
"Bu Bunga, ada kekurangan bahan semen beberapa sak, kapan kira-kira barangnya akan datang?" Ucap seorang mandor kuli bangunan yang tengah merampungkan proyek pembangunan Klinik Baby Spa milikku itu.
"Oh... Baik pak, nanti saya akan menghubungi toko materialnya biar segera dikirim ke sini barangnya, tolong berikan catatanya kepada saya bahan material apa saja yang akan saya belanjakan..." Ujarku yang sejak tadi turut berjibaku mengawasi pembangunan gedung usaha yang baru akan aku mulai rintis itu.
"Baik bu, ini catatannya". Ujar pak mandor sembari memberikan buku catatannya padaku.
Segera aku ambil gawaiku untuk menelepon toko material bangunan langgananku dan memesan barang yang aku perlukan itu.
"Um... Uwais sudah hapal Surat An-naba, kapan mau setoran hapalan um??" Tanya seorang Uwais yang tiba-tiba menghamipirku diantara benda-benda meterial bangunan.
"Oh iya, umi sampai lupa kalau jam ini saatnya kalian setoran hafalan... Kalau begitu yuk kita ke rumah..." Ajakku padanya dan berusaha menutup tubuh Uwais dengan kedua tanganku untuk menghalangi debu-debu material yang bertebaran di sekitar kami.
Sementara kedua anakku sedang melantunkan setoran hafalan suratnya, aku pun duduk di atas ranjangku seraya menyusui baby Shanum yang baru saja bangun dari tidurnya.
Kedua mataku menatap ke arah anak-anak lelakiku itu dengan pandangan haru. Senyumku merekah menandakan ada secarik kebahagiaanku dibalik segala kedukaan yang aku alami. Tekadku memberikan pendidikan sebaik mungkin untuk mereka perlahan aku wujudkan secara bertahab.
Uwais yang biasanya merengek menanyakan abinya, kini terlihat lebih sabar dan mengerti bila aku berikan nasehat mengenai kondisi abinya itu. Begitu pula dengan Umar, pertumbuhannya yang kian pesat dan bertambah lincah, tak sedikit pun menunjukkan sifat-sifatnya yang buruk yang membuatku lelah dalam mengasuhnya.
Mereka semua penurut dan tergolong penyabar. Tak banyak tuntutan dari mereka padaku, meski terkadang ada sedikit rengekan polos dari anak-anak seusianya yang masih dalam batas wajar. Mereka terus tumbuh menjadi anak yang periang.
Mereka menikmati keasikan bermain, meski kini tanpa sosok abinya yang selalu ia rindukan. Hampir setiap hari mereka memang aku buat agar bisa melupakan sosok abinya agar hati mereka tak selalu gundah.
****
Setahun berlalu, kini usaha Baby Spa yang telah aku bangun membuahkan hasil yang begitu menakjubkan. Meski awalnya aku tak pernah menyangka akan sebagus ini. Keuangan kami pun semakin membaik. Pundi-pundi rupiah mulai terkumpul hingga mensejahterakan kehidupanku dan anak-anakku.
__ADS_1
Uwais pun kini masuk pada usia dimana dirinya mulai menduduki bangku sekolah TK. Wajahnya yang tampan sedang berdiri di hadapan cermin memandangi tubuhnya yang mengenakan seragam sekolah baru.
"Masya Allah anak umi ganteng banget... Mau sekolah ya..." ujarku memberikan semangat padanya pagi itu.
"Seragamnya bagus ya um...." kata Uwais yang sejak tadi membolak-balikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
Aku pun terseyum melihat tingkahnya. Kuraih wajahnya dan aku kecup keningnya dengan lembut.
"Uwais janji ya...Di sekolah nanti harus nurut sama bu guru, dan nggak boleh berkelahi sama teman-teman di sekolah..." ucapku sebelum mengantarnya berangkat ke sekolahnya.
"Iya um... Tapi kalau nanti ada temen yang suka merebut makanan Uwais gimana?" tanya dirinya polos seraya menunjukkan bekal makanan yang tadi aku persiapkan pada sebuah wadah kotak itu.
"Sayang... Dengerin umi, semua makanan yang umi bawakan untuk bekal Uwais, jangan lupa dibagikan sama temen-temen Uwais, kalau sudah dibagikan, pasti mereka nggak akan suka merebut lagi...". Kalimatku memberi nasehat padanya. Sorot matanya memandangku takzim dan seketika menganggukan kepalanya tanda setuju.
