Janda Yang Malang

Janda Yang Malang
Tidak lagi bekerja dengan Kak Arif


__ADS_3

"Kamu makan dulu ya, ini aku bawakan nasi padang rendang kesukaan kamu dulu" ujar Deri menyodorkan sepiring nasi yang telah ia beli.


"Der, gua pamit dulu, nanti kalo butuh apa-apa gua ke sini lagi, oke!" ujar Ferdi sembari pergi meninggalkan kami.


Perutuku yang sejak tadi menahan lapar sangat ingin menyambar sepiring nasi yang Deri sodorkan padaku. Namun hatiku gengsi padanya, lantas aku hanya terdiam tak menoleh makanan itu.


"Makanlah, kamu biar badan kamu fit lagi, apa mau aku suapin?" bujuk Deri padaku.


"Nggak usah, aku bisa makan sendiri" sahutku yang kemudian menyantap nasi itu sedikit demi sedikit.


Deri pun tersenyum melihatku, sepertinya ia mulai berhasil memberikan perhatian padaku.


"Kamu habiskan dulu makanan kamu ya? aku keluar dulu mau mandi sama ganti baju dulu, nanti aku ke sini lagi".


"Hmmm" jawabku singkat tanpa menoleh.


"Sayang....ayah pulang dulu sebentar ya, nanti ke sini lagi, kamu jangan rewel ya, kasian ibu kamu nanti capek... dada sayang, Assalamu'alaikum? cup" sapa Deri pada Uwais yang tengah tertidur pulas sembari memberikan kecupan lembut.


Aku hanya diam tak bergeming menatap dirinya melangkah keluar ruangan.


"Assalamu'alaikum, Arif, aku mau ambil beberapa baju ganti buat Bunga, sapa tau dia butuh, soalnya tadi dia belum ganti baju" ujar Deri yang mampir ke ruko dimana aku bekerja, dan di sana sudah terlihat Kak Arif sedang memberikan training pada calon karyawan baru untuk menggantikkan aku.


"Oh iya, ambil aja di kamarnya" sahut Kak Arif dengan muka datar.


Deri pun melangkah ke kamar dimana aku tinggal di sana selama berbulan-bulan selama aku bekerja dengan Kak Arif. Di pegangnya sebuah bingkai foto yang menggambarkan aku dan dirinya mesra, kenangan saat dulu aku masih berpacaran dengannya.


"Rupanya Bunga masih belum move on dari aku, tapi kenapa sulit sekali buat bikin dia balikan sama aku sih?" gumam Deri dalam hatinya sembari mengambil beberapa helai baju milik bunga.


Selepas itu, ia pun keluar dari kamar itu. Tampak Kak Arif sudah tidak ada di ruko itu dan tinggalah seorang perempuan muda yang baru saja berbincang dengannya tadi.


"Arif dimana?" tanya Deri pada perempuan itu.


"Oh, pak Arif baru aja pulang?" jawabnya singkat.

__ADS_1


"Kamu di sini karyawan baru?" tanya Deri lagi.


"Iya, kata pak Arif aku menggantikkan karyawannya yang baru saja melahirkan" jelasnya.


"Oh... apa kamu cuma kerja sementara waktu menggantikan karyawan lama itu, atau?"tanya Deri penasaran.


"Kayaknya sih kalo aku betah ya selamanya kak, soalnya kata pak Arif orang itu udah mengundurkan diri" tuturnya lagi.


"Oya, kalo gitu aku pamit dulu ya" ujar Deri sembari berlalu menuju kembali ke rumah sakit.


Dengan menaiki motor yang ia pinjam dari Ferdi, ia pun melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit di saat hari sudah mulai gelap.


"Assalamu'alaikum?" sapa Deri memasuki ruangan rawatku.


"Walaikumsalam" jawabku yang agak kurang ikhlas.


Uuh, cepet banget sih dia datengnya, tau-tau udah nyampe sini aja, Gumamku kesal melihat dirinya yang sudah kembali.


"Kog dia bisa tau ya aku butuh baju ganti, perhatian banget" gumamku lagi karena malas berbicara padanya.


"Oya, tadi di ruko tempat kamu kerja udah ada karyawan baru yang katanya gantiin kamu, trus jd kamu udah resign dari tempat kerja kamu itu?" tanya Deri padaku.


"Kamu itu cerewet banget sih, tanyain aku mulu, lagian kalo aku resign atau pun kerja apa urusan kamu juga sama aku?" jawabku ketus.


"Maaf, ya aku cuma pingin tau, setelah ini kamu mau tinggal dimana, apa tetep di sini, apa pulang ke Lampung, seenggaknya aku bakal ikut kemana kamu bakal pergi". ujarnya menundukkan kepalanya.


