Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Periksa kehamilan part II


__ADS_3

Hari ini jadwalku memeriksakan kehamilan. Setelah aku mendapatkan gaji yang cukup, akhirnya aku kembali untuk memutuskan melihat kondisi janinku yang sudah lama tidak aku lihat lewat USG.


Kemarin aku sudah ijin dengan Kak Arif bahwa sore ini jadwalku periksa kandungan. Ia pun tak keberatan, bahkan ia rela menggantikkan aku jaga ruko untuk sementara aku tinggal.


Sore itu aku bersiap untuk segera menuju rumah sakit tempat dimana aku bertemu dengan dokter kandungan. Tampak Kak Arif sudah datang kemari untuk gantian menjaga ruko.


"Maaf Kak Arif aku tinggal dulu ya?" ujarku sebelum pamit.


"Iya nggak papa, semoga kandungan kamu sehat ya..." tuturnya menyemangatiku.


"Aamiin, makasih Kak."


"Oh iya, apa mau aku temani?" tawaran dia yang membuat aku terkejut.


"Oohh.. nggak usah kak, kita kan bukan muhrim, masak iya kakak mau lihat aku periksa, kan aku malu..." tukasku tersipu malu.


"Ohh iya maaf, aku lupa, atau aku antar aja sampai rumah sakit? nanti kalo udah selesai aku jemput?"


"Jangan Kak.... Kak Arif nggak perlu repot-repot, aku bisa naek ojek online, lagian kalo Kakak anter aku nanti ujung-ujungnya nggak ada yang jaga counter kan?" ujarku mencegah dirinya.


"Kan nggak papa ditinggal sebentar to?" ujar dirinya ngotot.


Namun tak lama berselang ada seorang pembeli datang untuk membeli pulsa. Sontak situasi ini aku manfaatkan untuk segera pamit dengan Kak Arif.


"Mas, mau beli pulsa empati 20 ribu" ujar seorang customer ibu-ibu dengan perangai cerewet.


"Aku pamit dulu ya kak? Assalamu'alaikum?" tukasku sembari meninggalkan ruko agar Kak Arif tak sempat mengejarku


"Walaikumsalam!!" teriaknya sembari menggaruk kepalanya merasa kecewa yang tak bisa mengantarku ke rumah sakit.


Tak lama dari itu, aku menaiki ojek online yang sudah aku pesan dengan aplikasi menuju rumah sakit yang jaraknya sekitar 3 kilometer dari tempat tinggalku tadi. Sekitar 15 menit kemudian aku pun sampai di lokasi dan segera turun menuju pendaftaran.

__ADS_1


Setelah lama menunggu di ruang tunggu pasien, kini tiba giliranku untuk segera diperiksa. Perawat memanggil namaku dan segera aku masuk ke dalam ruang periksa.


Tak aku sangka, Deri dan Ferdi ada di sana juga. Mereka terlihat duduk di ruang tunggu poli bedah yang jaraknya hanya bersebelahan dengan poli kandungan tempat aku periksa. Ketika namaku disebut, seketika ia melihatku masuk ke dalam ruang periksa.


Tak lengah Deri mencoba mengejarku, namun aku segera memasuki ruangan periksa. Melihat aku yang datang hanya seorang diri, lantas ia nekat menerobos ikut masuk ke dalam ruang periksa itu.


"Bapak siapa?" ujar seorang perawat penjaga ruang periksa itu yang tadi memanggilku.


"Emmmm... saya suaminya suster" ujar Deri tanpa ragu sembari menggaruk kepalanya menghindari grogi akibat dirinya bohong.


Sontak aku yang sedang tidur di atas bed tempat dimana dokter sedang melakukan USG padaku terkejut dibuatnya.


"Deri?? aaahh!!" teriaku panik sembari mencoba menutup perutku yang sedang terbuka itu karena malu.


"Bapak Deri Andara?" tanya seorang perawat tadi yang sedikit heran melihat situasi ini.


"Iya kog suster tau?" tanya Deri heran.


Aku semakin panik melihat ini. Aku sendiri lupa pernah menyematkan nama Deri di buku periksaku sebagai suami, karena waktu itu aku bingung akan diisi nama siapa dan tak mungkin aku kosongkan. Sebagai ayah biologis yang pada waktu itu pun aku masih mencintai dirinya, maka aku sematkan namanya untuk aku kenang.


Tak kusangka hal ini terjadi. Terlihat Deri mencoba melirik buku yang sedang dipegang oleh perawat itu, dan benar saja, ia mendapati namanya ada di dalam buku itu berjejer dengan namaku.


Dokter sempat bingung melihat tingkahku. Beliau sangat heran dengan sikapku yang seperti ketakutan dengan suamiku sendiri menurutnya. Aku pun sangat malu dan gugup dibuatnya.


