Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Hikmah


__ADS_3

Tak seperti biasanya yang langsung datang ke rumah jika ingin bertemu dengan Uwais, kini Deri akan menelepon aku untuk ijin bertemu dengan Uwais dan menentukkan lokasi pertemuan di luar.


Sore ini aku pun janjian dengan Deri di Kota Tua untuk bertemu. Dipilih lokasi yang cukup ramai agar aku tak kembali terfitnah oleh kehadiran Deri dari para tetangga jika di rumahku. Seminggu yang lalu dirinya terakhir menemuiku di rumahku, dan setelah itu kini ia memilih untuk selalu bertemu denganku di luar.


"Assalamu'alaikum?" sapa Deri yang menghampiriku duduk di sebuah kursi di tengah taman itu.


"Walaikumsalam?" jawabku tanpa menoleh.


Tak lama kemudian aku ulurkan tanganku untuk memberikan Uwais padanya seperti biasanya. Dengan perasaan bahagia, dia pun menyalurkan hasrat kerinduannya dengan menciumi wajah Uwais.


Ditempat ramai seperti ini membuatku nyaman jika harus bertemu dengan Deri, entah mengapa kini aku mulai merasakan perubahannya terhadap perilakunya. Kini dia lebih sopan padaku dan tidak sembarangan melakukan sesuatu tanpa seijinku terlebih dahulu. Seolah kini dia sudah mulai mengerti menghargai seorang perempuan muslimah yang bukan mahramnya.


"Kamu apa kabar?" tanya Deri padaku seraya menggoda Uwais penuh tawa.


"Alhamdulillah sehat" jawabku singkat.


"Ini ada sedikit uang untuk keperluan Uwais, maaf aku belum bisa kasih banyak, sementara ini aku baru mulai bekerja di perusahaan teman Ferdi, InsyaAllah nanti kalo udah mulai gajian aku akan kasih lebih buat kalian" ujar dirinya sembari menyodorkan sebuah amplop berisi uang yang tak tau berapa jumlahnya itu.


Aku diam tak bergeming dan tak ada hasratku untuk menerima uang itu karena gengsiku. Tapi tak habis akal dalam pikirannya. Seketika ia kembalikan Uwais dalam gendonganku. Lalu diambilnya tas yang aku kenakan di bahu kiriku, lalu dimasukkannya amplop itu ke dalam tasku itu. Aku pun hanya bisa terdiam seolah aku tak mengetahuinya, sebab memang sejujurnya aku pun membutuhkan uang itu untuk keperluanku dan Uwais.


"Aku nggak bisa lama-lama di sini, soalnya aku takut Uwais minta nyusu, di sini nggak ada tempat yang nyaman untuk menyusui" ujarku beralasan.

__ADS_1


"Nggak apa, aku juga ada jadwal ngaji setelah ini di Masjid Al'amin" kalimatnya yang seketika membuatku terkejut. Rupanya saat ini dia mulai mengikuti kajiyan yang sama denganku dan di masjid yang sama pula.


"Oh... kamu suka ikut kajiyan di sana? sudah lama?" tanyaku penasaran.


"Iya, tapi baru beberapa hari yang lalu, kali ini baru mau yang ketiga kali" jawabnya sedikit menggetarkan hatiku dan membuat aku lama terdiam.


"Bunga, kog kamu diem aja?" tanya dirinya yang seketika menggugah lamunanku yang sedang berpikir padahal aku juga akan berangkat kajiyan ke sana setelah ini. Mengapa bisa sama tujuannya ya....?? gumamku dalam hati.


"Ehmmm, sebenarnya aku juga akan berangkat kajiyan di sana" jawabku sedikit gugup.


"Oh... jadi kamu ikut kajiyan di sana juga?"


"Iya, sudah lumayan lama semenjak aku tinggal di sini, tapi aku hanya ambil yang jadwal sore ini aja, karena yang malam aku nggak bisa karena harus berangkat pulang sendirian" jawabku menjelaskan.


"Jangan, aku naek angkot aja kayak biasanya,..."


"Ohhhh iya aku lupa...,kita bukan mahram... ya udah nggak papa kamu naek angkot, tapi ati-ati ya.... nanti aku iringi angkot yang kamu naekin" ujarnya yang seperti membuat perasaanku bergetar seperti dahulu pertama kali aku saat mengenalnya.


