Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Deri telah melakukan itu padaku


__ADS_3

Dua bulan semenjak aku menjalin cinta dengan Deri, kini aku dan dia pun semakin intens bertemu. Hampir semua waktuku habis bersamanya di luar jam kerjaku.


Jauh dari kehidupan keluarga membuat aku dan Deri tak nada sekat untuk tak saling sungkan membebaskan diri hidup bersama layaknya sudah bersuami istri. Tak jarang Deri pun menginap di kontrakkanku lantaran sudah terlalu larut hendak pulang ke kontrakkanya yang jaraknya nanggung itu. Begitu pun sebaliknya, aku sendiri sering menginap di kontrakkannya bila kami terlanjur pulang malam selepas nonton atau pergi jalan berdua.


Sebenarnya aku sedikit khawatir Deri akan melakukan hal yang tak seharusnya ia lakukan padaku, mengingat kita belum menikah, namun aku sangat percaya padanya ia tak mungkin menodai aku, sebab perangainya begitu baik padaku.


"Deri, apa rencana kamu nanti jika kita menikah?" tanyaku yang tidur diatas pangkuannya.


"Hmm, kog kamu jerawatan sih, nih" sembari Deri menunjukkan sebuah jerawat yang tumbuh di daguku itu.


"Ih, biarin ah, mungkin jerawat bulanan" jawabku seketika.


"Kog kamu nggak jawab pertanyaanku tadi sih?" tanyaku sedikit aneh, kenapa sudah dua bulan bersamanya tak sedikit pun ia bahas rencana pernikahan padaku seperti dulu ia jelaskan untuk meyakinkanku bahwa dirinya tak ingin lagi berlama-lama pacaran sebab umurku kita sudah saling dewasa dan ingin segera menikah.


"Emang harus bahas sekarang ya?" tanya dia sembari membelai rambutku dengan kelembutan dan penuh rayuan seolah ia memberi kode untuk tidak membahas hal ini dulu.


"Ya kan aku tanya, karena kan dulu kamu pernah bilang nggak mau lama-lama....." ujarku belum selesai ia segera mengecup bibirku singkat agar aku segera menyudahi bahasan itu.


Seketika aku yang kaget bangun dari pangkuannya dan mengusap bibirku yang basah karen kecupannya itu. Aku yang malu pun segera lari ke dalam kamar dan menutup pintu kamarku rapat-rapat dan membiarkan tanpa mempedulikan Deri yang sendirian di ruang tivi. Tak lama dari itu pun Deri pergi untuk berangkat kerja.


Aktivitas hari-hariku dengan Deri kembali seperti waktu dulu, dimana aku masak bersama dengannya. Terkadang ia pun ia yang masak untukku jika aku belum pulang dari kerja. Ia pun memegang kunci pintu kontrakkanku seperti dulu, dan menganggap sudah seperti kontrakkannya sendiri tanpa beda dengan miliknya. Keromantisan-keromantisan pun terjalin di setiap hariku bersamanya, sebab perangai Deri memang sungguh pandai merayu hati sang perempuan, baik dari tutur kata, maupun sentuhan lembutnya padaku.


Tak jarang ia meniup leherku dari belakang yang seketika membuatku kegelian saat aku sedang memasak di dapur mengenakan tangtop seksiku yang sedikit memperlihatkan belahan dadaku padanya.


Ia tak keberatan aku mengenakan pakaian itu, selagi aku tak keluar dari rumah kontrakakkanku yang membuat terlihat banyak orang tak membuatnya keberatan. Meski terkadang terlihat ia menelan ludah karena merasa tergoda olehku. Namun lama-lama ia terbiasa dengan itu.

__ADS_1


Hari itu kami berdua mendapatkan hari libur dengan jadwal sama. Tak lengah kami gunakan untuk berwisata berdua mengunjungi tempat-tempat dimana aku belum pernah mengunjungi sebelumnya. Semenjak aku menjalin hubungan dengan Deri, ia selalu mengajakku kekiling Kota Bandung yang membuat hatiku begitu bahagia.


Seharian telah berkeliling kota, akhirnya kami pun pulang. Namun kali ini Deri tak langsung mengantar ke kontrakkanku, tiba-tiba ia merasakan sakit pada perutnya sebab tadi sempat makan bakso dan kebanyakan sambel. Akhirnya karena tak tahan lantas ia menghentikkan motornya di kontrakkannya yang kebetulan kita lewati terlebih dahulu.


Menunggunya yang buang air cukup lama membuat aku tertidur di atas kasur miliknya itu, sebab seharian keliling bersamanya membuat aku cukup lelah. Tak terasa hujan deras mengguyur seketika yang membuat aku terbangun dari tidurku. Kulihat tampak Deri sedang asik menonton TV yang seketika melihatku bangun dari tidurku itu.


"Kamu bangun?" tanya dirinya mengalihkan pandangannya dari TV kepadaku.


"Iya, yah tapi hujan ya? jadi gimana aku pulang? nanti basah dong?" tanyaku sembari membuka selimut yang rupanya Deri kenakan untukku saat aku tertidur tadi.


"Ya udah kamu pulang besok pagi aja, bobok lagi aja ya". Ujar dirinya sembari kembali menonton TV.


Aku yang sedikit gelisah harus tidur satu kamar dengan Deri hanya bisa percaya bahwa ia tak akan berbuat apa-apa padaku. Berbeda dengan kontrakkanku, meski bersama, Deri selalu tidur di ruang TV yang jelas berbeda ruangan dengan kamar tidurku.


