Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Dikeluarkan dari tempat kerja


__ADS_3

Lambat laun, perutku semakin membuncit. Beban yang aku rasakan semakin terasa berat, kehidupan dan terpaan cobaanku tiada henti seperti sedang menghukumku.


Lirik mata sinis aku rasakan di setiap langkahku oleh tetangga-tetangga kontrakkanku. Cibiran-cibiran sinis dan sindiran halus pun kerap merebah di telingaku yang mau nggak mau aku sumpal rapat-rapat demi menguatkan hatiku.


Begitu pun dengan rekan-rekan kerjaku, perbincangan tentangku pun merebah ke seluruh penjuru rumah sakit itu. Bisik sana- sini menjadikan aku sebagai tema hangat mereka di sela-sela pekerjaan mereka. Aku yang hanya diam mencoba terus membesarkan hatiku demi bayiku yang aku sayang, meski sesungguhnya aku sangat cemas bila hal ini sampai terdengar manajemen, maka tak lama lagi aku pun harus angkat kaki dari sini.


Tubuhku yang sedikit kurus membuatku tak bisa menutupi bentuk perutku yang semakin mencuat menggembung dan lebih mancung dari hidungku ini.


"Berapa bulan mbak?" sapa seorang pasienku sembari menunjuk perutku yang dirinya pun tengah hamil dan periksa kandungan di tempatku.


"Owh, ini 6 bulan bu" jawabku gugup.


"Wah, semoga kita nanti sama-sama lancar pas persalinan ya mbak, ini aku juga 6 bulan" ujar dirinya sembari mengusap perutnya dan seketika di gandeng oleh suaminya dengan mesra.


Aku hanya bisa menghela nafas panjangku menatap kemesraan mereka. Mengkhayalkan andai Deri ada bersamaku saat ini mungkin ia akan menemaniku periksa kandungan seperti itu.


Beberapa hari pun berlalu, tak aku sangka aku menerima sebuah surat panggilan dari direksi manajemen rumah sakitku itu. Meski dengan berat hati yang berkecambuk cemas, aku mencoba menemui panggilan pagi itu. Di hadapan direktur rumah sakitku itu, aku menunduk malu, sudah bisa aku tebak apa yang akan ia bicarakan padaku.


"Benar kamu hamil Bunga?" tanya beliau dengan tatapan menegangkan.


"Iyah... maaf pak" jawabku sambil mendesah menghela nafas panjang mencoba menguatkan aku.

__ADS_1


"Baik, maaf kami tidak bisa memperkerjakan wanita yang hamil dengan status di luar pernikahan, apalagi kamu karyawan junior yang belum bisa mendapatkan cuti hamil dan melahirkan,demi nama baik rumah sakit ini, maka dengan berat hati kami harus memberhentikan kamu". Jelasnya dengan tegas.


Aku hanya diam pasrah tak bisa menjelaskan apapun. Aku terima walau dengan hati yang begitu gundah.


"Ya Allah.... harus bagaimana aku setelah ini, dimana aku harus mencari uang untuk biaya kehidupanku dan calon anakku ini?" gumamku yang terlemas lunglai dengan air mata yang bergulir lambat.


Kukemasi barang-barang di tempat kerjaku. Kukembalikan seragam kebanggaanku dan perlengkapan pekerjaanku yang sudah dipinjamkan. Gaji terakhir dan sedikit pesangon aku genggam dalam buku tabunganku yang mungkin bisa membantuku beberapa hari ke depan.


Tak berbeda dengan lingkungan kontrakkanku, riuh suara ibu-ibu penggosip mulai tak bisa lagi menahan diriku yang harus segera pindah dari kontrakkan itu. Terlebih aku yang tak berpenghasilan lagi tentu akan membuat aku semakin berat untuk membayar kontrakkan ini setiap bulannya.


Satu persatu aku jual barang-barangku, termasuk beberapa barang milik Deri yang sempat ia tinggalkan untukku. Uang yang sedikit aku dapatkan aku genggam untuk biaya kehidupanku. Beberapa barang yang tak dijual aku berikan pada tetanggaku yang rajin bergosip itu. Sedikit sungkan ia menerimanya, sebab ia sering mencibirku.


Segera aku mengemasi pakaianku yang aku masukkan ke dalam tas rangsel miliku, dan aku pun melangkah pergi hendak meninggalkan kota pahit ini.


