
"Aduh Bunga....Alangkah repotnya kamu ya..mana hamil gede,anaknya masih kecil-kecil, cerai sama suami pula..." ucap seorang tetanggaku saat aku melewatinya hendak pergi ke warung.
Aku hanya tersenyum menatap mereka yang sedang asik berkumpul dan bergosip itu.
"Ah kasian ya dia, mana ibunya meninggal... Pasti gara-gara mikirin dia juga..." sahut salah seorang tetanggaku yang lain.
"Ya iya lah salah dia sendiri kebanyakan tingkah... Yang dulu aja cerai, eh sekarang cerai lagi, itu kan berati dianya yang nggak bener..." suara salah seorang yang sedang menggosip itu terdengar di telingaku.
Aku pun menghela nafas panjang. Aku kuatkan hatiku untuk kembali melewati mereka meski dengan berat hatiku. Tatapan mataku fokus ke arah jalan tak menghiraukan mereka yang sedang sibuk membicarakan aku.
"Umi kenapa nangis? pasti umi kangen sama eyang uti ya? apa kangen sama abi?" tanya Uwais saat aku baru memasuki rumah.
"Iya sayang, umi kangen sama eyang uti..." jawabku sembari menghapus air mataku.
"Kog sama abi enggak?"
"Iya sama abi juga..."
"Kenapa kita nggak ngajak ketemu abi aja sih um??" rengek dirinya.
"Kan abi jauh di Jakarta, mana bisa kita ketemu..." sahutku dengan nada lembut.
"Ya kita susul ke sana..."
"Umi nggak bisa nyetir jauh lagi nak, kan dedek yang di perut umi sebentar lagi lahir..." ucapku sembari mengelus perutku yang sudah sangat membuncit.
"Dedek...apa dedek rindu sama abi???" celotehnya sembari ikut menghusap perutku.
Aku tersenyum haru melihat tingkahnya. Sementara Umar kini sudah mulai berjalan dengan tertatih. Perlahan ia mulai bisa mendekatiku dengan beberapa celotehan yang kadang aku tak mengerti apa maksunya.
****
Malam itu aku merasakan perutku berkontraksi. Aku tatap jam dinding menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Aku tarik nafasku dalam-dalam mencoba menahan kontraksi yang menurut perkiraanku adalah kontraksi palsu.
__ADS_1
Aku coba sejenak memjamkan mataku, namun entah mengapa rasa kontraksi itu semakin kencang hingga membuat nafasku seolah tercekik tersengal-sengal. Aku pun tertaih merai gawaiku untuk menelpon kakakku meminta bantuan.
Namun naas, baterai gawaiku habis setelah digunakan untuk video call dengan Deri tadi dan lupa aku untuk mengecasnya. Terbesit aku untuk berangkat ke rumah sakit, namun aku tatap kedua anakku yang masih terlelap, tak mungkin aku tinggalkan mereka tanpa aku.
"Pyoh...Syur...." tiba-tiba suara air ketuban pecah kala aku berdiri di depan pintu saat berniat pergi ke rumah sakit.
Kepanikan aku saat itu membuat aku tak sempat lagi berpikir apa yang harus aku lakukan. Segera aku kembali berbaring di atas kasur mengingat aku tau ini adalah pertanda bahaya bagi janinku bila aku terus berdiri.
Aku berbaring dengan kondisi perutku yang semakin kuat berkontraksi. Ingin rasanya aku menjerit berharap seseorang datang menolongku saat ini. Namun nafasku tak cukup banyak untuk bisa menghasilkan suara yang mungkin bisa terdengar oleh orang lain.
Seketika aku raba bagian bawah perutku. Tampak tanda-tanda pembukaan lengkap telah terjadi padaku. Fase persalinan akan segera dilalui olehku. Hatiku semakin cemas dan kacau. Keringat bercucuran begitu deras membasahi seluruh wajahku yang tengah menahan kesakitanku yang sungguh luar biasa.
Ya Allah... Aku berlindung kepadamu... Berikanlah pertolongan padaku... Pada kami yang lemah... Selamatkanlah aku dan bayiku ya Allah... Aku mohon... Selamatkanlah aku.... Doaku aku lantunkan saat itu sembari mengusap perutku yang sejak tadi menghasilkan rasa sakit dan hampir menghentikan nafasku itu.
Perutku yang semakin lama semakin mengencang seketika mendorongku untuk mengejan. Meski aku sadar saat ini aku tengah berada di rumah, namun tak ada waktu lagi aku untuk tidak melahirkan bayiku seorang diri meski tanpa bantuan siapapun.
