
Memulai usaha baru yang meilbatkan hampir seluruh keluarganya itu,membuat Deri kembali bersemangat. Bersama kedua adiknya dan bapaknya, ia mulai mengumpulkan perelengkapan. Mulai dari membuat oven pengasap, sampai tungku pengasap, mereka saling bekerja sama membantu usaha yang akan dilakukan oleh Deri itu dengan penuh keyakinan akan berhasil.
Meski sesekali bayang-bayang Lani menyelinap, segera ia tepis dalam-dalam. Malam itu selepas selesai dengan pekerjaannya, ia membaringkan tubuhnya dengan rasa kantuk yang sudah menjadi. Rasa lelah pada tubuhnya selepas seharian bekerja membuat ia pun terlelap dalam tidurnya.
"Oek...oek...oooek..." suara tangisan bayi ada dalam mimpi Deri saat itu. Ia melihat sosok bayi laki-laki terlantar di tepian sungai.
Ia pun segera menghampiri bayi itu, namun ketika ia akan menggendongnya ia tak bisa menyentuhnya, bahkan suara tangisan itu semakin kencang, seolah tak mau berhenti ketika Deri mendekat.
Sontak Deri pun terbangun dengan perasaan tak menentu. Ia tak mengerti mengapa bisa mimpi melihat seorang bayi itu yang entah apa artinya. Ia yang tak banyak berpikir pun kembali melanjutkan tidurnya setelah membalikkan bantalnya.
Paginya, ia bergegas bangun dan melupakan mimpi semalam. Ia mempersiapkan diri untuk menawarkan produknya ke beberapa restoran yang sudah ada pada daftar listnya.
Bersama salah satu adiknya, ia berboncengan motor menuju lokasi yang cukup jauh dari rumahnya. Terik panas matahari tak menyurutkan niat mereka, berbekal modal keyakinan ia mencoba menawarkan produknya ke beberapa restoran di daerahnya itu.
Namun tak disangka, tak satu pun dari restoran yang ia tuju menerima produknya. Meski dengan berbagai penawaran yang menarik, ia telah di tolak kesana kemari. Hal ini tentu membuat ia frustasi, terlebih adiknya. Rasa lelah badan saat itu tak terbayar oleh ekspetasi yang indah.
Adik Deri merasa marah pada Deri, ia sangat kecewa dengan keputusan Deri yang mengambil langkah usaha namun tak membuahkan hasil ini. Padahal harapan keluarganya ingin Deri tetap bekerja di tanah rantau.
Semenjak kejadian itu, Deri merasa putus asa dengan hasil kerjanya. Seluruh anggota keluarganya turut mendiamkan dirinya membuat ia semakin stres. Hanya ibunya saja yang sesekali mau menegurnya saat itu.
"Kalo kamu diperantauan bisa bapak banggain, sedang di sini kamu usaha aja gagal!" ketus bapaknya pada Deri yang sedang duduk di ruang TV.
Deri hanya diam tak bergeming menanggapi ocehan bapaknya. Ia sedang berpikir bagaimana cara lain membuka usaha dan membuktikkan pada keluarganya bahwa ia bisa.
Di tengah keputus asaannya, ia mencoba menguhubungi beberapa teman perempuan yang ia kenal. Wati salah satu teman sekolahnya dulu ia hubungi untuk membuat janji bisa bertemu.
Wati adalah salah satu teman Deri sekolahnya dulu yang pernah sempat ia taksir, namun tak sampai jadian sebab ia terlanjur bersama Lani. Mendengar Wati yang masih belum menikah, ia berniat mendekatinya. Manakala ia bisa berjodoh dengannya.
__ADS_1
Beberapa kali ia bertemu dengan Wati, namun gawai tak bersambut. Wati sepertinya tak mau berniat untuk memiliki hubungan dengan Deri. Entah karena sudah memiliki calon, atau sebab lain Deri pun tak tau. Hatinya yang sedang putus asa pun menjadi tambah kacau dengan penolakkan Wati.
Selang seminggu setelah itu, ia pun mencoba kembali mendekati beberapa teman perempuan. Ada yang dapat dari kenalan teman-temannya, ada juga yang bertemu dari FB. Ia mencoba melanglang buana mencari jodoh. Namun sayang semua perempuan yang ia dekati selalu menolaknya. Mungkin faktor utamanya adalah tingkat kemapanan Deri dan latar belakang keluarga Deri yang ekonomi lemah.
Deri makin putus asa dibuatnya. Semakin lama ia semakin minder dengan dirinya. Entah mengapa disaat seperti itu tak sedikit pun ia mengingat Bunga, padahal saat itu Bunga sedang berjuang meniti kehidupannya bersama anak kandung buah cinta dengan Deri.
Malam itu dalam tidurnya yang tengah situasi stres, Deri kembali bermimpi tentang bayi laki-laki itu. Ceritanya pun sama persis dengan waktu mimpi di minggu lalu. Namun sayangnya, sampai saat ini Deri tak pernah menghiraukan mimpi itu. Sebab ia hanya menganggap mimpi adalah bunga tidur yang tidak terlalu penting.
