Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Ibuku Meninggal


__ADS_3

Semenjak perceraianku dengan Deri, ibuku sering tampak termenung di sudut ruangan. Ada beban yang berat melihatku dengan kehamilan yang semakin membesar. Sudah tampak kerepotanku akan kesibukan mengurus ketiga anakku dengan usia yang masih kecil-kecil dan tak bisa lepas dari perhatian.


Sang Uwais pun sering merengek mengungkapkan kerinduannya pada abinya saat malam menjelang tidur. Begitu pun dengan Umar, meski lidahnya belumlah fasih memanggil ayah kandungnya itu, namun tampak dari beberapa kali rintihannya begitu teramat merindukan sosok ayahnya itu.


Aku hanya bisa mencoba membesarkan hati mereka dengan video call abinya itu untuk sekedar mengobati kerinduan mereka.


"Aku tutup dulu ya... Alhamdulillah Uwais dan Umar sudah tidur..." ucapku menyudahi acara video call dengan Deri yang biasa kami lakukan sebelum tidur.


"Jangan dulu... Kali ini aku ingin mengobati kerinduanku pada ibu dari anak-anakku..." ucapnya dengan mata yang berair.


"Jangan... Kini aku bukan lagi istrimu, kamu tak sebebas itu menatap wajahku..." sahutku keberatan.


"Baik, aku mengerti, aku hanya ingin memastikan bahwa kamu dan kehamilanmu dalam keadaan baik... Maafkan aku yang sampai saat ini belum bisa hidup tanpamu...." kalimatnya menutup perjumpaan dalam video itu.


Air mataku pun selalu basah merembes pada bantal yang aku gunakan untuk pengalas kepalaku itu. Hatiku memang tak selalu sama dengan perangaiku di luar. Meski aku sangat terlihat sanggup akan perpisahan ini, namun sejujurnya hatiku remuk redam menyimpan rasa cinta pada Deri yang telah terhalang oleh perceraian ini.


Hari-hariku tak luput menjadi buah bibir dari para penggosip lingkungan sekitar rumah ibuku. Pasti ini sangat melukai hati ibuku dan terus membebani pikirannya selain daripada keadaanku.


"Bu.....!" Panggilku saat pagi hari sedang mulai berberes rumah.


"Ibu...!!" Panggilku kembali saat tak ada sahutan dari dalam kamar ibuku yang biasanya sudah bangun terlebih dahulu.


Perasaanku yang tak enak membuatku mencoba membuka pintu kamarnya yang kebetulan tak terkunci saat itu.


"Ibu....!!!" Teriakku yang mendapati ibu dengan wajah pucat pasi dan sekujur tubuhnya terasa dingin.


Kepanikanku saat itu membuatku seketika menelepon kakakku untuk segera membawa ibu ke rumah sakit.


Aku titipkan Uwais di rumah kakakku agar dijaga oleh Kakak iparku, sementara aku dan Umar dalam gendonganku turut serta membawa ibuku menuju rumah sakit.

__ADS_1


Sesampainya di ruang UGD tampak ibuku dikerubungi banyak perawat dan seorang dokter yang sedang melakukan tindakan dan memasang beberapa alat.


"Mbak... Ibunya sepertinya terkena serangan jantung, kami akan lakukan tindakan semaksimal mungkin, mudah-mudahan berhasil..." kalimat seorang dokter yang menghampiriku yang tengah berdiri di sebelah kakaku menanti kabar ibuku itu.


"Lakukan yang terbaik dok..." ucapku dengan segenap harapan dan doa dalam hatiku.


"Sini biar Umar aku gendong..." ujar kakaku yang tak tega melihat kandunganku yang sudah semakin besar sementara aku harus menggendong Umar.


Segera aku ulurkan tanganku untuk memindahkan Umar dalam dekapannya. Mata kami tak lepas dari pantauan menyaksikan keadaan ibuku. Tak lama beliau dibawa masuk ke ruang ICU untuk pemulihan kesadaran.


Kami yang hanya bisa menatapnya melalui kaca jendela hanya bisa terus berharap akan kesembuhan ibuku. Membayangkan dirinya segera terbangun dalam keadaan sehat seperti semula, lalu bercanda dengan para cucunya seperti biasa dalam penuh keceriaan.


