Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Kembalinya Deri


__ADS_3

"Anak-anakku sayang... Beberapa hari ini umi akan pergi ke Jakarta menjemput abi yang sedang sakit... Nanti pulang sekolah biar mamang Ujang sopir ambulan klinik yang jemput kalian.... Dan nanti di rumah kalian biar dijaga sama Bik Yayah sementara sampai umi pulang...". Kalimatku memberi mereka pesan selepas menerima telepon dari Ferdi.


"Baik umi... nggak papa kog kami ditinggal sementara, asalkan setelah ini abi bersama-sama kita terus...". Ucap Uwais dengan senyum merekah.


"Jangan lupa doakan kesembuhan abi ya..". Pesanku pada mereka.


Setelah mereka semua masuk ke sekolahnya masing-masing. Tibalah diriku bersiap-siap untuk menuju Jakarta. Aku gunakan pesawat agar lebih cepat sampai di sana. Selama perjalanan, hatiku terasa berdebar-debar tiada henti membayangkan keadaan Deri saat ini.


"Swing.....". Suara pesawat yang aku tumpangi berhasil mendarat dengan baik.


Ferdi sudah menungguku di depan pintu kedatangan untuk menjemputku. Bergegas kami menuju rumah sakit dimana Deri sedang dilakukan operasi beberapa organ tubuhnya yang terluka.


Sesampai di rumah sakit, pintu ruang operasi belum juga terbuka. Banyaknya anggota tubuh Deri yang harus diperbaiki memakan waktu yang cukup lama untuk mengoperasi dirinya.


Berbagai tim dokter canggih di kota itu telah berkolaborasi dan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menyembuhkan luka di sekujur tubuh Deri.


"Aku pulang dulu... Maaf nggak bisa ikut nunggu, istri dan anakku di rumah sendiri... Besok aku ke sini lagi...". Pamit Ferdi padaku saat kami tengah duduk di depan ruang operasi itu.


"Iya, biar aku sendiri aja nggak papa...".


"Baik, kalau begitu aku pulang dulu... Kamu istirahat aja dulu... Mungkin operasinya masih lama..". Ujar Ferdi sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan aku.


Aku tak bisa beranjak dari kursi penunggu ini. Hatiku terus penasaran ingin segera mengetahui keadaan Deri. Aku tak sabar lagi untuk melihatnya. Tak ada hasratku untuk sekedar ingin beristirahat saat ini. Sesekali hanya mampu memejamkan mataku sejenak di atas kursi itu.


Delapan belas jam berlalu, akhirnya lampu merah yang menyala di depan ruang operasi kini padam pertanda tindakan telah selesai.


"Krek... ". Suara pintu ruangan telah dibuka dan tampak seorang dokter tengah berdiri di hadapanku.


Aku pun bergegas berdiri dan melangkah ke arahnya untuk dapat menanyakan kabar Deri dengan segera.


"Bagaimana dokter? Apakah operasinya berjalan dengan baik?". Tanyaku dengan perasaan cemas.


"Operasinya berjalan dengan baik meskipun luka pasien sangatlah rumit dan kompleks... Kita pantau perkembangannya, mudah-mudahan ada kemajuan membaik... Sementara untuk pemulihan akan kami masukkan ke ruang ICU...". Kalimatnya menjelaskan padaku dengan seksama.


"Baik dok... Lakukan yang terbaik untuk Pak Deri...". Ucapku memohon.


Dari balik jendela aku menatap wajah Deri yang masih penuh dengan luka lebam akibat benturan. Tubuhnya penuh dengan verban menandakkan banyaknya tulang yang patah pada tubuhnya.

__ADS_1


Dia terbaring lemah dengan sekujur tubuh berlilitkan kabel peralatan medis. Beberapa infus cairan dan tranfusi darah terpasang di kedua lengan dan kakinya. Perasaanku begitu kacau melihatnya, sebab ini menandakan bahwa lukanya begitu serius pada tubuhnya.


Semoga masih ada harapan untuk Deri bisa sehat kembali.... Bisik doaku dengan beberapa bulir air mataku yang mengalir di pipi. Saat ini mataku terus tertuju pada layar monitor pemantau jantung untuk memastikan bahwa jantungnya masih normal berdenyut.


Hampir dua malam aku menunggu Deri sadar, akhirnya hari ini ada salah seorang perawat ruang ICU mendatangiku hendak memberiku kabar.


"Ibu Bunga.... Sepertinya kondisi Pak Deri ada kemajuan, dirinya sudah mulai sadarkan diri.. Sekarang ibu boleh menjenguknya di ruangan... ". Ucap perawat itu yang seketika membuat hatiku lega.


"Baik suster... ". Ucapku yang bergegas masuk ke dalam ruangan.


Aku pun berdiri tepat di hadapan Deri yang tengah terbaring itu. Tampak matanya membuka perlahan. Jemarinya mulai bergerak menandakan dirinya mulai merespon keadaan sekitarnya.


Dengan pandangannya yang masih kabur, ia menatap diriku. Melihat itu aku pun segera mendekat ke arahnya dan duduk di sampingnya.


"Buu...Bunga...? Kau kah itu??". Ucap dirinya yang seolah tak percaya bahwa aku berada di sampingnya.


