
Sudah hampir 2 minggu aku bekerja di counter Kak Arif. Hampir setiap hari aku pun berjumpa dengannya yang mengantarkan beberapa stok barang habis, atau pun sekedar memantau pembukuan yang aku buat.
"Assalamu'alaikum?" sapa Kak Arif yang baru saja datang membawa beberapa perlengkapan stok dan meletakkannya di atas etalase.
"Walaikumsalam Kak Arif". Jawabku padanya yang siang itu akan tengah mengontrol pekerjaanku.
"Bagaimana pekerjaanmu? ada kendala?" tanya dirinya sembari memperhatikkan setiap sudut tempat kerjaku untuk memastikan bahwa semua dalam keadaan baik.
"Alhamdulillah sejauh ini lancar kak, penjualan juga mulai rame".
"Alhamdulillah, ya udah ini kamu tata di dalem etalase". Ujar Kak Arif sembari menyodorkan barang-barang stok kepadaku.
Aku yang sedang teliti menyusun barang-barang ke dalam etalase, tak menyadari bahwa sejak tadi ia memperhatikanku seksama.
"Ehmm kak sudah selesai". Ujarku sembari mengernyitkan dahiku menatap matanya yang berpandangan kosong menatapku penuh arti.
"Kak?" aku mencoba mengulangi sapaanku yang tadi belum dijawab.
"Oh...iya" jawabnya gugup yang seketika membuang pandangannya dari arahku.
"Apa ada yang kurang kak?" tanyaku heran.
"Eenggak kog, udah bagus". ujar dirinya sambil menggaruk kepalanya.
Kak Arif sangat baik padaku, aku sangat bersyukur, disaat tak ada orang yang mau menerima wanita hamil bekerja, tapi entah mengapa dia mau menerimaku tanpa syarat. Allah Maha baik. Gumamku sembari membersihkan etalase dengan lap karena sedikit berdebu.
"Baiklah, aku pamit dulu ya, kalo ada apa-apa jangan lupa hubungi aku biar aku segera datang membantu kamu"
"Iya kak" jawabku menganggukan kepalaku.
"Assalamu'alaikum?"
"Walaikumsalam"
Kak Arif pamit meninggalkan aku dengan menaiki mobil berwarna putih yang tadi ia parkir di depan counter.
Tak lama dari itu pun pelanggan mulai berdatangan. Seperti biasa aku layani dengan ramah dan sepenuh hati. Kebaikan Rianti dan Kak Arif membuat aku selalu berusaha bekerja dengan baik. Setiap saat aku mendoakan kebaikan atas mereka agar diberikan kelapangan rejeki karena sudah banyak membantuku.
"Kring-kring" tiba-tiba gawaiku bunyi dan segera aku raih.
Kulihat nama Rianti menelponku.
Ah, ada apa ini, apa mungkin Rianti akan menagih hutangku tempo hari ya. Semoga enggak. Gumamku dalam hati yang merasa cemas sebab saat awal aku mulai bekerja aku meminjam beberapa uang pada Rianti untuk bisa aku mencukupi kebutuhan makan sebelum aku menerima gaji pertamaku. Ia rela menyisihkan dari uang saku kuliahnya untuk dipinjamkan padaku. Meski merasa sangat tak enak, tapi aku terpaksa harus meminjam padanya.
"Assalamu'alaikum Rianti?"
__ADS_1
"Walaikumsalam"
"Ada apa Rianti, tiba-tiba menelponku? Oh iya, maaf aku belum bisa membayar......"
"Oh, tidak Ukhti, ana telepon bukan untuk menagih hutang anti, ana telepon sebenernya...eeee" jawab Rianti sedikit gugup.
"Ada apa Rianti, kog jadi seperti serius begitu? hehehe" tanyaku sembari tertawa penasaran.
"Itu, tadi Kak Arif menelponku"
"Lalu?" tanyaku cemas jangan-jangan ada pekerjaanku yang nggak beres di matanya.
"Jadi dia tanya tentang kamu, sepertinya dia menaruh hati padamu".
"Apa? ah kamu jangan bercanda Rianti, mana mungkin Kak Arif lelaki yang sudah cukup mapan itu mau dengan aku yang sudah mengandung anak orang di luar pernikahan lagi, heheheh ada-ada aja kamu ini." ujarku tertawa dengan rasa sangat tak percaya.
"Bunga, Kak Arif itu seorang duda yang ditinggal istrinya berselingkuh setahun yang lalu, semenjak itu dia sangat trauma dengan wanita, berapa kali aku ajukan dia untuk ta'aruf dengan beberapa teman ana, tapi selalu ia tolak, entah mengapa sekarang melihat anti dia seperti tertarik".
"Sudah Rianti, kamu jangan bangunkan khayalanku, walau bagaimanpun aku tak pantas buat Kak Arif yang begitu baik itu" ujarku sembari menghela nafas dan tak mau menghiraukan ucapan Rianti.
"Ya apa salahnya Bunga kalo kalian saling mengenal, namanya jodoh qadarulloh nggak ada yang tau"
"Nggak...nggak...Rianti, Kak Arif cukup sebagai atasan aku aja, dia udah kasih aku kesempatan buat kerja aja udah sangat bersyukur bagiku, aku nggak mau berharap lebih"
"Ya sudah,itu terserah anti saja bagaimana menyikapinya, yang jelas semua pasti atas kehendak Allah, kalo Dia udah menghendaki, semua tak bisa dipungkiri"
"Sudah ku bilang ukhty, jika Allah berkehendak, semua tak ada yang tak mungkin, bisa saja setelah anti melahirkan dan selesai masa nifas lalu Kak Arif nikahi anti kan?"
