Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Dipaksa menikah dengan Deri oleh ibu


__ADS_3

Hampir genap satu bulan Deri pulang ke Lampung dan tak pernah lagi menghubungiku yang memang tak pernah aku harapkan. Hanya saja setiap kali aku telepon ibuku selalu menceritakan tentang Deri. Beberapa kali ia sering mengunjungi ibuku ke rumah, membawa beberapa oleh-oleh seperti makanan ringan untuk ibuku. Sikap manisnya ini yang mungkin semakin lama semakin membuat ibuku luluh padanya.


"Assalamu'alaikum, halo bu?" sapaku yang tengah menelepon ibuku.


"Walaikumsalam, kamu lagi apa nak?" tanya ibuku seperti biasa.


"Biasa bu, lagi kerja" jawabku yang mengantisipasi suara tangisan Uwais sewaktu-waktu agar ibuku tak menaruh curiga.


"Oh... lah kog kamu nggak pernah libur kayaknya, tiap ibu telepon pasti lagi kerja?" tanya ibuku sedikit curiga.


"Ya nggaklah bu, kemaren juga libur, tapi kebetulan kalo pas libur aku banyakin tidur karena capek, jadi lupa telepon ibu" jawabku mengelabuhi.


"Ohh... gitu, kamu itu udah lama sendirian, apa nggak kepingin nikah lagi biar di sana kamu ada temen, jadi ibu nggak khawatir kamu sendirian di sana?" tanya ibuku seraya memberi kode untuk dijodohkan dengan Deri.


"Ya nanti lah bu.... belum ada yang sreg" jawabku singkat.


"Lah mau sampe kapan milih-milih.... kamu kan udah pernah nikah, jadi mungkin agak susah buat cari jodoh lagi, ini mumpung ada yang mau sama kamu mosok kamu tolak?" ujar ibuku mulai mengarah.


"Siapa emangnya bu?"


"Ya siapa lagi kalo bukan yang sering ibu ceritain dateng ke rumah bawain ibu camilan".


"Deri lagi....Deri lagi.... huft...." balasku ketus sembari menghela nafas panjang.


"Mbok jangan gitu to nak....Deri kan orangnya baik, apa salahnya kalo kamu terima lamaran dia, ibu setuju loh kamu sama dia.... kamu jangan lama-lama mikirnya, kalian kan juga udah sama-sama berumur matang, kasian kan kalo Deri menunggu lama" ujar ibuku merayu.


Hemmm wajarlah ibu ngomong begitu. coba ibu tau siapa Deri sebenernya, aku yakin nggak akan di buka pintu rumahku untuk dia masuk, gumaku dalam hati.


"Bunga... jawab ibu, jangan diem aja, ibu akan seneng kalo kamu nikah sama Deri, rumah orang tuanya juga nggak jauh dari ibu di sini, jadi kalo ada apa-apa pasti gampang, ibu yakin masmu juga setuju, nanti ibu yang bilang..." ujar ibuku meyakinkan hatiku yang membuatku semakin galau. Tentunya aku juga ingin membahagiakan hati ibuku, jika aku tolak keinginannya pasti dia akan kecewa.


"Ya nanti aku pikirin dulu lah bu... aku mau istikharah dulu,..."

__ADS_1


"Ya udah, kan udah dari kemaren-kemaren kenapa nggak kamu istikharah dari kemaren sih?"


"Iiiiya udah bu, tapi belum ada jawaban..." jawabku gugup karena tak mungkin menjelaskan diriku baru saja selesai masa nifas.


Semenjak itu ibuku pun terus mendesakku untuk menikah dengan Deri, setiap menelepon tak lepas untuk membahas soal Deri. Sampai terkadang aku jadi sedikit malas untuk menelepon ibuku karena tak sanggup dengan rengekannya padaku.


"Tok...tok..." tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu rumahku. Segera aku melangkah ke depan untuk membuka pintu dan mengetahui siapa yang datang ke rumahku tiba-tiba.


"Assalamu'alaikum, apa kabar Bunga? mana Uwais?" sapa seseorang yang tak lain adalah Deri yang baru saja tiba di Jakarta subuh tadi di Rumah Ferdi dan siang ini sudah menghampiriku di rumah kontrakanku.


"Walaikumsalam, baik" jawabku dan seketika menggendong Uwais yang sedang tidur di kamar.


"Halo Uwais...." sapa Deri seraya membelai pipi Uwais yang begitu menggemaskan.


"Boleh aku menggendongnya? aku kangen banget...?" pinta Deri padaku. Dengan berat hati aku ulurkan gendonganku padanya untuk memindahkan Uwais dari tanganku.


