Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Sidang Ke II


__ADS_3

Hari ini aku berangkat ke tempat persidangan bersama kedua anak-anakku dan ibuku yang akan jadi saksi di persidangan nanti.


"Umi... Kita mau jalan-jalan ya??" ucap Uwais yang tengah bersiap menaiki mobil.


"Bukan sayang, kita akan ketemu sama abi, mbah uti sama mbah kakung..."


"Tapi Uwais nggak mau ketemu sama mbah uti umi...." ujar Uwais dengan suara melemah dan wajah yang menunduk.


"Loh... Memangnya kenapa? Mbah Uti kan sama kayak nenek juga..."


"Iya tapi Mbah Uti nggak sayang sama Uwais... Mbah Uti cuma sayang sama Umar..." kalimatnya dengan nada penuh manja dan memelas.


"Bukan begitu nak... Mbah Uti sayang sama Uwasi kog... Apalagi Mbah kakung..." ujarku mencoba menenangkan dirinya.


"Nggak...!!! Yang sayang sama Uwais cuma Mbah Kakung, kalo Mbah Uti nggak...!!" sahutannya dengan nada kesal.


"Ehh ada apa ini....?? Ayok berangkat..." ucap ibuku yang baru saja memasuki mobilku.


"Nggak bu, biasa Uwais..." sahutku datar yang kemudian menyalakan mesin mobilku dan melajukannya dengan kecepatan sedang.


"Ibu sebetulnya berat nak kalo kalian harus bercerai.... Kakakmu juga berharap kalian bisa bersatu lagi..." ujar ibu dalam perjalanan kami.


"Huftt...." Sesaat aku menghela nafas panjang.


Aku hanya terdiam tak mau menjawab kalimat ibuku. Wajar bila kakakku dan ibuku bersikap seperti itu, sebab mereka tidak tau secara detail permasalahanku dengan Deri. Aku tak banyak menceritakan bahwa Deri telah berselingkuh dengan Lani yang aku pergoki dalam kamar kost itu. Yang mereka tau, aku salah paham dan asal menuduh Deri berselingkuh dengan seorang wanita teman lamanya dulu.


Memang benar aku tak menceritakan sejujurnya masalah Deri. Apalagi soal video perselingkuhan itu yang aku simpan rapat-rapat. Aku menyimpannya dan tak ingin siapapun tau masalah ini. Sebab aku tak mau aib seorang bapak dari anak-anakku kelak akan tercemar dan melukai perasaan anak-anakku kelak.


Beberapa jam kemudian sampailah aku di lokasi persidangan itu. Tampak Deri dan kedua mertuaku telah hadir terlebih dahulu. Mereka semua sedang duduk di kursi penunggu tepat di depan ruangan sidang nanti.


"Abi....!!!" teriak Uwais yang baru saja turun dari mobilnya.


Spontan Deri mendekat ke arah kami dan memberikan pelukan hangat pada Uwais.


"Bunga, ibu mampir ke kantor ibu yang dulu, mau temu kangen sama teman-teman ibu yang lama, nanti kalo sidang sudah mau dimulai kamu telepon ibu ya..." ujar ibuku memohon pamit untuk menemui rekan-rekan kerjanya di kantor tempat ia bekerja dahulu yang tak jauh dari gedung tempat persidangan.


"Iya bu..." jawabku yang tengah menurunkan Umar dari gendonganku dan menatihnya berjalan.


"Kita ajak anak-anak main ke taman depan yuk, sambil menunggu sidang di mulai..." ucap Deri menghampiriku.


Aku mengangguk tanda setuju. Kami pun berjalan menuju taman yang tepat berada di depan gedung itu. Deri duduk di sampingku dengan memangku Umar sembari bercengkerama dengannya.


Sesekali ia menatap wajahku dengan raut wajah yang sungguh tak ingin kehilangan diriku. Uwais begitu gembira dengan kebersamaan ini. Kebersamaan yang selalu ia nantikan di setiap hari-harinya.


"Aku mohon selepas kita berpisah kamu menikahlah... Aku berharap kelak akan ada laki-laki yang senantiasa menjagamu dengan baik..." ucap Dirinya sambil mengawasi kedua anakku yang tengah main di halaman berumput indah itu.


"Soal itu biar aku yang memutuskan nantinya... Yang pasti, kamu harus berjanji padaku, tak akan pernah menyakiti wanitamu lagi kelak..." balasku dengan kalimat datar.


