
"Ada yang ingin aku bicarakan tetang surat wasiat Deri yang kemarin diserahkan dari perusahaan tempat Deri bekerja....". Ujar Ferdi padaku saat tengah melangkah meninggalkan makam Deri.
"Tapi sebaiknya kita bicarakan di rumah sakitku, karena aku harus merawat pasienku yang sudah sejak kemarin belum aku tengok karena kesibukanku mengurus Deri....".
"Baik, kalau begitu aku ikut kamu ke sana...". Ujar dirinya yang kemudian ikut masuk ke dalam mobil kami. Dia pun mengambil alih menyetir mobilku.
Beberapa saat kemudian kami pun sampai di rumah sakit. Selanjutnya kami berkumpul di salah satu ruangan rapat agar kami dapat berbicara secara privat.
"Aku membawa sejumlah tabungan milik Deri untukmu. Dalam secarik kertas yang Deri tulis untukku, seluruh tabungan hasil dia bekerja harus aku serahkan untukmu dan anak-anakmu.... Ini....". Kalimat Ferdi seraya menyodorkan buku tabungan dan surat kuasa Deri untuk bisa mengambil uang itu.
"Terima kasih...". Ucapku menerima tabungan itu dengan tangan bergetar. Sungguh diluar dugaanku bahwa perjuangan Deri untuk kami benar-benar dilakukan. Wasiatnya pun tertulis jelas seolah dirinya telah mempunyai firasat akan pergi selamanya dari kita.
"Deri telah pergi membawa perjuangannya...". Ucapku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bu... Peralatannya sudah saya siapkan di ruang pasien Lani...". Ujar perawatku yang tiba-tiba memberi tahuku dari balik pintu.
"Lani??". Tanya Ferdi dengan mata terbelangak karena terkejut mendengar nama itu.
"Iyah... Dia Lani... Mantan Deri dulu...". Jawabku dengan nada datar.
"Apa??? Aku nggak salah dengar??? Sakit apa dia?".
"Sakit kanker di rahimnya...". Sahutku yang enggan menjelaskan secara detail.
"Dan kamu mau merawatnya???". Tanya dirinya yang matanya masih melotot tajam seolah tak percaya dengan apa yang aku bicarakan.
Aku hanya terdiam dan menunduk tak ingin banyak berkata. Sebab aku tau dia begitu membenci Lani.
"Ini benar-benar gila.... Aku nggak tau kamu ini bodoh atau terlalu baik... Tapi ya sudahlah... Aku mau melihat dia...!". Kalimatnya dengan kepalan jemari tangannya.
Aku pun beranjak untuk mengantarkan dirinya melihat Lani di ruangan.
"Ini sih bau sekali...". Ucap Ferdi sembari mengerutkan batang hidungnya dan seketika menutup lubang hidungnya dengan satu tangannya.
"Harap kamu maklum...". Ujarku mencoba menenangkannya.
Baru saja aku masuk ke dalam ruangannya, tiba-tiba gawaiku pun berbunyi.
"Kring...Kring...". Tanpa mengecek nama siapa yang menelponku, aku langsung mengangkat telepon itu.
"Hallo sayang...". Dan suara itu adalah Bagas. Tubuhku mulai melemas. Tanganku pun bergetar memegang ponselku yang menempel di telingaku.
"Mau apa lagi kamu meneleponku?!!". Ucapku dengan nada tinggi dan jantungku yang berdegup kencang.
"Sekarang terbukti kan kalau kamu benar-benar janda yang malang.... Hahahah!". Ucapnya dengan nada meledek dan terbahak.
__ADS_1
Seketika aku telan salivaku dan aku atur nafasku untuk dapat berbicara kembali padanya.
"Aku bukan janda yang malang... Aku janda tegar dan sukses...!". Sahutku dengan lantang.
"Oh ya??? Tapi tetap saja... Cintamu selalu kandas bukan?? Dahulu, kamu pun begitu mencintaiku... Namun aku padamkan cintamu karena perlakuan kasarku... Dan sekarang cinta tulusmu pun tak bisa kau labuhkan lagi karena orang yang kamu cintai itu telah mati bukan?? Hahahah...
