Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Lebaran


__ADS_3

"Assalamu'alaikum?" sapa suamiku yang baru saja pulang dari rumah orang tuanya itu.


"Walaikumsalam" sahutku menyambutnya dan mencium tangannya takzim.


"Abi.....!!!" seru Uwais yang berlari ke arah kami dan segera memeluk suamiku itu.


Suamiku pun membalas pelukkannya dan tak lupa memberikan ciuman kerinduan setelah dua malam lamanya tak berjumpa. Tak lupa ia pun menggendong Umar dan menimangnya sesaat untuk melepas kerinduannya atas ocehannya yang lucu.


Tak lama dari itu kami pun berkumpul di teras rumah untuk menyaksikan keramaian malam lebaran saat itu. Uwais dan Umar tampak sangat riang gembira. Sesekali kami memandang ke arah langit menyaksikan untaian kembang api yang meramaikan suasana langit di malam itu.


Aku pun sibuk mengawasi kedua anakku, sang Uwais yang berlarian kesana kemari di halaman, Umar pun tak kalah riuh dengan gerakan merangkaknya. Ibuku tengah sibuk di dapur menyiapkan ketupat lebaran untuk disantap esok hari bersama-sama.


Tampak Deri duduk santai di atas teras sedang asik memainkan gawainya. Senyum rona wajahnya menggambarkan kebahagiaan seolah sedang mengobrol dengan orang spesial baginya.


"Ehem....cieh...cieh....yang lagi asik chattingan....senyam-senyum sendiri...." kalimatku mencoba menghampirinya penasaran.


"Oh...ini loh...temen-temen lama.... biasa kalo lagi pada mudik maunya pada minta ngumpul...reunian...." ujarnya menjelaskan padaku tanpa memperlihatkan isi dari pesan hijau itu.


"Owh.... ya udah lanjutin...." kataku sembari berlalu tanpa perasaan apapun.


Aku pun kembali meneruskan bermain bersama Uwais dan Umar.


Keesokkam harinya, setelah acara sembah sungkem di keluarga besarku selesai, kami pun bergegas untuk ke rumah orang tua Deri. Meski hatiku terasa gundah dan deg-degkan sebab akan berjumpa dengan mertuaku itu, namun sebisa mungkin aku tepis dan berusaha berpikir posisif tak akan ada sesuatu yang membuat hatiku tak nyaman di sana nanti.


Beberapa menit kemudian, sampailah kami di sana. Tampak kedua mertuaku dan ketiga adik Deri telah menunggu kedatangan kami. Seketika mereka menyambut kami dengan ramah.


Segera kami melangsungkan acara sembah sungkem pada kedua mertuaku itu. Tampak isak tangis pada emak mertuaku saat memeluk Deri sang putra sulungnya itu. Namun berbeda saat padaku, wajahnya tampak begitu datar dan tak ada rona haru pada raut wajahnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian aku melangkah menuju ke dalam mobil untuk mengambil sesuatu yang telah aku persiapkan untuk mereka.


"Mak ini, ada oleh-oleh sedikit...." ujarku sembari menyodorkan sebuah kresek putih berukuran besar itu.


"Owh... apa ini?" tanya emak sembari membuka kantong kresek itu. Dikeluarkannya isi dari kresek itu, beberapa baju untuk kedua mertuaku dan adik-adik Deri.


"Wah... makasih ini mbak Bunga...." seru salah satu adik bungsu Deri padaku.


"Wah kog repot-repot segala nih Mbak Bunga...." sahut bapak mertuaku sembari mengambil baju koko dan sarung yang ada dalam kantong plastik itu.


"Kita mah lebaran udah biasa nggak pernah beli namanya baju baru....ini malah jadi bikin boros...." ketus emak mertuaku yang tengah memegang sebuah gamis untuknya lalu dikembalikan lagi ke dalam kantong kresek itu seolah tak ada rasa bahagia ingin mencobanya seperti yang lain.


Aku hanya terdiam tanpa bisa berkata. Seolah sudah sangat bosan untuk membantah apa yang ia ucapkan. Entah apapun yang aku lakukan dimatanya seolah selalu salah.


