
"Sayang lagi ngapain sih?? suaminya pulang kog nggak ada yang nyahut salam?" ujar Deri yang seketika menganggetkanku saat tengah mengingat jadwal pil KB yang sudah aku minum itu. Spontan aku letakan strip pil itu kembali di atas meja riasku.
"Owh....udah pulang ya? maaf aku nggak denger..." kataku sedikit terkejut.
"Hmmm...kamu lagi mikirin apa sih sampe aku dateng nggak denger?"
"Nggak lagi apa-apa kog..." sahutku yang seketika dihampiri oleh Uwais yang minta dibuatkan susu.
"Tadi pagi sarapan pakai apa jadinya?" tanyaku sembari membuatkan susu Uwais.
"Makan nasi goreng kambing yang diperempatan tugu..."
"Loh kog jauh banget....? kantor Abi kan bukan ke arah sana?" tanyaku heran.
"Ooooh...emmmmh tadi itu, kebetulan ditraktir bos, habis meeting semua diajak makan ke sana rame-rame" kalimatnya sedikit gugup dan tak lama meninggalkanku dengan alasan mandi.
Meski terlintas dalam benakku menaruh curiga padanya, tapi tak ada sedikit pun terlintas berpikir dirinya berbohong.
*****
Deri
Beberapa hari Lani terus menghubungi Deri. Baik lewat telepon, maupun chattingan. Deri yang seringkali ingin menghindar namun tak kuasa mencegahnya. Sebab Lani justru kerap kali mengirimkan masakan atau kue-kue buatannya untuk Deri ke kantor.
Disela-sela kesibukannya bekerja, ia selalu menyempatkan diri untuk memasak sesuatu untuk Deri. Pagi buta sebelum bekerja, ia sempatkan untuk membuat adonan kue, maupun masakan yang memang rasanya menggoda.
[Gimana Der kue yang aku kirim tadi pagi?] isi dari pesan hijau yang tak lain dari Lani kepada Deri setelah ia mengantarkan kue bikinannya itu menggunakan jasa gosend.
[Iya enak...kamu memang dari dulu jago masak....makasih ya...] jawab Deri menanggapinya.
__ADS_1
Jurus yang dilalukan Lani ternyata makin lama membuat benteng pertahanan kesetiaannya pada Bunga mulai luntur. Sesekali mereka pun membuat janji untuk bertemu selelpas bekerja.
Beberapa kali mereka makan bersama di sebuah cafe membuat hubungan mereka semakin akrab. Deri pun terbuai dengan kisah cinta masa lalunya.
Yah....kisah cinta yang pernah ia impikan dahulu sebelum bertemu dengan Bunga, seolah kini mulai menyapa dan sejenak melupakan adanya Bunga dan anak-anaknya dalam kehidupannya.
Tak jarang kini dirinya semakin terlihat sibuk. Awal saat bekerja dulu ia selalu pulang tepat jam 5 sore, kini bisa sampai malam hari dirinya baru pulang.
"Sayang....kog kamu sekarang jarang makan di rumah? akhir-akhir ini kalo aku masakin kamu juga makannya sedikit banget? emang masakkanku sekarang nggak enak ya?" kalimatku suatu ketika menyapanya saat dirinya baru saja pulang menjelang larut malam.
"Kamu kan tau aku sibuk banget sayang...akhir-akhir ini kerjaan di kantor padet, ya akhirnya aku jadi sering jajan..." sahutnya sembari melepaskan pakaiannya hendak mandi.
"Owh....apa besok aku siapkan bekal aja dari rumah?"
"Nggak usah sayang....nanti kamu malah repot, kan kamu harus urus Uwais sama Umar..." ujarnya sembari menuju kamar mandi.
"Iya tapi biar kita hemat kan....?" kataku yang tak dihiraukannya sebab dirinya langsung masuk ke kamar mandi itu.
Kulihat gawai Deri tergeletak di atas kasur. Seketika aku mencoba mengeceknya untuk menghilangkan rasa penasaran yang ada dibenakku. Namun sayang, gawainya terkunci, pun kode yang bisanya ia pakai sudah ia ganti. Aku pun tak bisa melihat apapun dalam poselnya itu.
