
"Der, gua langsung balik..." ucap Ferdi selepas mengantar Deri di depan rumahku. Tampak ia melaimbaikan tangan dengan pandangannya yang tajam seolah sedang menyampaikan semangat untuk Deri.
Melihat Uwais yang berlari ke arahnya, segera ia dekap dalam pelukan hangat. Mereka berdua saling melepas rindunya yang teramat berat. Tak lupa ia menghujam beberapa ciuman hangat pada putra sulungnya itu.
Sementara Umar yang sudah mulai berjalan tertatih pun turut lekas menghampiri dirinya. Mereka bertiga saling berpeluk melampiaskan kerinduannya dan salinh bercengkerama dengan candaan manja.
"Gimana keadaan kamu?" sapa dirinya yang seketika menatapku saat tengah berdiri di depan pintu dengan tatapan yang nanar.
"Alhamdulillah sudah membaik..." ucapku dengan nada datar.
"Maafkan aku... Karena aku kalian jadi tak ada yang menjaga setiap waktu..." ucapnya sembari menahan isak.
"Kamu nggak usah khawatir, ada Allah yang setiap saat menjaga kami..." jawabku dengan nada santai.
"Boleh aku melihat bayiku?" tanya dirinya dengan wajah penasaran dan penuh harap.
"Sebentar, aku ke kamar dulu..." ucapku yang segera melangkah ke dalam kamarku untuk mengambil bayiku yang sedang terlelap.
Tak lama dari itu aku segera keluar dari kamarku dengan menggendong bayiku. Deri menatap kami dengan pandangan haru. Matanya berkaca-kaca menatap bayi cantik nan mungil itu.
"Boleh aku menggendongnya?" ucap dirinya seraya mengulurkan tangannya padaku.
"Silahkan" sahutku sembari mengulurkan bayiku dari tanganku ke arah tangannya.
"Shanum....Hiks...Hiks..." ucapnya dengan nada terisak dan menghujam beberapa ciuman hangat untuk sang bayi.
"Maafkan abi nak... Maafkan abi yang tak bisa menjagamu saat hadir ke dunia..." ucapnya sembari menimang-nimang tubuhnya perlahan.
"Duduklah... Mau aku buatkan kopi?" tawaranku padanya untuk menghilangkan rasa lelahnya selepas perjalanan jauh.
"Tidak, biar aku aja yang buat sendiri nanti, kamu istirahat aja...." ujar dirinya menolak.
"Bukannya kamu yang capek baru aja perjalanan?"
"Tapi kamu lebih capek dari sekedar perjalanan bukan?? kamu melahirkan seorang diri, dan kini kamu harus mengurus ketiga anakku seorang diri... Betapa egoisnya aku kalau sampai nggak paham rasa lelahmu..." kalimatnya menunjukan perhatiannya padaku.
__ADS_1
"Baik, terserah kamu aja..." ucapku yang kemudian berlalu menuju kamarku dan membiarkan ketiga anakku bermain bersama ayah kandungnya itu.
Terdengar suara riang dari Uwais dan Umar yang saling bercanda penuh kegembiraan. Tak sedikit pun aku ingin bergabung bersama mereka, mengingat kini diriku tak lagi ada hubungan apapun dengan Deri.
"Umi...Umi... Umi dipanggil sama abi...!" seruan Uwais padaku selepas beberapa menit mereka bermain.
Segera aku keluar dari kamarku dan melangkah ke arah mereka.
"Aku minta ijin bawa pulang Uwais dan Umar ke rumahku... Biar mereka aku yang urus sementara sampai kondisimu membaik.." ujar Deri padaku dengan penuh harap.
"Silahkan, asal mereka mau dan betah tinggal di rumahmu aku tak keberatan..."
"Uwais mau ikut abi ke rumah Mbah Uti?" tanyaku menawarkan pada anak sulungku yang tengah berdiri di hadapanku dan memperhatikan obrolan kami sejak tadi.
"Uwais nggak mau umi... Uwais takut sama Mbah Uti... Uwais pinginnya abi aja yang tinggal di sini sama kita, biar kita bisa main terus sama dedek Shanum juga kayak tadi..." ucapnya dengan nada manja.
Seketika aku menghela nafas panjangku.
"Kamu denger sendiri kan?" tanyaku pada Deri yang tampak raut wajahnya kecewa.
