
Setelah diriku dibersihkan pasca persalinan, kini aku bersama bayiku di pindahkan ke ruang perawatan. Tampak seorang Deri sedang berdiri di depan pintu ruanganku menunggu kedatanganku di sana.
Senyumnya begitu merekah menyambutku, terlebih dengan bayiku. Seketika ia menerobos masuk ke dalam ruanganku selepas seorang perawat memasrahkan aku tinggal di ruang perawatan. Seketika Deri membopong bayi yang sudah bersih itu. Dengan pandangan berkaca-kaca ia kumandangkan adzan di telinganya. Kemudian ia kecup kening sang bayi penuh dengan kasih sayang.
"Assalamu'alaikum nak.... ini ayahmu nak... selamat datang ke dunia, maafkan ayah yang selama ini tak ada di sampingmu, ayah janji setelah ini akan sering ada di dekatmu" ucap Deri pada bayiku dengan lembut.
Seketika pandanganku berkaca-kaca penuh haru. Hatiku sangat bahagia atas kelahiran bayiku, namun kebencianku pada Deri belumlah surut.
"Biar aku susui dulu bayiku, aku mohon kamu keluar dulu!" pintaku pada Deri ketus.
"Baik, setelah ini aku akan keluar, oya maaf, apa kamu udah siapin nama buat bayi ini?" tanya Deri sembari memberikan bayi itu ke pangkuanku.
"Udah, Uwais Al Qorni, itu namanya" jawabku singkat.
"MasyaAllah, nama yang indah, semoga keteguhan hatinya kelak mirip dengan Uwais yang sebenarnya, yang namanya selalu dirindukan oleh surgha.... Aamiin.." sahutnya penuh dengan gembira.
"Dari mana kamu tau tentang Uwai Al Qorni?" tanyaku sedikit takjub namun kusembunyikan.
"Iya, aku pernah membaca kisah itu dalam buku yang aku beli tempo hari, nggak aku sangka sekarang aku punya Uwais Al Qorni beneran..."
"Oh... ya udah sana kamu keluar, aku mau nyusuin bayiku!" ketusku.
"Baiklah".
Kemudian Deri keluar ruangan dan menuju sebuah sudut ruangan untuk menghubungi Ferdi.
"Hallo Fer, anak gua udah lahir... cowok bro...!" ujar dia bahagia.
"Wuih....Alhamdulillah....selamat ya brow, akhirnya jadi bapak juga loe, hahaha!"
"Ah, ngledek aja loe, buruan ke sini liat, mirip gue tau, cakep bener bayi gue kayak bapaknya woi....!" ujar Deri bercanda.
"Kalo cakep mah mirip emaknya, bukan mirip elu kali, huuuu!" balas Ferdi.
"Hahahah, ya udah buruan ke sini"
"Iya nanti gua ke sana, gua slesain tugas gue dulu ini nanggung bentar lagi kelar" sahut Ferdi mengakhiri percakapan kemudian melanjutkan pekerjaanya di depan labtop.
Tak lama dari itu, Kak Arif dan Rianti datang menjengukku.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum?" suara Rianti yang seketika memberhentikanku yang sedang belajar memberi asi pada bayiku.
"Waliaikumsalam" sahutku seketika.
"Wah... selamat ya..." ucap Rianti dengan senyum manisnya.
"Selamat ya Bunga" begitu juga ucapan Kak Arif padaku.
"Makasih semuanya...." jawabku dengan penuh senyuman.
"Bagimana persalinan anti? lancarkah?" tanya Rianti padaku memberi perhatian.
"Alhamdulillah lancar, berkat doa dan bantuan kalian berdua hingga sampailah aku saat ini... sekali lagi trima kasih buat kalian..." ucapku dengan pandangan berkaca-kaca.
"Afwan, semoga kelak menjadi anak yang soleh ya nak...." ujar Rianti sembari membelai pipi bayiku dengan lembut.
"Makasih atas doanya tante...." ucapku penuh syukur.
"Siapa namanya ganteng?" tanya Rianti lagi.
"Uwais Al Qarni"
Tampak raut wajah Kak Arif sedikit tertekuk tak seperti biasanya. Ia seperti menyimpan luka dan rasa kecewa terhadapku. Aku tatap wajahnya itu dan ku mencoba menyapanya.
"Kak Arif... Rianti, maafkan aku telah mengecewakan kalian.... Kak Arif.... semoga kelak bisa menemukan wanita yang lebih baik dariku yang tak pantas untukmu ini" ucapku lirih dengan sedikit tetesan air mata penyesalan.
"Kamu jangan ngomong begitu, perkara jodoh itu sudah takdir Allah.... mungkin waktu itu aku yang terlalu memaksakan kehendak, sementara kamu tak mencintaiku..." balas Kak Arif menatapku dengan senyuman tipis.