Jadi benarkan bahwa kamu adalah janda yang malang....". Kalimatnya yang membuatku semakin heran dan terkejut.
Seketika aku matikan teleponnya. Aku terdiam dan berpikir mengapa dirinya tau semua tentang kejadian yang menimpaku dan Deri. Padahal dia sama sekali tak mengenal Deri.
"Bunga... Apa dia Bagas?". Tanya Lani dengan nada lemah.
"Kenapa kamu bisa tau??". Tanyaku yang mengernyitkan dahiku sebab terheran.
"Aku pernah mengenalnya lewat media sosial.... Dia dulu yang memotivasi aku untuk menganggu rumah tangga kalian... Namun sayangnya aku tergiur kekayaan Deri yang ternyata semua itu adalah milikmu...". Kalimatnya yang spontan membuat kami semua terkejut.
"Apa??? Dasar kamu kurang ajar Lani...!!! Gara-gara kamu sahabatku kehilangan rumah tangganya... Dan sekarang aku kehilangan sahabatku selamanya.... Semua ini gara-gara kamu....!!!". Bentak Ferdi pada Lani yang nyaris menyerang tubuhnya.
"Jangan Ferdi... Dia sudah cukup menderita dengan sakitnya... Jangan kau lawan musuh yang sudah tak berdaya... Aku mohon...". Pintaku mencegahnya yang akhirnya ia pun mengurungkan niatnya dan seketika mengayunkan kepalan tangannya ke arah dinding.
"Buk... Argghhhh...!!". Suara raungan Ferdi menahan amarahnya. Wajahnya tampak memerah.
"Jadi... Deri sudah meninggal??". Tanya Lani dengan mata berkaca.
"Dia meninggal karena apa??". Tanya Lani penasaran.
"Kecelakaan di Malaysia...".
"Apa??? Di Malaysia?? Jangan-jangan....? Ahhh...!". Seru Lani yang kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Jangan-jangan apa??!! Ayo jawab!!!". Tanya Ferdi dengan nada membentak.
"Dulu waktu chatingan dengan Bagas di medsos,dia bilang sedang ada di Malaysia... Dulu dia pernah bilang padaku, kalau sampai bertemu dengan Deri dia akan membunuhnya... Karena dia iri melihat Bunga bahagia selepas bercerai dengannya...". Kalimat Lani yang seketika membuat tercengang.
"Akan aku usut kasus ini sampai tuntas...!!". Seru Ferdi yang kemudian pergi meninggalkan kami.
****
Hari ini selepas berziarah kubur dipemakaman Deri, kami berempat mengunjungi pembangunan sebuah masjid yang letaknya tak jauh dari lokasi rumah sakitku.
Uang tabungan yang Deri berikan padaku aku belikan sebidang tanah. Dan sisanya aku bangunkan sebuah masjid di atas tanah itu untuk mengenang namanya di hati kami semua. Kami beri nama masjid itu Masjid Al-Mujahid, yang berarti seorang pejuang.
Masjid itu akan selalu mengenang perjuangan seorang Deri untuk kami berempat. Uwais dan Umar pun akan menjadi pengurus masjid itu yang senantiasa melantunkan adzan dan mengaji di sana.
Semenjak kepergian Deri, ketiga anakku pun sering berkunjung ke rumah orang tua Deri. Keluarga Deri kini sudah menerima kami dengan baik. Begitu juga dengan mamak, dirinya kini pun sayang terhadap Uwais, tak membedakan dengan yang lain seperti dulu.
__ADS_1
Kabar terakhir dari Ferdi, bahwa polisi Malaysia telah berhasil membekuk Bagas. Kini dirinya telah menjadi tahanan di sana. Selama ini dia bekerja di satu perusahaan dengan Deri. Oleh karena itu dia banyak tahu tentang kami karena sering menguping pembicaraan Deri saat menelepon Ferdi kala itu.
