
Hari ini kedua mertuaku mulai berkemas hendak pulang kampung sore nanti selepas Deri pulang kerja. Seharusnya mereka masih ingin berlama-lama di rumah kami, hanya saja beberapa pemikiran yang beda antara kita rupanya membuat emak mertuaku tak betah denganku.
Entah mengapa emak begitu sikapnya padaku, padahal dulu saat baru-baru menikah ia begitu baik padaku. Awal mula ia mulai tak menyukaiku semenjak dirinya pernah meminjam uang untuk modal usaha di rumah.
Saat itu kondisi ekonomi kami belum cukup baik, Deri yang baru saja menjadi karyawan baru pun gajinya hanya cukup untuk makan dan kebutuhan hidup sehari-hari. Itu pun sangat pas-passan. Belum lagi kita masih harus bayar kontrakan dan biaya periksa kehamilan yang bagi kami cukup mahal dengan kondisi kami saat itu.
Tak jarang ibuku mengirimkanku uang untuk membantu biaya kehidupannku. Hal inilah yang membuatku keberatan saat mertuaku hendak meminjam uang pada kami. Karena itu aku tak menyutujuinya.
Saat itu mertuaku sedikit memaklumi akan hal itu. Namun mulai berbeda saat ia kembali akan meminjam uang pada kami untuk biaya masuk kuliah adiknya Deri. Saat itu memang aku pegang sedikit tabungan yang akan aku gunakan untuk biaya persalinanku nanti. Awal mulanya Deri mencoba membujukku untuk meperbolehkan uang itu dipinjamkan pada ibunya itu. Namun aku utarakan jika aku masih keberatan, sebab itulah satu-satunya tabungan kami untuk biaya persalinan nanti. Jika itu dipakai, maka nanti ibuku pasti yang akan membantu kami terus menerus, dan aku merasa malu.
Hampir semua kebutuhan kami sudah dicukupi oleh ibuku dan kakakku. Seperti mobil dan rumah, maka tak sampai hati bila biaya persalinan pun aku harus memintanya padanya. Sementara uang tabungan Deri sudah habis untuk usaha saat dulu kami belum menikah dan biaya pernikahan kami, serta biaya kehidupan kami sebelum ia bekerja di tempat yang sekarang.
Emak berpikir akulah yang telah menghabiskan uang Deri. Rumah dan mobil pemberian ibuku itu dia pikir adalah sebagian dari hasil uang Deri. Karena itu dia pikir aku ini hidup berfoya-foya dan banyak menutut Deri, sehingga Deri tak mampu lagi membantu keluarganya di kampung.
Semenjak itu emak mertuaku mulai tak suka padaku. Meski saat ini aku mulai bisa menyisihkan separuh lebih dari gaji Deri untuk biaya kuliah adiknya itu, tetap saja ia seperti sudah terlanjur membenciku. Padahal untuk memenuhi kehidupanku saat ini sebagian besar aku mengandalkan dari hasil bisnisku. Tapi emak sepertinya tidak mau tau akan hal itu. Ia tetap menganggap aku serakah, sudah terbiasa hidup dengan kondisi orang tua berada, jadi tak bisa menerima kehidupan dengan Deri yang sederhana.
"Mamak bapak pamit dulu.... Kamu jaga kesehatan...." ucap emak kepada Deri sebelum menaiki bis hendak berangkat ke Lampung.
"Iya mak, mamak sama bapak ati-ati....dan jangan lupa jaga kesehatan.... InsyaAllah nanti kalo ada libur kami sempatkan pulang kampung...." sahut Deri sembari memeluknya dan mencium tangan kedua orang tuanya.
"Bapak pamit ya nduk....semoga semua pada sehat...." ucap bapak padaku ketika aku mencium tangannya takzim.
"Njeh pak...." sahutku lembut.
"Kamu belajar jadi istri yang baik,..kalo dikasih tau orang tua jangan ngeyel, jangan sok pinter... biar gimana pun orang tua itu lebih pengalaman dari pada kamu...." kalimat emak saat aku meraih tangannya hendak aku cium tanda perpisahan.
"Iya mak...." sahutku singkat.
Disamping masalah uang, emak memang membenciku karena banyak hal yang tidak sependapat antara aku dengannya. Ditambah lagi ia tak suka dengan adanya Uwais yang ia pikir anak adopsi itu.