Namun sanga Uwais hanya terdiam menundukkan kepalanya. Aku yang menatapnya tak sampai hati bila harus ikut merayunya, sebab aku tau akan perlakuan emak mertuaku padanya tentu akan melukainya perasaannya nanti.
"Ya udah, kalo Uwais nggak mau ikut, abi ajak Umar aja ya...?" ujar Deri mengambil pilihan.
"Tapi nanti Uwais nggak ada temen main loh bi... Kenapa sih nggak abi aja yang tinggal di sini?" rengekannya dengan wajah penuh harap.
"Uwais sayang... Kan umi udah sering jelaskan, abi nggak bisa tinggal lagi sama umi... Abi cuma bisa tinggal sama kalian aja, tapi enggak sama umi..." ucapku mencoba menjelaskan agar ia mengerti.
Tampak wajahnya ditekuk penuh rasa kecewa yang mendalam. Ia terdiam dan tak mau lagi berkata.
"Bukannya aku melarang, tapi sebaiknya biar anak-anak di sini aja... Mungkin nanti kalau sudah dewasa mereka akan mau kamu ajak kemana pun..." ujarku pada Deri.
Ia pun tampak terdiam dengan wajah bingung tak tau lagi harus berkata apa.
"Lagi pula memangnya kamu nggak balik lagi ke Jakarta? atau kamu lama liburnya?" tanyaku yang mulai penasaran.
__ADS_1
"Aaaku udah nggak kerja lagi..."
Dahiku mengernyit pertanda heran. Namun aku tak banyak kata padanya. Aku menatap dirinya yang wajahnya tampak risau dan gelimpungan.
"Maaf, bila nanti mungkin aku belum bisa kasih nafkah buat anak-anak... Tapi aku akan berusaha sebisaku..." kalimatnya mencoba meyakinkanku.
"Owh...." sahutku dengan lirikan tajam ke arahnya.
Memangnya selama ini kamu kasih uang berapa untuk anak-anak? Bukankah jatahnya selalu kurang dan harus aku yang menyukupi kebutuhan mereka?? Hmmmm.... Gumamku dalam hati yang beberapa kali menggerakkan kedua alisku naik dan turun.
"Ya sudah, aku mohon pamit dulu...Besok aku ke sini lagi..." ucap Deri yang telah memesan ojeg online dari aplikasi gawainya itu.
"Baik...." sahutku singkat.
"abi pulang dulu ya nak... Besok ke sini lagi..." ucapnya pada Uwais dan Umar sembari mengusap wajah mereka, tak lupa pun pada baby Shanum.
"Iya abi, tapi abi jangan lama-lama ya perginya, Uwais pingin abi ke sini terus...." ujar Uwais merengek.
"Iya sayang.... Abi janji akan sering-sering datang ke sini, lebih sering dari pada dulu..." ucapnya meyakinkan.
"Hore...!!" ujar Uwais yang girang mendengar kabar itu.
"Abi pamit ya, Assalamu'alaikum?" ucap dirinya yangs segera menghampiri ojeg online yang sudah ia pesan dan menunggu di depan gerbang rumahku.
"Walaikumsalam...." ucap kami serempak.
Sejenak aku berpikir bagaimana caraku untuk bisa mencukupi kebutuhan ketiga anakku ini. Sementara selama di sini aku tak lagi berkecimpunh di dunia bisnis yang dulu aku geluti. Belum lagi kesibukanku yang kini bertambah satu lagi bayi yang harus aku rawat dan akan banyak menyita waktuku.
Aku tak mungkin lagi mengandalkan Deri untuk kehidupan anak-anakku. Sedang dulu saat anak kami masih dua pun ia tak pernah mencukupi kebutuhan kami, bagaimana dengan kini anaknya yang jumlahnya telah bertambah satu.
*****
"Apa dipecat??? Terus gimana nasib adikmu yang masih kuliah??" ucap ibunya Deri saat dirinya mengabarkan kondisinya saat itu.
"Aku nggak tau mak, nanti aku usahakan dapet pekerjaan baru..." jawab Deri dengan raut wajah penuh kesal dan lelah.
__ADS_1
Seketika ia masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasurnya yang cukup sempit itu. Beberapa kali ia menghela nafas sembari menatap langit-langit atap ruang kamarnya itu. Ia terus berpikir keras untuk bisa terus menghasilkan uang untuk kebutuhan ketiga anaknya dan adik-adiknya itu.