"Iya nak... Kalau sekarang umur Umar belum bisa masuk sekolah TK seperti Kak Uwais, tunggu tahun depan ya...". Ucapku dengan lembut sembari mengusap rambutnya.
"Ya udah yuk, sekarang kita berangkat anterin Kakak dulu, nanti Umar juga bisa liat kakak sekolah...". Kalimatku yang tak lama menggiring mereka masuk ke dalam mobilku dan tak lupa mengajak Shanum dalam dekapanku.
Dalam perjalanan, mereka teramat ceria dan terus bergurau. Sesekali Uwais mengajarkan nyayian yang diajarkan di sekolahnya itu pada Umar. Shanum pun tak mau kalah dengan keceriaan itu. Tawanya selalu terlepas kala melihat tingkah kedua kakaknya itu.
****
Deri
Siang hari yang terik itu ia menaiki motor bututnya hendak mengantarkan beberapa daun serai dari hasil panenannya yang berasal dari kebun halaman belakang rumahnya. Kegiatan sehari-harinya dalam mengisi waktu sembari terus menunggu ada pekerjaan yang layak hanyalah bercocok tanam.
__ADS_1
Berbagai macam tanaman seperti serai, kunyit, lengkuas, atau beberapa sayuran yang bisa ia tanam ia lakukan untuk sekedar mencukupi kebutuhan hidup dirinya. Hasil panenannya biasanya ia setorkan pada pengepul hasil kebun yang tak jauh dari rumahnya.
Di tengah perjalanan, tampak sebuah mobil yang di dalamnya adalah sosok Lani dengan suaminya dan bersimpangan dengan motor Deri yang ia tumpangi. Mereka saling tatap di sela-sela kendaraannya yang melaju dengan lambat. Sorot mata Lani dengan tatapan sinis dan senyumnya yang jahat, ia lontarkan pada Deri yang tengah melaju dengan sebuah motor lengpak dengan tas gerombong yang terpasang di sisi kanan dan kiri antara jok motornya itu.
"Hahaha" Suara tertawa Lani dan suaminya terdengar serempak dari kaca jendela mobil mereka yang seketika dia buka saat tepat berada di samping motor Deri.
Suara tawa itu sungguh merendahkan sekali bagi seorang Deri. Meski hanya sebuah tawa, namun sangat jelas raut wajah Lani dan suaminya itu tengah mengejek keberadaan Deri saat itu. Tawa jahat yang ia lepaskan itu seketika hanya bisa Deri balas dengan sebuah genggaman jemarinya ia ia kepalkan sembari melajukan motornya itu.
Tak disangka Lani sebegitu kejam padanya, meski dahulu mereka pernah merajut kasih. Namun hal itu seolah tak menyisahkan sedikit pun perasaan Lani pada Deri yang pernah menyatakan bahwa dirinya mencintai sosok Deri saat dahulu.
Penyesalan pada hati Deri kian merengkuh merasuk pada suasana terik udara siang itu. Matahari yang membuat tubuhnya bercucuran keringat menjadi saksi bisu betapa perasaannya sangat hancur seolah tak ingin lagi memiliki semangat hidup pada dirinya.
Sorot wajah hinaan Lani terus membekas membayangi selama perjalanannya itu. Meski mobil yang ditumpangi oleh Lani telah melaju meninggalkan dirinya.
"Ini uangnya pak...". Ucap seorang pemilik pengepul hasil kebun pada Deri seraya menyodorkan beberapa uang pecahan puluhan dan ribuan padanya itu.
"Maaf pak, cuma segini? Apa tidak bisa ditambah?". Tanya Deri mencoba menawar pada saat tengah menerima uang itu di tangannya yang sedang mengadah ke arah pemilik usaha itu.
"Segitu aja pak, harga serai juga masih anjlok...!". Ujar pengusaha itu dengan ketus seraya meninggalkannya.
Seketika digenggamnya uang itu pada tangan Deri. Meneteslah air matanya pada pipinya yang terbungkus debu halus yang berasal dari jalan saat ia menaiki motornya di tengah terik matahari yang sangat menyengat.
Wajahnya yang kusam itu tampak begitu kusut dan kotor. Dari pelupuk matanya terbayang wajah ketiga anaknya yang sangat ia rindukan.
Dengan uang segini mana bisa aku membahagiakan anak-anakku.... Maafkan abi nak... Gumamnya yang membuat air matanya terus membanjiri pelupuk matanya. Gurat pada raut wajahnya menambah lengkap kusut di wajahnya yang seolah tampak lebih tua dari usia yang seharusnya.
__ADS_1