Sementara Lani, kini masih tetap menjadi pasien abadi di rumah sakitku. Namun kondisinya mulai membaik. Ketiga anakku pun akrab dengannya dan sering menjenguknya untuk diajak mengobrol bersama dengan akrab. Dia tampak sumringah kala bercanda dengan ketiga anakku.
****
Hari ini pembangunan. Masjid Al-Mujahid telah selesai. Kami berempat saling berpelukkan menatap ke arah masjid itu dengan penuh haru. Bagiku, menatap masjid itu seolah sedang menatap seorang Deri, sedangkan bagi ketiga anakku, memandangi masjid itu, laksana sedang memandang abinya yang tersenyum pada mereka. Masjid itu akan selalu mengenang Deri di hati kami selamanya.
"Mau kemana nak??". Tanyaku pada Uwais dan Umar yang sudah tampak rapi mengenakan baju koko. Wajah mereka bertambah terlihat tampan seiring bertambah dewasanya usianya kini.
"Mau ke masjid abi um....". Jawabnya dengan senyum ceria.
Itulah terakhir aku melihat senyum ceria sang Uwais di hadapanku. Sekarang dirinya sudah berada di Kairo untuk melanjutkan kuliah di sana dengan bea siswa yang berhasil ia raih atas prestasinya di sekolahnya.
Sementara Umar sedang dalam perjuangan untuk menyelesaikan sekolahnya. Begitu juga dengan Shanum yang kini sudah tumbuh menjadi gadis lembut nan cantik. Seorang Akhwat impian para lelaki alim.
Selesai....
--------------------------------------------
Akhir kata dariku :
Pesanku, janganlah kamu mendekati zina, sebab zina laksana hutang. Bila telah berbuat, maka selamanya akan menanggung dosa yang terus menuai penderitaan. Inilah yang dialami Bunga, meski dirinya telah banyak berbenah diri, namun dia terhukum dengan rumah tangganya yang rusak, dan harus menghadapi kematian Deri disaat ia telah ingin hidup bersama kembali.
Begitu juga dengan Deri dan Lani. Telah jelas apa yang sudah mereka tuai dari hasil perbuatannya yang telah mereka berdua lakukan. Beruntung bila memiliki kesempatan bertaubat sebelum mati. Namun jika terburu mati duluan sebelum betaubat, maka celakalah kalian. Kan ada kesengsaraan yang abadi kelak di akherat.
Janganlah sampai kita mati dalam keadaan buruk. Untuk mencegahnya, maka lakukan selalu kebaikan dalam setiap hidupmu.
Bila kita petik dari kisah rumah tangga Bunga saat masih bersama Bagas. Bahwa pacaran lama tak menjamin kelanggengan sebuah rumah tangga. Sebab saat pacaran biasanya hanya hal baik saja yang ditonjolkan saat itu. Terbukti dari seorang Bagas yang nyatanya saat berumah tangga justru menunjukkan sikap kasarnya pada Bunga.
Begitu juga kala berumah tangga dengan Deri. Sosok Deri yang perangainya begitu lembut dan romantis, tiba-tiba ia tega berselingkuh. Yah, bagaimana pun hati adalah milik Tuhan dan Dialah yang berhak membolak balikkan hati setiap insan. Maka berharaplah hanya padaNya agar kita tidak kecewa.
------------------
Terima kasih untuk readers setiaku. Terima kasih buat kalian telah berkenan membaca cerita di novelku. Novel yang aku angkat dari kisah nyata seseorang, meski aku tambah sedikit cerita fiksi untuk melengkapi.
Terima kasih sekali lagi dan kelak aku akan menerbitkan novel yang masih berhubungan dengan ini, yaitu novel dengan judul "Siapa Binku?". Dimana tokoh utama yang berperan dalam novel ini adalah Uwais Al-qarni. Dalam novel itu mengisahkan kisah cinta sang Uwais dan kehidupannya dalam mencari kebenaran. statusnya sebagai anak.
Kapan novelnya akan terbit??
Tunggu kabar dariku selanjutnya ya...
Akan aku umumkan di groupku dan group pecinta Noveltoon. Tunggu ya...😊😊😊
Sampai jumpa....🤗🤗🤗😘😘😘😘
__ADS_1