Kontrakkan Deri memang lebih tepatnya disebut kost-kostan. Ukurannya yang hanya 3x3 meter itu hanya dilengkapi sebuah kamar mandi kecil di dalam yang cukup sempit itu. Oleh karena itu, jika memasak ia lebih senang di kontrakkanku.


Dalam lelapku, terasa sebuah tangan menggerayangi tubuhku. Seketika aku terbangun dan benar saja, aku mendapati Deri tengah berada disampingku yang nyaris mendekapku dengan sehelai pakaian dalam saja.


"Deri!!!" teriakku sembari menutup wajahku yang tak sanggup melihatnya telanjang begitu.


Ia tak bergeming malah terus meraih tanganku yang menutupi wajahnya dan berusaha merobohkan tubuhku di atas tempat tidurnya itu. Rasa cemas dan tegang dihatiku bercampur baur saat itu. Ingin rasanya aku berteriak minta tolong pada orang-orang sekitar, namun apalah daya, suara hujan sepertinya akan menutup suaraku yang tak mampu menembusnya dengan percuma.


Aku pun meronta segenap jiwa aku melawan dirinya agar tak lagi menyentuh tubuhku. Aku berhasil dan segera berlari ke arah pintu, namun sayang pintunya telah terkunci dan sepertinya Deri memang telah menyiapkan rencana ini. Tak kusangka Deri akan lakukan ini padaku, perangainya yang lembut dan aku percaya padanya mungkin pun bisa terkhilaf karena hawa nafsu manusia setiap laki-laki pada wanitanya yang disukainya.


"Deri..... tolong jangan lakukan itu sama aku, pliss....tolong....kita belum menikah, besok kalo udah nikah kamu bisa lakukan sepuasnya sama aku, tapi tolong jangan sekarang, aku mohon". Pintaku pada Deri yang sedikit melunak.

__ADS_1


"Iya, oke, kamu sini dulu sayang, jangan takut kayak gitu sama aku dong, emangnya aku ini penjahat?". Ujar dirinya mencoba mencairkan suasana yang sempat menegang.


Aku yang mencoba mempercayainya membiarkan ia mendekatiku yang sejak tadi berdiri di depan pintu dengan cemas. Dibelainya wajahku dengan lembut, sembari mendaratkan kecupan lembut di keningku.


"Sayang, kamu nggak cinta sama aku?" tanya dia sambari terus membelai pipiku seolah sedang merayuku.


Aku pun hanya diam tanpa kata sembari memandang wajahnya yang menurutku penuh dengan hawa nafsu. Sulit untuk menentukkan aku berteriak minta tolong, sebab jika sampai Deri dihakimi masa, maka aku pun tak rela kehilangan orang yang aku cintai, meski terlihat diriku bodoh.


"Aku sayang banget sama kamu, aku pingin nikahin kamu, kemaren kamu sempet tanya kan kapan rencana pernikahan kita? sekarang aku bakal jelaskan sama kamu. Besok aku akan mengajukan resign dari tempat kerjaku. Aku ingin pulang dan membangun usaha di rumah agar bisa dekat dengan kedua orang tuaku. Uang pesangon yang nanti aku dapet dari perusahaan aku akan aku bagi dua, separo buat biaya kita nikah separonya buat aku bangun usaha". Jelas dia meyakinkanku yang akhirnya membuyarkan perasaan cemasku seketika.


"Lantas aku sekarang gimana?" tanyaku sembari merapikan rambutku yang tadi sempat acak-acakkan.


"Sementara kamu tinggal di sini dulu tunggu kabar dari aku yang bakal pulang minta ijin sama kedua orang tua aku buat nikahin kamu". Ujarnya lagi sembari memegang pundakku.


"Apa kamu yakin orang tuamu akan setuju?" tanyaku cemas.


"Kamu percayakan sama aku, bahwa aku akan memperjuangkan kamu, aku yakin bisa, asal kamu percaya sama aku, gimana? apa kamu sekarang percaya?" tanya dirinya meyakinkan aku.


"Iya aku percaya sama kamu, makasih kamu mau memperjuangkan aku" ujarku sembari tersenyum.


"Kalo percaya, kenapa tadi aku kamu tolak dan melawan sayang?" tanya dirinya sembari membelaiku lagi, terus merayuku hingga aku terbuai.


"Maksud kamu apa?" tanya dia heran.


Seketika ia membopong tubuhku yang tak bisa berkutik menolaknya. Segera ia rebahkan aku di atas kasurnya yang tampak segera menerkamku. Aku yang meluluh merasa tak tega menolak keinginannya itu. Terlebih aku sangat mencintainya dan berusaha ingin selalu membahagiakanya.

__ADS_1


Statusku yang janda, membuatku tak ada beban untuk menyerahkan tubuhku padanya. Yang aku tau saat itu pun merindukan belaian seperti ini yang lama aku tak merasakan dari Bagas, dan kini benar-benar Deri membuatku melupakan segenap status kami yang belum menikah.


Meski awalnya malu dan berat, namun akhirnya aku pun menikmati seperti tak ada beban lagi. Yang ada hanyalah aku yang sedang di mabuk cinta bersama Deri menikmati malam laknat itu hingga pagi menjelang dan berulang seperi tanpa beban.


__ADS_2