"Maafkan aku Kak... aku tak bisa membalas kebaikan kalian... semoga menjadi ladang pahala kalian kelak di akherat karena banyak menolongku.." tuturku dengan nada lembut.
"Udahlah Bunga, anti jangan berlebihan, semua sudah qadarullah... yang terpenting, dengan siapa pun kelak anti akan berumah tangga, jangan pernah lepaskan akidah yang sudah tertanam" ujar Rianti menyemangatiku.
"InsyaAllah Rianti.... Oya Kak Arif, setelah ini, mungkin aku nggak akan bisa bekerja lagi, karena aku harus mengurus bayiku, aku takut nggak bisa kasih yang terbaik untuk pekerjaanku.... maafkan aku kak..." ujarku sembari pamit untuk tidak lagi bekerja, walau setelah ini aku akan bingung kemana aku harus mencari uang untukku bertahan hidup.
Namun jika aku tak mengundurkan diri, aku tak sampai hati pada Kak Arif, aku ingin setelah ini ia bisa melupakanku dengan tidak sering melihatku lagi. Setidaknya aku berusaha untuk tidak lagi merepotkannya.
"Iya, nanti akan ada temanku yang menggantikan posisi kamu" jawab Kak Arif padaku yang membuatku sedikit lega.
Tak lama tampak Deri ikut masuk ke dalam ruangan dimana kami sedang berbincang.
__ADS_1
"Arif, aku mohon jangan lepaskan Bunga... dia wanita baik-baik, aku yang udah buat dia jadi buruk... kalo memang kamu mencintai Bunga, menikahlah dengannya... aku akan bahagia jika Bunga berada pada orang yang tepat seperti kamu" pinta Deri pada Kak Arif yang rupanya sejak tadi ia mendengarkan percakapan kami.
"Bunga tak bisa memilih aku sebagai suaminya, karena dia mencintai orang lain...." tutur Kak Arif yang kemudian berlalu dan pamit padaku.
"Aku pamit dulu, Assalamu'alaikum?" pamitnya disusul juga dengan Rianti.
"Siapa yang suruh kamu masuk?" tanyaku ketus.
"Iya maaf, aku cuma pingin liat keadaan bayiku... bukankah aku udah ijin sama kamu kalo aku akan di kasih kesempatan buat lihat anakku sewaktu-waktu?" ujar dia mencoba mengingatkanku sewaktu bertengkar dengannya.
"Kamu tau meski Kak Arif nggak jadi nikah sama aku, bukan berati aku akan mau sama kamu ya!" ketusku padanya.
"Iya aku tau.... aku nggak akan memaksa kamu lagi... sekarang bagiku yang terpenting kamu bisa bahagia, dengan siapa pun itu" ujar dirinya yang membuatku hampir meleleh tapi selalu aku tahan karena kebencianku padanya.
Beberapa menit berlalu, datanglah Ferdi menjenguk aku.
"Hai Bunga, selamat ya..." sapa dia padaku ramah.
"Iya makasih"
"Oya Fer, elu tunggu bentar ya, gua beli minum dulu sama makanan buat Bunga, tadi habis persalinan belum makan, pasti dia laper" ucap Deri pada Ferdi dan sesaat ia meninggalkan aku dan Ferdi.
"Oke, jangan lama-lama....ntar si Bunga keburu kelaperan...." ujar dia meledek.
"Siap!!!" uajr Deri sembari berlalu.
"Bayinya cakep juga... sayang loh kalo nggak ada ayahnya..." ujar Ferdi padaku.
Aku hanya terdiam malas menanggapinya.
"Bunga, menikahlah sama Deri.... dia sayang banget sama kamu... sebenci-bencinya kamu sama dia, setidaknya kamu masih sayang kan sama anak kamu? kalo ada ayahkan kan ada yang bantu kasih dia nafkah daripada kamu harus hidup sendiri....?" ujar Ferdi mencoba meyakinkanku.
"Deri bukan orang baik, dia orang yang nggak bertanggung jawab, perangainya aja keliatan sayang kalo lagi ada maunya, tapi nanti dia bisa kog sewaktu-waktu berkhianat" ketusku sembari menimang bayiku.
"Namanya manusia bisa aja khilaf, tapi masih ada kan kesempatan buat berubah??"
"Iya, tapi bagiku nggak akan lagi jatuh pada lubang sama untuk kedua kalinya, lebih baik aku membesarkan anakku seorang diri daripada harus hidup dengan lelaki jahat" balasku membela diri.
"Jangan ngomong begitu, bukannya semua manusia bisa bertubat? apa iya semua orang yang kamu temui udah baik itu sudah pasti berasal dari masa lalu yang baik juga? nggak kan?"
__ADS_1
Sesaat aku terdiam tak lagi mau menanggapi obrolan Ferdi. Tak lama dari itu Deri pun datang