"Hufh..." aku menghela nafas penjang menghilangkan kecewaku.
Entah mengapa hari-hariku mulai mengalami perasaan yang tak enak. Perasaan yang seolah membuatku selalu ingin melamun. Ingin rasanya aku tepis rasa itu, tapi entah mengapa hatiku seolah sedang berkecambuk yang entah itu karena apa.
Hingga suatu malam, saat Deri mengantar Lani ke kostnya, hujan tiba-tiba mengguyur begitu deras. Kilat sambar dan angin kencang pun menari-nari kala itu.
"Kamu masuk ke kost aku aja dulu, nanti tunggu ujannya agak reda baru kamu pulang, biar nggak bahaya pas nanti nyetir..." ujar Lani menawarkan Deri untuk masuk ke dalam kamar kostnya itu.
"Aduh...tapi aku takut...kita kan bukan mahram, masak iya mau di dalam kamar berduaan?" ujar Deri mencoba mengelak.
__ADS_1
"Ya dari pada dipaksain kamu pulang hujan gelap gini, aku kan kuatir Deri...." ujar Lani membujuk.
"Eh Deri....lagi anter adeknya?" sapa teman sekantor Deri yang waktu itu membantu mencari kost untuk Lani itu. Ia tampak sedang memberskan jemuran yang terkena tampias hujan deras itu.
"Iya..." sahut Deri gugup.
"Masuk ke dalam aja atuh....ujannya gede banget gitu...." ujar dirinya yang melihat tampias hujan semakin besar di depan gerbang kost miliknya itu.
"Tuh kan.... yuk masuk aja...." ajak Lani yang akhirnya mau tak mau Deri mengiyakan ajakannya itu.
Malam yang mulai sunyi, hanya suara gemuruh derasnya hujan dan angin membuat seluruh penghuni kost berada dalam kamar masing-masing.
Deri yang jantungnya berdegup kencang merasakan berduaan di dalam kamar bersama gadis pujaannya itu pun sedang beradu hasrat. Suasana yang dingin, ditambah hujan deras, melengkapi rayuan setan yang terus menggodanya untuk melakukan sesuatu laknat bersama Lani pada malam itu.
Tak lengah dengan situasi itu, Lani pun terus menggodanya. Mulai dari duduk disampingnya dengan manja, hingga merapatkan tubuhnya tanpa jarak itu. Kepalanya yang ia sandarkan pada bahunya membuat naluri lelakinya Deri semakin meronta penuh dengan kotoran hitam.
Beberapa saat mereka saling tatap. Hingga akhirnya Deri pun melanyangkan ciuman mesra pada sang Lani yang telah pasrah padanya malam itu. ******* ciuman bibir yang mereka lakukan telah membutakan mata batin mereka bahwa mereka berdua telah saling berumah tangga.
Rabaan demi rabaan menjijihkan itu mereka lakukan dengan penuh hawa nafsu hingga terlucuti sebagian dari pakaian bagian atas mereka.
"Hehhh...." desh nafas Deri yang spontan melepaskan ciuman mesra mereka.
"Maaf Lani, aku nggak bisa lanjutkan ini..." ujar Deri sembari merapikan kembali kemejanya yang tanpa sadar telah ia lepaskan tadi.
"Kenapa sayang?? bukannya kamu dari dulu mencintaiku....??" sahut Lani yang masih terus menggodanya.
Diambilnya oleh Deri baju Lani yang bercecer di sebelahnya itu dan di segera ditutupkan pada tubuhnya yang setengah telanjang itu.
"Aku memang cinta sama kamu, tapi aku nggak mau nanggung dosa berzinah.... Aku pamit dulu...." kalimatnya sembari bergegas menuju pintu kamar itu.
__ADS_1
"Deri.... aku mau kamu nikahin aku.... pliss... demi cinta kita...." rayu Lani sembari meraih tangannya sebelum Deri pergi.