Kondisi sudah kian mendesak, air ketuban bercampur lendir darah pun mulai mengucur dan tak memungkinkan lagi aku berteriak meminta pertolongan. Kini dalam benakku hanya berpikir bagaimana caranya aku bisa mengeluarkan bayiku dengan selamat.
"Arrghhhh...." eranganku mencoba mengejan untuk mengeluarkan kepala bayiku yang sedari tadi sudah mengintip bagian pucuknya.
"Arrrggghhhh" aku ulangi lagi eranganku sekuat tenagaku.
Aku ambil nafas dalam-dalam sembari terengah-engah. Aku kumpulkan kekuatannku kembali agar dapat mendorong kepala bayiku ini keluar dari rahimku.
"Arrgghhhh Allohuakbar....Allohuakbar...." eranganku bersama takbir aku kumandangkan demi kekuatanku mengejan.
"Oek....Oek...." Seketika suara bayiku terdengar dari telingaku.
Aku raih tubuhnya yang masih berlumur lendir darah dan tali pusat yang masih menggantung pada perutnya.
Tangaku gemetar menyentuhnya, perlahan aku angkat tubunya dan aku taruh pada dadaku. Seketika aku sambar sebuah selimut di sampingku untuk menutup tubuhnya agar tak kedinginan.
Alhamdulillah nak... Kamu lahir dengan sehat nak...Kuat ya sayang...Kuat ya... Bisikku yang tengah mendekap bayiku dengan seyuman hangat meski hatiku sedang dalam kecemasan yang berkecambuk.
__ADS_1
Aku coba susukan dirinya dalam dekapan dadaku. Perlahan ia mulai melakukan reflek pencarian ****** susu, layaknya bayi baru lahir seperti biasanya.
Seketika aku tatap wajah kedua bocahku yang tengah terlelap di sampingku yang berlumuran kotoran persalinan ini. Beruntung mereka tidak sedikitpun terganggu dengan suara bayi dan eranganku tadi.
Tak lama berselang aku merasakan perutku kembali berkontraksi kuat. Aku atur nafasku kembali perlahan untuk menyiapkan kekuatanku kembali. Kali ini rahimku serasa terkoyak dan sakit luar biasa. Dalam hati aku hanya bisa mengucap dzikir dan berdoa agar aku tak terjadi perdarahan yang akan mengancam nyawaku.
Sesaat aku lihat kembali ke arah bawah perutku. Aku dapati sebongkah gumpalan daging keluar dari jalan lahirku. Yakni adalah placenta dari bayiku. Kini lengkap sudah proses persalinan ini.
Nafasku terasa semakin sesak. Tubuhku pun mulai merasakan begitu lemas, lunglai, dan sayu. Pandanganku mulai berkunang-kunang.
"Umi....Umi kenapa??" tiba-tiba suara Uwais memekik suasana malam itu.
"Uwais tolong ambilkan umi air nak....Tolong umi nak..." bisikku dengan nada yang suaranya hampir menghilang.
"Umi... Uwais takut umi...umi baik-baik aja kan??" tanya Uwais yang mulai panik menatapku dengan keadaanku yang berlumuran darah.
"Cepatlah nak... Ambilkan umi air minum..." kembali nada suara lemahku memohon kepadanya.
"Baik um...Tunggu sebentar..." ujar Uwais sembari tertatih menuju ruang dapur untuk mengambil segelas air minum untukku.
"Ini umi..." tak lama ia menyodorkan segelas air minum padaku.
Aku raih gelas itu dengan tangaku yang masih gemetar. Aku minum air itu perlahan untuk menghilangkan dahagaku. Seketika kekuatan tubuhku kembali pulih.
Aku atur kembali nafasku untuk bisa membangkitkan kondisiku yang hampir terasa mau mati malam itu juga.
"Uwais boleh tidur lagi ya nak... Jangan hiraukan umi..." bisikku lagi padanya yang tengah menatapku dengan pandangan takut.
"Iya umi..." sahutnya yang kemudian melanjutkan tidurnya sebab ia masih merasakan kantuk yang luar biasa meski beberapa kali bayiku terdengar menangis.
Dengan tertatih, perlahan aku mencoba membereskan diriku dari beberapa kotoran yang aku hasilkan karena persalinanku.
Tak lama aku mendengar suara Adzan Subuh berkumandang pertanda pagi telah menjelang. Hatiku terasa sedikit lega, meski aku harus terus mendekap bayiku dalam keadaan tali pusat yang belum terpotong.
__ADS_1