Beberapa jam kami menunggu, tampak beberapa perawat akhirnya berlarian ke ruangan dimana ibuku di rawat. Panggilan dokter terus meramaikan saat perawat-perawat itu tengah melakukan tindakan pemacuan jantung ibuku. Hatiku semakin cemas dan pikiran mulai tersebesit sesuatu yang buruk akan terjadi dengan ibuku


Aku pandangi tubuhnya dalam kerumunan perawat itu. Terdengar suara datar dari arah layar pengontrol denyut jantung yang menandakan bahwa kondisi jantung sudah tidak lagi berdenyut.


"Tittttttt........." Tampak sebuah garis panjang menunjukkan ketidaaan denyut.


"Maaf, ibunya tidak bisa diselamatkan..." kalimatnya dengan nada belasungkawa.


"Innalilahi wainalillahi rojiun.... Ibu..." isakku bersamaan dengan kakaku.


Kedua kakiku terasa melemas seolah tak percaya secepat itukah ibuku pergi meinggalkan kami menyusul ayahku yang sudah terlebih dahulu dipanggil oleh Allah. Aku tersungkur dengan tubuh yang masih gemetar dan menahan isak tangisku yang seolah ingin menjerit.


Tak lama beberapa perawat keluar ruangan setelah membereskan kondisi ibuku yang kini sudah tertutup kain putih. Dengan tertatih aku mencoba berdiri dan segera melihat ibuku dalam ruangan.


Wajahnya tampak tersenyum dan memucat menandakan telah usai dalam memikirkan hal dunia yang selama ini membebani pikirannya.


Ibu maafkan aku yang telah membebani kepergianmu... Semoga Allah menerima segala amal dan kebaikkanmu di dunia... Semoga kelak kita akan dipertemukan di surgha...Selamat jalan ibuku sayang.... Kalimatku dalam hati sembari menatap wajahnya dengan penuh isak. Sekuat tenaga aku besarkan hatiku untuk melepas kepergiannya yang sudah menjadi takdir dari yang Maha Kuasa ini.

__ADS_1


"Eyang uti....Eyang uti kenapa nggak bangun lagi umi...??" ucap Uwais dalam tangisnya yang menatap ibuku telah terbujur kaku di atas meja jenazah.


"Eyang uti sudah dipanggil sama Allah nak...Eyang uti sudah nggak bisa nemenin kita lagi..." ucapku mencoba tegar diantara keramaian para pelayat di dalam rumahku.


"Terus kalo Uwais kepingin ketemu Eyang Uti gimana umi???" tanyanya dengan wajah polos.


"Dengan cara doa sayang.... Kalo kita berdoa, Eyang Uti akan terasa senang di alam sana..." ucapku menahan air mata.


"Kenapa Allah jahat Umi??? Kemarin Allah ambil Abiku, sekarang Allah ambil Eyang Utiku juga...." tangis Uwais pecah membuat suasana haru para pelayat saat itu.


"Bukan sayang.... Allah bukan jahat.... Kan Allah janji nanti kita semua akan dipertemukan di surgha.... Kita akan bahagia di sana... Sini peluk umi...." kalimatku mencoba menenangkan dan kemudian mendekapnya agar tangisnya mereda.


Beberapa jam berlalu, akhirnya ibuku dikuburkan. Semua pelayat telah kembali ke rumah masing-masing. Kini tinggalah aku dan beberapa keluargaku yang masih berkumpul di rumah.


"Kring..." terdengar gawaiku berbunyi. Segera aku ambil dan tampak nama Deri muncul di layar gawaiku itu.


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam..."


"Aku turut berduka cita sedalam-dalamnya... Maaf aku nggak bisa datang ke acara pemakaman ibu..." kalimat Deri padaku.


"Iya nggak apa..." sahutku dengan nada datar.


Sejenak ia terdengar menghela nafas panjang.


"Bunga... Aku nggak bisa membayangkan betapa kesedihanmu.... Jaga dirimu baik-baik... Kamu sekarang seorang diri tinggal di rumah... Aku tau beban kamu semakin berat, apalagi saat ini kamu hampir melahirkan..." ucapnya dengan isak.


"Kamu nggak usah khawatir akan keadaanku... InsyaAllah aku siap menghadapi segala takdir Allah..." kalimatku menunjukkan kekuatanku yang meski sesungguhnya dalam hati aku merasa tak sanggup.

__ADS_1


"Iyah... Aku tau kamu wanita kuat... Kamu wanita hebat... Aku percaya kamu bisa... Mudah-mudahan Allah selalu kasih kekuatan buat kamu..." ucapnya sebelum mengakhiri teleponnya.


"Aamiin...." sahutku yang kemudian menutup percakapan itu.


__ADS_2