"Ikut aku? ngapain?" ketusku lagi.


"Iiiiya maksudnya aku mau bisa kapan aja jenguk uwais dan kasih nafkah untuk dia, jadi aku nggak mau jauh-jauh dari kalian, gitu maksudku" ujar dirinya lagi.


"Aku bakal tetep di sini kog, pulang ke rumah mana berani....ini semua gara-gara kamu....hiks!!" seketika tangisku pecah dihadapannya sebab aku teringat akan ibuku dan sangat merindukannya.


"Maafkan aku Bunga, andai aku bisa meluk kamu saat ini aku bakalan peluk sehangat mungkin untuk menenangkan kamu..."

__ADS_1


"Kamu pikir pelukkanmu bisa menenangkanku?" jawabku ketus.


"Iya sih, mungkin pelukkan saat ini tak lagi kamu butuhin seperti dulu...." ujar dia sembari berlalu ke luar ruangan.


Sejenak aku pun menghela nafas panjang. Pikiranku kembali kacau, bagaimana pun aku butuh tempat tinggal setelah ini untuk aku tempati nantinya dengan anakku kelak. Tapi untuk tinggal di ruko Kak Arif sudah tidak memungkinkan, dia sudah aku kecewakan, tak mungkin lagi aku mengharapkan bantuan darinya.


Begitu pun dengan Rianti, dia pun mungkin kecewa denganku, semenjak kehadiran Deri kembali padaku, seakan-akan bakal mempengaruhi hijrahku sebagaimana jalan yang sudah aku pilih dan baru aku jalani ini.


Di sudut lorong rumah sakit, tampak Deri sedang menelpon Ferdi.


"Fer, Bunga kayaknya nggak bakal tinggal di ruko Arif lagi, dia udah resign juga, kira-kira gue perlu sediain tempat tinggal nggak ya? kalo nggak kasian juga, nanti anak gue gimana nasibnya?" ujar Deri dalam teleponnya.


"Ya elu cariin kontrakkan lah, ini saatnya elu tunjukin ke Bunga bahwa elu bisa tanggung jawab".


"Oke...oke... gue bakal cari kontrakan besok, sebelum Bunga keluar dari rumah sakit, gue pastikan dia udah punya tempat tinggal" ujar Deri mengakhiri teleponnya.


"Krek" suara Deri ketika membuka pintu kamar rawat Bunga pun terdengar.


"Deri, tolong kamu pulang tinggalin kami berdua, gimana pun kita bukanlah mahram, tolong kamu hargai aku, jangan seenaknya keluar masuk ruangan aku!" ujarku padanya sebelum dia melangkah mendekati aku dan bayiku.


"Oh iya, baik, aku nggak akan menginap di sini, kalo begitu aku pamit dulu, nanti kalo ada apa-apa kamu telepon aku ya, Assalamu'alaikum?" ujar dirinya yang kemudian pergi meninggalkan aku.


Hari sudah larut malam, aku yang belum bisa memejamkan mataku pun mulai belajar berjalan meski tertatih. Luka pasca persalinan yang aku rasakan membuat jalanku masih sedikit sempoyongan. Tapi malam itu perlahan aku belajar berjalan sedikit-demi sedikit dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diriku dan mengganti bajuku.


"Oek...oek...ooek..." seketika bayiku terbangun dari tidurnya. Aku pun bergegas keluar toilet dan membopong bayiku. Aku timang-timang tubuhnya dengan perlahan yang seketika mendiamkan tangisannya. Aku tatap wajahnya yang mungil mirip sekali dengan Deri.


Kenapa mirip sekali dengan Deri??apa karena semasa hamil aku terlampau membencinya? Huft...bukankah itu mitos...Kenapa nggak mirip aku aja sih? gumamku yang tak bisa lepas dari pandangan wajahnya.


Kuraih gawaiku, dan aku putar mp3 murotal Al-qur'an untuk menemani malam kita berdua. Tak terasa air mataku menetes sembari membelai lembut kedua pipi anakku.


"Maafkan umi mu nak...maafkan aku, karena kebodohanku kamu harus terlahir tanpa nasab seorang ayah... sekali lagi maafkan umi nak... semoga kelak tak ada lagi penderitaanmu karena ulah kebodohan umi... beri kesempatan pada umi nak... untuk merawatmu dengan baik, memberikanmu bekal ilmu agama yang baik... maafkan atas luka perihmu akibat ulah umi nak... maafkan... hiks... "


Isakku membuatku tersungkur sembari memeluk hangat tubuh bayiku. Penyesalan yang tiada akhir bagiku. Entah bagaimana nantinya aku akan memulai kehidupan baru dengan uwais, rasanya masih sangat sulit bagiku.

__ADS_1


__ADS_2