"Rianti maaf, ada pelanggan datang, aku tutup dulu teleponnya ya, lain kali kita sambung lagi, Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam" segera kututup telepon Rianti dengan gugup dan mencoba tak menghairaukan apa yang baru saja Rianti katakan.
"Mbak, beli voucer yang epmati 50rb ya" ujar seorang yang duduk di depan counter.
"Iya, ini," segera iu sodorkan pesanan yang ia pinta.
"Mbak gimana, ini kan yang 100 ribu, aku minta yg 50 aja mbak...." tutur dia memprotesku yang salah mengambilkan voucer.
"Oh...iya maaaf..." aduh...kenapa aku bisa nggak konsen gini sih...gumamku sembari aku tukar kembali dengan voucer yang ia minta.
"Ini ya kak?" sembari ku menyodorkan padanya.
"Iya, berapa?"
"Lima puluh dua ribu".
__ADS_1
"Ini uangnya" sembari memberikan uang pembayaran pas dan tanpa kembalian.
"Trimakasih kakak?"
"Sama-sama" sembari pergi berlalu.
Apa gara-gara tadi Rianti menelponku ya aku jadi agak gugup begini. Ah, ada-ada aja tuh Rianti, mana mungkin Kak Arif mau sama aku, huft.... Gumamku sembari menarik nafas panjang diikuti dengan sedikit kontraksi palsu pada kandunganku. Segera kuusap perutku dengan lembut.
Keesokkan harinya, seperti biasa aku menyiapkan tempat kerjaku, dengan membersihkan lantai dan etalaseku. Tak lama Kak Arif pun datang untuk mengecek pembukuan.
"Dug...dug.." entah mengapa hatiku tiba-tiba berdetak kencang melihat Kak Arif yang turun dari mobilnya itu.
"Assalamu'alaikum" sapa dia padaku dengan sangat ramah dan senyum yang begitu merekah.
"Walaikumsalam" jawabku dengan wajah menunduk karena malu.
"Kamu ada masalah Bunga? kog terlihat gugup begitu?" tanya dia sedikit keheranan.
"Oh, enggak Kak, aku baik-baik aja kog, ini pembukuan minggu ini". Seketika aku menyodorkan buku laporanku padanya.
Entah mengapa ia tak banyak meneliti laporan itu. Hanya sesekali ia menatapku yang sedang membereskan beberapa barang dalam etalase. Sesekali aku pun menatapnya, namun segera aku buang wajahku karena malu, apalagi saat kita saling tatap.
Huh...Andai saja Rianti kemaren nggak ngabari aku tentang Kak Arif, aku nggak bakal sekacau ini kan hmmm...... Gumamku dalam hati tak karuan.
"Eeehhh Kak, conuter sekarang mulai rame kalau Ba'da Magribh, kadang aku keteter kalo pas mau pulang tapi malah banyak pembeli yang dateng, apa sebaiknya kita buka aja sampe malem?" tanyaku memecahkan keheningan itu.
"Oh iya, tapi apa kamu kuat kerja sampe malem? kasian kandungan kamu kan harus dijaga?" ujar dia setengah tak tega melihatku.
"Iya sih kak, tapi bagaimana ya, sayang soalnya banyak pembeli malem".
"Ia juga sih, tapi aku kasian sama kamu kalo harus kerja sampe jam 9 malam, belum kalo pas pulang nanti kamu sendirian gimana? kecuali kalo kamu mau sekalian tinggal di sini". ujar dirinya menawarkanku untuk tinggal di ruko tempat kerjaku.
Sebetulnya aku sangat tertarik, karena hal ini akan sangat menghemat biaya kostku. Bulan depan aku tak harus memikirkan pembayaran kostku, jadi aku bisa segera lunasi hutangku pada Rianti.
"Baik kak, nanti aku pikirkan hal itu, secepatnya aku kabari" ujarku memohon untuk berpikir sejenak.
"Oke, asal kamu nggak keberatan, aku nggak papa, nanti gampang, masalah gaji akan aku tambah karena jam kerja kamu juga bertambah"
"Oh, kalo itu sih nggak usah nggak papa kak, aku ikhlas, gaji seperti perjanjian awal juga udah cukup kog bagiku, apalagi kalo aku tinggal di sini, otomatis aku dapat fasilitas juga". Ujarku menolak.
"Ehmmm, kamu ini ada-ada aja, hidup di Jakarta orang-orang pada nuntut kenaikkan gaji, kamu yang udah aku tawari naik malah nggak mau, padahal kan kamu bisa nabung buat biaya persalinan kamu nanti" ujarnya menatapku ramah.
"Deg...deg..." Hatiku semakin kacau dibuatnya. Mengapa dia begitu perhatian padaku.... Ah, pasti ini hanya sekedar perhatian antar bos dengan karyawannya aja. Gumamku yang tak henti memelintir jemariku.
"Oke, aku pamit dulu ya? Assalamu'alaikum?"
__ADS_1
"Walaikumsalam"
Huft.... Akhirnya dia pergi juga. Aku pun melanjutkan aktifitasku seperti biasa. Segera aku tepis tentang masalah Kak Arif dan apa yang dibicarakan Rianti padaku.