Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Perhatian Kak Arif


__ADS_3

Pagi ini aku melihat kalender untuk menghitung usia kehamilanku. Tepat 8 bulan sudah usia kehamilanku saat ini.


"Wah, sebentar lagi kita bakal ketemu ya nak?" ujarku mengusap perutku lembut.


Kudapati kondisi perutku yang semakin membuncit dan kakiku yang sedikit bengkak karena harus bolak balik berjalan kaki saat bekerja. Aku tak mungkin terus berjalan kaki yang lumayan cukup jauh itu. Seketika aku mencoba menghubungi Kak Arif untuk menyepakati tinggal di rukonya.


"Tut...tut..." Nada sambungku menghubunginya lewat telepon.


"Assalamu'alaikum Kak Arif?"


"Walaikumsalam, ada apa Bunga pagi-pagi menelpon?"


"Begini kak, karena kandunganku sudah semakin berat, sepertinya aku mau tinggal di ruko aja, bagimana kak?"


"Oh...baiklah kalo begitu, nanti aku jemput kamu di kontrakkan ya, aku bantu bawain barang-barang kamu biar nggak berat"


"Ah jangan kak, lagian barang-barangku nggak banyak kog, cuma koper aja, nanti yang lain juga bisa aku cicil, paling dua kali balik udah selesai" ujarku menolak tawarannya.


"Tapi kan kamu lagi hamil, mosok mau bawa-bawa koper segala sendirian, jalan kaki lagi, udah nanti aku jemput aja"


"Tapi....Kak Arif atasanku, masak iya mau jemput aku yang karyawannya?" tanyaku sungkan.


"Udah, kamu jangan sungkan, nggak usah terlalu anggep aku bos kamu, anggep aja aku patner kerja kamu, jadi biar kayak temen aja" jawabnya seketika membuat hatiku meleleh namun sangat sungkan.


"Beneran nih Kak nggak merepotkan?"


"Iya udah nggak apa-apa, habis ini kamu kirim lokasi kamu aja lewat chatt, nanti aku cari kontrakkan kamu, kamu sekarang siap-siap aja".


"Makasih banyak ya kak, maaf kalo merepotkan, baik kalo begitu aku ijin ibu kostku dulu untuk pamit".


"Oke, tunggu aku jemput ya, seperti biasa jam kerja aja, jam 8 ya?"


"Baik Kak, sekali lagi makasih, Assalamu'alaikum?"

__ADS_1


"Walaikumsalam".


Bergegas aku mengemasi barang-barangku yang tak terlalu banyak itu. Hanya sebuah koper dan tas rangsel dan sebuah kasur tipis peninggalan penghuni kost sang penolongku waktu itu.


Tak lama berselang, aku pun mandi dan bersiap-siap seperti akan berangkat kerja. Tak lupa sebelum itu aku ijin pamit pada ibu kostku.


"Makasih banyak ya bu, maaf kalo selama saya tinggal di sini saya pernah berbuat salah" pamitku sembari menyerahkan kunci kostnya.


"Sama-sama Mbak Bunga, oh iya, hamilnya udah semakin gede aja, suaminya belum pulang juga?" tanya ibu kost yang memang waktu aku ditanya tentang perutku yang semakin membesar terpaksa aku berbohong bahwa suamiku sedang pergi bekerja di kapal pesiar jadi jarang pulang. Meski dirinya tidak terlalu percaya, namun bagiku sudah bisa meredam segala pertanyaan dirinya dan para tetangga sekitar.


"Eeeee......." belum selesai aku bicara, mobil Kak Arif sudah terlihat di depan kostku. Bergegas aku menghampirinya.


"Maaf bu saya pamit dulu". Aku meninghalkan ibu kost yang berdiri di depan pintu rumahnya sembari memperhatikkan gerak-gerikku bersama Kak Arif.


"Kak Arif udah sampe? cepet banget?"


"Iya, sengaja aku sampe sini duluan, biar kamu nggak kelamaan nunggu, sekalian sapa tau ada barang-barang yang belum dibereskan, aku mau bantu". Ujar dirinya sembari keluar dari pintu mobilnya


"Oh...semua udah beres kak,itu barangku cuma itu". Jelasku sembari menunjuk beberapa barangku yang sudah aku taruh di depan pintu kostan agar mudah membawanya.


(Kasian sekali Bunga, bahkan tidur pun hanya di kasur setipis ini tanpa bantal). Gumam Arif dalam hatinya dengan pandangan nanar.


"Ya udah yuk kita langsung berangkat aja!" Seru dirinya sembari membantuku memasukan barang-barangku ke dalam mobilnya.


Kemudian aku pun segera masuk ke dalam mobilnya. Jantungku terasa berdetak kencang, ditambah lagi ketika Kak Arif sudah duduk di sampingku hendak menyetir. Perasaan tak karuan bercampur malu saat itu. Tapi sebisa mungkin aku sembunyikan saat itu.


Tak lama kemudian Kak Arif pun melajukan mobilnya, melewati depan ibu kostku yang sejak tadi bediri di depan mengawasiku.


"Wah...itu suaminya ya!!!". Teriak dirinya lantang. Spontan membuat aku menjadi tambah malu di depan Kak Arif. Pipiku memerah dan tingkahku menjadi tambah canggung.


