat sembari meneteskan air mata haru bisa kembali berkumpul bersama putra sulunya yang hampir setahun tak berjumpa itu.
Deri yang sudah setahun ini los kontak dan putus dengan pacarnya dulu yang bernama Lani itu membuat dirinya enggan lagi untuk sering pulang seperti dulu yang selalu ingin berjumpa dengannya.
Hampir 7 tahun ia menjalin cinta dengan Lani, ia sangat meyakini bahwa dirinya akan menikahinya dengan segera, namun hubungannya harus kandas lantaran Lani telah memilih orang lain untuk jadi pendamping hidupnya, meski sampai saat ini belum terdengar kabar menikah darinya.
"Mas....!" sapa adik Deri yang masih berumur 5 tahun sembari memeluk dirinya tanda rindu.
Deri yang kemudian membalas pelukkannya dengan cara berlutut tak henti-hentinya menciumi wajahnya dengan penuh kerinduan. Disusul dengan kehadiran dua adik laki-lakinya yang masih sekolah SMP dan SMA itu pun tak luput menyambut kedatangannya.
Bergegas ia mengeluarkan oleh-oleh yang sudah ia persiapkan kemarin saat di Kota Bandung. Tak lupa ia membelikan Pizza untuk adik-adiknya yang sebelum sampai rumah tadi ia sempatkan mampir ke outlet, lantaran ingat adik-adiknya jarang sekali makan makanan seperti itu kecuali jika ia yang membelikannya.
Dengan perasaan gembira mereka berkumpul saling bercengkerama menanyakan kabar. Mereka tak lantas menyantap pizza yang Deri bawakan, lantaran hari itu sedang berpuasa, hanya si kecil Rino yang sedari tadi sudah tak sabar mengunyah pizza itu dengan lahap sebab ia belum saatnya berpuasa seperti yang lain.
Magribh pun tiba, dengan perasaan gembira, Deri dan keluarganya berkumpul di ruang makan untuk segera berbuka puasa. Menu makan spesial telah dipersiapkan oleh emaknya untuk penyambutan Deri. Sambal goreng kesukaannya selalu dibuatkan lantaran itu adalah menu makan yang selalu dirindukan oleh Deri.
__ADS_1
Deri yang saat itu tengah tidak berpuasa karena perjalanan jauh pun dengan lahap menemani ketiga adiknya dan kedua orang tuanya menyantap makanan buka puasa itu.
Semalam sudah Deri menginap di rumahnya itu. Ia mengambil gawainya sembari berbaring di atas kasurnya. Dilihat-lihat kontak yang ada dalam gawainya itu. Seketika ia berhenti pada kontak nomorku, di pandanginya foto profil yang kugunakan untuk aplikasi Whatshapku. Terbesit ia ingin menghubungiku, namun ia urungkan dan kembali menyeret jarinya pada layar gawainya, dan ditemukanlah kontak Lani yang masih tersimpan itu.
Seketika ia mengirimkan pesan padanya, berharap ia bisa menemuinya kali ini, meski untuk yang terakhir kalinya. Sebenarnya ia masih menyimpan rasa padanya, ingin sekali ia maih ingin memperjuangkan pernikahan bersamanya, namun ia tak berani mengutarakan pada kedua orang tuanya, mengingat selama ini tak ada restu dari orang tua kedua belah pihak.
Entah mengapa malam itu sepertiny ia merindu padanya, dan ingin mencoba kembali memperbaiki hubungan dengannya seperti semasa silam saat menjalin hubungan LDR selama 7 tahun itu.
Hubungan yang ia jalani selama sekolah hingga bekerja itu tak mudah baginya untuk melupakannya begitu saja. hampir separuh dari hidupnya ada disisinya, sebab Lani merupakan teman semasa SD hingga pada saat waktu SMA ia baru menjalin hubungan dengannya. Tak jarang ia mengingat banyak kenangan masa kecilnya bersamanya.
[Apa kabar Lani?] Isi dari pesan Deri pada kontak Lani yang tak ada respon meski telah terbaca.
Deri yang tadinya berharap padanya seaindainya dibalasnya pesan itu maka ingin segera menemuinya ke rumahnya pun kini mengurungkan niatnya, sebab sudah satu jam sejak pesan itu terbaca tak ada balasan sama sekali. Akhirnya ia pun terlelap dengan gawainya yang masih berada di tangannya karena sudah lelah menunggu.
Sore hari Deri pergi menjemput adiknya yang bermain di rumah temannya yang jaraknya lumayan jauh, sehingga harus ditempuh dengan kendaraan. Tanpa sengaja ia melihat sosok Lani yang sedang asik mengobrol dengan seorang pria di sebuah rumah makan sembari menunggu pesanan makanan mereka.
Hatinya kini benar-benar teriris dibuatnya, Deri yang selepas los kontak dengan Lani, sebelumnya belum pernah memergoki bahwa dirinya telah memiliki kekasih baru itu. Dulu saat putus melalui telepon, Lani memang pernah menjelaskan bahwa dirinya telah berselingkuh dengan orang lain, namun saat itu Deri sedikit tak percaya dengan hal itu. Meski ia menyetujui keputusan Lani, namun ia masih ingin meyakinkan untuk tetap menikahinya bila nanti masih ada kesempatan.
Seharusnya kepulangan dirinya saat ini ia akan gunakan untuk menemui Lani, namun tak dia sangka bahwa dengan mata kepalanya sendiri ia telah menyaksinya Lani bersama orang lain. Walau berat, namun itu telah membuka mata hatinya bahwa sesungguhnya Lani bukanlah jodohnya, dan ia harus segera melupakannya, dan merelakannya pada orang lain, meski hubungan mereka cukuplah lama, namun pada kenyataannya cinta Lani pada Deri sudah memudar terlebih dahulu dengan kehadiran pria lain.
Deri yang tampak lesu terus melajukan motornya hingga sampai pada tempat dimana adiknya hendak di jemput. Sepanjang jalan ia terus melamun memikirkan Lani, tak habis pikir mengapa bisa dirinya yang sudah lama menjalin hubungan dengannya itu tak berjodoh. Yah meskipun ia menyadari bahwa inilah takdir, namun hatinya begitu teriris.
"Tin....tin...." suara klakson mobil dari depan arah Deri yang sedang menaiki motornya yang oleng itu spontan mengagetkan dirinya dari lamunannya.
"Mas gimana sih bawa motornya!" ujar adiknya kesal yang sempat ikut kaget juga lantaran cenas hampir ketabrak mobil barusan.
"Iya aku, ngantuk, masih capek baru pulang mudik kemaren" alasanku padanya.
"Owh, pantesan, ya udah habis ini jangan kemana-mana dulu lah, ngeri tau, uhg..." ketus adiknya sembari memegang pinggang Deri dengan kencang.
__ADS_1