"Kamu wanita terakhir yang aku sakiti dan akan aku cintai selamanya...."

__ADS_1


Aku hanya terdiam mendengar ucapannya. Sebisa mungkin aku mendamaikan hatiku agar keputusanku tak bergoyah, meski aku tau dia masih sangat menginginkanku.


Tak lama datanglah emak mertuaku menghampiri kami. Wajahnya tampak sinis mengarah kami berdua.


"Umi...." Seketika Uwais lari mendekapku seolah dirinya merasa takut atas kedatangan embahnya itu.


"Mak..." sapaku yang kemudian mendekatinya bermaksud memberikan salam penghormatan kepadanya. Namun ia menepis uluran tanganku dengan sorot manatanya yang tajam.


"Kurang ajar ya kamu.... Beraninya menggugat anakku... Istri macam apa kamu, tidak tau diuntung... Sudah bagus Deri dulu mau menikahi janda sepertimu, sekarang malah kamu bertingkah pula... Pantes sama yang dulu juga bermasalah, sekarang pun sama Deri bermasalah..." Kalimatnya dengan nada sinis.


"Mak... Bunga nggak salah... Emak kalo nggak tau apa-apa jangan asak menuduh begitu..." ucap Deri seraya mencoba mengajak emaknya kembali ke ruang tunggu di gedung itu.


Aku hanya terdiam tak bia berkata apapun. Uwais yang mendekapku semakin aku peluk erat.


"Umi... Sudah Uwais bilang kan kalo Mbah Uti itu jahat.... Umi sih nggak percaya... Makanya Uwais takut sama Mbah Uti..." ucap Uwais yang seolah jiwanya mulai tergoncang.


"Uwais nggak boleh bicara seperti itu ya nak... Mbah Uti bukan jahat sama kita... Mbah Uti tandanya perhatian sama kita..."


Beberapa saat kemudian Deri kembali mendatangiku.


"Sebentar lagi giliran kita masuk..." kalimatnya memberiku kabar.


"Baik, aku telepon ibuku dulu..." sahutku yang kemudian menelepon ibuku agar segera kembali ke tempat kami semula.


Tampak Deri menggendong Umar yang tengah asik bermain itu.


"Sebelum perpisahan kita terjadi... Aku mohon untuk memeluk kalian semua, sebelum aku tak lagi bisa menyentuhmu... Aku mohon mendekatlah..." pinta Deri padaku.


Deri mengulurkan tangannya untuk menggantikanku menggendong Umar. Sementara dirinya kemudian menggendong Uwais.


Seketika dirinya merapatkan tubuhnya ke arahku hingga kami saling mendekap satu sama lain. Deru nafas kami saling beradu di sana. Isak tangis kami saling beriring diantara pelukkan hangat kami.


"Umi sama Abi kenapa menangis??" ucap Uwais diantara pelukan kami.


"Umi sedih karena sebentar lagi abi akan lama nggak ketemu kita..."


"Memangnya abi nggak bisa ya ketemu sama Uwais terus... Uwais pingin kita begini aja terus... Uwais nggak mau umi lepaskan pelukan abi...Uwais mau begini aja...." rengekan Uwais yang membuat isak tangis kami semakin menderu.


Seketika ibuku tampak tengah berdiri di depan halaman menatap kami dengan pandangan berkaca-kaca. Pemandangan yang ada di hadapannya itu membuat dirinya semakin tak rela dengan perpisahan ini.


Aku mencoba perlahan melepaskan pelukan itu. Meski beberapa kali Uwais merengek enggan lepas dari dekapan kami itu.


Aku berusaha kembali menata hatiku agar tetap tegar menantikan sebuhah putusan hakim yang dalam hitungan menit akan merubah statusku.


Perlahan kami mencoba melangkah menuju gedung itu dengan saling menghela nafas panjang. Wajah pucat tampak pada Deri saat itu. Langkahnya sungguh gemetar dan mengucurkan keringat dingin yang saling beradu dengan kegundahan hatinya.


"Bapak Deri, benarkah atas tuduhan ibu Bunga bahwa anda telah berselingkuh dengan wanita lain??" tanya sang hakim dalam ruang persidangan.


Namun Deri hanya tampak terdiam dan menundukkan wajahnya tanpa sepatah kata pun ia ucapkan.