"Ibu ini kenapa? ditengok suaminya kog kaget begitu? ayo silahkan tidur di bed lagi, saya kan belum selesai periksa?" ujar Dokter wanita itu menyuruhku kembali ke posisi semula. Dengan ragu, aku pun menurutinya menahan malu.


"Aduh... gimana ini????" gumamku cemas.


"Anu dok, istri saya mungkin kaget, tadi dia berangkat sendiri ke sini, karena saya bilang sedang sibuk kerja, tapi saya sengaja bikin kejutan datang ke sini tiba-tiba tanpa sepengetahuannya, makanya dia begitu kaget". Begitulah alasan penuturan Deri mencoba nenutupi sikap Bunga,sebab setelah ia melihat namanya ada di dalam buku itu, maka ia sangat yakin kalau anak yang ada dalam kandungannya itu adalah anak kandung Deri.


"Oh... ya sudah, yuk dibuka lagi bu perutnya!" seruan ibu Dokter padaku.

__ADS_1


Aku yang tak bisa berkutik mau tidak mau terpaksa menurut. Sebab, aku tak bisa mnjelaskan panjang lebar tentang hal ini pada dokter. Akan panjang ceritanya jika aku harus cerita padanya, dan otomatis akan menghambat pekerjaannya. Sementara di luar sana sudah banyak pasien yang mengantri. Tidak ada pilihan lain selain aku berpura-pura sebagai pasangan suami istri dengan Deri saat itu.


Dengan penuh rasa malu dan canggung, akhirnya aku beranikan untuk membuka perutku untuk meneruskan periksa. Deri terlihat tersenyum sangat bahagia. Wajahnya sangat semringah, ditambah lagi menyaksikan layar USG yang di sana ada gambar anaknya tentunya.


"Ya Allah....Maafkan hamba yang tak berdaya ini..." gumamku yang sangat tak rela ia melihat auratku, meski dahulu aku pernah tanpa sehelai benang pada tubuhku di hadapan dia waktu masih bodoh itu. Aku merasa berdosa karena saat ini sudah bertaubat.


Namun Deri tampak mengharagai aku kali ini. Ia mencoba memalingkan pandangannya fokus pada layar USG, agar tak melihat perutku yang sedang di periksa oleh sang dokter.


"Wah...bayinya gerak-gerak itu ya dok!" seru Deri kegirangan.


"Iya, bayinya sehat, air ketuban cukup, detak jantung aman, dan semua terlihat normal, tinggal tunggu persalinan aja karena usianya udah cukup matang, dijaga baik-baik ya bu?" ujar dokter.


Aku pun hanya bisa mengangguk. Wajahku memucat tak bisa berkata apa-apa. Padahal seharusnya kala itu hatiku sangat senang bisa melihat bayiku di layar USG yang sudah tumbuh semakin besar.


Deri yang berakting seperti seolah suamiku itu tanpa dosa bersikap sangat manis padaku. Tak lama setelah aku diperiksa, kami pun duduk berjejer di kursi berhadapan dengan dokter, sembari mendengarkan instruksi dokter berikutnya.


"Jangan lupa diminum vitaminnya ya bu? Oh iya, mulai saat ini sudah harus dikurangi aktivitas beratnya, seperti nyuci, masak, ngepel, biar suaminya aja ya bu? takut resiko pecah ketubanan perdarahan plasenta, itu bahaya" nasehat dokter padaku.


"Oh, siap bu!" seru Deri penuh semangat.


"Sayang, kamu banyakin istirahat ya, biar nanti aku bantu pekerjaan kamu....." ujar Deri sangat lembut padaku, seolah sedang perhatian pada istrinya.


Aduh.... mimpi apa aku semalam??? kenapa bisa seperti ini sih?? ucapku dalam hati dengan penuh geram melihat tingkah Deri. Hanya saja ia sempat terpikir dulu ia pun sebetulnya menginginkan bisa periksa hamil ditemani oleh Deri. Dan kali ini tercapai, hanya saja kami belumlah berstatus suami istri.


"Nanti minggu depan kontrol lagi ya bu? sekarang jadwalnya diperpadat karena udah mau bersalin, dijaga baik-baik isitrinya ya pak?" ujar dokter menutup perjumpaan kami.


"Baik dok" jawab Deri, dan aku pun hanya diam tertunduk tak bisa berkutik.


"Hehhhh" setelah menghela nafas panjang, aku pun beranjak keluar pintu ruang periksa. Disusul oleh Deri yang seolah tak mau berhenti melepaskan ku dan mencoba menarik gagang pintu mempersilahkan aku terlebih dahulu dan mengiringi langkahku seperti benar-benar suamiku yang penuh perhatian.


Aku berusaha berjalan secepat mungkin untuk menghindari Deri. Namun dia terus mengejarku tak mau kalah membuntutiku di belakang. Aku yang nyaris kehilangan nafas terus melangkah makin kencang ke arah pintu keluar rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2