"Nggak apa mak...ini kan cuma sesekali aja, wajar kalo pas lebaran belanja gini, boros itu kalo tiap hari...." ujar Deri mencoba membelaku.


Setelah itu emak mengambil Umar dari gendonganku, dan mengajaknya bermain ke ruang depan.


"Uwais...yuk lihat kelinci di belakang yuk..." ajak bapak mertuaku pada Uwais yang tengah menatap Umar bermain bersama neneknya itu


"Ayok..." kalimat Uwais mengiyakan ajakan bapak mertua.


Sesaat tampak Umar rewel karena sudah kelelahan dan hendak tidur siang. Emak yang masih ingin bermain bersamanya pun sebisa mungkin mencoba mengalihkan perhatiannya supaya ia tak rewel lagi. Namun sepertinya Umar sudah sangat mengantuk, sebab sejak tadi pagi kami sibuk mengajaknya keliling silaturahmi ke beberapa tetangga di rumah ibuku tadi.


Akhirnya perlahan aku ambil Umar dari emak. Segera aku pergi ke dalam kamar dan menyusuinya. Tak lama pun ia terlelap.


"Kesini...emak lagi kangen-kangenan sama cucu, lama nggak ketemu, malah cuma mau tidur..." kalimat emak terdengar dari depan kamar dimana aku sedang mengeloni Umar.

__ADS_1


Entah dengan siapa ia menyeletukkan kalimat itu. Namun sebelum pergi ke kamar tadi aku hanya melihat Deri yang ada di sana sedang duduk seperti biasa memainkan gawainya. Sementara adik-adiknya bermain ke rumah teman-temannya.


Seketika aku mencoba mengintip dari balik pintu kamar. Benar yang aku dapati, sesungguhnya emak sedang mengajak ngobrol Deri, hanya saja Deri tampak tak menanggapinya sebab ia lebih asik dengan gawainya.


Kala itu aku tak ingin banyak berpikir. Kemudian aku lanjutkan untuk kembali tidur bersama Umar dan berhenti sejenak memikirkan rasa tak enakku berada di sini.


****


Deri


[Lebaran sama siapa? kasian sendirian. Udah berapa lama suamimu nggak pulang?] Isi dari pesan Deri pada Lani saat itu.


[Sendirian aja.... Udah hampir 2 tahun, semenjak aku menikah, seminggu kemudian dia pergi] balas Lani.


[Yah....sedih sekali....padahal masih pengantin baru loh...] ujar Deri lagi.


[Iya...boro-boro nikmatin suasana pengantin baru, pas nikah aku lagi haid, baru selesai haid, suamiku langsung dipanggil suruh berangkat....yah... mau nggak mau deh, kita tunda malam pertamanya....]


[Apa??? kenapa bisa begitu? hahahah] balas Deri yang tampak cekikikan menatap layar gawainya itu.


[Ya waktu nikah kan suamiku udah ngajuin kontrak, dan nggak nyangka aja dipanggilnya pas kita baru nikah, kalo ditolak nanti dia bisa kehilangan pekerjaan...jadi mau nggak mau deh aku harus sabar menunggu beberapa bulan lagi, sampai nanti genap 2 tahun baru mungkin dia pulang....] balas Lani panjang lebar.


Tak lama ia tertidur di atas kursi tempat dimana ia duduk sedari tadi. Sepertinya seharian bertemu banyak orang membuat dirinya cukup lelah.


"Abi....kog tidur di kursi....???" seru Uwais yang baru saja selesai bermain kelinci bersama Mbah Kakungnya menghampirinya.


"Yuk tidur di dalem sama Umi...." ajak Uwais mencoba menyeret tangan Deri yang tengah mengucek-kucek matanya itu. Dengan tubuh yang sempoyongan karena mengantuk, ia pun berjalan menuju kamar dimana aku dan Umar tengah terelalap.

__ADS_1


Akhirnya kami tidur serempak dan saling tumpang tindih. Ukuran ranjang dikamar itu memang sangat sempit, mengingat ruang kamar itu juga sangat minim membuat kami saling berhimpit.


__ADS_2