Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Keterpurukan Deri


__ADS_3

"Der... Itu adikmu barusan telepon minta kiriman uang buat bayaran kuliah, kalau sampai nggak kebayar dia bisa diberhentikan hari ini juga..." ucap emaknya Deri dari balik pintu kamarnya.


"Mamak kan tau aku belum ada uang, apa mamak sama bapak nggak bisa mengusahakan dulu sementara?" sahut Deri yang seketika membuka pintu kamarnya dan ia berbicara di depan pintu dengan wajah sedikit kesal.


"Bapakmu mana ada uang? Adapun juga nggak bakalan cukup buat bayar kuliah adekmu, wong penghasilan bapakmu itu cuma cukup buat makan aja selama ini...!" ujar sang emak dengan nada ketus.


Sejenak Deri menghela nafas panjang. Tangan kanannya memegang dahinya yang sedari tadi mengernyit tanda sedang berpikir keras.


"Dari awal adekmu kuliah kan mamak udah pasrahkan ke kamu masalah biaya, ya sudah, sekarang itu jadi tanggung jawabmu... Kan dulu kamu yang nyuruh adekmu kuliah..." ujar emak yang terus berbicara di hadapan Deri.


Deri hanya terdiam. Tangannya mengepal geram merasakan apa yang dialaminya. Beban yang ia pikirkan terasa makin berat, terlebih ia juga harus memikirkan kebutuhan ketiga anaknya yang masih kecil-kecil.


"Mak... Aku punya tanggungan tiga anak mak... Aku mohon mengertilah dengan keadaanku..." ujar Deri yang merasa tertekan.


"Apa? Tiga anak? Memangnya mantan istrimu punya anak lagi??" tanya sang emak terkejut.


"Iya mak, Bungan baru saja melahirkan kemarin.."


"Dan kamu yakin itu anak kamu, kalian kan udah bercerai?" ucap emak dengan kedua alisnya yang meninggi tanda tak percaya.


"Astaghfirulloh mak... Jangan asal menuduh sembarangan mak... waktu bercerai kondisi Bunga sedang hamil muda mak..." ujar Deri sedikit melakukan tekanan cara bicaranya pada emaknya itu.


"Ya sudah, kenapa kamu bilang tiga anak? Anak kandung kamu kan cuma dua kan? Itu si Uwais kan bukan anak kamu, kenapa harus jadi tanggung jawabmu juga??" kalimatnya dengan kedua matanya melirik tajam ke araha Deri.


Lagi-lagi Deri hanya bisa menghela nafas panjang tak mampu lagi berkata-kata. Segera ia masuk kembali ke dalam kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur.

__ADS_1


"Ting" terdengar bunyi gawainya pertanda ada sebuah pesan masuk.


Seketika ia sambar gawainya yang berada di samping tubuhnya yang tengah berbaring.


[Kamu udah janjiin anak-anak bakal sering-sering jenguk, tapi udah hampir seminggu kamu nggak datang ke rumah, Uwais merengek terus nanyain kamu...] isi pesan dariku padanya.


Matanya terpejam tak kuat lagi harus berpikir untuk berbuat apa. Dirinya sangat malu untuk datang menemuiku, sebab ia tau bahwa kini dirinya tak lagi bisa memberi nafkah pada anak-anaknya seperti biasanya meski hanya sedikit.


Diletakkan gawainya diatas dadanya. Tak lama ia pun terlelap bersama penatnya pikirannya.


*****


"Mas, akhirnya aku dikeluarin dari kampusku...! Kamu keterlaluan....! Apa nggak bisa kamu kerja lagi kayak dulu biar bisa terus biayain aku... Padahal sebentar lagi aku skripsi..." ucap adik Deri yang akhirnya kembali ke rumah dan gagal melanjutkan impiannya menjadi seorang sarjana itu.


"Aku udah dipecat, maaf... Aku belum bisa kerja lagi, Huft..." sahut Deri sembari menghela nafas panjangnya.


Semenjak kejadian itu, kini tak ada lagi keluarganya yang peduli akan keberadaanku beserta anak-anak. Mereka semua membenciku. Mereka terus menganggap akulah wanita tak baik yang membuat perceraian itu terjadi. Semua kesalahan yang dilakukan oleh Deri pun tak lain disebabkan karena aku.


Hari demi hari pikiran Deri semakin kacau. Disatu sisi ia sangat merindukanku dan anak-anak. Namun ia tak berdaya untuk menemui kami. Meski beberapa kali Uwais mencoba menelponnya dan merengek meminta bertemu.