Dua minggu berselang setelah usahanya gagal, ia pun kembali mencoba merintis usaha. Kali ini usaha kuliner camilan. Dengan ketrampilan yang ia miliki, ia mencoba menciptakan sebuah produk dari hasil resepnya sendiri.
Rasanya enak, dan ia yakin kalau ini akan laku di pasaran. Dengan penuh kegigihan, ia mencoba bersemangat.
Usaha ini akhirnya pun membuahkan hasil, meski tidak terlalu banyak, namun kini produknya bisa di terima di pasaran. Beberapa teman dan pembeli pun mulai mengenal produknya.
"Rey, yuk ikut aku masarin produk aku?" ujar Deri pada Adiknya mencoba mengajaknya kembali seperti kemarin.
"Emoh!!!!" jawabnya singkat dan segera berlalu.
Akhirnya ia pun pergi seorang diri berniat untuk menitipkan produknya di beberapa toko-toko makanan.
Tak disangka selang satu minggu pasca penitipan produknya akhirnya mendapatkan komplain dari pelanggan, sebab camilannya gampang sekali mlempem membuat rasanya tak enak lagi.
"Nih uangmu, sisah barangmu diambil aja, di sini nggak laku!!!" hardik salah satu pemilik toko makanan terkenal di daerahnya sembari melempar uang hasil pembayaran produk Deri yang hanya laku beberapa. Dengan perasaan kesal ia pun memunguti uang itu satu persatu dan menggenggam erat penuh amarah. Akhirnya ia pulang dengan wajah lesu.
Cacian dari keluarganya semakin membuat telinganya nyeri. Ia mulai tak lagi betah di rumah. Merasa begitu banyak kesialan yang ia alami semenjak di rumahnya itu. Bahkan beberapa kali Deri pun kembali bermimpi bayi itu lagi.
"Bayi lagi...bayi lagi...apaan sih!!!" seru Deri yang tengah bangun dari mimpinya. Ia melamun di sudut kamarnya tak bisa memejamkan matanya lagi, sebab ia tak ingin mimpi hal itu lagi.
__ADS_1
Diambilnya gawainya, beberapa kontak nomor ia scrol perlahan tanpa tujuan. Sesaat tangannya terhenti pada sebuah nama Bunga. Yah, akhirnya kini ia mengingatnya. Dalam pandangan matanya terlihat sosok bunga yang dulu pernah ia pacari dan janji ia nikahi namun ia ingkari.
"Ah, apa mungkin kesialanku ini adalah karma atas perbuatannku dengan Bunga?" gumam Deri memikirkan tentangnya.
"Apa aku coba hubungi dia dan minta maaf ya?" sesaat ia menekan nomor hp milik Bunga itu.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi" begitu terus nada sambung Deri saat akan mencoba menghubungi Bunga. Meski beberapa kali ia hubungi pun masih sama. Akhirnya ia terbaring sambil memikirkan hal itu.
Ia teringat sewaktu dulu saat pacaran, Bunga sempat memberikan alamat rumahnya pada Deri. Spontan ia berniat mendatangi rumahnya keesokkan harinya.
Sore hari, bersama motornya ia pergi mencari alamat Bunga. Bermodalkan perkiraan dan bertanya di beberapa tempat akhirnya ia menemukan alamat itu.
"Assalamu'alaikum?" sapa Deri sembari mengetuk pintu rumah Bunga.
"Walaikumsalam." jawab ibu Bunga sembari membuka pintu dan mempersilahkan masuk Deri ke dalam.
"Bu, saya temen Bunga, Bunganya ada di rumah?" tanya Deri penasaran.
"Owh, Bunga masih di Bandung, malahan kemaren lebaran dia juga nggak bisa mudik, katanya sih ada pelatihan gitu, padahal ibu juga kangen, udah lama banget nggak ketemu Bunga".
"Jadi Bunga masih di sana ya bu, kirain pulang, boleh minta nomor Hp Bunga bu?"
"Ada sih, tapi jarang aktif nomornya, ibu juga nggak bisa ngubungi dia kalo nggak dia sendiri yang menghubungi ibu, katanya sih dia sibuk banget jadi nggak bisa aktifin nomor Hpnya".
"Oh, ya udah bu kalo gitu saya pamit pulang, Assalamu'alaikum?"
"Walaikumsalam"
__ADS_1
Perasaan Deri ada yang janggal dengan penuturan Ibunya Bunga. Bagaimana mungkin Bunga tidak mudik lebaran, sedangkan yang ia tau ia sangat tidak bisa kalau lebaran tidak bersama keluarganya. Lagian di Bandung ia berlebaran dengan siapa. Belum lagi katanya ia pelatihan, sepengetahuanku, Bunga tak pernah ada pelatihan selama itu dan sesibuk itu sampai tak bisa dihubungi di tempat kerjanya. Gumam Deri sembari mengendarai motornya.
Malam itu ia bertekad ingin kembali ke Kota Bandung karena penasaran ingin menemui Bunga dan memastikan apa yang tengah terjadi dengan Bunga.