__ADS_1
Saat kami kabari bahwa kami telah mengadopsi Uwais, ia sungguh terkejut dan marah. Ia pikir ini karena aku yang pinta dan aku yang memaksa Deri untuk mengadopsi Uwais tanpa sepengetahuan mereka. Hal itulah yang membuat kami harus tetap sabar menghadapinya agar ia tak curiga dengan keadaan.
Tak lama itu bis yang ditumpangi mereka mulai berjalan meninggalkan kami. Lambaian tangan dari kaca jendela mengiringi kepergian mereka.
Aku pun lega dengan ini, sementar Deri tampak matanya berkaca-kaca merasa belum ingin berpisah dengan kedua orang tuanya itu.
Setelah bis menjauh, kami pun kembali ke rumah. Segera aku menidurkan Uwais dan Umar ke dalam box bayi masing-masing.
"Sayang...." ucap Deri sembari memelukku dari belakang.
"Kenapa sih?" sahutku pelan.
"Nggak papa....kangen aja...." ujar dirinya seperti menginginkan sesuatu.
"Kangen apa kangen...."sahutku meledek dan menebak apa yang ada dipikrannya.
"Aku tau kangen apa....pasti kangen itu kan??" tanyaku meledek.
"Kog kamu tau... hmmmm....pasti kamu juga pingin kan? hayo ngaku?" kalimatnya sembari mambalikkan badanku dan mencubit hidungku.
"Ih.... ya nanti dong kalo aku udah selesai nifasnya...." ujarku tersenyum melihat tingkahnya yang menahan konak.
"Iya....iya...,eh tapi kamu jangan lupa pakai KB ya setelah ini..."
"Iya sayang....itu aku udah beli pil kemarin disimpan di dalem lemari"
"Kamu mau pake pil? emang nanti nggak kelupaan?"
"InsyaAllah nggak sayang....nanti aku pake alarm biar nggak lupa.... Habisnya yang aku cocok cuma itu, yang laen takut gendut...."
__ADS_1
"Hahahah emang kalo kamu gendut kenapa?" serunya terbahak.
"Nanti kamu nggak cinta lagi sama aku gimana?" ujarku manja.
"Hehehe.... ya nggak lah sayang....mau kamu gendut, mau kurus, mau apalah, kalo udah jadi istri aku yang tetep cinta dong selamanya...."
"Mmmmm.....yakin????"
"Nggak percaya??"
"Mmmmm"
Tak lma ia menyambar kepalaku dan mencengkeram rambutku dengan lembut. Bibirnya segera mendarat pada bibirku dengan lumatan lembut.
Ia mulai mencumbuku seinci demi inci di setiap lekuk tubuhku. Meski tak kami tak bisa melakukannya saat itu, namun setidaknya ia sudah bisa mengobati kerinduannya dengan saling bercumbu.
Beberapa saat setelah kami menikmati nuansa romantis itu, Deri pun segera terlelap. Sementara aku masih terjaga sebab Uwais terbangun dan minta menyusu.
Selesai Uwais menyusu, Umar pun terbangun sebab popoknya basah karena pipisnya. Aku pun segera menggantinya dengan yang baru.
Lama aku mencoba menidurkannya dari bangunnya, sepertinya malah ia mengajakku begadang. Umar terlihat tak mau tidur meski beberapa kali aku mencoba menimang dan menepuk-tepuk pahanya lembut.
Sampai pada akhirnya ia aku sanding di atas tempat tidur sembari aku susui dengan mataku yang sudah sangat terkantuk-kantuk.
Lama aku menyusuinya, akhirnya dia pun terlelap. Disusul dengan aku yang akhirnya menidurkan diri, meskipun aku lihat jam hampir menunjukkan waktu subuh.
Sampai pada pukul 04.30 tepat adzan subuh, Deri pun terbangun hendak mempersiapkan Sholat Subuh. Ia menatapku yang masih terlelap tanpa terbangun meski ia mencoba menepuk pipiku beberapa kali.
Akhirnya dia pun beranjak dari tempat tidur tanpa menghiraukan aku yang tengah terlelap dengan wajah penuh lelah.
__ADS_1