"Jakarta....Jakarta yok....langsung!" teriak salah satu kernet bis menawariku yang seketika menggoyahkan pikiran ku untuk menuju kesana.


Yah, akhirnya aku putuskan untuk pindah ke Jakarta. Dengan harapan, aku bisa mengais rejeki di sana untuk melangsungkan kehidupanku bersama anakku nanti, meski belum terpikir apa yang akan aku lakukan nanti.


Riuh suara gemuruh orang-orang dalam bis menemaniku yang tengah duduk di samping jendela menatap sendu dan terus menitikkan air mata nelangsa. Sembari sesekali mengusap janin yang ada dalam kandunganku, aku pun terus menguatkan hatiku.


"Pulo Gadung....Pulo Gadung habes....!!!" teriak suara kernet yang membangunkanku dari lelap tidurku dalam bis itu.

__ADS_1


Perlahan aku turun dengan kondisiku yang lemas. Beberapa tampak orang-orang yang berlalu lalang menatapku iba melihat seorang ibu hamil berpergian sendiri tanpa pendampingan itu.


Aku melangkah menuju sebuah kursi di sudut terminal itu untuk beristirahat sejenak. Kukunyah sebuah roti yang tadi sempat aku selipkan dalam tas rangselku untuk mengganjal perutku yang mulai memanggil karena kelaparan.


Aku amati aktivitas terminal yang mulai memadat seiringnya matahari mulai memanas pertanda hari semakin siang. Terbesit aku untuk menjadi pedagang asongan seperti baru saja sosok ibu-ibu membawa anak yang melintas di hadapannya itu menjajakan jualannya sembari menggendong anaknya yang masih kecil.


"Mungkin itu bisa aku contoh untuk menyambung hidupku sementara" gumamku.


Berbekal modal dari sisa uang gajiku, aku belikan beberapa makanan dan barang perlengkapan untuk mengasong. Sementara itu barang bawaanku aku titipkan di masjid sekitar dimana aku menginap sementara di sana, sembari aku menemukan tempat tinggal yang pas, dan murah tentunya, mengingat keuanganku yang tak memungkinkan.


Beberapa jam berlalu setelah berbolak-balik kesana-kemari belum ada satu pun yang membeli jualanku. Lemas tubuhku lunglai ditambah dahaga yang memuncak membuat aku harus berhenti sejenak duduk menepi di trotoar pinggiran jalan.


Perutku yang menegang pertanda kelelahan membuatku tak bisa lagi menggendong box asongan ini.


"Woi, elu maen embat aja wilayah gue!!!! sono kalo mau jualan jangan di sini, ini wilayah gue, elu cari sono wilayah laen, dasar emak bunting nggak jelas, udah bunting aja mau ngasong pula!" ketus salah seorang pedangan asongan yang bertubuh garang itu.


Aku yang tak kuasa melawan seorang lelaki yang perawakannya mirip dengan preman itu akhirnya memilih berlalu menuju masjid tempat aku menginap semalam. Kubersihkan diriku di dalam kamar mandi, dan segera aku lakukan sholat Duha di masjid itu.


Deraian air mata berbulir-bulir menemani lantunan puisi doaku saat itu. Rasa lemah yang aku rasakan membuat aku tak tahan lagi ingin menjerit dihadapan Allah Tuhanku yang telah lama aku lupakan dan bahkan aku hina dengan perbuatanku yang sungguh menjijikan dengan Deri di masa lalu.


Terus aku meminta ampunan padanya dan pertolongan untukku. Hanya itu yang bisa aku lakukan dan melegakan hatiku. Entah dengan siapa lagi aku harus mengadu, tak ada orang yang mau tau tentang aku. Beban seberat ini harus aku pikul seorang diri, seolah hanya air matalah temanku saat ini.

__ADS_1


"Eh mbk, kalo mau nginap jangan dimasjid, di hotel sono, nanti kalo kotor gimana? bikin nggak nyaman jemaah!" tegur seorang takmir masjid yang aku singgahi itu.


Tak lama aku pun bergegas melangkah keluar sembari mengusap air mataku yang sedari tadi tiada berhenti mengucur deras. Langkahku terus melaju, meski tak mengerti aku harus kemana dan dimana aku mencari tempat berteduh untuk aku tinggali.


__ADS_2