__ADS_1


"Anak saya tidak mungkin berselingkuh pak ini hanya akal-akalan menantuku saja..." kalimat Ibu mertuaku mulai menghujam jiwaku.


"Ibu, maaf kami tidak sedang berbicara dengan ibu...! Bapak Deri tolong jawab pertanyaan kami..." ucap kembali sang hakim.


Deri masih terdiam tak menjawab.


"Baik, ibu Bunga, bisakah anda membuktikan gugatan anda? Adakah saksi yang bisa membuktikan atas tuduhan anda?" kalimat hakim menuju padaku.


"Saya membawa ibu saya, tapi beliau sedang di luar menjaga anak saya, kalau boleh secara bergantian untuk bisa mengikuti persidangan ini.." ucapku yang berusaha tegar.


"Kalau begitu, adakah barang bukti lain selain dari pada saksi?"


Sejenak aku terdiam tak ingin menjawab. Namun hatiku bergejolak, apalagi dengan sikap mertuaku yang selalu menuduhku.


"Ada pak hakim, saya membawa sebuah barang bukti..." ucapku sembari mengeluarkan sesuatu dari dalam tasku. Aku sodorkan benda yang membuat wajah Deri tampak terkejut dan semakin memucat.


"Bapak Deri, benarkah ini milik bapak dan perempuan itu?" Tanya hakim sembari memperlihatkan sepasang celana dalam yang dahulu pernah aku sita dari kost Lani.


Lagi-lagi Deri hanya diam tak mampu menjawab.


"Nggak mungkin pak, anak saya anak baik-baik, itu pasti bukan milik Deri...!" seruan ibu mertuaku lagi.


"Ibu, sekali lagi ibu membuat gaduh, akan saya keluarkan ibu dari ruangan ini...!!" ancam pak hakim.


"Ibu Bunga, adakah bukti lain selain pakaian dalam?" tanya kembali sang hakim menatapku tajam.


Aku menghela nafas panjang seraya menelan ludahku. Dalam hati sejujurnya aku tak rela mempertontonkan hal ini. Namun kebetulan karena ibuku tak berada di tempat, maka aku beranikan untuk menyodorkan ponselku untuk disambungkan pada layar dihadapan kami untuk bisa menyaksikan isi video itu.


"Ini pak..." ucapku sembari menyodorkan ponselku dengan langkah perlahan dan gemetar.


Tampak raut wajah Deri makin gelisah. Kakinya yang menopang tubuhnya mulai gemetar bersamaan dengan keringat dinginnya yang bercucuran.


Seketika video itu diperlihatkan pada kami semua yang berada di dalam ruangan itu. Wajah Deri dan Lani terpampang jelas di sana. Tampak raut wajah kedua mertuaku tersipu malu. Wajahnya kelimpungan menyaksikan video itu.


Tak lama dari selesainya menyaksikan video itu, akhirnya sang hakim telah memutuskan perkara kami.


"Tuk...Tuk..." Suara ketukan palu pertanda telah usai sidang perceraian kami, dan kami dinyatakan telah resmi bercerai.


Raut wajah kesedihan sangat jelas pada Deri. Sementara aku merasakan lega, meski dalam hatiku sangat merintih atas perpisahan ini. Namun sekuat tenaga aku mencoba menyembunyikan hal ini.


Deri tampak berlutut di depan meja hijau itu dengan isak tangis yang penuh penyesalan.


Kini aku tak lagi menghiraukannya. Kakiku melangkah keluar ruang sidang itu perlahan.


"Aku yakin Deri berselingkuh pasti karena ulahmu juga yang nggak becus mengurus suami....!!" seruan ibu mertuaku dengan langkah mencoba mendahuluiku. Kalimatnya terlihat hanya untuk menutupi rasa malu atas tuduhannya padaku selama ini.


"Abi....Abi....!!!" Teriakan Uwais dari jendela kaca mobil dengan tangisannya yang tiada henti mengiringi perpisahan kami.


Wajah Deri yang terisak pun menatap kepergian mobil yang kami tumpangi dan terus melaju meninggalkan dirinya dan kedua mantan mertuaku.

__ADS_1


Selamat tinggal suamiku.... Cintamu yang membawa luka, akan aku simpan seumur hidupku, bersama tumbuhnya anak-anak kita kelak.... Gumamku dengan mata yang mulai berair, menutupi pandanganku yang tengah menyetir.


__ADS_2