Ia sengaja tak ingin menemui kami, lantaran ia malu bila Uwais ataupun Umar meminta jajan padanya sementara ia tak memiliki uang untuk itu.


Beberapa kali ia mencoba membangun usaha seperti dahulu, namun selalu gagal. Hingga uang modalnya semakin tergerus hari demi hari dan tak menyisikan sepeserpun dalam dompetnya. Itulah yang menyebabkan dirinya tak berani lagi menemui kami.


Hampir setiap hari ia uring-uringan dengan anggota keluarganya. Mulai dari emaknya, adik-adiknya, bahkan bapaknya pun selalu terlibat pertengkaran dengan Deri lantaran caruk maruk ekonomi keluarganya makin terguncang semenjak kehadiran Deri. Sementara dirinya hingga kini tak lagi berpenghasilan.

__ADS_1


"Umi... Abi lama udah lupa sama janjinya... Apa abi udah nggak sayang lagi sama kita??" tanya Uwais dengan nada sedih.


"Mungkin abi sedang sibuk nak... Uwais jangan bicara begitu... Mulai sekarang, Uwais fokus belajar baca Al-qur'an sama hafalan ya... Yuk umi bimbing..." ujarku seraya membuka sebuah kitab suciku itu dan memberi bimbingan padanya untuk mengalihkan pikirannya tentang ayahnya.


Semenjak itu aku terus berusaha membuat kedua anak lelakiku itu sibuk dengan aktivitasnya membaca dan menghapal Al-quran. Perlahan mereka mengikuti apa yang aku ajarkan. Terlebih Uwais yang memang sudah mulai fasih dalam berlafal. Sementara Umar meskipun lidahnya masih cadel, namun ia terus berusaha melafalkan apa yang aku tuntunkan padanya.


Alhamdulillah anak-anakku menurut padaku...Gumamku memandangi mereka dengan mata berkaca-kaca dan senyuman tipis di bibirku.


Sementara aku membimbing mereka berdua, Shanum pun tak luput dari perhatianku. Ia terus dalam dekapanku sembari menyusu padaku dengan lahap.


****


Hampir setiap malam menjelang tidur aku berpikir bagaimana caranya aku kembali berpenghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidup kami. Deri tak mungkin bisa diandalkan, meski aku punya tabungan, namun jika tak ada pemasukan tentunya lama kelamaan tabunganku akan habis hanya untuk kebutuhan hidup.


Malam itu aku mencoba membuka informasi dari internet guna membuka wawasanku membangun sebuah usaha. Pada salah satu situs aku menemukan cara membuka peluang usaha baby spa.


Mataku tertuju pada artikel itu dan sangat tertarik untuk mempelajarinya. Terlebih aku adalah seorang bidan, tentunya ini akan berhubungan dengan keilmuanku.


Seketika aku buka saldo rekeningku dari hasil penjualan rumah di Jakarta waktu itu. Ternyata jumlahnya tak mencukupi untuk modal usaha itu. Dalam lamunanku sejenak, terbesit dalam benakku untuk menjual salah satu aset warisan peninggalan almarhum ibuku yang sudah ia jatahkan untukku.


Netraku tertuju pada salah satu sertifikat lahan pertanian. Aku ambil salah satu yang luas tanahnya tidak terlalu lebar itu. Aku persiapkan untuk rencana penjualan esok hari. Sementara beberapa aset yang lain aku simpan kembali ke dalam lemariku untuk bekal masa depan anak-anakku.


Keesokan hari aku mulai sibuk memasang iklan penjualan tanah itu. Sementara menunggu laku dijual, aku mulai membangun sebuah gedung untuk usaha yang telah aku rencanakan dengan matang itu.


Aku kuatkan tekad dan mentalku untuk memimpin pembangunan itu meski harus menghadapi beberapa orang yang harus aku temui untuk urusan itu. Mulai dari perijinan, sampai dengan menghadapi beberapa kuli bangunan yang turut dalam pembangunan gedung yang terletak tepat disamping rumah yang aku tinggali.

__ADS_1


Rumahku memiliki halaman samping yang masih cukup luas, sehingga aku gunakan itu untuk bagunan gedung usahaku kelak. Sebab jika bersebelahan dengan rumahku, maka aku tak perlu pergi jauh menyita waktuku untuk meninggalkan ketiga anakku di rumah. Dengan usahaku yang berdampingan, maka kegiatanku akan bisa dilakukan sembari mengurus anak-anakku.


__ADS_2