"Ya udah aku pamit dulu mau cari angkot, Assalamu'alaikum" kalimatku sembari melangkah meninggalkan dirinya.


"Walaikumsalam" sahutnya dengan senyumannya yang begitu merekah.

__ADS_1


Tak lama itu aku menaiki angkot yang sudah siap di hadapanku. Tampak Deri dari kaca jendela tersenyum padaku kala aku menengok ke arahnya. Terlihat dirinya melajukan motornya yang terus beriringan dengan angkot yang aku tumpangi. Sungguh romantis bagai dilan yang sedang PDKT dengan milea saja.... gumamku dalam hati.


Beberapa menit kemudian sampailah aku pada lokasi yang dituju. Tampak Deri menyambut beberapa teman-teman lelakinya yang terbilang akrab meski dirinya baru saja berada di tengah-tengah posisi mereka. Rasa kagumku mulai terpancar padanya.


Di dalam masjid, seperti biasa aku mendengarkan ceramah dari sang ustad. Namun tiba-tiba pikiranku tegoyah pada hal lain tentang kehidupanku. Terlintas dalam benakku tentang kejadian-kejadian dalam hidupku selama ini.


Pernah aku menyebut diriku janda yang malang di kala aku sedang terpuruk dalam kehamilanku pasca ditinggalkan oleh Deri waktu itu. Namun semua kini justru seolah rasa syukur yang aku mulai rasakan perlahan. Apa yang aku alami, deritaku....tangisku.... dan semua kesulitan yang aku alami adalah buah dari segala dosa yang telah aku perbuat dahulu....


Dari mulai aku harus mengalami perceraian akibat KDRT, mungkin adalah cara Allah menegurku dari dosa pacaran yang pernah aku lakukan bersama mantan suamiku dahulu, dosa dari masa mudaku yang sering menghabiskan waktuku untuk keluyuran tidak jelas dan hura-hura, meski bukan dalam dunia hitam seperti dugem, namun tetap saja itu adalah dosa....


Tak cukup Allah menegurku dengan perceraianku, aku kembali terjerumus dalam dosa berzinah dengan Deri.... kehamilanku dalam penderitaankulah yang akhirnya mengantarkan aku pada jalan yang lurus ini... sehingga aku kini berhijrah....


Pertemuanku dengan Kak Arif dan lamarannya yang cukup singkat mungkin ini sebetulnya adalah skenario Allah yang ingin membantu kehidupanku di kala kesulitanku. Dalam kondisi hamil, disaat tak ada orang yang mau menerimaku untuk bekerja, Kak Arif tanpa syarat memberikannya untukku, bahkan berikut dengan tempat tinggal untuk meringankan bebanku tentunya. Jika bukan karena ditumbuhkannya rasa padaku saat itu, mungkin akan sulit untuk orang berbuat baik seperti itu... Yah... begitulah cara Allah mendatangkan berbagai bantuan untukku.


Dan kini pun terjawab sudah doa dalam Istikharahku dulu sewaktu dengan Kak Arif. Memang sungguh tak adil jika dirinya memilihku sebagai istrinya, sementara aku memiliki buah cinta dengan Deri yang tentu akan menggoreskan aib pada keluarganya yang baik. Hingga pada akhirnya Allah pun mempertemukan jodohnya di Kalimantan. Dengan dihadirkannya Deri mengangguku kembali, mungkin itulah cara Allah menggoyahkan hati Kak Arif saat itu hingga akhirnya dia memilih pergi ke Kalimantan.


Sunggun indah rencana Allah.... Demikian juga dengan Deri.... pertemuannya denganku kini telah mengantarkan dirinya pada kajiyan di masjid ini... semoga kali ini dia benar-benar berubah.....


Seketika mataku berkaca-kaca dalam lamunanku. Tak lama aku pun tersentak dengan tangisan Uwais yang membangunanku dari lamunanku. Rupanya dia mulai haus, dan langsung aku menyusuinya.


Beberapa hari kemudian, ada sebuah paket makanan yang diantarkan oleh seorang ojeg online ke rumahku. Dan aku yakin itu dari Deri. Maka tak lama aku mengambil gawaiku dan aku kirimkan pesan padanya.

__ADS_1


[Assalamu'alaikum, makasih Deri makanannya.] isi pesanku yang tak panjang lebar.


[Walaikumsalam, iya sama-sama... jaga kesehatan kamu dan Uwais...] balasnya tak lama kemudian.


__ADS_2