Seketika ia menciumi wajah Uwais seolah sangat merindukannya. Aku yang menatap mereka pun sedikit terharu, namun segera aku tepis agar tidak sampai terbawa suasana hatiku.


Lebih parah dari tetangga-tetangga kontrakanku sebelumnya, di sekitar tempat tinggalku rupanya adalah lokasi dimana setiap sudut terdapat emak-emak ngumpul dan asik bergosip membicarakan apa saja yang akan mereka bahas. Tak jarang aku pun menjadi salah satu pembahasan diantara mereka.


Mengingat aku yang jarang sekali ngumpul bersama mereka dan terbilang warga baru di sini, mereka sering bilang aku tetangga sombong, sebab aku jarang sekali ngumpul bersama, hanya sesekali bertegur sapa saat membeli sayuran pada tukang sayur keliling. Selebihnya aku hampir tak pernah mengobrol dengan mereka.


Mereka sangat bertanya-tanya akan statusku. Berkali-kali ada yang ingin mengorek tentang diriku lebih jauh, namun tak pernah aku tanggapi. Terlebih aku tinggal bersama bayi Uwais dan tanpa adanya suami di sisiku membuat mereka tentu semakin penasaran akan statusku. Wajar bila kedatangan Deri seketika membuat salah seorang tetanggaku penasaran ingin tau.


Aku hanya tersenyum melihat ia berlalu setelah menegur kami dengan kalimat itu.


"Aku liat kamu nggak nyaman ya dengan lingkungan di sini?" tanya Deri yang tengah menimang Uwais.


"Ya, kurang lebih begitu, terlebih karena kedatanganmu ke sini tentu akan membuat mereka curiga...." ujarku sedikit ketus.


"Maaf kalo aku telah buat fitnah padamu"

__ADS_1


"Hmmm, berapa kali pun kamu minta maaf, tak ada gunanya lagi, nasi udah menjadi bubur" jawabku sembari berlalu menuju ruang makan untuk meneguk segelas air mengobati rasa hausku karena cuaca yang cukup panas saat ini.


"Bunga,apa nggak sebaiknya kamu menikah aja...?" tanya Deri yang seketika memerahkan wajahku.


"Bagaimana aku bisa menikah jika kamu terus datang menggangguku!?" sahutku ketus yang seketika kembali ke ruang tamu.


"Maaf... apa Arif masih berkeinginan untuk menikahimu Bunga?" tanya dirinya mencoba mengorek.


"Nggak, dia udah nikah sama gadis di Kalimantan seminggu yang lalu" jawabku dengan raut wajah datar.


"Lalu apa rencanamu setelah ini?"


"Cari jodoh lewat ta'aruf" jawabku singkat dan spontan membuat wajah Deri terlihat geram.


"Bunga, sebetulnya apa yang buat kamu nggak bisa terima aku lagi?" tanya dirinya dengan lembut seolah mengambil hatiku.


"Tentu aku menginginkan lelaki yang bisa jadi imam yang baik buatku... dan itu nggak ada di kamu... dulu aku memang pernah mendambakanmu saat aku masih bodoh, tapi tidak untuk sekarang, terlebih kamu adalah orang yang udah menghancurkan hidupku" ujarku menjelaskan sembari menghela nafas panjang meredam emosi jiwaku.


"Yah.... sekarang aku sadar kalo aku nggak pantas buat kamu.... kalo begitu beri aku waktu untuk aku berubah jadi seperti yang kamu mau... biarkan aku belajar dan berproses..." ujar dia merayauku.


"Jangan pernah merubah dirimu hanya karena orang lain, itu nggak akan menimbulkan ketulusan buatmu!" jawabku ketus.


"Bukan, ini semata-mata bukan karenamu... mungkin ini juga teguran buatku agar sepatutnya aku kembali pada jalan yang baik,menjadi manusia taat pada agamaku dan kelak bisa mnejadi contoh untuk Uwais... sebab aku sadar...kelak aku juga harus bisa menjadi panutan untuk anak dan istriku kelak, tak mungkin jika aku tak berilmu agama untuk mendidiknya..." ujarnya yang seketika menggetarkan hatiku, namun sebisa mungkin aku kendalikan agar tak terbuai.


Aku hanya terdiam dan mencoba mengambil Uwais dari tangan Deri yang kini mulai menangis kecil tanda ingin menyusu.


"Aku mau nyusuin Uwais, kumohon kamu pergi dulu" ujarku sembari berlalu ke dalam kamar.


Tak lama Deri pun pamit.


"Baiklah aku pamit, Assalamu'alaikum?"

__ADS_1


"Walaikumsalam, jangan lupa tutup pintunya!" sahutku dari dalam kamar.


__ADS_2