"Iyah... Ini aku Deri...". Ujarku sembari menyeka air mataku yang terus mengalir.


"Sungguh aku bahagia karena kamulah orang yang pertama aku lihat saat ini... Bidadariku yang telah lama aku rindu.. ". Ucapnya dengan nada begitu lirih dan bibirnya yang bergetar.


"Aku pun sangat merindukanmu.... Hiks...Hiks...". Ucapku seraya menundukkan kepalaku dan terisak. Kali ini aku tak sanggup lagi menyembunyikan perasaanku yang terpendam ini padanya.


"Heemmmh...". Sahutku yang hanya bisa mengangguk. Iya pun tersenyum merekah menatapku.


"Kalau begitu aku akan bersyukur atas kecelakaanku karena bisa membuatmu ada untukku saat ini....". Kalimatnya yang kembali membuatku terisak.


"Kumohon sembuhlah kamu.... Bukan cuma aku yang butuh dirimu... Tapi anak-anak juga.. Jangan pergi lagi dari kita...". Ujarku memohon dan masih menahan isak.


"Aku pergi pun untuk kalian.... Dan bila aku kembali pun hanya untuk kalian....".


Seketika aku sambut kalimat itu dengan senyuman manisku.


"Bagaimana dengan kabar Uwais, Umar, dan Shanum?".


"Alhamdulillah... Mereka semua sehat... Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang soleh dan soleha Insya Allah... Aku yakin kamu pasti senang saat nanti melihat mereka...".


"Tentu.... Sudah aku duga itu... Aku sangat percaya kamu bisa mendidik anak-anakku dengan baik...". Kalimatnya memujiku yang membuatku tersipu malu.

__ADS_1


"Allah yang beri kekuatan untuk itu....". Ucapku merendah.


Akhirnya kami saling tatap dan tersenyum meluapkan sejuta rindu yang telah mendarah daging di dalam hati kita.


***


Beberapa hari kemudian kondisinya mulai membaik. Meski tangan dan kakinya masih lumpuh tak bisa bergerak sedikit pun, namun menunjukkan kekuatan tubuhnya mulai membaik. Akhirnya aku meminta ijin pada pihak rumah sakit untuk membawa Deri pulang dan berencana melanjutkan perawatannya di rumah sakitku.


Ferdilah yang akhirnya mengantar kami untuk pulang dengan menggunakan mobilnya. Wajah Deri semakin berseri dalam perjalanan pulang. Di pelupuk matanya telah membayangkan celoteh anak-anaknya yang sudah sangat ia rindukan.


Sesekali ia pun menatap ke arahku hanya untuk melempar senyumnya yang manis. Ia tampak bahagia meski aku tau di sekujur tubuhnya menahan sakit yang begitu sangat. Namun seolah semua terlupa dengan adanya secerca harapan kehidupannya rumah tangganya kembali membaik.


***


"Abi.... Abi... Abi....!!!". Teriakan ketiga anakku yang seketika berhamburan ke arah Deri dan memeluknya dengan hati-hati karena banyaknya luka pada tubuhnya.


Deri menangis tersedu-sedu atas kehadiran mereka. Tak lain dengan aku yang menyaksikan ini pun bercucuran air mata haru menatap kebahagiaan mereka yang akhirnya berkumpul meski Deri dalam keadaan tak bisa membelai wajah mereka.


"Cium abi satu per satu anak-anak semua...". Pintaku memberi instruksi pada mereka. Seketika secara bergatian mereka menyambarkan kecupan hangat di pipi sang abinya itu.


Hatiku pun meleleh dibuatnya. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur atas dipertemukannya kembali Deri di sisi kami.


"Ayo adik-adik... Kita doakan abi bersama-sama... Biar Kak Uwais yang pimpin...". Kalimat Uwais memberikan instruksi pada kedua adiknya untuk membacakan doa yang mereka telah hafal di salah satu surat Kitab suci kami.


Dengan suara yang begitu indah, mereka melantunkan doa yang panjang itu di samping tubuh Deri. Deri pun tak kuasa menahan haru atas tingkah ketiga anaknya itu. Seolah ia tak menyangka bahwa tanpa dirinya, justru aku begitu luar biasa mendidik anak-anaknya itu.


"Terima kasih anak-anakku... Abi begitu senang atas doa-doa kalian...".


"Iya abi... Semoga abi lekas sembuh ya... Nanti kalau udah sembuh, kita jalan-jalan ya bi...". Ucap Shanum dengan nada manja.


Aku dan Deri saling tatap dan tersenyum melihat kemanjaan mereka.


Tak lama berselang kemesraan kami sedikit terganggu dengan aroma tak sedap yang terbawa angin meringkup di sekitar kami.


"Bunga?? Apakah tubuhku menimbulkan bau?". Tanya Deri sembari mengendus-endus sekitar tubuhnya yang sedang terbaring itu.


"Tidak... bau ini bukan berasal dari tubuhmu... Tapi....". Ujarku yang tak kuasa melanjutkan kalimatku.

__ADS_1


"Tante yang di kamar sebelah itu kan umi yang bau??". Celoteh Shanum dengan polosnya.


Deri mengernyitkan dahinya tanda penasaran siapakah tante yang Shanum maksud tadi.


__ADS_2