"Maaf kak Arif, maaf... gara-gara ini Kak Arif jadi dikira suamiku sama ibu kostku yang agak kepo itu." Tuturku sembari tertunduk malu.


"Iya, nggak papa kog, orang-orang sini emang gitu, maklum...heheh" ujarnya padaku.

__ADS_1


Sementara mobil Kak Arif semakin melaju menjauh, tampak ibu kost masih ngrumpi dengan tetangga-tetangga kostku. Mungkin juga mengabarkan bahwa aku sudah tidak lagi tinggal di situ.


"Itu si Bunga, dijemput suaminya pake mobil ternyata, orang kaya rupanya, mosok mau ya kost di sini lumayan lama loh? nggak bawa apa-apa lagi selain pakean." Ujar ibu kost bergosip dengan 2 orang tetanggaku.


"Kali aja suaminya sopir bu, itu mungkin mobil majikannya yang buat jemput". Ujar salah satu emak-emak berdaster itu.


"Ah, nggak kog, itu kan suaminya kerja di kapal pesiar, banyak duitnya pasti, kali aja baru pulang langsung beli mobil, makanya langsung dijemput si istrinya". Ujar ibu kost menimpali.


"Tapi aneh ya, dia punya keluarga tapi lebaran kemaren kog nggak pulang mudik ya, malahan pilih kesepian sendiri di sini loh bu, kasian liatnya, padahal yang laen pada mudik, udah aku suruh dia mudik aja tapi katanya alesan nggak kuat perjalanan jauh karena lagi hamil, takut muntah katanya". Ujar ibu kost lagi penuh semangat bergosip.


"Iya juga sih, agak aneh, tapi udahlah, kita mah nggak usah terlalu mikirin orang, yuk kita lanjut masak lagi!" seru seorang emak berjilbab ungu tua mengakhiri obrolan mereka.


Seketika aku ingat ibuku, sudah lama aku tak menghubunginya lantaran aku sibuk bekerja, ditambah saat pulang aku sudah sangat lelah. Bahkan lebaran kemarin memang aku tak pulang menemuinya. Jauh sebelum kehamilanku besar, aku sudah meminta ijin padanya untuk tidak mudik tahun ini, lantaran aku tak mungkin membiarkannya tau kondisiku saat ini.


Meski aku harus menikmati lebaran dengan begitu nestapa, duduk termenung meratapi gema takbir yang berkumandang tanpa sanak saudara, aku hanya mampu terisak sedih. Membayangkan saat itu beberapa saudara maupun kerabat sedang berbahagia berkumpul bersama keluarganya, namun saat itu aku hanya berdiam di kamar usang seorang diri.


Penyesalan begitu mendalam saat itu, tapi tak bisa lagi aku berbuat apa. Aku hanya bisa menguatkan diri dalam tangisku. Saat itu aku belum mengenal Rianti, bahkan belum menjadi wanita berhijrah, hanya saja perutku sudah mulai membuncit dengan mual yang sangat aku rasa waktu itu. "Peluk cium rinduku ibu.... "gunamku dalam hati dalam lamunanku menatap kaca jendela mobil Kak Arif yang sedang melaju santai.


"Bunga.....kamu kenapa? kog nglamun gitu?" tanya Kak Arif yang seketika membuyarkan lamunanku. Ia tampak heran melihat mataku yang berkaca-kaca.


"Oh, enggak kak, nggak papa aku kog" ujarku gugup sembari membetulkan posisi dudukku yang kaku.


"Itu mata kamu kayak mau nangis, kamu mikirin apa?" tanya dia dengan ramah yang membuat rasa hatiku ingin bercerita, namun segera kutepis.


"Nggak apa-apa kog kak." Ujarku meyakinkan dengan sedikit senyuman agar ia tak curiga dengan kesedihan yang sedang aku sembunyikan.


"Oh ya udah kalo kamu belum mau cerita... Oh iya, kamu udah sarapan belum?"


"Emmm belum" jawabku spontan yang emang baru sadar perutku lapar karena sejak tadi pagi aku sibuk menyiapkan perpindahanku ke ruko Kak Arif, sementara ia juga datangnya lebih pagi dari jam yang dijanjikan, jadi aku tak sempat membeli sarapan.


"Ya udah yuk kita makan soto ayam yang di pojokan itu yuk, kamu mau kan?" tanya dia padaku sembari menunjuk sebuah warung soto di depan mobil yang kita tumpangi ini melaju mulai melambat.


"Iya kak, aku apa aja mau kog". Ujarku dengan senyum merekah. Sejak aku hamil muda sangat ingin membeli soto ayam, sampai saat ini belum kesampaian lantaran aku harus menahan uangku sehemat mungkin dalam keadaanku yang belum dapat perkerjaan selama aku menginjakkan Kota Jakarta ini, sampai pada akhirnya aku bertemu dengan Rianti.

__ADS_1


Tak lama setelah mobil Kak Arif diparkirkan tepat di depan warung itu, kami pun segera turun dan memesan dua mangkuk soto ayam. Kami duduk saling berhadapan dengan perasaanku yang begitu canggung. Sesekali Kak Arif mengajakku ngobrol atau bercanda untuk mencairkan suasana.


__ADS_2